Assalamu’alaykum wr wb .....
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ
Para Muhibbin yang dimuliakan Allah …
“Shalawat dan
salam tercurah kepadamu wahai junjungan kami Nabi Muhammad. Wahai yang
terhormat di dua alam, dunia dan akhirat.”
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang begitu agung. Beliau tidak
membutuhkan pujian kita untuk menjadi mulia, karena Allah SWT sendiri telah
mengangkat derajat beliau di langit dan di bumi. Kitalah yang sebenarnya sangat
membutuhkan beliau. Kitalah yang kelak akan mengemis syafaat beliau di hari
ketika tidak ada satu pun manusia yang sanggup menolong kita.
Setiap hari, lisan kita mungkin begitu mudah melantunkan
shalawat. Jemari kita begitu ringan membagikan kata-kata mutiara berisi pujian
kepada beliau. Namun, mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri dengan
sejujur-jujurnya. Apakah rasa cinta itu benar-benar nyata, atau hanya pemanis
di bibir saja?
Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan ketika kita mengaku
merindukan Nabi Muhammad ﷺ, tetapi perintah shalat masih sering kita abaikan.
Kita mengaku sebagai umat beliau, tetapi lisan kita masih gemar menyakiti orang
lain, hati kita penuh dengan dengki, dan langkah kaki kita masih jauh dari
majelis ilmu.
Rasulullah ﷺ pernah meneteskan air mata mendoakan keselamatan
kita yang belum pernah beliau temui ini. Beliau menanggung penderitaan fisik
dan jiwa agar cahaya Islam sampai ke tangan kita. Namun, bagaimana cara kita
membalas perjuangan beliau? Kita justru lebih hafal dan bangga meniru gaya
hidup para tokoh dunia daripada menjalankan Sunnah beliau.
Jangan sampai kelak di Padang Mahsyar, saat semua manusia
panik mencari perlindungan dan berharap dipanggil oleh Rasulullah ﷺ, beliau
justru memalingkan wajahnya dari kita. Jangan sampai beliau tidak mengenali
kita sebagai umatnya hanya karena tidak ada satu pun bekas ajaran beliau yang
tersisa dalam perilaku sehari-hari kita.
Mulai hari ini, buktikanlah cinta itu. Jangan biarkan ucapan
shalawat berhenti di tenggorokan saja, tetapi wujudkanlah dalam kepatuhan,
kebaikan akhlak, dan kesetiaan kita menjalankan ajaran beliau.
Wassalamu’alaykum wr wb ......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar