Sabtu

Syaikh Ahmad Al-Badawi (596 - 675 H)

Sang Manusia Langit
Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan sang manusia langit yang
namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap
Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah
baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib,
suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko).
Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara
Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama
khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah
Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di
Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan
dimakamkan di Ma'la.
Badawi masuk Mesir
Sang sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat
puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya
bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. "Berdirilah !" begitu
suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah
menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian…beranjaklah ke Thantha,
suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda".
Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang
yang terkenal yaitu Syekh Abdul Kadir al-Jailani dan ar-Rifa'i. "Wahai Ahmad " begitu kedua
orang itu berkata kepada Ahmad al-Badawi seperti mengeluarkan titah. " Kunci-kunci rahasia
wilayah Iraq, Hindia, Yaman, as-Syarq dan al-Gharb ada di genggaman kita. Pilihlah mana
yang kamu suka". Tanpa disangka-sangka al-Badawi menjawab, "Saya tidak akan mengambil
kunci tersebut kecuali dari Dzat Yang Maha Membuka.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada
tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung
dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan
perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak
melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I,
Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya,
menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.

Syaikh Ahmad Al-Badawi ( 596 - 675 H)
Written by Administrator
Saturday, 18 October 2008 10:57
Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang
pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan
kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap
masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada
orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya.
Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu
betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih.
Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap
yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi.
Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah
Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh
daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi
dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban
pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab “Syajaratul Ma'arif” karya Syaikh Izzuddin bin
Abdus Salam.
Karomah Ahmad Badawi
Kendati karomah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tidak ada
salahnya disebutkan beberapa karomah Syaikh Badawi sebagai petunjuk betapa agungnya
wali yang satu ini.
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta
pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. "Pergilah,
dan tawakkallah kepada Allah SWT" tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh
Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya
sendiri".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk
dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan
melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin”. Demikian
nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian
dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Syekh Badawi wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan
dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini
beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia
meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773
H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan

Syaikh Ahmad Al-Badawi ( 596 - 675 H)
Written by Administrator
Saturday, 18 October 2008 10:57
kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi.
Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan,
kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya
yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk
meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi
ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak
berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali
sampai sekarang.
Menurut Sumber yang lain.
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah
membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih
sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka
berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan
minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi
dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun,
dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun
596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari
peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada
Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust,
Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai
ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau
inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang
sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga
tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah
(Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di
Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi
Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu
sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur
haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan
terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh
penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap
terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga
hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha
dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar
ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani
mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan,
saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani

Syaikh Ahmad Al-Badawi ( 596 - 675 H)
Written by Administrator
Saturday, 18 October 2008 10:57
memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy,
waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera
menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al
badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat
menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi
ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu
berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat
ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian
kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut,
karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari
kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak
mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka
seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam.
Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon
maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya,
saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali
lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”.
Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur
menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf
sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga
bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya
Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang
menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di
hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan
lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak
akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya
orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada
beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para
shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu
(tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas
dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan
pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan
memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu
berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di
depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam
tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah
salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti
kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya
dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi
Badawi.
Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan

Syaikh Ahmad Al-Badawi ( 596 - 675 H)
Written by Administrator
Saturday, 18 October 2008 10:57
Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi
Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu
dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya
telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat
berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu
berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari
dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian
tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al
Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal
ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada
saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana
orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar
beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa
itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang
raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia
memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap
tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di
acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata
kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi
Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja,
tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan
peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan
menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada
yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan
tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah
bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang
ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim
syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya
kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para
fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi
menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan
Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara
maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi
Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana
Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga
pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang
pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang
yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus

Syaikh Ahmad Al-Badawi ( 596 - 675 H)
Written by Administrator
Saturday, 18 October 2008 10:57
beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku
sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku
diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun
yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan
memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid
beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam
keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata:
lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau
menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus
dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam
besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat.
Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau
lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan
perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh
orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni
mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku
tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi
yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro.
Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca,
untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI (Dian Sag)
Wallahu`a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar