Nabi Khidir AS & Sulthonul Awliya RA



Nabi Khidir a.s. adalah nabi yang amat misterius. Pelajarannya pun sangat misterius. Demikian pula cara berdakwahnya yang berbeda dengan cara berdakwah nabi-nabi yang lain. Hal-hal misterius juga terjadi pada orang-orang yang berupaya bertemu dengannya. Oleh karena itu, tidak aneh bila orang yang menerima pelajarannya pun terkadang menjadi bingung.

Pelajaran Nabi Khidir a.s. berupa ilmu hakikat. Bentuk pelajarannya adalah ijmak dan kias. Makna pelajarannya sangat dalam. Hal yang menjadikan pelajarannya misterius adalah cara penyampaiannya yang terkesan aneh dan seakan-akan tidak pada tempatnya. Oleh sebab itulah, terkadang pelajarannya justru tidak disadari oleh orang yang belajar kepadanya. Memang pelajaran Nabi Khidir a.s. ditujukan bagi khaas dan khawas. Hanya kepada orang-orang yang mampu menerimanya Nabi Khidir a.s. memberikan pelajarannya. Seandainya kita dapat mengikuti pelajarannya, kita hanya dapat mengikuti sebagian kecil saja diantaranya. Itu pun setelah kita mulai mempelajarinya dengan kepasrahan total

Nabi Khidir a.s. menyampaikan pelajarannya melalui perbuatan isyarat dan kias. Dalam mempelajarinya diperlukan pemikiran yang lebih dalam dan penelaahan yang serius melalui pencermatan dan perenungan terhadap pelajaran itu. Orang-orang yang belum mencapai kelas Nabi Khidir a.s. pasti menolak pelajaran yang diberikan olehnya. Dan itulah yang sempat dilakukan oleh Nabi Musa a.s. Beliau menolak pelajaran Nabi Khidir beberapa kali karena bertentangan dengan isi hati nuraninya

Jika dulu Nabi Khidir AS berjumpa dengan Nabi Musa AS, maka kali ini Nabi Khidir tlah mengulang kembali perjumpaan tersebut namun bukan kepada Nabi Musa atau Nabi lain, tepat pada bulan Rabiul Awal Nabi Khidir datang menjumpai Sulthonul Awliya (Abul Qurthuby) . berikut beberapa Tanya jawab antara keduanya :
Nabi Khidir : Assalamu’alaikumu Ya Abul Qurthuby
Sulthon       : Salam ‘Alaika Ya Nabiyyulloh
Nabi Khidir : Bagaimana caramu tuk menghiasi wajahmu dengan keceriaan, dan  kalbumu dengan keikhlasan, serta  jiwamu dengan ketabahan serta kepasrahan.
Sulthon       : dengan prasangka baik lah allah menghiasi wajahku dengan keceriaan,Keikhlasan dan ketabahan.
Nabi Khidir : bagaimana engkau bersikap  arif kepada semua makhluk terutama manusia ?
Sulthon       : karna hanya sifat ‘arif lah kita dapat menghormati citaan-Nya .
Nabi Khidir : Jelaskanlah padaku akan sebuah Noktah ?
Sulthon       : tentunya yang bertanya lebih mengetahui dan mengenal dari yang ditanya.

Setelah jawaban tersebut lalu Nabi Khidir memeluk dan membawa Sultho ke dalam Noktah yang ditanyakan. Sejenak keduanya pun lenyap tak berbentuk. Subhanalloh !

Alhasil, berprasangka baik kepada Allah merupakan suatu yang wajib bagi kita kaum muslimin, bukan hanya menimbulkan ketabahan melainkan akan membuahkan hasil yang semupna dalah keikhlasan kepada Allah

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Kiayi Marogan Palembang


Ratusan tahun yang silam , Tersebutlah kisah tentang seorang ulama besar yang cukup ternama. Ki Mgs H A Hamid namanya. Mubalig yang mengajar Agama Islam tidak saja berada dalam kota Palembang, bahkan beliau juga mengajar sampai ke desa –desa yang terpencil.

Banyak sekali kisah gaib dalam kehidupan mubalig ini ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Muara Ogan sampai dengan sekarang. Bahkan makamnya masih hingga kini di kujungi masarakat yang berada di Palembang juga dari luar .
Ki Muara Ogan panggilan akrabnya, kemana-mana pergi untuk mengajar dan menyebarkan Agama Islam selalu menggunakan perahu, bila tempat mengajar yang tetap maka ia akan mendirikan mesjid disana.

Suatu ketika saat menuju ketempat mengajar, Ki Muara Ogan menasehati pada muridnya,”Murid-muridku sekalian ikuti apa yang akan aku ajarkan ini.”
“Baik guru,”jawab muridnya sambil mendayungkan perahu menuju kelokasi di tempat ia mengajar.
Dalam perjalanan itu Ki Muara Ogan menuturkan ,”Baik demikian amalan itu, La illaha illahu malikul hakul mubin Muhammad Rasulullah Shodikul wa adil Amin,” begitu juga murid mengikuti apa yang disampaikan ulama tersebut.
Ki Muara Ogan sepulang dari memberikan petuah-agamanya, ia kembali menuju ketempat tinggalnya, yaitu berada di Kertapati , hingga sekarang mesjid itu masih berdiri kokoh.
Begitu besar keyakinanya pada Allah, ketika itu di tahun 1911, dizaman pemerintahan penjajahan Belanda, seorang dari prajurit Belanda berkata pada Ki Muara Ogan,” tanah untuk kereta api ini harus di perluas.”
Ki Muara Ogan dengan tenang menjawab,”Tanah itu akan menggeser tanah pabrik kayu milik kami.”
“Kami tahu tuan, tapi perluasan tanah ini untuk kepentingan masarakat banyak,” ungkap prajurit utusan Belanda itu kepada Ki Muara Ogan.

Ki Muara Ogan menganggukan kepala , “baik kami iklas ini untuk kepentingan masarakat dan negera, silahkan.”

Setelah itu pabrik kayu milik Ki Muara Ogan ini dipindahkan ke Kampung Karang Anyar, dan pabrik ini diberikan pada Mgs H M Abumansur. Tanah wakap milik Ki Muara Ogan itu, hingga kini jadi milik PT Kereta Api.
Pada saat itu, Ki Muara Ogan tengah mengadakan ceramah, yaitu berada di Mesjid Ki Muara Ogan Kertapati, sehingga terdengar dengan sangat lantangnya,”Bumi berserta isinya adalah milik Allah ,”
Jemaah mendengarkan itu dengan penuh perhatian sekali, sehingga terasa sejuk dan nyaman bagi siapa yang mendengarkan pada waktu itu.
Disaat itu tak lupa beberapa orang Belanda mendengarkan dan menyaksikan ceramah yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan tersebut, tentu tugas mereka hanya untuk mengawasi kegiatan yang dilakukan Ki Muara Ogan.
Kembali terdengar dengan lantang apa yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan, yang menyampaikan petuahnya pada jamaah,”Kekuasaan Allah itu adalah maha besar, jika ia berkata jadi maka jadilah ia.”
Penuh perhatian sekali jamaah menyimaknya, sehingga kembali terdengar seruannya,”Allah mengetahui apa-apa yang tidak di ketahui oleh manusia.”
Seorang hadirin bertanya,”Guru apa misalnya kekuasaan Allah yang tidak mungkin di ketahui oleh manusia itu ?
“Begini ,”kata Ki Muara Ogan sambil ia berdiri dihadapan para jamaahnya.”Misalnya tiap-tiap ada air didalamnya selalu akan ada ikannya?”
Mendengar itu spontan seorang prajurit Belanda yang tengah mengawasi Ki Muara Ogan dari sejak tadi, tiba-tiba berkata,”Bagaimana dengan air kelapa, apakah ada juga ikannya?”
“Insya Allah jika Allah menghendaki maka ikan itu akan ada,” tegas Ki Muara Ogan sembari mulut tetap berkomat- kamit menyebut nama Allah.

Serta merta prajurit itu pandangannya mengarah keluar mesjid,”Ki apakah kelapa itu juga ada ikanya?” kembali prajutit itu menunjukan pada sebuah pohon kelapa yang ada di luar.
Serentak Ki Muara Ogan berserta dengan para jamaahnya menuju keluar, untuk membuktikan kekuasaan Allah tersebut, maka di perintahkanlah seorang murid Ki Muara Ogan memanjat sebuah pohon kelapa, sejenak saja sebuah pohon kelapa di letakan di hadapan Ki Muara Ogan juga disaksikan oleh para jamaah lainya yang hadir pada saat itu.
Sehingga pada waktu itu juga, di persilahkan oleh Ki Muara Ogan pada prajurit Belanda itu sendiri untuk membuktikan kebesaran Allah pada penciptanya.

Pada saat itu juga dengan tiba-tiba sekali, prajurit Belanda itu segera memotong kelapa yang ada di hadapannya waktu itu, sungguh hal yang sangat tidak dapat di kira dari dalam kelapa yang di potong itu muncullah seekor ikan seluang, sejak saat itu sekitar masjid Ki Muara Ogan terdapat ikan Seluang dan di sekitar mesjid tetap berdiri pohon kelapa.

Pernah juga Kisah aneh terjadi, ketika Ki Muara Ogan bersama dengan ketujuh muridnya pulang dari menyebarkan agama Islam, pada waktu itu mereka terhambat karena tidak ada perahu yang akan menyeberangkan di sungai Ogan .
Namun dengan keyakinan yang ada dalam jiwa Ki Muara Ogan , serta merta ia membentangkan salnya, yang selalu berada di pundaknya itu, ia letakan di atas air.”Silahkan kalian duduk di sal itu.” Perintah Ki Muara Ogan pada muridnya yang sedang ikut serta itu.
Karena itu adalah perintah seorang guru, muridnya yang yakin tanpa banyak komentar segera saja ia duduk di atas sal itu, tetapi bagi muridnya yang merasa ragu ia akan diam, atau ia akan bimbang.
“Naiklah wahai muridku, maka kau tidak akan tenggelam,” kata Ki Muara Ogan, namun ada seorang murid yang tidak mau ikut, tetapi yang sudah ikut serta segera saja mereka berjalan seperti layaknya mereka naik sebuah perahu saja.

Setelah itu kembali ia menjemput muridnya yang tadi tinggal tersbut, barulah muridnya itu merasa yakin, karena ia sudah melihat kenyataan itu. Muridnya yang tinggal itu ikut kembali menyeberang .Ketika hampir saja tiba diseberang muridnya itu masih saja merasa ragu, sehingga ia terjatuh, dan segera ia berenang ketepi sungai itu.
Disaat itu Ki Muara Ogan berkata pada muridnya, “Itulah akibat jika seorang hamba belum yakin pada kebesaran Allah, sehingga masih adanya suatu keraguan yang tersimpan dalam pikiran dan hatinya. Untuk itu kamu harus kembali memperkuat iman kepada Allah yang telah menciptakan mahluknya .”

Kisah ini menjadi kisah yang di sampaikan dari mulut kemulut oleh warga kota Palembang, sehingga menjadi warisan kisah turun temurun yang ada di wilayah Sumatera Selatan pada umumnya.

Martabat Wali


Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam
Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat. Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

Menurut sebuah Hadits yang telah dikeluarkan oleh Hadhrat Abu Na’im dan Hadhrat Ibnu ‘Asakir yang meriwayatkan daripada Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ada 300 orang dari kalangan manusia ini yang hati mereka itu seperti hati Nabi Adam ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 7 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 40 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 5 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Jibril ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 3 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Mikail ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada seorang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Israfil ‘Alaihissalam. Apabila wafat yang seorang ini, maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 3 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 3 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 5 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 5 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 7 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 7 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 40 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 40 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari golongan yang 300 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 300 orang itu, maka Allah menggantikannya dengan melantik salah seorang dari kalangan orang ramai. Maka dengan Para Wali yang tersebut itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan, diturunkan hujan, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan dihalang bala dari menimpa ummat manusia ini.” Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud telah ditanya, “Bagaimana dikatakan bahawa dengan Para Wali itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan?” Beliau menjawab, “Kerana Para Wali itu memohon kepada Allah supaya Allah meramaikan bilangan manusia, maka manusia pun menjadi bertambah ramai. Mereka itu berdoa kepada Allah agar orang-orang yang zalim dan tidak berbelas kasihan dibinasakan, maka mereka itupun dihancurkan. Mereka memohon supaya diturunkan hujan, maka diturunkanlah hujan. Mereka memohon agar disuburkan bumi, maka suburlah bumi. Mereka itu berdoa, maka dengan doa mereka itu dijauhkan berbagai rupa bala.”

Bilangan Para Wali tidak dapat ditentukan jumlahnya yang sebenar karana mereka adalah Ahli-Ahli Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya Dialah yang tahu berapakah jumlah bilangan yang sebenar Para AuliyaNya. Namun bilangan mereka yang khusus dari kalangan Para Wali itu adalah tetap sepertimana yang ada dinyatakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Na’im Rahmatullah ‘alaih bermafhum,
“Orang-orang yang terbaik dari kalangan Ummatku pada setiap kurun itu
ialah seramai lima ratus orang.”


Mereka adalah orang-orang yang ‘Arif tentang Allah serta tekun membuat kebaikan dan menjauhkan maksiat dan nafsu syahwat. Ingatan mereka hanya tetap kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Muslim dan At-Tirmizi Rahmatullah ‘alaihima bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang mafhumnya,

“Telah memperoleh kemenangan golongan Al-Mufarridun.” Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah orang- orang yang sangat suka menghabiskan masa untuk berzikir mengingati Allah. Zikir itu tidak memberatkan mereka, maka mereka itu akan datang di Hari Qiyamat dalam keadaan ringan.”

Sebuah Hadits ada menyatakan yang mafhumnya,

“Satu golongan dari Ummat Islam ini sentiasa dapat menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka itu sehinggalah datang ketentuan urusan Allah Ta’ala.”

Dalam sebuah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Hadhrat An-Nasa’I dan Hadhrat Ibnu Hibban Rahmatullah ‘alaihima, bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

Sesungguhnya ada hamba-hamba dari kalangan Hamba Allah yang dipandang tinggi dan sangat mulia oleh Para Nabi dan Syuhada.” Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Mudah- mudahan kami juga kasihkan mereka. Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah kaum yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain dengan Nur Allah tanpa memandang kepada harta kekayaan dan keturunan. Wajah-wajah mereka adalah bercahaya dan mereka itu adalah berada di atas limpahan Cahaya Allah. Mereka tidak akan berasa takut walaupun manusia lainnya berasa takut dan mereka tidak akan berasa dukacita bila manusia lain berdukacita.”

Hadhrat Mujaddidul Millat Maulana Ashraf ‘Ali Thanwi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa, istilah-istilah Tasawwuf terbahagi kepada dua jenis
Yang pertama ialah apa yang bertakluk dengan maksud, iaitu apa yang terkandung di dalam Syari’at, yang mana hakikat segala istilah yang digunakan dalam Tasawwuf adalah untuk merujuk kepada Syari’at.
Yang kedua ialah, istilah-istilah yangdigunakan untuk perkara-perkara tambahan. Ianya digunakan untuk menyatakan perkara-perkara yang di luar Syari’at, sebagai contohnya Tajdid Imtsal, Tauhid Wujudi, Shughal, Rabitah dan sebagainya.

Perkara ini merupakan sesuatu yang halus di kalangan Para Sufi yang mulia, yang mana bagi menyembunyikan rahsia mereka dari pengetahuan umum, maka mereka pun menggunakan berbagai istilah. Jikalau tidak, tentulah ianya akan bercanggah dengan Al-Quran dan Hadits, maka wujudlah perkataan-perkataan yang baharu. Sebahagian ‘Ulama yang tidak mengerti dengan penggunaan istilah mereka telah membantah ke atas mereka, yang mana pada hakikatnya memang perkara itu tidak berlaku secara Waqi’, bahkan ianya hanya berlaku pada sudut kefahaman seseorang.

Hadhrat Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Kashful Mahjub bahawa, menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abdullah Muhammad Bin ‘Ali Al-Hakim Al-Tirmizi Rahmatullah ‘alaih, ada terdapat sebanyak empat ribu Wali yang sentiasa hidup di dunia ini dan tidak dapat diketahui oleh orang ramai kerana mereka dilindungi dan disembunyikan oleh Allah Ta’ala, dan mereka tidak mengenal antara satu dengan yang lain.

Beliau menyatakan lagi bahwa terdapat tiga ratus orang yang bergelar Akhyar, empat puluh orang yang bergelar Abdal, tujuh orang yang bergelar Abrar, empat orang yang bergelar Awtad, tiga orang yang bergelar Nuqaba dan seorang yang bergelar Qutub dan Ghauts. Mereka yang termasuk dalam golongan tersebut itu adalah mengenali diri mereka antara satu sama lain.

Adapun pembahagian jenis-jenis Wali dinyatakan seperti berikut seperti yang
telah dinyatakan di dalam kitab-kitab.

1. Wali Abdal
2. Wali Abrar
3. Wali Akhyar
4. Wali Aqtab
5. Wali Autad
6. Wali ‘Imad
7. Wali Ghauts
8. Wali Mufradan
9. Wali Maktuman
10. Wali Nujaba
11. Wali Nuqaba
12. Wali Qutub

1. ABDAL

Terdapat empat puluh orang Wali Abdal kesemuanya. Dua puluh dua orang dari mereka berada di Negara Syam yakni Damsyik, Syria dan lapan belas dari mereka berada di Negara Iraq. Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih bahawa sekali Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah ditanyakan orang tentang Ahli Syam yakni Para Abdal. Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah berkata bahawa dia telah mendengar Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahawa,

Wali Abdal berada di Negeri Syam dan mereka berjumlah empat puluh orang kesemuanya. Apabila seorang daripada mereka mati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikan tempatnya dengan seorang yang lain. Dengan menerusi keberkatan mereka maka diturunkan hujan dan membantu mereka menghadapi musuh-musuh dan menjauhkan azab bagi para penduduk Syam.”
2. ABRAR
Kebanyakan Ulama mengatakan bahawa Wali Abdal adalah Wali Abrar.

3. AKHYAR
Terdapat lima ratus orang Wali Akhyar kesemuanya dan adakalanya meningkat sehingga tujuh ratus orang. Kedudukan mereka ada di merata tempat di atas muka bumi ini. Terdapat Hussain pada nama mereka.

4. AQTAB
Terdapat 2 jenis Wali Aqtab:
1.AQTAB MU‘AIYINAH
-Terdapat satu Qutub Al-‘Alam yang dikenali juga sebagai Qutub Akbar atau Qutub Al-Irshad atau Qutub Al- Aqtab atau sebagai Qutub Al-Madar. Namanya di Alam Ghaib ialah ‘Abdullah dan memiliki dua orang pembantu. Di bawahnya terdapat dua belas orang Wali Qutub. Tujuh orang dari Wali Qutub tersebut menduduki tujuh benua dan dinamakan mereka sebagai Qutub Aqlim dan lima orang dari Wali Qutub tersebut tinggal di Negara Yaman. Mereka dinamakan sebagai Qutub Wilayat.

2.AQTAB GHAIR MU‘AIYINAH - Terdapat di setiap bandar atau kariah, seorang Qutub yang akan mendoakan kesejahteraan dan memohon dijauhkan dari segala bala dan musibah.

5. AUTAD
Tedapat 4 orang kesemuanya dan mereka menduduki empat penjuru alam.

6. ‘IMAD
Terdapat 4 orang kesemuanya dan mereka juga menduduki empat penjuru alam dan
bernama Muhammad.

7. GHAUTS

Hanya seorang sahaja Ghauts pada setiap zaman dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia juga adalah Qutub Al-Aqtab dan sebahagian Ulama mengatakan tidak. Beliau tinggal di Mekah dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia tidak tinggal di Mekah.

8. MUFRADAN
Seseorang Wali Ghauts yang menuju kepada maqam Qutub Al-Aqtab akan terlebih dahulu melalui kedudukan Wali Fard atau dikenali sebagai Mufradan atau Mufarridan.

9. MAKTUMAN
Mereka adalah Auliya yang tersembunyi dan tidak diketahui keadaan mereka.

10. NUJABA
Mereka berjumlah 70 orang kesemuanya dan tinggal di Negara Mesir serta terdapat
Hassan pada nama mereka.

11. NUQABA
Mereka berjumlah tiga ratus orang kesemuanya dan mereka tinggal di Negara
Maghribi (Maroko) dan mereka bernama ‘Ali.

12. QUTUB
Terdapat 2 jenis Wali Qutub
1. QUTUB AL-IRSHAD -Yang pertama adalah mereka yang memberi khidmat petunjuk, memperbaiki hati, mentarbiyah nafsu, membimbing kepada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan makbul di sisiNya. Mereka dikenali sebagai Ahli Irshad. Dari kalangan mereka ini yang paling sempurna dan terbaik di zaman masing-masing dan memiliki limpahan Faidhz yang sempurna, maka mereka digelar sebagai Qutub Al-Irshad. Mereka adalah Naib Para Anbiya yang hakiki. Hati-hati manusia bercahaya dan diberkati kerana mereka dan syarat bagi memperolehi keberkatan tersebut dari mereka adalah dengan meletakkan I’tiqad serta kepercayaan yang penuh terhadap mereka. Keupayaan mereka seumpama Nubuwwat.

2.QUTUB AT-TAKWIN - Kemudian ada golongan yang kedua iaitu mereka yang berkhidmat mengislahkan manusia dan mentadbir urusan keagamaan dan sebagai penghindar bala dan musibah yang mana dengan kehendak Batin mereka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperbetulkan urusan-urusan tersebut. Mereka digelar sebagai Ahli Takwin. Dari kalangan mereka itu yang paling tinggi dan kuat kedudukannya dan menjadi penghukum atau penyembuh bagi mereka yang lain, maka mereka itu digelar sebagai Qutub At-Takwin. Hal kehidupan mereka sepertimana kehidupan Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjalankan urusan pentadbiran. Hadhrat Khidhr ‘Alaihissalam menduduki maqam seperti ini. Dengan kedudukan mereka yang tinggi maka terzahirlah perkara-perkara yang ajaib dan perkara ini adalah lazim. Keadaan mereka tidak seperti Ahli Irshad kerana pada Ahli Irshad tidaklah semestinya berlaku perkara-perkara yang menyalahi adat. Ahli Irshad memiliki Karamat dalam bentuk yang berbeza di mana orang- orang awam tidak dapat memahaminya, bahkan ianya adalah urusan yang berupa Zauq dan perasaan Syauq. Seseorang yang berhajat dan berkhidmat dengan mereka ini dalam suatu jangkamasa yang panjang akan beroleh faedah yang besar dan adalah mereka ini mengetahui keadaan tersebut.

Perkataan Qutub pada pengertian bahasa ‘Arab bererti penghulu kaum manakala menurut istilah Ahli Tasawwuf dan Tariqat, Qutub bererti Penghulu bagi Para Auliya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berada pada tingkatan yang teratas dari kebanyakan Para Wali serta terhimpun padanya kesempurnaan Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan Haqiqat. Para Qutub menjadi tempat rujukan dan petunjuk bagi Para Wali yang lain.

Mereka membantu menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri Para Wali dan orang-orang yang menuju kepada Kewalian. Kedudukan mereka sangat tinggi dan tidak mudah dicapai melainkan dengan Rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka ada di tiap pelosok muka bumi dan tidak seorang pun yang mengenali mereka kecuali bagi orang-orang yang benar-benar ikhlas ingin mengenali mereka dan mengambil istifadah ruhaniah yakni faedah keruhanian dari mereka

Di dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya dinyatakan bahawa Wali Qutub diberi gelaran ‘Abdullah dan tingkatan Wali sesudahnya adalah Wali Aimmah yang berjumlah dua orang saja. Seorang diberikan nama ‘Abdur Rabb dan seorang lagi bernama ‘Abdul Malik. Dua orang Wali inilah yang nantinya akan menggantikan Wali Qutub ketika dia wafat meninggalkan Dunia. Di bawah keduanya terdapat Wali Autad yang berjumlah empat orang dan mempunyai tugas yang berlainan pada kawasan yang berlainan. Seorang di Timur, seorang di Barat, seorang di Utara dan seorang di Selatan. Wali Autad adakalanya terdiri dari kalangan kaum perempuan.

Tingkatan selanjutnya di bawah mereka adalah Wali Abdal dan mereka berjumlah tujuh orang dan ditugaskan menjaga tujuh iklim benua di Dunia. Kemudian ada tingkatan Wali Nuqaba iaitu Wali Pengganti sebanyak dua belas orang di setiap peredaran masa dan jumlah mereka tidak akan pernah bertambah mahupun berkurang sesuai dengan jumlah Buruj Falak yang berjumlah dua belas. Kemudian terdapat juga di bawah mereka tingkatan Wali Nujaba yang berjumlah lapan orang dan tingkatan yang terakhir sekali adalah tingkatan Hawariyun. Wallahu A’lam.
Menurut Hadhrat Syeikh Muhammad Hisham Kabbani Quddisallahu Sirruhu
terdapat lima tingkatan Qutub yang tertinggi yaitu:

1. Qutub
2. Qutub Al-Bilad
3. Qutub Al-Mutasarrif
4. Qutub Al-Irshad
5. Qutub Al-Aqtab

Menurut beliau,Qutu b adalah seseorang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan keupayaan menerusi Hakikat Muhammadiyah untuk menghuraikan ilmu pengetahuan tentang hakikat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum kewujudannya sehinggalah diutuskan ke Dunia. Qutub juga menghuraikan cabang- cabang ilmu pengetahuan yang baru menerusi hati Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Bilad adalah bertanggungjawab untuk mentadbir urusan di Dunia dan memastikannya berjalan lancar.

Dia mengetahui tentang keperluan jasmani setiap bangsa manusia dan bukan manusia. Qutub Al-Mutasarrif diberikan kemuliaan untuk mengarahkan Malaikat kepada manusia atau makhluk yang berlainan dan dia bertanggungjawab untuk berkhidmat kepada makhluk sehinggakan kepada ulat di dalam batu. Segala kemuliaan ini diperolehinya menerusi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Irshad pula bertanggungjawab untuk memberikan nasihat dan petunjuk kepada seratus dua puluh empat ribu Para Wali manakala Qutub Al-Aqtab pula bertanggungjawab mengawasi kesemua Wali Aqtab

Di atas sekelian Wali Qutub dan Aqtab adalahGhaut s dan Rohaniahnya adalah yang paling dekat dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada zamannya. Ghauts ada pada setiap zaman dan dia diibaratkan seperti suatu terusan yang akan membawa sesiapa sahaja yang dikehendakinya kepada Hakikat Muhammadiyah dan Hakikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadhrat Khwajah Khwajagan Ghautsul Tsaqilain Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari mereka sepertimana Hadhrat Qutubul Aqtab Ghautsul A’zam Syeikh ‘Abdul Qadir Al- Jailani Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Ghautsul Aqtab Khwajah ‘Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan begitu juga Hadhrat Imam Rabbani Ghauts As- Samdani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih. Mereka datang silih berganti pada setiap zaman sama ada mereka diketahui ataupun tidak diketahui. Para Wali Qutub, Aqtab dan Ghauts menghasilkan limpahan ilmu kerohanian terus dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menerusi hati ke hati. Mereka diberikan pengetahuan tentang segala perkara dan kejadian yang berlaku di atas muka bumi yang berkaitan dengan angin ribut, gempa bumi dan hujan yang lebat.

Mereka selalunya dari keturunan yang mulia Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu menerusi Hassani dan Hussaini. Meskipun jika seseorang yang dikurniakan Qutub atau Aqtab atau Ghauts tidak mempunyai pertalian keturunan Hassani mahupun Hussaini, mereka adalah orang-orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala hendak meninggikannya sepertimana Hadhrat Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang mendapat pengiktirafan sebagai Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meskipun beliau adalah seorang A’jam yang datang berhijrah dari Parsi dan memeluk Islam setelah bertemu dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun kerana ketinggian Iman dan amalannya yang Ikhlas, beliau telah diisytiharkan sebagai Ahlul Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Adapun kedudukan yang lebih tinggi dari yang tersebut di atas, adalah Sultanul Auliya dan ia merupakan kedudukan yang tertinggi bagi seseorang

Wali Allah. Mereka diberikan kewajipan untuk memenuhi keperluan hati dan ruhani manusia. Mereka membawa raja-raja di Dunia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sultanul Auliya merupakan Khalifah Allah yang sebenar di atas muka bumi pada zamannya dan dia merupakan wakil Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara seratus dua puluh empat ribu Para Wali yang lain adalah sebagai mewakili kesemua seratus dua puluh empat ribu Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Wallahu A’lam.

Walaubagaimanapun, satu perkara yang perlu sentiasa dipegang oleh sekelian Ahli Tariqat bahawasanya Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Khatamun Nabiyyin yang bererti Penutup Sekelian Nabi. Ini bermaksud, sesudah Hadhrat Baginda Nabi MuhammadRasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak akan ada lagi sebarang Nabi atau Rasul yang baru akan muncul dengan membawa sebarang Syari’at yang baru sehinggalah ke Hari Qiyamat yang mana inilah merupakan ‘Aqidah sekelian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah disepakati.

Jika ada yang mendakwa dirinya sebagai Nabi atau Rasul atau mendakwa membawa suatu Syari’at yang baru untuk ummat manusia dan ianya bercanggah dengan Syari’at yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka adalah diyakini bahawa ianya tertolak, manakala orang yang mengeluarkan dakwaan tersebut adalah sesat dan jika dia mengajak manusia lain maka adalah dia itu sesat lagi menyesatkan, dan adalah mereka itu Dajjal-Dajjal kecil yang sememangnya ditakdirkan wujud sesudah kewafatan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di kalangan Ummat sepertimana Musailamah Al-Kazzab dan ini merupakan suatui ujian atas keimanan dan I’tiqad di kalangan Ummat Islam.

Adapun Hadhrat Baginda Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang akan muncul menjelangnya Hari Qiyamat bukanlah Nabi yang baru kerana Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam telah pun dihantar 600 tahun sebelum kelahiran Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pada usia 33 tahun telah diangkat ke langit. Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam tidak akan membawa sebarang Syari’at yang baharu, sebaliknya beliau akan turun sebagai seorang Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaksanakan Syari’at Islam dengan Haq.
Wallahu A'lam Wa 'Ilmuhu Akmal Wa Atam
---------------------------------------------------------------------------------
Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

Peringatan Allah

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ 
صحيح البخاري

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata'ala berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.

RATIB AL-AYDRUS


AL IMAM HABIB ABDULLAH ALAYDRUS BIN ABUBAKAR ASSAKRAN BIN ABD RAHMAN ASSAGGAF( SHOHIBUL RAATIB ALAYDRUS)

Beliau adalah penyusun raatib alaydrus yang sering dibaca dibeberapa majlis ta’lim, marga beliau bergelar Alaydrus yang artinya ketua orang-orang tasauf, lahir di tarim pada tanggal 10 zulhijah tahun 811H ayah beliau bernama habib Abu bakar asyakran ibunya bernama Mariam dari seorang Zuhud bernama Syekh ahmad bin Muhamad Barusyaid.

Imam Habib Abdulloh alaydrus akbar seorang wali qutub( imamnya para wali) dan seorang ahli sufi .Sejak kecil beliau gemar sekali membaca karya-karya ulama termasyhur seperti kitab Ihya ulumudin karangan Imam Gozhali hingga beliu hampir hafal karena seringnya membacanya. Namun beliau selalu tawadhu’ beliau selalu duduk diatas tanah dan senantiasa sujud ditanah sebagai rasa bahwa diri nya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWt, kerap kali beliau mengangkat sendiri barang-barang keperluannya dan tidak memperkenankan orang lain untuk membantu membawanya. Beliau selalu berjalan ketempat-tempat yang jauh untuk ta’lim kepada seorang ulama jika merasa haus beliu meminum air hujan .Menurut cerita Imam Habib Abdullah Alaydrus AlAkbar selalu menjalankan puasa-puasa sunah selama dua tahun dan berbuka hanya dengan 2 butir kurma. Kecuali pada malam-malam tertentu diamana ibunya datang membawakan makanan kepada beliau. Lantas beliau memakannya sebagai penghormatan kepada ibunya. Beliu melakukan puasa tersebut untuk mengekang Hawa nafsunya, karena dari sumber makanan , perut terlalu kenyang bisa menyebabkan orang malas untuk beribadah dan selalu menuruti hawa nafsunya.







37 pangkat/ Maqom Awlia


Berikut di bawah ini Pangkat/ Maqom nya para Aulia Alloh yang diambil dari kitab Jami'u Karomatil Aulia:

1.Qutub Atau Ghauts ( 1 abad 1 Orang )
2. Aimmah ( 1 Abad 2 orang )
3. Autad ( 1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin )
4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )
5. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap2 Bulan)
6. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang )

7. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang ) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.

8. Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.

9. Khotam ( penutup Wali )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam ( Penutup ).

10. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )
11. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )
12. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 7 Orang )
13. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )

14. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat )

15.Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )
16. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )

17. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

18. Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang )
19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )
20. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang )
21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )
22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa'ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )

23. Rizalul Ma'arijil 'Ula ( 1 Abad 7 Orang )
24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )
26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut " Rozulun Barzakh " Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA 'ALA KULLI SAY IN QODIRUN " Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )
30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil 'Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang ) sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina " Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma'rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).

31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

33. Budala' ( 1 Abad 12 orang ) Budala' Jama' nya ( Jama' Sigoh Muntahal Jumu') dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang ) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-'Alim Al-'Allamah Ahmad As-Sibty

36. Rizalul Ma' ( 1 Abad 124 Orang ) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su'ud Ibni Syabil " Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku "Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan" Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata "akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air", Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.

37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab " Berada di Dalam Hizabnya Alloh ", Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya

Kitab Sairul Salikin


Data ringkas kitab

Judul: Sair al-Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin

Kategori: Tasawuf

Pengarang: Syaikh ‘Abdusshomad al-Falimbani رحمه الله تعالى

Sair al-Salikin adalah merupakan sebuah karya agung tasawwuf didalam bahasa Melayu. Sebuah karya yang sangat terkenal di Nusantara. Kitab ini terdiri daripada 4 juz yaitu sebagai berikut :

- Juz pertama membahas tentang ilmu ushuluddin dan segala perkara yangberkaitan dengan ibadat yang zahir – ditulis pada 1193H/1779M dan selesai pada awal tahun 1194H/1780M di Mekah
-Juz kedua membahas tentang adat yakni mengenai hukum dan adab yang berlaku pada adat seperti makan-minum dan sebagainya - mulai ditulis pada 1194H/1780M dan selesai pada hari Sabtu, 19 Ramadan 1195H/1781di Thaif.
-Juz ketiga membahas tentang muhlikat yaitu perkara-perkara yang membinasakan sekelian amal - mulai ditulis pada tahun 1195H/1781M dan diselesaikan pada 19 Safar 1197 H/1783 M di Makkah.
-Juz keempat membahas tentang munjiyat yaitu perkara-perkara yang menghilangkan amal - Syaikh Abdusshamad tidak menyebut tahun ia mulai menulisnya, tetapi beliau selesai menulisnya pada 20 Ramadan 1203H/1788 di Thaif
Manuskrip Kitab Sairus Salikin

Sebahagian besar isi kitab ini adalah merupakan terjemahan dari Lubabul Ihya yaitu mukhtasar (ringkasan) kitab Ihya Ulumiddin. Namun Syaikh Abdusshomad juga menaqalkan dari kitab-kitab lain. Antaranya yaitu :
- Kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali seperti Ihya Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, Madhmun, Jawahirul Qur’an, Minhajul ‘Abidin, Arbai’in fi Ushuliddin dan sebagainya; -- Kitab al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, Al-Fushulul al-Ilmiyyah wa al-Ushuulul Hukmiyyah
Kitab Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal: Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyah fi
Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah oleh Ibn ‘Abbad;
Al-Fusul al-Miftahiyyah wa al-Nafahat al-Ruhaniyyah oleh ; Sairus Suluk oleh Syaikh Qasim al-Halabi; Al-Durruts Tsamin fi Bayani al-Muhim min ‘Ilmiddin oleh al-Habib ‘Abdul Qadir al-‘Aidarus;
Iqna oleh Syaikh Khatib al-Syarbini; Minhajul Qawim oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Al-Ghunyah oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani; Syarh al-Raudhu al-Thalib oleh Syaikh Zakaria al-Anshari;
Tuhfatul Muhtaj oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Hikam oleh Ibn ‘Athoillah; Raudhah al-Thalibin oleh Imam Nawawi;
Nashoih al-Diniyyah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad;
Futuhatul Makkiyah oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi;
Uhud al-Muhammadiah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Hikam Ibn Ruslan; ad-Da'wah at-Tammah wa Tazkiratul 'Aammah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad; Hikam Abi Madyan;
Risalah al-Makkiyah oleh Syaikh Tajuddin al-Naqsyabandi; Al-Nafahat al-Ilahiyyah fi Suluk al-Thariqah al-Muhamadiyah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman;
Hidayatul Ahbab Fima Lil Khalwati Minas Syuruthi wal Adab – Syaikh Musthafa al-Bakri; Adabul Murid oleh Abu al-Najib Abdul Qahhar bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Sahruwardi;
Al-Fushul al-Fathiyyah oleh al-‘Arifbillah asy-Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal; Al-Minahus Saniyyah ‘ala al-Wasiyyah al-Matbuliyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Risalah Asrarul ‘Ibadah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman;
Risalah Anwarul Qudsiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Madarij al-Salikin oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Fath al-Rahman Syarah Hikam Ibn Ruslan oleh Syaikh Zakaria al-Anshari;
Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayani ‘Aqaid al-Akhbar- Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Masyariqul Anwar al-Qudsiyah fi Bayani ‘Uhudil Muhammadiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Zahrul Basim oleh Sayyid ‘Abdul Qadir; Al-Minan al-Kubra oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Al-Amin fi Intifa’il Mayyiti Bil Qur’anil ‘Adzim oleh Syaikh Abdurrahman al-Tahawi

Didalam kitab ini juga, Syaikh ‘Abdusshomad telah mengkategorikan kitab-kitab tasawuf kepada 3 tingkatan yaitu untuk dipelajari dan dikaji oleh golongan mubtadi, mutawassith dan muntahi. Adapun kitab yang beliau karang ini, beliau kagetorikan sebagai kitab lanjutan yang harus dikaji bagi murid yang mubtadi setelah mempelajari dan mengkaji kitab Hidayatus Salikin yang juga dikarang oleh beliau.

Walaupun kitab ini sudah berusia lebih 200 tahun, namun kandungan kitab ini bernilai tinggi dan bersifat ilmiyah tasawuf yang cukup mantap serta masih segar, relevan dan terkehadapan untuk dijadikan panduan generasi kini. Oleh kerana itu ia masih dicetak dan beredar dipasaran kitab.
Sumber " Alfanshuri

Entri Unggulan

Maksiat Hati.

Ketatahuilah bahwasanya agama islam sangat mengedepankan akhkaq yang baik serta hati yang bersih dari segala penyakit yang akan menyengsarak...

Entri paling diminati