Kamis

Ziarah Ke Makam Syeikh Abdissalam bin Masyisy Guru dari Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily ra


Keinginan untuk ziarah ke maqom Syeikh Abdissalam bin Masyisy sudah lama kami impikan, sejak tahun 2006 lalu, usai berziarah ke maqam Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily.
Kebetulan Sabtu di bulan Nopember 2008, ada kesempatan, setelah sepekan melaksanakan tugas kenegaraan sebagai wakil rakyat. Kerjasama bilateral di bidang pendidikan dengan pemerintah Spanyol dan Marokko, memberi kesempatan kami untuk berziarah ke maqom gurunya Syeikh Abul Hasan As-Syadzily, Sang Quthub Syeikh Abdusslam bin Masyisy.

Disamping sebelumnya kami menziarahi tempat-tempat kejayaan Islam di Eropa, termasuk wilayah Cordova yang memiliki lambang kejayaan Islam di masa lalu, juga Istana Alhambra di Granada Spanyol yang berbatasan dengan Marokko.

Sebelumnya kami melewati perjalanan panjang selama 18 jam lebih, dari Jakarta, Dhoha dan Madrid. Di Bandara Madrid, kami lewati stadion sepakbola yang terkenal di dunia, Bernabu, hanya berjarak setengah jam. Diosana para penggidola bola berkumpul.
Dari bandara Madrid, kami harus menempuh dua jam untuk sampai di kota Casablanca (yang berarti rumah putih). Dari sana kami menuju jalan panjang “highway” menuju Marakesh, sebuah kota kebudayaan yang cantik dengan bangunan eksotis merah bata yang benar-benar menjadi andalam wisata Marokko.
Di kota elok ini, bangtunan-bangunan masjid dengan khas arsitektur yang indah bertebaran di mana-mana. Namun yang cukup mengharukan, di kota ini maqam para Ulama besar cukup banyak, diantaranya maqam Syeikh Sulaiman Jazuli yang sangat popular di Indonesia, karena beliaulah pengarang kitab Dalailul Khoirot. Di maqam wali itu, kami pun berziarah.

Banyak kemudahan dalam prosesi ziarah ini segala urusannya dimudahkan oleh Allah swt, dan kami ditemani mahasiswa S3 dari Indonesia yang juga merangkap menjadi lokal staff di Marokko.
Lebih dahsyat lagi sopir yang menghantar kami adalah seorang pesuluk thoriqoh Sufi, sekaligus pernah menjadi peserta Rally Paris Dakkar sebagai co pilotnya. Tentu saja, memiliki pengalaman luar biasa dan tangguh. Kami menyewa sebuah jeep Pajero, menembus perjalanan panjang menuju Cakrawala sang Quthub Agung Syeikh Abdissalam bin Masyisy.

Sepanjang jalan kami tak henti-hentinya berdzikir, membaca sholawat Syadziliyah, yang tentu saja menjadi wirid Sang Quthub yang kelak dilimpahkan kemursyidannya kepada Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily yang kelak ajarannya menebar seluruh jagad ini.

Tentu saja, pertemuan agung antara Syeikh Abdissalam bin Masyisy dengan muridnya, Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily tidak sekadar sebuah pertemuan guru dan murid belaka. Perjalanan ruhani perjalanan thoriqoh Syadziliyah memasuki titik penting sekaligus memancar ke seluruh dunia, dari pertemuan ini.
Ketika Syeikh Abul Hasan mengembara mencari Mursyid yang Quthub, sampailah beliau ke negeri para wali, di Irak. Dari satu wali ke wali lain yang beliau temuai, belum juga membuatnya puas, sebelum bertemu dengan seorang Wali Quthub di zaman itu. Padahal dari Marokko, Syeikh Abul Hasan menembus ribuan kilometer menuju Irak, mengarungi padang sahara yang luar biasa luasnya, demi mencapai cita-citanya yang luhur.

Akhirnya beliau bertemu dengan seorang Auliya’ di Irak, ketika itu, dan sang wali itu berkata kepadanya: “Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh-jauh sampai di sini, padahal orang yang engkau cari itu sebenarnya di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah Quthubuz zaman yang agung saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling di negeri ini Saat ini beliau sedang berkhalwat di puncak gunung di sebuah gua. Temuilah beliau, dari cari disana…!”

Sepulangnya dari Irak, beliau menuju Maroko, dan kembali ke desanya Ghomaroh, tempat dimana beliau dilahirkan. Hatinya tak bias digugat untuk segera bertemu dengan Sang Quthub itu. Sebuah pubcak bukit di padang Barbathoh, akhirnya beliau jumpai seluruh jiwanya dalam cita-citanya.

Ketika menempuh jalan berliku menuju puncak bukit itu, Syeikh abul Hasan berhenti di sebuah pancuran air untuk mandi di mata air itu, demi penghormatan kepada Gurunya, merasakan dirinya benar-benar fakir, lalu dilanjutkan berwudlu dengan penuh tawadlu menuju gua itu.

Tiba-tiba dari arah gua itu muncul sosok yang tampak lanjut usia dengan pakaian yang sederhana, dengan songkok dari anyaman jerami. Wajahnya menyiratkan pancaran cahaya agung yang luhur, anggun, arif dan kharismatik. Orang tua itu mendekati beliau dan mendahului dengan “ Assalamu’alaikum…..”
Syeikh abul Hasan terkejut dan serta merta menjawab salam orang itu. “Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokaatuh….”

Belum usai terkejutnya, orang tua itu melanjutkan, “Marhaban Wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin….” dst..dengan menyebut nasab Syeikh Abul Hasan sampai ke rasulullah saw.

Mendengar itu semua Syeikh Abul Hasan semakin takjub. Bel;um sempat mengeluarkan kata, Syeikh tua itu melanjutkan, “Wahai Ali, engkau datang kepadaku sebagai fakir bagik dari segi ilmu maupun amalmu, maka engkau akan mengambil dariku semua kekayaan, dunia hingga akhirat…”[pagebreak]
Semakin jelas bahwa sosok itulah yang dicari selama ini, Syeikhul Quthub. Bahkan beliau melanjutkan:
“Ketahuilah wahai anakku, bahwa sesungguhnya sebelum engkau datang ke sini, Rasulullah saw, telah memberi tahu kepadaku segala hal-ihwal tentang dirimu, serta akan kedatanganmu hari ini. Selain itu aku juga mendapatkan tugas dari beliau agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepadamu. Oleh sebab itu ketahuilah bahwa kedatanganku kemari sengaja untuk menyambutmu…”

Itulah sekilas pertemuan awal dua tokohnya Allah di muka bumi. Karena memang banyak sekali wejangan-wejangan dan didikan Syeikh Abdissalam bin Masyisy yang kelak membutuhkan halaman tersendiri.

Sebuah cakrawala tujuh abad silam, kami hanya bisa membayangkan pengorbanan luar biasa, dimana sebuah kehidupan spiritual, peradaban Islam, air mata, darah, jiwa, berpadu dalam nafas perjuangan para Auliya di zaman itu. Sungguh kami tak berdaya, tak berarti apa-apa, bahkan hanya serasa debu yang terbang dari deru Pajero yang kami tumpangi ketika itu. Kami seperti bayang sekelebat yang hanya menunggu berkah mereka semua, siapa tahu menjadi bekal perjuangan kami di Indonesia. Semoga Allah memberkahi kami, berkat barokah mereka….Amin.

Marokko, negeri para Auliya’, yang di negeri kita ini sering kita dengar seorang Wali Besar Syeikh Maghraby, adalah seorang Wali dari Marokko pula. Bahkan sulit dibayangkan terjadinya benang merah luar biasa antara negeri kami di Timur dan Marokko di Barat ini. Rasanya seperti ada cahaya yang kuat memendarkan garis lurus yang putih berkilau antara Indonesia dan Marokko. Dan nyatanya hubungan spiritual antara Indonesia dan Marokko, dari jejak para Auliya’nya luar biasa dahsyatnya.
Tak henti-hentinya kelopak mata saya menggenang, sesekali menggores pipi tanpa terasa. Getaran jantung di sini, serasa bergetar di sana. Bahkan juga sebaliknya.

Kebetulan saya bersama isteri, Santi Anisa, ketika menembus malam panjang di perjalanan itu. Perjalanan malam, menempuh empat jam dari Marakesh, yang hampir tidak mungkin kami tempuh, karena harus melewati kota Casablanca, kemudian kota Rabat.

Di kota Rabat ini, ada sebuah jalan namanya Jalan Soekarno, demi mengenang jasa Presiden Indonesia pertama, yang sangat berperan dalam kemerdekaan Maroko. Dan hubungan Indonesia Maroko sangat kental akhirnya, bahkan bangsa Indonesia yang ke Maroko dibebaskan dari Visa.

Ketika melewati sebuah pertigaan besar menuju kota Fez, baru kelak kami sampai ke kota Tanger, daerah yang kami tuju. Di kota itu ada sebuah desa namanya Desa Tetuan, sebuah perkampungan cantik yang berada 1000 m di atas permukaan laut. Untuk menuju desa itu dari kota Tanger kami harus menempuh 40 km malam itu juga.
Walsahil, perjalana malam itu kami tempuh selama 8 jam, semalam suntuk kami diperjalanan.

Hampir dini hari, sepertiga malam terakhir hawa sejuk menembus jantung. Yang terbayang hanya wajah beliau, Sang Quthub Agung. Bintang-bintang di langit bertaburan, serasa terhapus oleh Cahaya Wali Agung ini. Tampak sekali dari kejauhan, Jabalul ‘Alam atau Jabal Ilmi, memancarkan cahaya agung, karena di puncak bukit itulah, Sang quthub di makamkan.

Kadatangan kami tiba-tiba disambut hangat oleh seorang pemuda tampan berjanggut, Syeikh Rosyid. Ternyata pemuda ini adalah masih cucu keturunan Syeikh Abdussalam bin Masyisy. Kala itu aku melihat bulan yang serasa merendah jika dipandang dari tempat makam itu.
Kami lalu meaksanakan sholat Maghrib dan Isya’, yang kami laksanakan dengan jama’ ta’khir. Langsung kami melaksanakan doa di makam itu, dan melaksanakan khususiyah, menyampaikan salam dari mursyid kami Syeikh Mohammad Charir Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqim dari PETA Tulung Agung.

Di depan maqom yang bercat putih itu, yang dilapisi alas dari potongan kayu yang ditata rapi itu kami memasuki nuansa kesyahduan yang indah, sulit diungkapkan kata dan pena…
Akhirnya Syeikh Rosyid berkenan memimpin doa bagi kami semua, khususnya negeri kami dan bangsa kami agar diselamatkan dari bencana dan keterpurukan yang terus menerus. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar