Bagian Atas (Doa & Ismul A'dzom) :
يَا أَللهُ يَا كَرِيمُ إِرْحَمْنَا يَا رَحِيمُ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْعَظِيْمِ نَسْأَلُكَ يَا أَحَدُ يَا صَمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya : Ya Allah, wahai Yang Maha mulia, kasihanilah kami. Wahai Yang Maha Penyayang, demi kedudukan Nabi-Mu yang agung, kami memohon kepada-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Esa, wahai Tempat Bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Bagian Bawah (Sholawat Mawlanawiyyah)
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ وَعَظِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِ الْأَرْوَاحِ بِطَرِيْقَتِهِ وَعَمَلِيَّتِهِ وَخَلِيْفَةِ الْأَنْوَارِ بِمَعْرِفَتِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَفُتُوْحِ الْغَيْبِ لِكُلِّ سِرٍّ إِلهِيٍّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Artinya : "Ya Allah, limpahkanlah sholawat, salam, keberkahan, kemuliaan, dan keagungan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, Utusan Allah, pemimpin para ruh melalui jalannya dan amalannya, khalifah cahaya-cahaya dengan pengetahuannya dan cintanya, serta pembuka keghaiban bagi setiap rahasia ketuhanan; dan (limpahkan pula) kepada keluarga dan seluruh sahabatnya."
Penjelasan Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan Pendapat Ulama
1. Landasan Al-Qur'an (Surah Al-Ikhlas)
Bagian doa di atas mencakup seluruh ayat dari Surah Al-Ikhlas (112: 1-4):
* Kandungan : Menegaskan keesaan Allah (At-Tawhid), sifat Allah sebagai tempat bergantung (As-Shomad), serta kesucian Allah dari beranak, diperanakkan, dan memiliki sekutu.
1. Landasan Hadis (Ismul A'dzom / Nama Allah Yang Maha Agung)
Penggunaan frasa dari Surah Al-Ikhlas dalam doa memiliki dasar hadist yang kuat terkait Ismul A'dzom (nama Allah yang paling agung, di mana jika berdoa dengannya maka akan dikabulkan)
* Rasulullah ﷺ pernah mendengar seorang sahabat berdoa dengan lafaz:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
* Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya Yang Maha Agung (Ismul A'dzom), yang apabila Dia menyeru dengannya pasti dikabulkan, dan apabila memohon dengannya pasti diberi." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i).
1. Tawasul dengan Kedudukan Nabi (Bi Jahi Nabiyyika)
Lafaz "...bijahi nabiyyik ..." merupakan bentuk tawasul (memohon kepada Allah dengan bertawasul melalui kedudukan atau kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ). Mayoritas ulama (termasuk Jumhur Fuqaha dari Mazhab Syafi'i, Hanafi, dan Maliki) membolehkan tawasul dengan kedudukan Nabi ﷺ berdasarkan hadist tentang pengajaran doa oleh Nabi ﷺ kepada seorang sahabat yang buta agar berdoa : "Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad..." (HR. At-Tirmidzi dan Ibn Majah).
1. Keutamaan Sholawat atas Nabi (Sholawat Mawlanawiyyah)
Rangkaian sholawat pada bagian bawah merupakan sholawat utama yang biasa diamalkan dalam Majelis Dzikir dan Sholawat Mawlanawiyyah.
* Perintah Al-Qur'an : "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab : 56).
* Perkataan Ulama Salaf: Imam Ibn Al-Qayyim dan para ulama tasawuf/as-Shalihein menjelaskan bahwa membaca sholawat dengan menyitir sifat-sifat keagungan ruhani Nabi Muhammad ﷺ (seperti sayyidul arwah dan khalifatul anwar) dapat menguatkan rasa mahabbah (cinta) serta membuka kebingungan hati (futuhat).
Ismul A'dzom diatas boleh diamalkan setiap selesai sholat sebanyak 7x

Tidak ada komentar:
Posting Komentar