Khusu'

 
Khusu' adalah keadaan seseorang dimana ia telah mencapai ketenangan dalam ber-Ibadah kepada Allah SWT. Biasanya Khusu' sulit tuk diraih jika masih ada kecemasaan dalam kehidupan duniawi. Khusu' juga sering muncul apabila memuncaknya persoalan persoalan baik dalam rumah tangga, lingkungan ataw dikantor. Adapun salahsatu metode meraih ke-khusu'an ialah dengan Tawakkal. Adapun Tawakkal ialah sikap hamba yang slalu menyerahkan sgalanya kepada Allah Sang Penguasa. Jadi disaat tiba fikiran (tidak khusu') maka disaat itu pula kita bertawakkal kepada allah, maksud bertawakkal disini lebih kepada Multifungsi, yaitu Tawakkal dengan apa yg tlah allah tentukan termasuk fikiran-fikiran yang muncul disaat ber-Ibadah. Jika fikiran tersebut kita sandarkan kembali kepada "ketentuan" allah maka dengan sendirinya fikiran tersebut akan terganti dengan ketawhidan yang haqiqi.

Robbana Laa Tuzigh Quluubanaa Ba'da-idz Hadaytana Wahhablana Minladunka Rohmah Innaka Antal Wahhab.

AHLUS SUFAH

 
Rosululloh SAW bersabda :
"Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan ilmu pengetahuannya, lalu menjadikan mereka sebagai penuntun (pembimbing) yang dapat diteladani dalam perbuatan baik, jejak dan amal perbuatannya. Para Malaykat mencita citakan untuk bersahabat dengan mereka" . Siapakah mereka ? Mereka adalah yang telah disifati oleh Nabi dalam Hadist dibawah ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rosululloh SAW lewat dihadapanku sambil menyeru untuk pergi kepada Ahli Shuffah, Abu Hurairah menguraikan : Bahwa Ahli Shiffah itu adalah para tamu Allah dan Rosul-Nya.  Ahli Shuffah adalah merupakan suatu kaum dimana allah SWT telah mengosongkan hati mereka dari hal selain Allah.

Diantara para tokoh Ahli Shuffah ialah : Abu Hurairah, Khabbab bin Al Arast, Bilal, Salman Alfarisy, Abu Said AlKhudari, Abu Barzah Al Aslami, Shuhaib bin Sinan, Ammar bin Yasir, Abdullah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqash, Ukbah bin Amir, Abu Faqihah bin Yasar, Wabidhah bin Ma'bad Al Jahni, Anas bin Malik, Haristah, Al Bara, bin Malik, Aba Isra'il, Hudzaifah, Abu Darda, Abi Dzar, Ukasyah, Abdullah bin Amru Al Ash, Abubakar, Umar, Utsman, Ali, Sulaiman, Shuhaib, Aba Rafi, Al-Hasan dan Al-husein.

Sedangkan Ahli Shuffah dari golongan Tabi'in ialah : Ali Zainal Abidin, Muhammad Baqir, Ja'far Shodiq, Uwais Alqarny, Hazim, Salmah, bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Al qamah, Al Aswad bin Zaid, Ibrahim An Nakhi, Malik bin Dinar, Muhammad bin Sirrin, Abdul Wahid bin Zaid, Utbah Al Gulam, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham, Daud Ath Tha'I, Sufyan Ats Tsuri, Abi Sulaiman Ad Darani, Dzunnun Al Misri, Dzil Kifly bin Al Harist, Sari As Saqathi, Haris Al Mahasibi, Junaid Al Baghdadi, Ibrahim Al Khawash, Al Jaylani dll.

Rosululloh SAW bersabda : Sesungguhnya ada di antara ilmu ilmu itu yang tersimpan rapi. Karena, Mutunya tidak akan dapat diketahui kecuali oleh Ahlillah.  Adapun I'tiqat mereka adalah : bersabar disisi bala', bersyukur disisi kesenangan, Ridho dengan merasa pahitnya ketentuan. Subhanalloh !!!

Taqwanya para Awlia


اَِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللَّهِ اَتْقاَكُمْ


Maha Benar Allah dengan segala Firman-nya ! Ayat diatas merupakan janji allah, Allah akan memuliakan hamba hambanya yang bertaqwa. Taqwa dalam artian harfiyah ialah menjalankan semua perintah dan mejauhi segala larangan (allah). Adapun Taqwa dalam konteks Maknawinya para pengamal Tharekat ialah Seseorang yang mampu mengenal, memahami serta pandai bersyukur dalam segala pemberian, ber-adab dalam sgala penyerahan dan pengembalian.
Disinilah tolak ukur Taqwa nya para Awliya Allah, mereka berjalan dalam segenap ketentuan, jiwa mereka tlah hilang seiring bias nikmat kuasa allah, pandangan dan tujuan mereka hanya satu lautan terkecil dalam diri.
Syekh Sayid Abul Qurtuby adalah satu sosok pemuka para wali, Tiang tiang keteguhan dan ketaqwaan nya tlah membuka pengenalan para kekasih allah, pemegang segala kunci yang tersembunyi. membuka mahligai keghaiban dan rahasian. jiwa nya tersimpul oleh jiwa kekasih allah.
Suatu ketika salah satu nabiyulloh tlah menemui dan memberikan amanah kepada syekh sayid abul qurtuby. Beliau mengemban suatu kepercayaan memegang suatu kalung kunci buat memperkokoh keimanan, mengunci segala sifat kebinatangan dan membuka sifat Ubudiyah, mengunci kesombongan dan membuka kesyukuran. mengunci kesyirikan dan membuka ketauhidan, mengunci sifat malas dan membuka ketaqwaan.

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih" (QS Yunus [10]: 62).

"Demikianlah, sesungguhnya Allah menjadi pelindung (maula) orang-orang beriman" (QS Muhammad [47]: 11).
Jadi, bisa dikatakan bahwa jika seorang hamba telah mencapai ketaqwaan, maka ia akan terdorong untuk melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan semua hal yang diridhai-Nya, dan akan meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dicegah oleh-Nya. Bagaimana mungkin ia tidak melaksanakan perbuatan yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia sekali saja, padahal hanya Tuhanlah yang utama baginya, karena hamba sesungguhnya tidak berdaya dan lemah ketika mengerjakan semua hal yang dikehendaki dan dititahkan Allah, sedangkan Tuhan Yang Maha Penyayang melakukan hal-hal utama yang dikehendaki hamba-Nya dalam sekali hitungan saja. Hal ini berdasarkan pada firman Allah,

"Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu." (QS Al-Baqarah [2]: 40)

Penjelasan yang mulia ini mengandung rahasia-rahasia terselubung dan fenomena-fenomena yang mendalam, karenanya kita memohon pertolongan Allah agar dapat memahaminya.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendapat kemenangan, wahai Tuhanku, bukalah segala kunci-kunci hati kami dengan menyebut –Mu dan sempurnakanlah atas kami nikmatMu dan curahkanlah atas kami keutamaan –Mu dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang shaleh.

Indahnya Kebersamaan Kekasih Allah


Dengan Bismillah itulah ketukan palu kecil menemani sebuah pertemuan, tanda bahwa akan dimulainya perhelatan yang sangat indah dan agung, disisi lain para jam'ah mulai menuju kursi yang telah tersedia.

Detik demi detik pun berjalan tanpa ada kegelisahan, Syekh Abul Qurthuby pun mengucap kalimat demi kalimat syukurnya atas segala anugrah allah dan pemberian rosululloh akan semua yang ada. Selanjutnya Syekh Abdul Qodir Jilani QS. pun memberikan sambutan yang sangat menggetarkan hati. "Kuasa Allah lah yang berkuasa diatas semua pujian kita, dengan Kehendeknya pula kita dapat menuju dalam tempat ini, Ketentuannya yang sangat Kuat dan Bijaksana maka inilah tempat dimana para kekasih kekasih Allah berada, Kuatkanlah sendi sendi Ke-Esaan-Nya dalam segala Pengagungan kepadanya "

Disinilah letak yang dikatakan "Indahnya dalam kebersamaan", bagaimana tidak ! Seluruh para Anbiya, Rosul, Awliya dan Malaykat Allah tlah berkumpul dalam satu tujuan. Yaitu menyatukan yang tak terpisah menjadi satu rangkaian mutiara keindahan.

Lalu majulah sosok yang sangat Kharismatik lagi berwibawa menuju satu minbar yang tersedia, ia adalah Syekh Uwais Al-Qarny QS yang sebagai juru bicara dari kalangan Anbiya Allah, suaranya yang khas menyampaikan hasil diskusi para Anbiya tersebut bahwa "Kami berkenan memberikan waktu serta doa agar selalu hadir dalam pertemuan ini. Subhanalloh ! Tentunya terbesit dalam benak kita akan satu pertanyaan ? Ya, Pertemuan apakah yang dimaksud ? Pertemuan ini adalah dimana para kekasih allah bertemu dalam suatu sidang yang mulia yaitu Sidangnya Para Wali.

Sidang ini bisa dikatakan sidang perdana yang dilaksanakan pada sebuah gedung yang indah, dimana gedung tersebut merupakan buah ungkapan cinta Rosululloh SAW kepada Syekh Abul Qurthuby QS.  Kini tibalah sesi akhir dari sebuah sidang, dimana keadaan berubah menjadi hening berbalut hikmat yang indah, satu demi satu para Anbiya memberikan pelukan hangatnya kepada Syekh Abul Qurthubi QS. Lalu dilanjutkan para Awliya dan seterusnya para Malaykat. Semua saling terikat dalam satu Keikhlasan, tiada penyakit yang menghinggapi dada mereka, pemandangan yang luar biasa, kesyahduan malam tlah berselimut Aroma wangi keharmonisan, kebisuan pecah sejenak tatkala Baginda Nabi Besar Muhammad SAW berjabat, berpeluk dan mencium kepala dari Syekh Abul Qurthuby, pancaran demi pancaran Nur Rosululloh tlah menyelimuti para Jama'ah.

Akhirnya, Tiada akhir tanpa sebuah doa, Tiada ungkapan yang indah selain bermunajat, Lidah yang kelu kini tlah basah dalam alunan Pujian kepada allah, hati yang beku dapat pecah dengan untaian sholawat kepada Rosululloh SAW.

 للَّهُمَّ صَلِّي وَ سَلِّمْ وَ بَرِّكْ وَ كَرِّيْمِ وَ عَظِّيْمِ عَلَي سَيِّدِناَ نُوْرِ رَسُوْلِ اللَّهِ مُحَمَّدِِ خَيْرِ الْاَنْبِيِءِ وَ الْمُرْسَلِيْنِ اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ فِي مَجْلِسِناَ هَذَا اَحَدََ اِلّاَ غَسَلْتَ بِمَاءِ التَّوْبَهِ ذُنُوْبَهُ وَ سَتَرْتَ بِرِدَاءِ الْمَغْفِرَهِ عُيُوْبَهُ لَّهُمَّ اجْعَلْنَا لِاَلاَءِكَ ذَاكِرِيْنَ. وَلِنَعْمَا ءِكَ شَاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ

Talqin Thoreqoh Al-Qutb Al-Ghauts (As-Syekh As-Sayid Muhammad Al-Aydrus QS)


اَلْفاَتِحَهْ  . ٣

اَلْاِخْلَصْ  .٣


اَللَّهُمَّ صَلِّي وَ سَلِّمْ وَ بَرِّكْ وَ كَرِّيْمِ وَ عَظِّيْمِ عَلَي سَيِّدِناَ نُوْرِ رَسُوْلِ اللَّهِ مُحَمَّدِِ خَيْرِ الْاَنْبِيِءِ وَ الْمُرْسَلِيْنِ. ٧


اِنّاَلِلَّهِ وَ اِنّاَ اِلَيْهِ رَاجِعُوْن . ياَ اللَّهُ ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْنُ .  ١


لاَ اِلَهَ اِلّا اللَّهُ  ٤٠


مُحَمَّدُ رَّسُوْلُ اللَّهُ  ٤٠


******************************************************

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْراََ, وَ لَكَ الْمَنُّ فَضْلاََ, وَ اَنْتَ رْبُّناَ حَقّاََ,وَ نَحْنُ عَبِدِكَ رِقّاََ, اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْناَ مِنَ الْمُتَكَبِّريْنَ وَ جْعَلْناَ مِنَ السَّاجِدِيْنَ, رَبَّناَ اَتِناَ مِنْ لَدُنْكَ رْحْمَهْ, وَ  حَيِّءْلَناَ مِنْ اَمْرِناَ رَشَدا

Ungkapan Hati Insani

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ صَلّي وَ سَلِّمْ عَلَي سَيِّدِناَ مُحَمَّدِِ وَ عَلَي اَلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ
__________________________

Mahasuci Allah dengan sgala ketentuan-Nya yang mana kita senantiasa terliputi dalam Keagungan serta Kekuasaan-Nya. Bertasbihlah apa apa yang ada pada genggaman-nya, Bersyukurlah kepada-Nya atas apa apa yang Dia tentukan, Salah satunya ialah Syukur kita atas Anugerah yang sangat besar dalam berpegang teguh kepada ajaran Rosululloh SAW. Rosululloh pun tlah menetapkan akan suatu Isyarat bahwa Sulthonul Awliya As-Syekh As-Sayid Abul Qurthuby QS.merupakan ungkapan hati beliau, Abul Qurthuby tlah sirna dalam hati Rosululloh dan begitu pun sebaliknya, Satu sama lain saling berkaitan dalam satu simpul ikatan Ilahiyyah.

Anugrah Allah lah didalam segala kelemahan hamba ini, jika ketidakmampuan dalam bertemu dengan Kekasihmu, maka Anugrahkan pula hamba ini dalam menggapai sang Mutiara Hati Rosul-Mu yaitu Sulthonul Awliya As-Syekh As-Sayid Abul Qurthuby QS.

Semua dalam genggaman-Mu Ya Allah, berbagai bukti Kuasa-Mu tlah banyak kami jumpai, Ikatkan diri ini dalam setiap penyerahan untuk menuju Simpul simpul rahasia dalam pemgembalian.

Ketika Berjumpa dengan Rosululloh SAW.

Insan mana yang hatinya tidak gembira apabila bertemu dengan sang pujaan hati, laksana dua insan yang dimabuk cinta apabila tlah bertemu maka berbungalah kehidupan mereka. Hal itupula yang menjadi kisah kali ini, yaitu perjumpaan anatar Insan yang Mulia diantara yang Mulia, yang nama-nya tlah bersanding di pintu Syurga bersama Allah 'Azza Wa Jalla. yaitu Nabi besar Muhammad SAW.

Berjumpa dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga, dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu sholawat dan suatu Dzikir, adalah HARUS DAN BOLEH, bagaimana telah berlaku pada para ulama, ahli ilmu Islam, Awliya Allah dan orang-orang
sholihin, itulah yang salah satu artian “fadhoilul ‘amal”.

Siapakah sosok kali ini yang menjadi perhatian Rosululloh ? beliau ialah Sulthonul Awliya As-Syekh As-Sayyid Muhammad Thalhah Mawlana Al-kaf. Pada saat Sulthonul Awliya sedang menjalani Riadloh dan Khalwatnya maka pada saat itupula Rosululloh datang dengan hati yang penuh kerinduan kepada Sulthonul Awliya. Rosululloh datang dengan penuh Wibawa dan Kharismanya menyapa seraya memberi salam,
Rosululloh : Assalamu'alaykum Wahai Abul Qurthuby.
Sulthon : Salam 'Alayka Ya Sayyidi Ya Rosululloh, sambil mencium tangan Rosululloh. lalu Sulthon pun dipeluk dengan mesranya oleh Rosululloh, sejenak terlihatlah gesekan gesakan cahaya yang menyilaukan mata. maka terjadilah dialog antara keduanya :
Rosululloh : seseuai janji-Ku, maka Aku datang dengan Ridho Allah.
Sulthon : Suatu kehormatan bagi saya yang tlah dipertemukan oleh Allah kepada Engkau Ya Rosululloh.
Rosululloh : terimalah hadiah dari-ku walau engkau tiada mengharap akan suatu hadiah.
Sulthon : apakah itu Wahai Rosululloh ?
Rosululloh : hanya sekedar Jubah ! lalu Rosululloh pun memakaikan Jubah tersebut kepada Sulthon.
Sulthon : Segala Puji bagi Allah yg tiada ku berharap akan sesuatu melainkan Ridho-Nya. setelah memakaikan jubah tersebut, Rosululloh pun maulai menghimpunkan apa apa yg terhimpin menjadi satu himpunan, lalu Rosululloh pun membawa Sulthon menjadi Himpunan yang Hakiki.

Keduanya pun hilang dalam lautan terkecil. suasana hening dan penuh kesyahduan. setengah jam berlalu maka tiba tiba hadirlah kembali keduanya dengan penuh siraman Nur Ilahiyyah. lalu Rosululloh pun segera pamit dengan rasa sedih karna berpisah. Denikian pula dengan Sulthon yang menangis setelah melepasa kepulangan Rosululloh.

Mahasuci Allah dengan segala hal yang tlah ditentukan-nya tanpa diketahui oleh hambanya, semua itu merupakan suatu pengajaran bahwa Cinta kepada Nabi dapat membawa kecintaan kepad Allah. Alangkah mulianya jika cinta itu tlah terbalas/diterima dan tersambung. Semoga Kisah ini dapat memotifasi kita agar selalu mencintai Nabi dan Allah dan mudah mudahan Anugrah Allah yang menghubungkan cinta kita dan Rosululloh. Amin Ya Robbal'Alamin.

Entri Unggulan

Maksiat Hati.

Ketatahuilah bahwasanya agama islam sangat mengedepankan akhkaq yang baik serta hati yang bersih dari segala penyakit yang akan menyengsarak...

Entri paling diminati