Selasa

Pengalaman Al-Faqir


Beberapa waktu lalu, dalam sebuah obrolan ringan di tengah sawah, seorang kawan, yang cenderung anti tasawuf dan tarekat, bertanya kepada saya:
“Bagaimana mungkin makhluk yang terbatas bisa menjangkau yang tak
terbatas? Bagiku, sangatlah mungkin para sufi itu hanya berhalusinasi. Saya tidak
bilang itu rekayasa jin, seperti dikatakan para ahli ruqyah (yang kadang-kadang kelihatan pongah tampangnya). Tetapi menurutku, itu adalah semacam keadaan psikologis belaka. Sama seperti orang sakau, yang merasa sudah bahagia, padahal tidak. Lagipula, kalau dikatakan Allah “menyatu” bukankah ajaran ini sama artinya dengan mengatakan seseorang “dirasuki” Allah, seperti orang kerasukan jin? Maha Suci Allah dari hal buruk seperti itu. Kalau dikatakan wujud pada hakikatnya satu saja, berarti, maaf, tai kebo, juga pada hakikatnya Allah…. “


Maka perdebatan dimulai. Tetapi, seperti biasa, terlalu sulit untuk mencapai titik temu atau kata sepakat ketika diskusi diawali dari prasangka. Sulit, tapi tidak mustahil. Hanya saja, ketika yang dibahas adalah masalah ketuhanan dan hubungannya dengan alam (termasuk manusia), kita sulit untuk sepakat apabila titik pangkalnya berbeda. Dan kalau toh ini ditulis,
bisa habis jutaan buku untuk membahasnya, tanpa pernah ada kesimpulan yang
memuaskan semua pihak. Mengapa? Sebab ini adalah wilayah “pengalaman” dan
“rasa.”

Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk menampung pengalaman dan rasa. Bahasa adalah hasil dari konvensi, kesepakatan. Bahasa ditetapkan secara arbitrer. Penanda dan petanda, atau ignifier/signified, ditetapkan secara arbitrer sebagai hasil kesepakatan. Adakah alasan mengapa tempat
duduk dikatakan kursi dan tempat tidur dikatakan ranjang? Kalau nenek moyang
kita berabad-abad lalu menyebut tempat duduk sebagai onde-onde, maka mungkin
kita sekarang mengatakan, “Sang pengantin duduk di Onde-Onde pelaminan,”
bukan “duduk di kursi pelaminan.”

Karena itu, pada titik di mana kita harus mengabarkan pengalaman dan rasa kita, maka pada saat itulah kita menggunakan “tafsir.” Kita menafsirkan pengalaman kita. Tetapi, celakanya, kadang-kadang kita kesulitan mengabarkan pengalaman kita dengan penafsiran yang canggih dan filosofis sekalipun. Saat kita hati kita senang karena jatuh cinta, apa yang harus kita sampaikan kepada orang untuk mengabarkan apa yang sedang kita rasakan? Pada akhirnya
kita terpaksa menggunakan kiasan, perlambang, simbol, yang kemungkinan besar bisa mewakili perasaan kita. Jaman dulu orang mengatakan, “hatinya sedang berbunga-bunga,” untuk menunjukkan betapa bahagianya seseorang yang jatuh cinta. Titik Puspa bahkan hanya bisa bilang, “Jatuh cinta, berjuta rasanya.” Tetapi “rasa cinta” itu sendiri tetap tak terungkapkan, tak bisa dirasakan oleh pendengarnya, kecuali si pendengar itu merasakan sendiri “jatuh cinta.”

Dan bahkan, dua orang yang sama-sama sedang jatuh cinta, bisa jadi berbeda dalam menafsirkan pengalamannya sendiri. Orang yang pernah patah hati, lalu kemudian cintanya diterima, akan merasakan dan menafsirkan cinta secara berbeda dengan orang yang kisah cintanya lancar-lancar saja.

Pengalaman sufi barangkali mirip dengan keadaan seperti ini. Tak mengherankan sufi ssangat sering menggunakan perlambang dan jangan heran jika sufi juga sering berbeda pendapat dalam menafsirkan pegalaman “persatuannya.” Dalam konteks sufistik ini, hadits “perbedaan adalah rahmat” menunjukkan makna uniknya – bukan sekedar perbedaan debat rasional atau
akal atau sekedar perbedaan mahzab. Beragamnya pengalaman, dan beragamnya tafsir
atas pengalaman sungguh merupakan “rahmat” tersendiri bagi para “pencari”
Tuhan. Dengan memahami ini, sang pencari bisa tercegah untuk mengambil kesimpulan bahwa pengalaman dirinyalah yang paling valid. Dalam analisis terakhir, para sufi menyadari bahwa Allah tak bisa dipahami hanya melalui satu cara saja, dan karenanya tidak ada klaim tafsir tunggal tentang Tauhid atau ajaran Islam pada umumnya.


Ibn ‘Arabi, sepengetahuan saya, adalah sufi paling jenius dalam soal ini. Dia mengobrak-abrik tafsir tunggal kita tentang Tuhan. Kita sering mengatakan, berdasarkan pengetahuan dari buku dan tafsir eksoteris, bahwa Tuhan adalah ini dan itu. Tetapi, seperti kata Focault, pengetahuan adalah kekuasaan, dan kekuasaan selalu membatasi atau melingkupi obyek
pengetahuan. Bagaimana mungkin kita membatasi Tuhan dalam pengetahuan kita? Tuhan
senantiasa tak terjangkau, sebab bila Dia bisa dijangkau, berarti Dia bisa dipahami, dan berarti Dia berada dalam kekuasaan pengetahuan kita, dan karenanya Dia menjadi terbatas. JIka kita menggunakan alur ini, maka secara epistemologis, bangunan tesis ini menjadi rapuh, dan mudah untuk diragukan.

Inilah yang namanya sifat dari akal. Aql dalam bahasa arab juga berarti membatasi, mengikat. Karenanya, sekeras apapun akal berusaha memahaminya, maka ia hanya memahaminya secara sangat terbatas. Akal adalah seperti jaring ikan. Setiap jaring ada lobangnya. Bayangkan kita punya jaring seluas samudera dengan lobang-lobang jaring berdiameter 10 meter. Maka yang kita bisa ambil mungkin hanya ikan paus. Tetapi jika lobang itu diperkecil,
maka hiu bisa tertangkap. Semakin kecil, semakin banyak yang tertangkap – ubur-ubur, teri, plankton dst. Jaring akal hanya menangkap pengetahuan yang umum, yang sesuai dengan pra-struktur pengetahuan yang telah terakumulasi dalam otak/akal kita. Bisa jadi ia bertambah, atau berkurang (mungkin karena lupa atau yang lainnya). Akal adalah jaring. Lalu, adakah jaring yang tak berlobang, yang bisa menciduk seluruh isi samudera? Tuhan pernah
bilang, “Semesta tak bisa menampung-Ku, tapi hati orang beriman bisa.” Hati adalah jaring tak berlobang. Bukan sembarang hati, tetapi hati orang beriman. Lalu siapakah orang beriman itu?

Dalam kenyataan banyak orang (mengaku atau diakui) beriman. Karenanya, orang beriman di sini lebih dari sekedar beriman KTP. Sufi selalu memahami lebih dari dalam dari yang tersurat, bahkan lebih halus dari yang tersirat. Iman adalah sebentuk kepasrahan. Tetapi, paradoksnya kepasrahan adalah sebentuk perjuangan, sebab jika tak ada perjuangan, maka ia jatuh menjadi putus asa. Batas antara pasrah dan putus asa sedemikian halus – inilah titian sirathal mustaqim, bagai rambut dibelah tujuh. Orang kadang susah membedakan
mana itu pasrah, mana itu putus asa.

Baik mari kita kembali ke hati. Hati orang beriman manakah yang bisa “menampung” Tuhan? Agar sebuah wadah bisa menampung sesuatu, ia harus kosong dulu. Seorang guru zen pernah menuang air ke gelas yang sudah ada isinya, dan karenanya, airnya meluber sia-sia. Hati kita telah penuh dengan hal-hal selain Tuhan, dan karenanya, bagaimana mungkin ia bisa menampung (pengetahuan) Allah? Jadi hati harus dibersihkan, demikian kata para
sufi. Inilah Takhali. Sesudah bersih, hati harus diisi dengan hal yang baik. Ini adalah tahalli. Apa itu hal yang baik? Pantulan asma Allah, asma al-husna. Dalam terminologi sufi, “hati adam itu laksana cermin.” Jika cermin itu bersih, maka ia akan memantulkan asma Allah. Ibn ‘Arabi mengatakan alam, kosmos, adalah cermin, tapi cermin yang sempurna adalah adam (yang juga bermakna kekosongan). Karena itu semua yang ada di alam memantulkan
asma Allah dalam tingkat tertentu, dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda.
Dan yang paling jernih dan jelas pantulannya adalah hati adam, yakni insan kamil, hati yang sudah dibersihkan sebersih-bersihnya. JIka sudah begitu, maka tajalli.


Secara simbolis, sufi mengatakan kita harus melebur titik di atas (huruf kha) menjadi kekosongan (hurf ha) hingga titik itu bisa berada di tengah-tengah (huruf jim) – takhali, tahalli, tajalli. Dengan kata lain, titik adalah simbol pusat dari segala pandangan. Pusat harus dipindah dari benak nalar kepala ke “nalar” hati yang fitrah, sampai muncul realisasi
bahwa “kemana pun engkau menghadap, disitulah wajah Allah.” Agar bisa sampai
realisasi, maka pertama-tama titik itu harus lenyap (huruf ha yg tak ada
titiknya). Pelenyapan ini adalah fana, lalu fana fi fana, yakni fana itu
harus di-fana-kan lagi, hingga baqa, langgeng, hingga akhirnya titik berada
di tengah – simbol keseimbangan.

Maka, ini barangkali tafsir sufi untuk pernyataan “umat Islam adalah umat yang berada di tengah-tengah.” Selama kita masih berada di ruang dan waktu, di mana layar kesadaran (laufh al-mahfudz – papan yang terjaga) kita belum terjaga benar, kita harus berhati-hati, harus berpegang kepada “tali Allah” agar tetap menjaga “titik lingkaran hidup” selalu berada di tengah. Miring sedikit, maka lingkaran hidup menjadi tak imbang. Bagaimana titik agar
bisa istiqamah berada di tengah? Masuklah ke alam keabadian, ketika lingkaran
hidup tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ketika lingkaran menjadi tak bertepi (atau pinjam istilah Ibn Arabi, “Samudera tak berpantai”) maka di manapun anda berada, anda selalu berada di tengah-tengah. Maka, para sufi berusaha memperluas “lingkaran” kehidupannya, bahkan sebelum mereka masuk alam keabadian. Mereka menghilangkan batas lingkaran bahkan saat mereka masih berada di alam yang terbatas, masih hidup di dunia ini. Maka,
inilah barangkali makna dari “matilah kamu sebelum mati.”

Contoh dahsyat dari layar kesadaran tak bertepi ini adalah Nabi Khidr. Karena ia dianugerahi ilmu ladunni, ilmu dari sisi Allah, Khidr telah bisa menggapai khazanah Lauf al-Mahfudz, dan karenanya ia adalah titik poros itu sendiri. Di manapun khidr berada, ia selalu berada di tengah. Maka, Khidr dengan enteng membunuh seorang anak kecil. Dari perspektif kesadaran ruang dan waktu, ini adalah tindakan bodoh dan kejam. Tetapi, jika anda telah melampaui batasan ini, maka tindakan itu adalah sah, sebab pengetahuan Allah, ilm ladunni, tidaklah dibatasi oleh sebab-akibat atau baik dan buruk, sebab bagaimana mungkin Ia dibatasi sementara Ia sendiri adalah Sumber dari Segala Sumber? Dari perspektif ini, ajaran karma akan tertolak. Tetapi, terlalu sulit secara epistemologis untuk menopang argumen ini, sebab
ini bukan wilayah akal. Karenanya, Khidr memperingatkan Musa as agar bersabar
sebab Khidr tahu bahwa Musa masih berlandaskan pada “sebab-akibat.” Wallahu
a’lam. Tetapi Musa tak bisa bersabar, sebab layar kesadarannya masih bertepi. Maka ia ditinggalkan oleh Khidr.

Tafsir spekulatif seperti di atas bisa jadi memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya, kalau begitu, ini sama artinya dengan mengatakan bahwa sufi atau para wali Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding Musa, yang nabi. Jelas para penentang tasawuf akan menggunakan penjelasan semacam ini sebagai senjata untuk menghantam para sufi. Ini adalah salah satu kasus, di mana ketika pengalaman diungkapkan, yang muncul adalah paparan yang
reduksionis – selalu ada yang luput dari jaring kata dan akal. Para penentang tasawuf
sering lupa bahwa Sufi dan para wali Allah selalu lebih mengunggulkan Musa di atas mereka sendiri, sebab Allah telah berkenan berdialog dengannya di bukit Sinai. Episode Khidr adalah salah satu fase saja dari seluruh fase kenabian Musa, dan karenanya tak bisa dipakai untuk menjustifikasi bahwa kedudukan sufi lebih tinggi dari pada nabi. Ibn ‘Arabi pernah dikecam
habis karena dalam salah satu esainya dalam futuhat (atau fusuh? Saya agak lupa)
dia mengkritik metode dakwah Nabi Nuh. Menurut Ibn’Arabi, Nuh terlalu menekankan transendensi (tanzih) dan karenanya dakwahnya yang ratusan tahun tak bisa dipahami. Menurut Ibn ‘Arabi, dakwah akan efektif jika menyatukan transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Apakah ini sebentuk “kesombongan” Ibn ‘Arabi? Tidak, sebab syaikh al-akbar tak pernah mengklaim lebih tinggi dari nabi. Konsep Ibn ‘Arabi tentang wali, walayah, khataman
awliya, nabi, dan seterusnya, adalah sebuah konsep yang rumit, sebab ia didasarkan pada ilham rabbaniyah, dan karenanya, jika kita berusaha memahaminya dari segi teksnya, atau maknanya berdasarkan “sudut pandang” kita, maka kesan “pelecehan” atas nabi pasti muncul. Bagi saya, syaikh al-Akbar tak pernah melecehkan siapapun, apalagi nabi (ah, barangkali ini kesan subyektif saya saja, karena saya sangat kagum kepada as-Syaikh
ini hingga saya sulit “berjarak” dengannya…wallahu a’lam)

Jadi mari kembali ke topik di atas. “Tali Allah” begitu kokoh dan karenanya tak boleh dibuang supaya kita bisa tetap berada di tengah-tengah. Ini adalah syari’at. Maka, siapapun yang mengaku bertarekat tanpa syariat, maka ia bisa dipastikan tersesat. Syariat adalah informasi yang valid, sedangkan tarekat adalah proses transformasi, dan hakikat-ma’rifat adalah afirmasi. Jika informasinya salah, atau inputnya keliur, prosesnya juga akan keliru.
Jika sepeda motor diberi minyak tanah, maka mesinnya akan rusak, atau proses pembakaran di mesin kacau, sebab inputnya tidak benar, dan karenanya motor tidak bisa jalan, dan bahkan rusak.

Tetapi, banyak orang yang telah bersyariat tetapi tetap tidak naik-naik kedudukan piritualnya. Dalam bahasa sufi, banyak orang beriman mengikuti syariat, tetapi tetap tak sampai pada hakikat – yang terbatas tak sampai-sampai juga pada kesadaran yang tak terbatas, kepada ma’rifat Allah. Lalu, bagaimana agar yang terbatas ini bisa “sampai” kepada yang tak terbatas.

Salah satu cara tahalli adalah dengan zikir, yang oleh nabi dikiaskan sebagai “membersihkan (menggosok) karat di hati” agar hati bisa menjadi cermin yang memantulkan asma al-husna dan karenanya menjadi layar kesadaran yang tak terbatas. Para sufi, kita tahu, sangat menekankan praktik zikir yang benar.Sesudah zikir merasuk ke ingatan, pintu ke organ batin akan terbuka. Dan dari sana, zikir bisa masuk ke dalam lathifah. Berapa jumlah lathifah
itu? Ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan sepuluh, tujuh atau lima. Imam
al-Ghazali menyebut lathifah ini hakikat insan – tempat ma’rifat kepada Allah dan tempat bersemayamnya Nur Ilahiah. Ini adalah sirr, atau rasa yang rahasia, seperti disebut dalam hadits qudsi yang kerap dikutip Syaikh sufi, sanu sirri wa ana sirrhu, manusia itu rasa (rahasia) Ku, dan n Aku dirasakan manusia. Sirr itu semacam inti, seperti dikatakan dalam hadits lainnya yang kira-kira artinya begini — Aku jadikan pada anak adam itu ada istana,
di situ ada dada dan di dalamnya ada qalbu, tempat bolak-baliknya ingatan, dan di dalam qalbu ada fu’ad, kejujuran dalam ingatan, dan di dalamnya ada syaghaf, atau kerinduan dan di dalamnya ada lubbun atau kerinduan yang amat membara, dan di dalamnya ada sirr, kemesraan, dan dalam sirr ada Aku. Sedangkan Imam Qusyairy meringkasnya menjadi tiga urutan, dari qalb ke ruh lalu ke sirr.”

Dalam tarekat qadiriyah wa naqshabandiyah, misalnya, zikir nafi-itsbat, atau kalimat tahlil, dilakukan dengan cara tertentu sehingga aliran zikirnya menyentuh semua lathifah, dari latifah qalb, ruh, sirr, khafi, akhfa, nafsi dan akhirnya ke seluruh tubuh, sehingga tercapai apa yang difirmankan bahwa seluruh keberadaan orang mukmin akan gemetar ketika asma Allah disebut. Zikir itu akan menimbulkan getaran pada lathifah dan orang yang sudah
kasyaf bisa melihat lathifah itu akan memunculkan cahaya ilahiah yang tak terhingga. Tapi karena zikir menyentuh semua lathifah, maka semua lathifah itu akan bercahaya, ada yang merah, hijau, putih, hitam dan kuning. Jika beruntung dikaruniai pembukaan mata hati, kita akan bisa melihat tubuh orang yang berzikir akan bercahaya warna-warni.

Tetapi zikir saja, meski banyak bermanfaat, belumlah cukup untuk sampai ke ketakterhinggaan. Harus ada ikhlas. Uniknya, ada proses yang terbalik dalam zikir. Zikir justru bisa menciptakan rasa ikhlas dan ihsan. Ikhlas itu mengembalikan semua keberadaan kita kepada adam, kekosongan, ketiadaan, sebab sesungguhnya hanya ada Allah, la maujuda illa Allah, dan karenanya semuanya kembali kepada Allah.

Orang yang terikat pada keduniawian berpikir bahwa dengan mengumpulkan banyak harta, ketenaran, menumpuk-numpuk kebaikan tanpa mengembalikannya hakikatnya kepada Allah, seolah-olah mereka adalah pemilik kebaikan itu sendiri, maka mereka pikir itu akan membuat merka mencapai ketinggian martabat. Tetapi, mereka lupa bahwa penjumlahan, akumulasi, tidak akan mengantarkan kepada ketakterhinggaan. Ada sebagian orang lain yang secara
tak sadar mendasarkan diri pada ‘perkalian.’ Mereka percaya bisa hidup berkali-kali, dalam wujud yang berbeda berkali-kali, seperti paham reinkarnasi, inkarnasi, transmigrasi ruh dan sebagainya. Ini keliru. Sebab perkalian tidak akan membawa kita kepada ketakterhinggaan. Lalu apa? Pembagian nol! Jika bilangan dibagi dengan nol, hasilnya tak terhingga.
Dengan kata lain, segala tindakan dan amal saleh kita jika dilambari dengan ikhlas, akan menghasilkan ketakterhinggaan.

Seorang wali Allah pernah berkata jika kita berzikir dengan kalimat tahlil dengan benar, maka dunia akan berada di genggamanmu, tetapi dunia tidak akan pernah bersemayam di hatimu. La illaha illa Allah sangat dahsyat, sebab ia diwariskan dari jiwa yang senantiasa hidup, sebab ia diteruskan melalui mata rantai silsilah keruhanian yang tak terputus. Menurut Qur’an, Islam adalah agama sempurna, dan sesudah Muhammad tak ada lagi nabi dan rasul.
Tetapi, Nur Muhammad tak akan lenyap. Ia akan senantiasa ada. Karenanya,
kalimat tahlil adalah satu-satunya kalimat yang terjamin kesinambungan manfaat
ruhaniahnya. Seorang wali dari India pernah mengatakan, kalimat yang
semakna dengan tahlil juga ada, seperti ‘Aham Brahma Asmi.’ Tetapi, menurut
beliau, jika kita berzikir dengan kalimat ini, efeknya tidak ada, sebab kalimat
itu khusus untuk waktu tertentu pada masa yang sangat lampau, namun tidak
ada kontinuitas. Hanya Rasulullah Muhammad yang diberi hak sebagai pembawa
risalah yang berlanjut hingga akhir zaman. Melalui beliaulah nikmat
Tuhan dicukupkan dan syariat disempurnakan. Karena itu kita bisa memahami
mengapa, misalnya, meski Islam dan para terutama Sufi menghormati keyakinan dan
jalan agama lain, mereka tidak lantas jatuh dalam sinkretisme. Meski para
Sufi memahami ada banyak jalan menuju Allah, tetapi para Sufi tidak pernah
mencampuradukkan agama, tak pernah meninggalkan shalat – pendeknya,
mereka tak pernah meninggalkan syariat Islam. Ketika sufi agung Ibn ‘Arabi
mengatakan bahwa agamanya adalah agama cinta, dan hatinya terbuka untuk
semua hal yang membawa ke jalan cinta, ia tidak bermaksud mengatakan
bahwa semua agama adalah sama. Sampai akhir hayatnya, Ibn ‘Arabi adalah
muslim yang taat pada syariat.

In the final analysis, dengan ikhlas, manusia akan “sampai” ke “penyatuan” dengan ketakterhinggaan. Secara teori sangat sederhana, tetapi praktiknya sangat sulit. Sedemikian sulitnya sehingga kita butuh syaikh yang kamil mukammil. Wallahu A’lam

1 komentar:

  1. terima kasih atas ilmu nya..
    saya mau nanya, bagaimana ciri ciri seorang penerus kemursyidan setelah wafat nya Syaikh kamil mukamil yakni murysid sebelumnya?
    saya bertanya begitu karena sya mempunyai keyakinan, seorang mursyid tarekat adalah wali Alloh, maka penerus kemursyidan nya harus wali Alloh juga, tetapi sngat sulit sekali untuk melihat ciri cirinya. saya menanyakan hal ini juga karena Guru Agung kami yaitu Syaikh KH. Ahmad Shohibul wafa Tajjul A'rifin telah wafat, dan saya sedang mencari penerusnya, terima kasih.
    mohon dijwab dan bagai mana pengalaman pemilik blog ini di tarekat anda tentang perpindahan kemursyidan? terima kasih

    BalasHapus