Keistimewaan Pengajian Syeikh Fuad al-Maliki

Kita sering dihidangkan dengan pengajian kitab oleh beberapa penceramah atau ustaz-ustaz di masjid-masjid ataupun surau-surau. Namun pengajian kitab yang disampaikan oleh Al-Fadhil Syeikh Mohd Fuad al-Maliki ada kelainannya dan begitu istimewa sekali jika dibanding dengan pengajian yang disampaikan oleh ustaz-ustaz yang lain.Bukanlah coretan saya kali ini untuk membandingkan kehebatan seseorang tetapi apabila saya sering mengikuti pengajian yang disampaikan oleh ulama muda iaitu Syeikh Fuad al-Maliki, membuatkan kita terasa betapa kerdil dan hinanya kita di sisi Allah swt.
Setiap kali sebelum pengajian kitab dimulakan oleh Syeikh Fuad al-Maliki, kita akan dihidangkan, malah turut serta untuk membaca Hizib Selawat, Bacaan Qasidah memuji Rasulullah s.a.w., malah beliau sendiri turut serta dalam majlis selawat yang diadakan. Ini menunjukkan betapa kasih dan cintanya beliau terhadap junjungan Rasulullah s.a.w maka beliau sering menganjurkan jemaah-jemaah yang duduk dalam majlis pengajian beliau untuk memperbanyakkan selawat ke atas Rasulullah s.a.w. Maka tidak hairan jika beliau begitu lantang menentang golongan-golongan yang menyamatarafkan Rasulullah s.a.w dengan manusia lain yang ada di muka bumi ini. Dalam buku bertajuk “Keistimewaan Rasulullah s.a.w” yang ditulis oleh Syeikh Fuad al-Maliki, diceritakan betapa banyaknya keistimewaan Rasulullah s.a.w dengan mukjizat-mukjizat yang jarang-jarang dinukilkan oleh orang lain. Begitu juga dengan buku tulisan Syeikh Fuad bertajuk “Pohon Nabawiyyah”. Beliau menukilkan tentang Nasab Nabi, isteri-isterinya, putera-putri baginda dan segala-gala yang berkaitan lagsung dengan Rasulullah s.a.w.
Sewaktu pengajian di Pusat Tahfiz Al-Jazari, sebelum beliau memulakan pengajian Kitab Dalail Al-Khairat, bacaan Hizib Selawat ke atas junjungan Rasulullah s.a.w. akan berkumandang dengan begitu indah sekali. Begitu juga sebelum beliau memulakan pengajian Kitab Syamail Muhammadiyah dan Tafsir Surah Yassin, bacaan Qasidah memuji Rasulullah s.a.w akan berkumandang dalam majlis tersebut. Kepetahan dan keilmuan yang dimiliki oleh Syeikh Fuad al-Maliki akan membuatkan para pendengar akan terus berada dalam majlis pengajian beliau sehingga ianya berakhir. Syeikh Fuad al-Maliki bukan sekadar membaca hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab-kitab yang diajarnya, malah beliau turut menghuraikan maksud sebenar hadis, malah mengaitkannya dengan hadis-hadis yang seumpama dengan hadis-hadis yang yang dibacanya. Sikap tawadduk dan rendah hati yang ditunjukkan oleh beliau membuatkan kita begitu kasih dan semakin gemar mendengar kepetahan ucapan-ucapan yang disampaikannya.
Kesempatan mengikuti pengajian Syeikh Fuad al-Maliki di beberapa tempat telah saya abadikan dalam paparan video Youtube untuk dimanafaatkan oleh pencinta-pencinta ilmu. Insya’allah dengan izin Allah swt, saya akan terus mengikuti pengajian kitab oleh ulama muda ini dan menyebarkannya pula dalam bentuk video di Youtube dan berharap ia dapat dikongsi oleh seluruh umat Islam di mana jua mereka berada. Semoga Allah memberkati segala usaha murni ini daripada hambaNya yang masih lagi belajar dan terus belajar menuntut ilmu daripada insan yang telah dipilih oleh Allah dengan keilmuannya yang tinggi.

(pondok habib)

Terkuaknya ke-wali-an Kyai Hamid Pasuruan dan Kisah salam Kyai Hamid kepada ‘wali gila’ di pasar kendal



Suatu ketika seorang habaib dari Kota Malang, ketika masih muda, yaitu Habib Baqir Mauladdawilah (sekarang beliau masih hidup), di ijazahi sebuah doa oleh Al Ustadzul Imam Al Habr Al Quthb Al Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih (Pendiri Pesantren Darul Hadist Malang).

Habib Abdulqadir Blf berpesan kepada Habib Baqir untuk membaca doa tersebut ketika akan menemui seseorang agar tahu sejatinya orang tersebut siapa,orang atau bukan.

Suatu saat Datanglah Habib Baqir menemui seorang Wali min Auliya illah di daerah Pasuruan, Jawa Timur, yang masyhur dengan nama Mbah Hamid Pasuruan.

Ketika itu di tempat Mbah Hamid banyak sekali orang yang soan kepada baliau, meminta doa atau keperluan yang lain,

Setelah membaca doa tersebut kaget Habib Baqir, ternyata orang yang terlihat seperti Mbah Hamid sejatinya bukan Mbah Hamid, Beliau mengatakan, “Ini bukan Mbah Hamid, khodam ini, Mbah Hamid tidak ada disini” kemudian Habib Baqir mencari dimanakah sebetulnya Mbah Hamid,

Setelah bertemu dengan Mbah Hamid yang asli, Habib Baqir bertanya kepada beliau, “Kyai, Kyai jangan begitu, jawab Mbah Hamid: “ada apa Bib..??” kembali Habib Baqir melanjutkan, “kasihan orang-orang yang meminta doa, itu doa bukan dari panjenengan, yang mendoakan itu khodam, Panjenengan di mana waktu itu?” Mbah Hamid tidak menjawab, hanya diam.

Namun Mbah Hamid pernah menceritakan masalah ini kepada Seorang Habib sepuh (maaf, nama habib ini dirahasiakan),

Habib sepuh tersebut juga pernah bertanya kepada beliau,

“Kyai Hamid, waktu banyak orang-orang meminta doa kepada njenengan, yang memberikan doa bukan njenengan, njenengan di mana? Kok tidak ada..?” jawab Mbah Hamid, “hehehee.. kesana sebentar”
Habib sepuh tsb semakin penasaran, “Kesana ke mana Kyai??”

Jawab Mbah Hamid, “Kalau njenengan pengen tahu, datanglah ke sini lagi”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Singkat cerita, habib sepuh tsb kembali menemui Mbah Hamid, ingin tahu di mana
“tempat persembunyian” beliau,

setelah bertemu, bertanyalah Habib sepuh tadi, “Di mana Kyai..?”
Mbah Hamid tidak menjawab, hanya langsung memegang Habib sepuh tadi, seketika itu, kagetlah Habib sepuh, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan Masjid yang sangat megah, “di mana ini Kyai..?” Tanya Habib Sepuh, “Monggoh njenengan pirsoni piyambek niki teng pundi..?” jawab Mbah Hamid. Subhanalloh..!!!

Ternyata Habib Sepuh tadi di bawa oleh Mbah Hamid mendatangi Masjidil Harom.

Habib sepuh kembali bertanya kepada Kyai Hamid, “Kenapa njenengan memakai doa??” Mbah Hamid kemudian menceritakan,

“Saya sudah terlanjur terkenal, saya tidak ingin terkenal, tidak ingin muncul, hanya ingin asyik sendirian dengan Allah, saya sudah berusaha bersembunyi, bersembunyi di mana saja, tapi orang-orang selalu ramai datang kepadaku,
Kemudian saya ikhtiar menggunakan doa ini, itu yang saya taruh di sana bukanlah khodam dari jin, melainkan Malakul Ardli, Malaikat yang ada di bumi, berkat doa ini, Allah Ta’ala menyerupakan malaikatnya, dengan rupaku”.

Habib sepuh yang menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut, sampai meninggalnya merahasiakan apa yang pernah dialaminya bersama Mbah Hamid, hanya sedikit yang di ceritakan kepada keluarganya.


—————————————————————

Lain waktu, ada tamu dari Kendal soan kepada Mbah Hamid, singkat cerita, Mbah Hamid menitipkan salam untuk si fulan bin fulan yang kesehariannya berada di Pasar Kendal, menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat Kendal.

Fulan bin fulan kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila, namun tidak pernah mengganggu orang-orang di sekitarnya,

Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip salam untuk orang yang di anggap gila oleh dirinya,

Tamu tsb bertanya, “Bukankah orang tersebut adalah orang gila Kyai..??” kemudian Mbah Hamid menjawab, “Beliau adalah Wali Besar yang njaga Kendal, Rohmat Allah turun, Bencana di tangkis, itu berkat beliau, sampaikan salamku”

Kemudian setelah si tamu pulang ke Kendal, menunggu keadaan pasar sepi, dihampirinyalah “orang gila” yang ternyata Shohibul Wilayah Kendal,

“Assalamu’alaikum…” sapa si tamu,

Wali tsb memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan, kemudian keluarlah seuntai kata dari bibirnya dengan nada sangar,

“Wa’alaikumussalam.. ada apa..!!!”

Dengan badan agak gemetar, si tamu memberanikan diri,

berkatalah ia, “Panjenengan dapat salam dari Kyai Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum……”
Tak beberapa lama, wali tersebut berkata,

“Wa’alaikum salam” dan berteriak dengan nada keras,

“Kurang ajar si Hamid, aku berusaha bersembunyi dari manusia, agar tidak diketahui manusia, kok malah dibocor-bocorkan”

“Ya Allah, aku tidak sanggup, kini telah ada yang tahu siapa aku, aku mau pulang saja, gak sanggup aku hidup di dunia”

Kemudian wali tsb membaca sebuah doa, dan bibirnya mengucap, “LAA ILAAHA ILLALLOH… MUHAMMADUR ROSULULLOH”

Seketika itu langsung meninggallah sang Wali di hadapan orang yang di utus Mbah Hamid agar menyampaikan salam, hanya si tamulah yang meyakini bahwa orang yang di cap sebagai orang gila oleh masyarakat Kendal itu adalah Wali Besar, tak satupun masyarakat yang meyakini bahwa orang yang meninggal di pasar adl seorang Wali,

Malah si tamu juga dicap sebagai orang gila karena meyakini si fulan bin fulan sebagai Wali.

Subhanalloh.. begitulah para Wali-Walinya Allah,

saking inginnya ber-asyik-asyikan hanya dengan Allah sampai berusaha bersembunyi dari keduniawian, tak ingin ibadahnya di ganggu oleh orang-orang ahli dunia,

Bersembunyinya mereka memakai cara mereka masing-masing, oleh karena itu janganlah kita su’udzon terhadap orang-orang di sekitar kita, jangan-jangan dia adalah seorang Wali yang “bersembunyi”.

Cerita Mbah Hamid yang saya coba tulis hanyalah sedikit dari kisah perjalanan Beliau, semoga kita, keluarga kita, tetangga kita dan orang-orang yang kita kenal senantiasa mendapat keberkahan sebab rasa cinta kita kepada wali-walinya Allah,

Jadi ingat nasihat Maha Guru kami, Al Quthb Habib Abdulqadir bin ahmad Bilfaqih,

“Jadikanlah dirimu mendapat tempat di hati seorang Auliya”

Semoga nama kita tertanam di hati para kekasih Allah, sehingga kita selalu mendapat nadhroh dari guru-guru kita, dibimbing ruh kita sampai terakhir kita menghirup udara dunia ini, Amin…….. !!!!


Sumber: Syaikhina wa Murobbi Arwakhina KH. Achmad Sa’idi bin KH. Sa’id
(Pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Tegal)

Hizb Mawlanawiyah




SULTHONUL AWLIYA
 AL-QUTB AL-HUJJATUL ISLAM AL-‘ARIF BILLAH AS-SYEKH AKBAR AS-SAYYID MUHAMMAD THALHAH MAULANA AL-KAF

ALFATIHATA BIL QOBUL,  WA TAMA-MI KULLI SU’L, WA MA’MU-LIN WAS SHOLAHIS-SYA’NI, DZO-HIRON WA BA-THINAN, FIDDUNYA WAL A-KHIROH, DA-FI’ATAN LIKULLI SYARRIN, JA-LIBATAN LIKULLI KHOYR, LANA WALIAHBA-BINA WALIWA-LIDINA WA MASYA-YIKHINA FIDDIN MA’AL-LUTFI WAL ‘A-FIYAH, WA ‘ALA NIYYATI ANNALLOHA YUNAWWIR QULU-BANA, WA QOWA-LIBINA, MA’AT-TUQO WAL HUDA WAL ‘A-FAF, WAL MAUTI ‘ALA DI-NIL ISLAMI WAL I-MAN, BILA MIHNATIN WALA-IMTIHAN, TSUMMA ILA RUHI SAYYIDINA SULTHONUL AWLIYA AS-SAYYIDIL QUTB AL-MIFTAHIL SIRRIL ASROR AS-SYEKH ABDUL QODIR AL-JILANI WA SULTHONUL AWLIYA AL-QUTB AL-HUJJATUL ISLAM AL-‘ARIF BILLAH AS-SYEKH AKBAR AS-SAYYID MUHAMMAD THALHAH MAULANA AL-KAF, TSUMMA ILA RUHI QUTBIL ANFAS AS-SYEKH AS-SAYYID MUHAMMAD AL-AYDRUS, TSUMMA ILA RUHI QUTBI IRSYAD AS-SYEKH AS-SAYYID MUHAMMAD YUSUF ALKAF, ANNALLOHA YATAGOSY-SYAHUM BIR-ROHMAH WAL –MAGFIROH, WA YU’LI DAROJA-TIHIM MA’ASH-SHIDDIQIN, WASY-SYUHADA , WASH-SHOLIHIN, WA ILA HADHROTIL HABIBI MUHAMMAD SHOLALLOHU ‘ALAYHI WA SALLAM, ALFATIHAH………………………….

TABAROKALLADZI BIYADIHIL MULKU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIR, AL-LADZI KHOLAQOL MAWTA WAL HAYATA LIYABLUWAKUM IYYUKUM AHSANU ‘AMALAA, WAHUWAL ‘AZIZUL GHOFUR, AL-LADZI KHOLAQO SAB’A SAMA-WA-TIN THIBAQOM-MA TARO FI KHOLQIHIR-ROHMANI MIN TAFAWWUT, FARJI’IL BASHORO KARROTAYNI YANQOLIB ILAYKAL BASHORU KHO-SIAW-WAHUWA HASIR, WALAQOD ZAYYANNAS-SAMA AD-DUNYA BIMASHO-BI-HI WAJA’ALNAHA RUJU-MAL-LIS-SYAYA-THIN, WA A’TADNA LAHUM ADZA-BAS-SAIR. (1)

A’UDZUBIKALIMATILLAHIT-TAMMA-TI MIN SYARRI MA-KHOLAQ (3)

ASTAGHFIRULLOHAL 'ADZIM (3)

GHUFRO-NAKA ROBBANA WA ILAYKAL MASHIR (3)


LA ILAHA ILLALLOH WAHDAHULA SYARI-KALAH, LAHULMULKU WALAHUL HAMDU YUHYI WA YUMITU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIR (7)

LA ILAHA ILLALLOH (40)

HUWALLOHUL-LADZI LA ILAHA ILLA HUWA ‘A-LIMUL GHOYBI WASY-SYAHA-DATI HUWAR-ROHMANUR-ROHIM, HUWALLOHUL-LADZI LA-ILAHA ILLA HUWAL-MALIKUL QUDDUSUS-SALA-MUL MU’MINUL MUHAIMINUL ‘AZI-ZUL JABBA-RUL MUTAKABBIR, SUBHANALLOHI ‘AMMA-YUSYRIKUN, HUWALLOHUL KHO-LIQUL BA-RIUL MUSHOWWIRU LAHUL ASMA-UL HUSNA,  YUSAB-BIHU LAHU MA FIS-SAMA-WA-TI WAL ARDHI WAHUWAL ‘AZI-ZUL HAKIM. (1)

BISMILLAHIL-LADZI LA YADHURRU MA’ASMIHI SYAI-UN FIL ARDHI WALA FIS-SAMA-I WAHUWAS-SAMI’UL ‘ALIM (3)

BISMILLAHIR-ROHMANIR-ROHIM WALA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIM (3)


BISMILLAH LILLAH WA BILLAH (3)


HASBUNALLO-HU WANI'MAL WAKI-L, NI;MAL MAWLA- WANI'MAN NASHIR (3)

YA LATHIFAN BIKHOLQIHI YA ‘ALIMAN BIKHOLQIHI YA KHOBIRON BIKHOLQIHI, ULTHUFBINA YA LATHIF YA ‘ALIM YA KHOBIR (3)

YA LATHIFAN LAM TAZAL ULTHUFBINA FI MA NAZAL INNAKA LATHIFUN LAM TAZAL ULTHUFBINA WAL MUSLIMIN (3)

YUSAB-BIHULILLAHI MA FIS-SAMAWATI WAL ARDH, WA HUWAL ‘AZI-ZUL HAKIM (3)

SUBHANALLOH ‘AZ-ZALLOH SUBHANALLOH JAL-LALLOH (3)

SUBHANALLOH WABIHAMDIHI SUBHANALLOHIL ‘AZDIM (3)

SUBHANALLOH WAL HAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLALLOH WALLOHU AKBAR (3)

SUBHANAKA LA TUHSHI TSANA-AN ‘ALAYKA, ANTA KAMA ATSNAYTA ‘ALA NAFSIK (3)

INNALLOHA WAMALA-IKATAHU YUSHOLLU NA ‘ALAN-NABIY, YA AYYUHAL-LADZI NA A-MANU SHOLLU ‘ALAYHI WASALLIMU TASLIMA, (1)

ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAYHI WA SALLIM (3)

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL AWWALIN (3)

WA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL A-KHIRIN (3)

WA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN FI KULLI WAQTIN WAHIN (3)

WA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL MALA-IL A’LA ILA YAUMID-DIN (3)

WA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN HATTA TARITSAL ARDHI WA MAN ‘ALAYHA WA ANTA KHOYRUL WA-RISIN (3)

BISIRRIN-NABI SIRRIL FA-TIHAH ……………….(alfatiha 1x)

(DO’A)

ALLOHUMMA YA MUHAWWILA AHWAL, HAWWIL HALLANA ILA AHSANI HAL,

ALLOHUMMA ANTA AHAQQU MAN DZUKIRO WA AHAQQU MAN ‘UBIDA WA ANSHORU MANIBTUGHIYA WA AR-AFU MAN MALAKA WA AJWADU MAN SU-ILA WA AWSA’U MAN A’THO

AS-ALUKA YA ALLAH BINU-RIKAL KARIM, WA BIQUDROTIKAL ‘ADZIM YA LA ILAHA ILLA ANTA. AS-ALUKA MIN ‘ILMIKA BIHIDA-YATIK, WARZUQNI MIN KHOZA-INATIK YA DZAL JALALI WAL IKROM. BIROHMATIKA YA ARHAMAR-RO-HIMIN.

Kayfiyah :
dibaca setelah sholat shubuh & magrib.

Abu Abdullah Muhammad bin ’Ali bin al-Husain al-Hakim at-Tirmidzi ra.



Abu Abdullah Muhammad bin ’Ali bin al-Husain al-Hakim at-Tirmidzi, adalah salah seorang pemikir tashawuf Islam yang kreatif dan terkemuka, diusir dari kota kelahirannya, Tirmidzi. Mengungsi ke Nishapur di mana beliau memberikan ceramah-ceramah pada tahun 285 H/898 M.Karya-karya beliau yang bersifat psikologis sangat mempengaruhi al-Ghazali, sedang teorinya yang menghebohkan mengenai Manusia Suci diambil dan dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Sebagai seorang penulis yang kreatif banyak di antara karya-karya beliau, termasuk sebuah sketsa. otobiografi masih dapat ditemukan dan beberapa di antaranya telah diterbitkan.
PENDIDIKAN DARI HAKIM AT-TIRMIDZI
Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bersama dua orang pelajar lainnya bertekad akan melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu. Ketika mereka hendak berangkat, ibunya sangat sedih.
“Wahai buah hati ibu”, sang ibu berkata. “Aku seorang perempuan yang sudah tua dan lemah, bila ananda pergi tak ada lagi seorang pun yang ibunda punyai di atas dunia ini. Selama ini anandalah tempat ibunda bersandar. Kepada siapakah ananda menitipkan ibunda yang sebatang kara dan lemah ini?”
Kata-kata ini menggoyahkan semangat Tirmidzi, ia membatalkan niatnya, sementara kedua sahabatnya tetap berangkat mengembara mencari ilmu itu. Suatu hari Tirmidzi duduk di sebuah pemakaman meratapi nasibnya:
“Di sinilah aku! Tiada seorang pun yang perduli kepadaku yang bodoh ini! Sedang kedua sahabatku itu nanti akan kembali sebagai orang-orang terpelajar yang berpendidikan sempurna”.
Tiba-tiba muncul seorang tua dengan wajah yang berseri-seri. Ia menegur Tirmidzi :
“Nak, mengapakah engkau menangis?”
Tirmidzi menceriterakan segala keluh kesahnya itu.
“Maukah engkau menerima pelajaran dari saya setiap hari sehingga engkau dapat melampaui kedua sahabatmu itu dalam waktu yang singkat?”, orang tua itu bertanya kepada Tirmidzi.
“Aku bersedia”, jawab Tirmidzi.
“Maka”, Tirmidzi mengisahkan “setiap hari ia memberikan pelajaran kepadaku.
Setelah tiga tahun berlalu barulah aku menyadari bahwa sesungguhnya orang tua itu adalah Khidir as. dan aku memperoleh keberuntungan yang seperti itu karena telah berbakti kepada ibuku”.
ooo
Setiap hari Minggu (Abu Bakr al-Warraq mengisahkan) Khidir as. mengunjungi Tirmidzi dan kemudian mereka memperbincangkan berbagai persoalan. Pada suatu hari Tirmidzi berkata kepadaku:
“Hari ini engkau hendak kuajak pergi ke suatu tempat”.
”Terserah kepada guru”, jawabku.
Kami pun berangkat. Tatkala kami sampai di sebuah padang pasir itu aku melihat sebuah singgasana kencana di bawah naungan sebatang pohon yang rindang di pinggir sebuah telaga. Pada singgasana itu duduk seorang berpakaian indah.
Syeikh menghampirinya, orang itu berdiri dan mempersilahkan syeikh duduk di atas singgasana itu. Kemudian orang-orang berdatangan dari segala penjuru dan berkumpul di tempat itu. Semuanya berjumlah empat puluh orang. Kemudian mereka memberi isyarat ke atas. Seketika itu juga tersajilah berbagai hidangan dan mereka pun makan. Syeikh mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan orang itu memberi jawaban. Tetapi bahasa yang mereka pergunakan sama sekali tidak dapat kupahami. Beberapa lama kemudian Tirmidzi memohon diri dan meninggalkan tempat itu.
“Mari kita pergi”; ajak Hakim Tirmidzi kepadaku. “Engkau telah diberkahi”.
Sebentar saja kami telah berada kembali di Tirmidzi. Aku Bertanya kepada Syeikh Tirmidzi:
“Apakah artinya semua kejadian tadi? tempat apakah itu dan siapakah orang itu?”
itulah lembah pemukiman Bani IsraiI”, jawab Tirmidzi. Dan orang tadi adalah PauI”.
”Bagaimana kita dapat pulang pergi dalam waktu sesingkat itu?”, tanyaku.
“Abu Bakr”, jawab Tirmidzi.
 “Jika Dia mengantarkan maka sampailah kita. Apakah gunanya kita bertanya mengapa dan bagaimana, yang perlu engkau sampai ke tujuan bukan untuk bertanya-tanya.”
Kemudian Tirmidzi bertutur: Betapa pun besar perjuanganku untuk menundukkan hawa nafsu namun aku tidak berhasil Di dalam keputusasaan aku berkata: “Mungkin Allah telah menciptakan diriku ini untuk disiksa di dalam neraka. Mengapakah diri yang terkutuk ini harus kupelihara lagi?”, Maka aku pergi ke pinggir Sungai Oxus. Kepada seseorang yang berada di situ aku minta tolong untuk mengikat kaki dan tanganku, dan setelah itu iapun pergi meninggalkanku seorang diri. Aku berguling-guling dan jatuh ke dalam air. Aku ingin mati terbenam! Tetapi ketika terbentur permukaan air, ikatan di tanganku terlepas dan sebuah gulungan ombak menghempaskan tubuhku ke pinggir. Dengan putus asa aku berseru:
“Ya Allah, Maha Besar Engkau yang menciptakan seseorang yang tak pantas diterima baik di surga maupun di neraka!” 
Berkat seruanku di dalam keputusasaan itu terbukalah mata hatiku dan terlihatlah olehku segala sesuatu yang harus kulakukan. Pada saat itu juga terbebaslah aku dari hawa nafsuku. Selama hayatku, aku bersyukur terhadap saat saat kebebasan itu.
Abu Bakar al-Warraq juga mengisahkan sebagai berikut ini. Pada suatu hari Tirmidzi menyerahkan buku-bukunya kepadaku untuk dibuang ke sungai Oxus. Ketika kuperiksa ternyata buku-buku itu penuh dengan seluk-beluk dan kebenaran-kebenaran mistik. Aku tak tega melaksanakan perintah Tirmidzi itu dan buku-buku tersebut kusimpan di dalam kamarku. Kemudian aku katakan kepadanya bahwa buku-buku itu telah kulemparkan ke dalam sungai. Tetapi Tirmidzi bertanya kepadaku: “Apakah yang engkau saksikan setelah itu?”
“Tidak sesuatu pun”, jawabku.
“Kalau begitu, engkau belum membuang buku-buku itu ke dalam sungai. Pergilah dan buanglah buku-buku itu”, perintah ‘Tirmidzi.
“Ada dua persoalan”, aku berkata di dalam hati. “Yang pertama, mengapa la ingin membuang buku-buku ini ke dalam sungai? Yang kedua, apakah yang akan kuselesaikan nanti setelah mencampakkan buku-buku ini ke dalam air?”
Aku terus berjalan menuju sungai Oxus dan melemparkan buku-buku itu. Tetapi seketika itu juga air sungai terbelah dan terlihatlah olehku sebuah peti yang terbuka tutupnya. buku-buku itu jatuh ke dalam peti itu, kemudian tutup peti tersebut mengatup dan air sungai bersatu kembali. Aku terheran-heran menyaksikan kejadian ini.
Ketika aku kembali, Tirmidzi bertanya; “Sudahkah engkau lemparkan buku itu?”.
Aku menyahut: “Guru, demi keagungan Allah, katakanlah kepadaku apakah rahasia di balik semua ini?”
Tirmidzi menjelaskan: “Aku telah menulis buku-buku mengenai ilmu sufi dengan keterangan-keterangan yang sulit untuk dipahami oleh manusia-manusia biasa.
Saudaraku Khidir as. meminta buku-buku itu. Peti yang engkau lihat tadi telah dibawakan oleh seekor ikan atas permintaan Khidir, sedang Allah Yang Maha Besar memerintahkan kepada air untuk mengantarkan peti itu kepadanya”.
ANEKDOT—ANEKDOT MENGENAI TIRMIDZI
Pada waktu itu ada seorang pertapa besar yang selalu mengecam Tirmidzi. Padahal di atas dunia ini, kecuali sebuah pondok, tidak sesuatu pun yang dimiliki Tirmidzi. Ketika Tirmidzi pulang dari Hijaz, ternyata seekor induk anjing telah masuk ke dalam pondoknya yang tak berdaun pintu itu dan melahirkan anaknya di situ. Tirmidzi tidak mau mengusir anjing itu. Delapan puluh kali ia pulang pergi ke pondoknya, dan berharap agar si anjing telah pergi meninggalkan pondok itu membawa anak-anaknya.
Pada malam harinya 
si pertapa bermimpi bertemu dengan Nabi. Di dalam mimpi itu Nabi berkata kepadanya:
“Engkau menentang seorang manusia yang telah delapan puluh kali memberikan pertolongan kepada seekor anjing. jika engkau menginginkan kebahagiaan yang abadi, kencangkanlah ikat pinggangmu dan berbaktilah kepadanya”.
Si pertapa, yang sebelumnya enggan membalas salam Tirmidzi sejak saat itu hingga matinya mengabdi kepadanya.
ooo
“Apabila guru marah kepada kalian, apakah kalian tahu?”, seseorang bertanya kepada keluarga Tirmidzi.“Ya, kami tahu”, mereka menjawab, “Setiap kali ia marah kepada kami maka ia bersikap lebih ramah daripada biasanya.
Kemudian ia tidak mau makan dan minum. Ia menangis dan bermohon kepada Allah: “Ya Allah, apakah perbuatanku yang menimbulkan murka-Mu sehingga engkau membuat keluargaku sendiri menentangku? Ya Allah, aku mohon ampun-Mu! Tunjukkanlah mereka jalan yang benar!’ Apabila ia bersifat seperti demikian, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segeralah kami bertaubat agar ia terlepas dari dukacitanya itu”.
ooo
Telah berapa lama Tirmidzi tidak pernah bertemu dengan Khidir. Pada suatu hari seorang pembantu yang masih gadis mencuci pakaian bayi dan kotoran-kotoran bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah baskom. Sementara itu Syeikh Tirmidzi dengan mengenakan jubah dan sorban yang bersih berjalan ke masjid. Karena suatu hal yang sepele, tiba-tiba si gadis mengamuk dan isi baskom itu tertumpah ke atas kepala Tirmidzi. Tirmidzi tak berkata apa-apa dan menelan amarahnya. Tidak berapa lama kemudian bertemulah ia dengan Khidir.
ooo
Ketika Tirmidzi masih remaja, ada seorang wanita jelita minta dilamar olehnya, tetapi Tirmidzi menolaknya. Pada suatu hari, setelah mengetahui bahwa Tirmidzi sedang berada di dalam taman, si wanita segera berdandan dan pergi pula ke sana. Tetapi begitu melihat kedatangannya, Syeikh Tirmidzi segera mengambil langkah seribu. Si wanita mengejar dan berteriak-teriak bahwa Tirmidzi telah mencoba hendak membunuhnya. Tirmidzi tidak perduli, di panjatnya sebuah pagar yang tinggi dan melompat ke seberang.
Pada suatu hari di masa tuanya, ketika sedang mengkaji perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya dan apa-apa yang telah diucapkannya, teringatlah ia kepada kejadian itu. Terpikirlah oleh Tirmidzi: “Apakah salahnya jika dahulu aku penuhi kebutuhan wanita itu? Bukankah pada waktu itu aku masih remaja dan oleh karena itu masih sempat bertaubat?”. Ketika menyadari pikiran yang seperti ini Tirmidzi sangat menyesal.
“Wahai diriku yang keji dan pelawan!”, ia berkata, “Empat puluh tahun yang lalu ketika engkau masih remaja dengan semangat yang bergejolak, engkau tidak pernah berpikir seperti ini. Tetapi di masa tuamu ini, setelah sedemikian banyak perjuangan yang engkau menangkan, mengapakah engkau menyesal karena tidak jadi melakukan sebuah dosa?”
Tirmidzi sangat sedih. Tiga hari lamanya ia menyesali pikiran itu. Setelah itu di dalam mimpi ia bertemu dengan Nabi yang berkata kepadanya:
“Muhammad, janganlah engkau bersedih hati. Yang telah terjadi itu bukanlah karena kesalahanmu. Hal itu karena engkau pikirkan empat puluh tahun berlalu sejak kematianku. Waktuku untuk meninggalkan dunia ini telah tertunda sedemikian lamanya, dan aku semakin jauh. Hal itu terjadi bukanlah karena dosamu, dan bukan karena engkau kurang memperoleh kemajuan spiritual. Yang engkau alami itu adalah karena waktuku untuk meninggalkan dunia ini tertunda, bukan karena keaiban di dalam dirimu.
ooo
Kisah berikut ini diduga berasal dari Tirmidzi.
Setelah Adam dan Hawa berkumpul kembali dan taubat mereka diterima Allah, pada suatu hari Adam meninggalkan Hawa seorang diri karena sesuatu keperluan. Maka datanglah Iblis beserta anaknya yang bernama Khannas kepada Hawa.
“Aku harus pergi untuk melakukan sesuatu hal yang penting”, si Iblis berkata kepada Hawa. “Tolonglah jaga anakku hingga aku kembali nanti”.
Hawa menerima anak itu dan si Iblis pun pergi.
“Dia adalah anak Iblis yang dititipkannya kepadaku”, jawab Hawa.
“Mengapa engkau sudi menolongnya?}”, Adam mencela Hawa.
Dengan sangat marah anak Iblis itu dibunuhnya, dicincangnya, dan setiap cincangan itu digantungkannya pada dahan. Setelah itu pergilah Adam. Tidak lama kemudian Iblis datang.
“Di manakah anakku?”, ia bertanya kepada Hawa.
Hawa menerangkan segala sesuatu yang telah terjadi:
“Adam mencincang-cincang tubuh anakmu dan setiap potongan tubuh anakmu itu digantungkannya pada dahan pohon”.
Si Iblis menyerukan nama anaknya. Potongan-potcongan tubuh anaknya berkumpul dan iapun hidup kembali, kemudian berlari menyambut ayahnya.
“Jagalah dia”, si Iblis bermohon kepada Hawa, “karena ada urusan lain yang harus kulakukan”.
Mula-mula Hawa menolak tetapi si lblis bermohon sedemikian gigihnya sehingga akhimya ia pun menyerah. Setelah itu pergilah si Iblis meninggalkan tempat itu. Ketika Adam pulang terlihatlah olehnya anak Iblis itu.
”Apakah artinya semua ini?”, tanya Adam.
Hawa mengisahkan yang telah terjadi. Adam memukuli Hawa habis-habisan.
“Aku tak tahu apakah rahasia di balik semua ini”, Adam menghardik, “sehingga engkau tidak mematuhi aku tetapi mematuhi seteru Allah dan terperdaya oleh bujukannya”.
Anak itu dibunuhnya dan mayatnya dibakarnya, kemudian sebagian abunya dibuangnya ke dalam air, sedang sebagiannya lagi dibuangnya ke udara dan diterbangkan angin. Setelah itu Adam pergi. Si Iblis datang pula menanyakan anaknya. Hawa menceritakan apa yang telah dilakukan Adam terhadap anaknya. Si Iblis berteriak memanggil anaknya, abu-abu mayat anaknya yang dibakar tadi berkumpul, kemudian si anak hidup kembali dan bersimpuh di depan ayahnya.
Sekali Iagi Iblis memohon pertolongan tetapi ditolak oleh Hawa.
”Pastilah aku dibunuh Adam nanti”, jawabnya.
Iblis membujuk dengan berbagai sumpah sehingga akhirnya Hawa sekali lagi menyerah. Si Iblis pun pergi. Adam kembali dan didapatinya Hawa bersama anak itu Iagi.
“Allah-lah yang mengetahui apa yang bakal ‘terjadi sekarang ini”; Adam menghardik penuh amarah. “Engkau menuruti kata-katanya dan tak memperdulikan kata-kataku”.
Khannas disembelihnya dan dimasaknya. Separuh dari tubuh Khannas dimakannya sendiri dan separuhnya lagi diberikannya kepada Hawa. (Orang-orang mengatakan sesudah tindakan Adam yang terakhir ini Iblis masih dapat menghidupkan dan membawa Khannas dalam rupa seekor domba). Kemudian si IbIis datang pula menanyakan ‘anaknya dan Hawa menceritakan apa yang telah terjadi:
“Anakmu dimasak Adam. Separuh tubuhnya aku makan dan separuhnya iagi dimakan oleh Adam”.
“IniIah yang selama ini kuinginkan”, si Iblis berseru girang.
“Aku ingin menyusup ke dalam tubuh Adam. Kini, setelah dadanya menjadi tempat kediamanku, tercapailah sudah keinginanku itu”.[]
BIBLIOGRAFI
L. Massignon, Essai, haIaman 256-264.
G. Brockelmann, op.cit., Suppl I, halaman 325-327.
As-Sulami, op.cit., halaman 217-220.
Abu Nu’ai.m, op.cit., X, 233 -235.
Al-Qushairi, op.cit., halaman 26.
Hujwiri, op.cit., halaman 141-142,.210-241.
Adz-Dzahabi, 0p.cit., II, 20.
As-Subki, op.cit., II, 20.
Jami, op.cit., halaman 118-119.
CATATAN MENGENAI ANEKDOT-ANEKDOT
“Pendidikan Hakim at-Tirmidzi”: T.A., II, 91-93. Mengenai kunjungan-kunjungan Khidir setiap Minggu lihat karya Hujwiri, halaman 141. Tentang at-Tirmidzi yang membuang buku-bukunya ke sungai Oxus dikisahkan di dalam karya Hujwiri di atas, halaman 142. Mengenai Abu Bakr al-Warraq Iihat karya Hujwiri, halaman 142-143; dan karya as-Sulami, halaman 221 beserta bibliografinya.
”Anekdot-anekdot Mengenai Diri Tirmidzi”: T.A., II, 93-96. Legenda Adam dan Hawa dikisahkan pula di daIam Ilahi-nama, haIaman 102-104 (didalam karya terjemahannya, halaman 172-175).
Sumber Tulisan:
Diketik Ulang dari buku “Warisan Para Aulia” karya Fariduddin Al-Attar,Penerbit Pustaka, Bandung, 2000.

ABUL QASIM AL-JUNAID



Abul Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Khazzaz an-Nihawandi adalah putera seorang pedagang barang pecah belah dan keponakan dari Sari as-Saqathi. Beliau adalah teman akrab al-Muhasibi yang merupakan penyebar besar aliran “warans” sufisme. Beliau telah mengembangkan sebuah doktrin theosofi yang mempengaruhi keseluruhan mitisisme ortodoks Islam. Teorinya yang dijelaskannya secara terperinci dalam ajaran-ajarannya dan dalam surat-suratnya kepada tokoh-tokoh semasanya masih dapat kita temukan hingga saat ini. Beliau meninggal pada tahun 258 H/910M di Baghdad, sebagai ketua dari sebuan aliran yang besar dan berpengaruh luas.
MASA REMAJA JUNAID AL-BAGHDADI
Sejak kecil Junaid sudah merasakan kegelisahan spiritual. Ia adalah pencari Allah yang tekun, penuh disiplin, bijaksana, cerdas dan mempunyai intuisi yang tajam.Pada suatu hari ketika kembali dari sekolah, Junaid mendapatkan ayahnya sedang menangis.
“Apakah yang terjadi?”,tanya Junaid kepada ayahnya.
“Aku ingin memberi sedekah kepada pamanmu, Sari, tetapi ia tidak mau menerimanya”, ayahnya menjelaskan. ”Aku menangis karena seumur hidupku baru sekarang inilah aku dapat mengumpulkan uang lima dirham, tetapi ternyata pemberianku tidak pantas diterima oleh salah seorang sahabat Allah”.
“Berikanlah uang itu kepadaku, biar aku yang akan memberikannya kepada paman. Dengan cara ini tentu ia mau menerimanya”, Junaid berkata.
Uang lima dirham itu diserahkan ayahnya dan berangkatlah Junaid ke rumah pamannya. Sesampainya di tujuan, ia mengetuk pintu.
“Siapakah itu?”, terdengar sahutan dari dalam
“Junaid”, jawabnya. ’*Bukalah pintu dan terimalah sedekah yang sudah menjadi hakmu ini”.
“Aku tidak mau menerimanya”, Sari menyahut.
“Demi Allah yang telah sedemikian baiknya kepadamu dan sedemikian adilnya kepada ayahku, aku meminta kepadamu, terimalah sedekah ini”, Junaid berseru.
“Junaid, bagaimanakah Allah telah sedemikian baiknya kepadaku dan sedemikian adilnya kcpada ayahmu?” Sari bertanya.
“Allah berbuat baik kepadamu”, jawab Junaid , “Karena telah memberikan kemiskinan kepadamu. Allah berbuat adil kepada ayahku karena telah membuatnya sibuk dengan urusan-urusan dunia. Engkau bebas menerima atau menolak sedekah, tetapi ayahku, baik secara rela maupun tidak, harus mengantarkan sebagian harta kekayaannya kepada yang berhak menerimanya”.
Sari sangat senang mendengar jawaban itu.
“Nak, sebelum menerima sedekah itu, aku telah menerima dirimu”.
Sambil berkata demikian Sari membukakan pintu dan menerima sedekah itu. Untuk Junaid disediakannya tempat yang khusus di dalam lubuk hatinya.
Junaid baru berumur tujuh tahun ketika Sari membawanya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Masjidil Haram, empat ratus syeikh sedang membahas sikap syukur. Setiap orang di antara mereka mengemukakan pendapatnya masing-masing.
“Kemukakan pula pendapatmu”, Sari mendorong Junaid. Maka berkatalah Junaid,.
“Kesyukuran berarti tidak mengingkari Allah dengan karunia yang telah dilimpahkan-Nya atau membuat karunia-Nya itu sebagai sumber keingkaran”.
“Tepat sekali, wahai pelipur hati Muslim-muslim sejati”, keempat ratus syeikh tersebut berseru. Semuanya sependapat bahwa definisi kesyukuran yang dikemukakan Junaid itulah yang paling tepat.
Sari berkata kepada Junaid,
“Nak, tidak lama lagi akan kenyataanlah bahwa karunia yang istimewa dari Allah kepadamu adalah lidahmu”.
Junaid tidak sanggup menahan tangisnya ketika mendengar kata-kata pamannya itu.
“Bagaimanakah engkau memperoleh semua pengctahuan ini?”, Sari bertanya padanya.
“Dengan duduk mendengarkanmu”, jawab Junaid.
Junaid lalu kembali ke Baghdad dan berdagang barang pecah belah. Setiap hari ia menurunkan tirai tokonya dan melakukan shalat sunnat sebanyak empat ratus raka’at. Belakangan hapi, usaha itu ditinggalkannya dan ia mengunci diri dalam sebuah kamar di rumah Sari. Di dalam kamar itulah ia menyibukkan diri untuk menyempurnakan bathinnya, Dan di situ pula ia membentangkan sajadah ketekunan sehingga tidak sesuatu hal pun selain Allah yang terpikirkannya.
JUNAID DIUJI
Selama empat puluh tahun Junaid menekuni kehidupan mistiknya. Tiga puluh tahun lamanya, setiap selesai shalat Isa ia berdiri dan mengucapkan “Allah, Allah” terus menerus hingga fajar, dan melakukan shalat Shubuh tanpa perlu berwudhu’ lagi.
“Setelah empat puluh tahun berlalu, Junaid berkisah, “Timbullah kesombongan di dalam hatiku, aku mengira bahwa tujuanku telah tercapai. Segeralah terdengar olehku suara dari langit yang menyeru kepadaku: ’Junaid, telah tiba saatnya bagi-Ku untuk menunjukkan kepadamu sabuk pinggang Majusimu. Mendengar seruan itu aku mengeluh: ’Ya Allah, dosa apakah yang telah dilakukan Junaid?’ Suara itu menjawab: ’Apakah engkau hidup `untuk melakukan dosa yang lebih besar daripada itu?”
Junaid mengeluh menundukkan kepalanya.
“Apabila manusia belum patuh untuk menemui Tuhannya”, bisik junaid, “Maka segala amal baiknya adalah dosa semata”.
Junaid lalu terus berdiam di dalam kamarnya dan terus menerus mengucapkan “Allah, Allah” sepanjang malam. Tetapi lidah fitnah menyerang dirinya dan tingkah lakunya ini dilaporkan orang kepada khalifah.
“Kita tidak dapat berbuat apa-apa kepada Junaid bila kita tak mempunyai bukti” jawab Khalifah.
Kebetulan sekali-khalifah mempunyai seorang hamba perempuan berwajah sangat cantik. Gadis ini telah dibelinya seharga tiga ribu dinar dan sangat disayanginya. Khalifah memerintahkan agar hamba perempuannya itu dipakaikan dengan pakaian yang gemerlapan dan didandani dengan batu-batu permata yang mahal.
“Pergilah ke tempat Junaid”, khalifah memerintahkan hamba perempuannya, “Berdirilah di depannya, buka cadar dan perlihatkan wajahmu, permainkan batu-batu permata dan pakaianmu untuknya. Setelah itu katakanlah kepada Junaid: ’Aku kaya raya tetapi aku sudah jemu dengan urusan-urusan dunia. ’Aku datang kemari agar engkau mau melamar diriku, sehingga bersamamu aku dapat mengabdikan diri untuk berbakti kepada Allah. Hatiku tidak berkenan kepada siapa pun kecuali kepadamu! Kemudian perlihatkan tubuhmu kepadanya. Bukalah pakaianmu dan godalah ia dengan segenap daya upayamu”.
Ditemani seorang pelayan ia diantar ke tempat Junaid. Si gadis menemui Junaid dan melakukan segala daya upaya yang bahkan melebihi dari apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa disengaja ia terpandang oleh Junaid. Junaid membisu dan tak memberi jawaban.  Si gadis mengulangi daya upayanya dan Junaid yang selama itu tertunduk mengangkat kepalanya.
“Ah!”, serunya sambil meniupkan nafasnya ke arah si gadis. Si gadis terjatuh dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Pelayan yang menemaninya kembali ke hadapan khalifah dan menyampaikan segala kejadian itu. Api penyesalan menyesak dada khalifah dan ia memohonkan ampunan Allah karena perbuatannya itu.
“Seseorang yang memperlakukan orang lain seperti yang tak sepatutnya akan menyaksikan hal yang tak patut untuk disaksikannya”, khalifah berkata.
Khalifah bangkit dan berangkatlah ia untuk mengunjungi Junaid, “Manusia seperti Junaid tidak dapat dipanggil untuk
menghadapinya”, ia berkata.
Setelah bertemu dengan Junaid khalifah bertanya:
“Wahai guru, bagaimanakah engkau sampai hati membinasakan tubuh gadis yang sedemikian eloknya?”
“Wahai pangeran kaum Muslim”, Junaid menjawab, “belas kasihmu kepada orang-orang yang mentaatimu sedemikian besarnya, sehingga engkau sampai hati untuk menginginkan jerih payahku selama empat puluh tahun mendisiplinkan diri, bertirakat, menyangkal diri, musnah diterbangkan angin. Tetapi apakah artinya diriku di dalam semua itu? janganlah engkau lakukan sesuatu hal kepada orang lain apabila engkau sendiri tidak menginginkannya!”
Setelah peristiwa itu nama Junaid menjadi harum. Kemasyhuran terdengar ke seluruh penjuru dunia. Betapa pun besarnya fitnah yang dilontarkan kepada dirinya, reputasinya berlipat ganda seribu kali. Junaid mulai memberikan khotbah-khotbah. Ia pernah menindaskan: “Aku tidak berkhotbah di depan umum sebelum tiga puluh manusia suci menunjukkan kepadaku bahwa telah tiba saatnya aku menyeru ummat manusia kepada Allah”.
“Selama tiga puluh tahun aku mengawasi bathinku”, Junaid mengatakan, “Setelah itu selama sepuluh tahun bathinku mengawasi diriku. Pada saat ini telah dua puluh tahun lamanya aku tidak mengetahui sesuatu pun mengenai bathinku dan bathinku tidak mengetahui sesuatu pun mengenai diriku”,
“Selama tiga tahun”, Junaid melanjutkan, “Allah telah berkata-kata dengan Junaid melalui lidah Junaid sendiri, sedang Junaid tidak ada dan orang-orang lain tidak menyadari hal itu”.
JUNAID BERKHOTBAH
Ketika lidah Junaid telah fasih mengucapkan kata-kata mulia, Sari as-Saqathi mendesak bahwa Junaid berkewajiban untuk berkhotbah di depan umum. Mula-mula Junaid enggan; ia tidak ingin melakukan hal itu.
“Apabila guru masih ada, tidaklah pantas bagi si murid untuk berkhotbah”, Junaid berkilah.
Kemudian pada suatu malam Junaid bermimpi dan dalam mimpi tersebut ia bertemu dengan Nabi saw.
“Berkhotbahlah!”, Nabi berkata kepadanya.
Keesokan paginya ia hendak pergi mengabarkan hal itu kepada Sari tetapi ternyata Sari sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Sebelumnya engkau selalu merasa enggan, dan menantikan agar orang-orang mendesakmu untuk berkhotbah. Tetapi mulai saat ini engkau harus berkhotbah karena kata-katamu dijadikan sebagai alat bagi keselamatan seluruh dunia. Engkau tak mau berkhotbah ketika dimohonkan murid-muridmu, engkau tak mau ketika diminta oleh para syeikh di kota Baghdad. Dan engkau tak mau berkhotbah ketika kudesak. Tetapi kini Nabi sendirilah yang memberi perintah kepadamu, oleh karena itu engkau harus mau berkhotbah”.
”Semoga Allah mengampuni diriku”, jawab Junaid. “Tetapi bagaimanakah engkau bisa mengetahui bahwa aku telah berjumpa dengan Nabi dalam mimpiku?”
“Aku bertemu dengan Allah dalam mimpi”, jawab Sari, “dan Dia berkata kepadaku: ’Telah Kuutus rasul·ku untuk menyuruh Junaid berkhotbah di atas mimbar”’.
“Aku mau berkhotbah”, Junaid menyerah, “tetapi dengan satu syarat bahwa yang mendengarkan khotbah-khotbahku tidak
lebih dari empat puluh orang”.
Pada suatu hari Junaid berkhotbah. Jumlah pendengar hanya empat puluh orang. Delapan belas orang di antaranya menemui ajal mereka sedang sisanya yang berjumlah dua puluh dua orang jatuh pingsan dan harus digotong ke rumahnya masing-masing.
Di dalam kesempatan lain Junaid berkhotbah di dalam masjid besar. Di antara jamaahnya ada seorang pemuda Kristen tetapi tak seorang pun yang mengetahui bahwa ia beragama Kristen. Si pemuda menghampiri Junaid dan berkata: “Nabi pernah berkata: ’Berhati-hatilah dengan wawasan seseorang yang beriman karena ia dapat melihat dengan nur Allah’. Apakah maksudnya?”
“Yang dimaksudkannya adalah”, Junaid menjawab, “bahwa engkau harus menjadi seorang Muslim dan melepaskan sabuk kekristenanmu itu karena sekarang ini adalah zaman Islam”.
Si pemuda segera memeluk Islam setelah mendengar jawaban Junaid tersebut.
ooo
Setelah berkhotbah beberapa kali, orang-orang menentang Junaid. Junaid menghentikan khotbahnya dan mengurung diri di dalam kamarnya. Betapapun ia didesak untuk berkhotbah kembali, ia tetap menolak.
“Aku sudah cukup puas”, jawab Junaid, “Aku tidak mau merancang kehancuran diriku sendiri”..
Tetapi beberapa lama kemudian tanpa diduga-duga Junaid naik ke atas mimbar dan mulai berkhotbah.
“Apakah kebijaksanaan yang terkandung di dalam perbuatanmu ini?”,seseorang bertanya kepadanya.
Junaid menjawab: “Aku teringat sebuah hadits di mana Nabi berkata: ’Di hari-hari terakhir nanti yang menjadi juru bicara diantara ummat manusia adalah yang paling bodoh di antara mereka. Dialah yang akan berkhotbah kepada ummat manusia’. Aku menyadari bahwa aku adalah yang terbodoh di antara ummat manusia dan aku berkhotbah karena kata Nabi itu, aku takkan menentang kata-katanya itu”.
ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI JUNAID
Pada suatu ketika mata Junaid sakit dan dipanggilnyalah seorang tabib.
“Jika matamu terasa perih, jangan biarkan air masuk ke dalam matamu”, si tabib menasehatkan.
Ketika tabib itu telah pergi, Junaid bersuci, shalat dan setelah itu pergi tidur. Ketika terbangun ternyata matanya telah sembuh dan terdengarlah oleh sebuah seruan: “Junaid bersedia mengorbankan matanya demi nikmat Kami. Seandainya untuk tujuan yang sama ia telah memohonkan ampunan Kami untuk semua penghuni neraka, niscaya permohonannya itu akan Kami kabulkan”.
Ketika si tabib datang dan menyaksikan bahwa mata Junaid telah sembuh,
“Apakah yang telah kau lakukan?”, ia bertanya.
“Aku bersuci untuk shalat”, jawab junaid.
Mendengar jawaban ini si tabib yang beragama Kristen itu segera masuk Islam.
“Inilah kesembuhan dari Sang Pencipta, bukan dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya”, katanya kepada Junaid, “Matakulah yang selama ini sakit, bukan matamu. Engkaulah yang sebenarnya seorang tabib, bukan aku”.
ooo
Junaid mengisahkan: Pada suatu ketika aku ingin melihat Iblis. Aku berdiri di pintu masjid dan dari kejauhan terlihatlah olehku seorang tua yang sedang berjalan ke arahku. Begitu aku memandangnya, rasa ngeri mencekam perasaanku.
“Siapakah engkau ini?” aku bertanya kepadanya.
“Yang engkau inginkan”, jawabnya.
“Wahai makhluk yang terkutuk”, aku berseru, ”Apakah yang menyebabkan engkau tidak mau bersujud kepada Adam?”
“Bagaimanakah pendapatmu Junaid?”, Iblis menjawab, ’Jika aku bersujud kepada yang lain daripada-Nya?”
Junaid mengisahkan, betapa ia menjadi bingung karena jawaban Iblis itu.
Dari dalam lubuk hatiku terdengarlah sebuah seruan, “Katakan, engkau adalah pendusta. Seandainya engkau adalah seorang hamba yang setia niscaya engkau mentaati perintah-Nya”.
Ketika Iblis mendengar kata-kata ini, ia meraung nyaring. “Demi Allah Junaid, engkau telah membinasakan aku!” Dan setelah itu ia pun hilang.
ooo
Pada masa sekarang ini semakin sedikit dan sulit ditemukan saudara-saudara seagama”, seseorang berkata di depan Junaid. Junaid membalas: “Jika engkau menghendaki seseorang untuk memikul bebanmu, maka orang-orang seperti itu memang sulit dan sedikit dijumpai. Tetapi jika engkau menghendaki seseorang untuk ikut memikul bebannya, maka orang seperti itu banyak sekali padaku”.
ooo
Bila Junaid berkhotbah mengenai keesaan Allah, ia sering membahasnya dari sudut-sudut pandangan yang berbeda sehingga tak seorang pun dapat memahaminya. Pada suatu hari Syibli yang berada di antara pendengar-pendengar mengucapkan: “Allah, Allah!”
Mendengar ucapan itu Junaid berkata: “Apabila Allah itu tidak ada, maka menyebutkan sesuatu yang tidak ada adalah suatu pertanda dari ketiadaan, dan ketiadaan adalah sesuatu hal yang diharamkan. Apabila Allah itu ada, maka menyebut nama-Nya sambil merenungi-Nya sebagai ada adalah suatu pertanda tidak menghargai”.
ooo
Seseorang membawa uang lima ratus dinar dan memberikan uang itu kepada Junaid.
“Adakah yang masih engkau miliki selain daripada ini?”, Junaid bertanya kepadanya.
“Ya, banyak!”, jawab orang itu.
“Apakah engkau masih ingin mempunyai uang yang lebih banyak lagi?”
“Ya”.
”Kalau begitu ambillah uang ini kembali, engkau lebih berhak untuk memilikinya. Aku tidak memiliki sesuatu pun tapi aku tak menginginkan sesuatu pun”.

Ketika Junaid sedang berkhotbah, salah seorang pendengarnya bangkit dan mulai mengemis.
“Orang ini cukup sehat”, Junaid berkata di dalam hati. “Ia dapat mencari nafkah. Tetapi mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya seperti ini?”
Malam itu Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung.
”Makanlah!”, sebuah suara memerintah Junaid.
Ketika Junaid mengangkat tudung itu, terlihatlah olehnya si pengemis terkapar mati di atas piring.
“Aku tidak mau memakan daging manusia”, Junaid menolak.
”Tetapi bukankah itu yang engkau lakukan kemarin ketika berada di dalam masjid?”
Junaid segera menyadari bahwa ia bersalah karena telah berbuat fitnah di dalam hatinya dan oleh karena itu ia dihukum.
“Aku tersentak dalam keadaan takut”, Junaid mengisahkan.
“Aku segera bersuci dan melakukan shalat sunnat dua rakaat.
Setelah itu aku pergi keluar mencari si pengemis. Kudapatkan ia sedang berada di tepi sungai Tigris. Ia sedang memunguti sisa-sisa sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Si pengemis mengangkat kepala dan terlihatlah olehnya aku yang sedang menghampirinya. Maka bertanyalah ia kepadaku: ’Junaid, sudahkah engkau bertaubat karena telah bersangka buruk terhadapku?’ Sudah’, jawabku. ’Jika demikian pergilah dari sini. Dia-lah Yang Menerima taubat hamba-hamba-Nya. Dan jagalah pikiranmu’ “.
“Aku telah mendapat pelajaran mengenai keyakinan yang tulus dari seorang tukang cukur”, Junaid merenungi dan setelah itu ia pun berkisah sebagai berikut;
Suatu ketika sewaktu aku berada di Mekkah, kulihat seorang tukang cukur sedang menggunting rambut seseorang. Aku berkata kepadanya: “Jika karena Allah, bersediakah engkau mencukur rambutku?”
“Aku bersedia”, jawab si tukang cukur. Ia segera menghentikan pekerjaanya dan berkata kepada langganannya itu: “Berdirilah, apabila nama Allah diucapkan, hal-hal yang lain harus ditunda”.
Ia menyuruhku duduk. Diciumnya kepalaku dan dicukurnya rambutku.  Setelah selesai ia memberikan kepadaku segumpal kertas yang berisi beberapa keping mata uang.
“Gunakanlah uang ini untuk keperluanmu”, katanya kepadaku.
Aku pun lalu bertekad bahwa hadiah yang pertama sekali kuperoleh sejak saat itu akan kuserahkan kepada si tukang cukur tersebut.Tak lama kemudian aku menerima sekantong uang emas dari Bashrah. Uang ini kuberikan kepada tukang cukur itu.
“Apakah ini?” ia bertanya kepadaku.
“Aku telah bertekad”, aku menjelaskan. “Hadiah yang pertama sekali kuperoleh akan kuberikan kepadamu. Uang itu baru saja kuterima”.
Tetapi si cukang cukur menjawab:
“Tidakkah engkau malu kepada Allah? Engkau telah mengatakan kepadaku: ’Demi Allah cukurlah rambutku’, tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan meminta bayaran?”.
ooo
Seorang pencuri telah dihukum gantung di kota Baghdad. Junaid datang dan mencium kakinya.
“Mengapa engkau berbuat demikian?”, orang-orang bertanya kepada junaid.
“Semoga seribu belas kasih Allah dilimpahkan-Nya kepadanya”, jawab junaid. “Ia telah membuktikan bahwa dirinya setia didalam usahanya. Sedemikian sempurna ia melakukan pekerjaannya sehingga untuk itu direlakannya hidupnya”.
ooo
Pada suatu malam seorang pencuri menyusup masuk ke rumah dan masuk ke kamar Junaid. Tak sesuatu pun yang ditemukannya kecuali sehelai pakaian. Pakaian itu diambilnya, setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Junaid. Keesokan harinya ketika Junaid sedang berjalan-jalan di dalam pasar, dilihatnya pakaiannya itu di tangan seorang pedagang perantara yang sedang menawarkannya kepada seorang pembeli.
Calon pembeli itu berkata,
”Sebelum kubeli pakaian ini aku meminta seseorang yang sanggup memberi kesaksian bahwa pakaian itu memang kepunyaanmu”.
“Akulah yang akan memberi kesaksian bahwa pakaian itu adalah miliknya”. Junaid berkata sambil menghampiri mereka.
Maka pakaian itu pun terjuallah.
Seorang perempuan tua datang menghadap Junaid dan bermohon, “Puteraku pergi entah ke mana Doakanlah agar ia kembali”.
“Bersabarlah”, Junaid menasehati perempuan tua itu.
Dengan sabar perempuan tua itu menanti beberapa hari lamanya. Kemudian ia kembali kepada Junaid.
“Bersabarlah”, Junaid mengulangi nasehatnya.
Kejadian seperti ini telah beberapa kali berulang, Akhirnya wanita tua itu datang dan berkata lantang, “Aku sudah tak dapat bersabar lebih lama lagi. Doakanlah kepada Allah!”
Junaid menjawab: “Jika engkau berkata dengan sebenarnya, puteramu tentu telah kembali. Allah berkata: Dia-lah yang akan menjawab orang yang berduka apabila orang itu menyeru kepada-Nya”.
Setelah itu Junaid berdoa kepada Allah. Ketika perempuan itu sampai di rumahnya ternyata anaknya telah berada di sana.
ooo
Seorang murid mengira bahwa dirinya telah mencapai derajat kesempurnaan.
“Oleh karena itu lebih baik aku menyendiri”, ia berkata di dalam hatinya.
Maka pergilah ia mengasingkan diri di suatu tempat dan untuk beberapa lamanya berdiam di sana. Setiap malam beberapa orang yang membawa seekor unta datang kepadanya dan berkata: “Kami akan mengantarmu ke surga”. Maka naiklah ia ke atas punggung unta itu dan mereka pun berangkat ke suatu tempat yang indah dan nyaman, penuh dengan manusia—manusia gagah dan tampan, dimana banyak terdapat makanan-makanan lezat dan anak-anak sungai. Di tempat itu ia tinggal hingga fajar, kemudian ia jatuh tertidur dan ketika terjaga ternyata ia berada di kamarnya sendiri kembali. Karena pengalaman ini, ia menjadi bangga dan angkuh.
“Setiap malam aku diantarkan ke surga”, ia membanggakan dirinya.
Kata-katanya ini terdangar oleh Junaid. Junaid segara bangkit dan datang ke tempat di mana ia mendapatkan muridnya itu sedang berlagak dengan sangat angkuhnya. Junaid bertanya apakah yang telah dialaminya dan si murid mengisahkan seluruh pengalamannya itu kepada syeikh..
“Malam nanti apabila engkau diantarkan ke sana”, Junaid berkata kepada muridnya itu, ”ucapkanlah: “Tiada kekuasaan dan kekuatan kecuali pada Allah Yang Maha Mulia
dan Maha Besar. “.
Malam itu,seperti biasanya si murid diantarkan pula ka tempat ‘tersebut’. Dalam hatinya ia tidak yakin terhadap perkataan syeikh Junaid, tetapi ketika sampai di tempat itu, sekadar sebagai percobaan ia mengugapkan: “Tiada kekuasaan dan kekuatan …. “
Sesaat itu pula orang-orang yang berada di tempat itu meraung-raung dan melarikan diri.
Kemudian terlihatlah olehnya bahwa tempat itu hanyalah tempat pembuangan sampah sedang dihadapannya berserakan tulang-tulang binatang. Setelah menyadari kekeliruan‘nya itu, si murid bertaubat dan bergabung dengan murid-murid Junaid yang lain. Tahulah ia bahwa menyendiri bagi seorang murid adalah bagaikan racun yang mematikan.
ooo
Salah seorang murid Junaid menyendiri di sebuah tempat yang terpencil di kota Bashrah. Suatu malam, sebuah pikiran buruk terlintas di dalam hatinya. Ketika ia memandang ke dalam cermin terlihatlah olehnya betapa wajahnya telah berubah hitam. Ia sangat terperanjat. Segala daya upaya dilakukan untuk membersihkan wajahnya tetapi sia-sia. Sedemikian malunya dia sehingga tidak berani menunjukkan mukanya kepada siapa pun. Setelah tiga hari berlalu, barulah kehitaman wajahnya kembali normal sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
”Siapakah itu”, ia bertanya. ·
“Aku datang untuk mengantar surat dari Junaid”, sebuah sahutan dari luar.
Si murid membaca surat Junaid.
“Mengapa tidak engkau jaga tingkah lakumu di hadapan Yang Maha Besar. Telah tiga hari tiga malam aku bekerja sebagai seorang tukang celup untuk memutihkan kembali wajahmu yang hitam itu”.
ooo
Suatu hari, salah seorang murid Junaid melakukan satu kesalahan kecil. Karena malu ia melarikan diri dan tidak mau pulang. Beberapa hari kemudian, ketika berjalan-jalan dengan sahabat-sahabat di dalam pasar, tiba-tiba terlihatlah oleh Junaid muridnya itu. Si murid lari karena malu.
“Seekor burung kita terlepas dari sangkar”, Junaid berseru kepada sahabat-sahabatnya dan mengejar si murid.
Ketika menoleh ke belakang, si murid melihat bahwa syeikh membuntutinya. Maka ia pun mempercepat larinya.’Akhirnya ia bertemu jalan buntu, karena malu ia tetap menghadapkan mukanya ke tembok. Tak lama kemudian si syeikh telah berada di tempat itu.
“Hendak kemanakah engkau guru?”, si murid bertanya kepada Junaid.
“Apabila seseorang membentur dinding, seorang syeikh dapat memberikan bantuannya”, jawab junaid
Murid itu dibawanya pulang ke Tekkia. Sesampainya di sana si murid menjatuhkan dirinya di depan kaki sang guru dan memohon ampun kepada Allah. Semua yang menyaksikan pemangdangan ini tergugah hatinya, banyak di antara mereka yang ikut bertaubat.
Syeikh Junaid mempunyai seorang murid yang dicintainya melebihi muridnya yang lain. Murid-murid lain merasa iri, hal ini disadari oleh syeikh melalui intuisi mistiknya.
“Sesungguhnya ia melebihi kalian di dalam tingkah laku dan tingkat pemahamannya”, Junaid menjelaskan kepada mereka.
“Begitulah menurut pandanganku. Tetapi marilah kita membuat sebuah percobaan agar kalian semua menyadari hal itu”.
Kemudian Junaid memerintahkan agar dua puluh ekor burung dibawakan ke padanya.
“Ambil burung-burung ini oleh kalian, seekor seorang”, Junaid berkata kepada murid-muridnya. “Bawalah burung itu ke suatu tempat yang tak terlihat oleh siapa pun juga, kemudian bunuhlah. Setelah itu bawalah kembali ke sini”.
Setiap murid pergi dengan membawa seekor burung, membunuh burung itu dan membawa bangkainya kembali, kecuali murid kesayangan Junaid itu. Ia pulang dengan membawa seekor burung yang masih hidup.
“Mengapa tak kau bunuh burungmu itu?”, Junaid bertanya kepadanya.
“Karena guru mengatakan hal itu harus dilakukan di suatu tempat yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun juga”, jawab si murid.
“Dan ke mana pun aku pergi, Allah senantiasa menyaksikannya”. “Kalian saksikanlah tingkat pemahamannya!”, Junaid berkata kepada seluruh muridnya. “Bandingkanlah dengan yang lain-lainnya”.
Semua murid Junaid segera mohon ampunan Allah.
ooo
Junaid mempunyai delapan orang murid istimewa yang melaksanakan setiap buah pikirannya. Pada suatu hari, terpikirkan oleh mereka bahwa mereka harus terjun ke perang suci. Keesokan paginya Junaid menyuruh pelayannya mempersiapkan perlengkapan perang. Beserta kedelapan orang murid tersebut ia lalu berangkat ke medan perang.
Ketika kedua belah pihak yang bertempur saling berhadapan. tampillah seorang satria perkasa dari pasukan kafir itu, Iantas dibinasakannya kedelapan murid Junaid.
“Aku menengadah ke atas langit”, Junaid mengisahkan, “dan di sana terlihat olehku sembilan buah usungan. Roh masing-masing dari kedelapan muridku yang syahid itu diangkat ke sebuah usungan jadi masih ada satu usungan yang kosong. ’Usungan yang masih kosong itu tentulah untukku’, aku berpikir dan karena itu akupun mencebur kembali ke dalam kancah pertempuran. Tetapi satria perkasa yang telah membunuh kedelapan sahabatku itu tampil dan berkata: ’Abul Qasim, usungan yang kesembilan itu adalah untukku. Kembalilah ke Baghdad dan jadilah seorang syeikh untuk kaum
Muslimin. Dan bawalah aku ke dalam IsIam”.
“Maka jadilah ia seorang Muslim. Dengan pedang yang telah digunakannya untuk membunuh kedelapan muridku itu ia pun berbalik membunuh orang-orang kafir dalam jumlah yang sama. Kemudian ia sendiri terbunuh sebagai seorang syuhada. Rohnya”, Junaid mengakhiri kisahnya, “ditaruh ke atas usungan yang masih kosong tadi. Kemudian kesembilan usungan itu menghilang tidak terlihat Iagi”.
ooo
Seorang sayyid bernama Nasiri, sedang melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di Baghdad ia pun pergi mengunjungi Junaid.
“Dari manakah engkau datang, sayyid?”, Junaid bertanya setelah menjawab salam.
“Aku datang dari Ghilan”, jawab sang sayyid.
“Keturunan siapakah engkau?”, tanya junaid.
“Aku adalah keturunan ’Ali, pangeran kaum Muslimin, semoga Allah memberkatinya”, jawabnya.
“Nenek moyangmu itu bersenjatakan dua bilah pedang”, ujar Junaid. “Yang satu untuk melawan orang-orang kafir dan yang lainnya untuk melawan dirinya sendiri. Pada saat ini, sebagai puteranya, pedang manakah yang engkau gunakan?”
Sang sayyid menangis sedih mendengarkan’ kata-kata ini. Direbahkannya dirinya di depan Junaid dan berkatalah ia:
“Guru, di sinilah ibadah hajiku Tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Allah”.
“Dadamu adalah tempat bernaung Allah. Usahakanlah sedaya upayamu agar tidak ada yang cemar memasuki tempat bernaung-Nya itu”.
“Hanya itulah yang ingin kuketahui”, si sayyid berkata.
JUNAID MENINGGAL DUNIA
Ketika ajalnya sudah dekat, Junaid menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membentangkan meja dan mempersiapkan makanan.
“Aku ingin menghembuskan nafasku yang terakhir ketika sahabat-sahabatku sedang menyantap seporsi sop”, Junaid berkata.
Kesakitan pertama menyerang dirinya.
“Berilah aku air untuk bersuci”, ia meminta kepada sahabat-sahabatnya.
Tanpa disengaja mereka lupa membersihkan sela-sela jari tangannya. Atas permintaan Junaid sendiri kekhilafan ini mereka perbaiki. Kemudian Junaid bersujud sambil menangis.
“Wahai ketua kami”, murid-muridnya menegurnya, “dengan semua pengabdian dan kepatuhanmu kepada Allah seperti yang telah engkau lakukan, mengapakah engkau bersujud pada saat-saat seperti ini?” .
“Tidak pernah aku merasa lebih perlu bersujud daripada saat-saat ini”, jawab Junaid.
Kemudian Junaid membaca ayat-ayat al-Qur‘an tanpa henti-hentinya.
“Dan engkau pun membaca al-Qur‘an?”, salah seorang muridnya bertanya.
“Siapakah yang lebih berhak daripadaku membaca al-Qur‘an, karena aku tahu bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan digulung dan akan kulihat pengabdian dan kepatuhanku selama tujuh puluh tahun tergantung di angkara pada sehelai benang. Kemudian angin bertiup dan mengayunkan ke sana ke mari, hingga aku tak tahu, apakah angin itu akan memisahkan atau mempertemukanku dengan-Nya. Di sebelahku akan membentang tebing pemisah surga dan neraka, dan di sebelah yang Iain malaikat maut. Hakim yang adil akan menantikanku di sana, teguh tak tergoyahkan di dalam ke-
adilan yang sempurna. Sebuah jalan telah terbentang di hadapanku dan aku tak tahu ke mana aku hendak dibawa”.
Setelah tammat dengan al-Qur‘an yang dibacanya. diIanjutkannya pula tujuh puluh ayat dari surah al-Baqarah.
Kesakitan kedua menyerang Junaid.
“SebutIah nama Allah”, sahabat-sahabatnya membisikkan.
“Aku tidak lupa”, jawab Junaid. Tangannya meraih tasbih dan keempat jarinya kaku mencengkeram tasbih itu, sehingga salah seorang muridnya harus melepaskannya.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Iagi Maha Penyayang”, Junaid berseru, kemudian menutup matanya dan sampailah ajalnya.
Ketika jenasahnya dimandikan, salah seorang yang ikut memandikannya bermaksud membasuh matanya. Tetapi sebuah seruan dari Iangit mencegah: “Lepaskan tanganmu dari mata sahabat-Ku. Matanya tertutup bersama nama-Ku dan tidak akan dibukakan kembali kecuali ketika dia menghadap-Ku nanti”. Kemudian ia hendak membuka jari-jari Junaid untuk dibasuhnya, Sekali Iagi terdengar suara mencegah: “Jari-jari yang telah kaku bersama nama-Ku tidak akan dibukakan kecuali melalui perintah—Ku”.
Ketika jenasah Junaid diusung, seekor burung dan berbulu putih hinggap di sudut petimatinya.Percuma saja para sahabat mencoba mengusir burung itu, karena ia tak mau pergi. Akhirnya burung itu berkata:
“JanganIah kalian menyusahkan diri kalian sendiri. dan menyusahkan aku. Cakar-cakarku telah tertancap di sudut peti mati ini oleh paku cinta. Itulah sebabnya aku hinggap di sini. Janganlah
kalian bersusah-payah. Sejak saat ini Jasadnya dirawat oleh para malaikat. Jika bukan karena kegaduhan yang kalian buat, niscaya jasad Junaid telah terbang ke angkasa sebagai seeekor elang putih bersama-sama dengan kami”.[]
BIBLIOGRAFI
A. ’Abdul Kadir, The Life and Doctrine of al-Junaid, London, 1961.
L. Massignon, Essai, halaman 273-278. ·
R.C. Zaehner, Hindu and Muklim Mysticism, halaman 135-153, 218-224.
As-Sulami, op. cit., halaman 153 – 163.
Abu Nu’aim, op. cit., X, 255 – 287.
AI·Khathib, op. cit., VII, 241 – 249.
Al-Qushairi, op.cit., halaman 20-22.
Hujwiri, op.cit., halaman 128-130, 185-189.
Ibnu Khallikan, op.cit., I, no. 140.
Al-Yafi’i, op.cit., II, 231-236,
As-Subki, op,cit., II, 28-37.
Jami, op.cit., halaman 80-83.
Ibnul ’lmad, op.cit., II, 228 -230.
CATATAN MENGENAI ANEKDOT·ANEKDOT
“Masa Remaja al-Junaid”: T.A., ll, 6-7. Mengenai Junaid yang menunaikan ibadah haji ketika berusia tujuh tahun,  Iihat karya al-Qushairi, halaman 95.
“Junaid Diuji”: T.A., II, 7-8.
”Junaid Berkotbah”: T.A., II, 10-11. Sumbernya adalah dari karya al-Qushairi, halaman 128. `
“Anekdot-anekdot Mengenai Diri Junaid”: T.A., II, 13-16, 18-22 35-36. Mengenai uang lima ratus dinar yang diberikan kepada Junaid, Iihat karya al-Qushairi, halaman 88. Tentang seseorang yang mengemis ketika Junaid sedang berkhotbah, lihat karya yang sama, halaman S6. ”Dialah yang menerima…” adalah al-Qur’an, 42:25.
Mengenai kisah seorang tukang cukur di kota Mekkah, Iihat karya al-Qushairi, halaman 191, Kisah pencuri di nimah Junaid, diriwayatkan pula di dalam Muskibat-nama, halaman 191. Kisah seorang wanita tua yang kehilangan puteranya disinggung pula di dalam karya al-Qushairi, halaman 139. Demikian pula dengan kisah murid kesayangan Junaid dapat kita temukan di dalam karya yang sama, halaman 103.
“Junaid Meninggal Dunia”: T.A,, II, 35-36. KemuncuIan burung dara ketika orang-orang mengusung jenazah junaid dikisahkan pula di dalam Mushibat-nama, halaman 97.
Sumber Tulisan:
Diketik Ulang dari buku “Warisan Para Aulia” karya Fariduddin Al-Attar,Penerbit Pustaka, Bandung, 2000.




MUTIARA HIKMAH PARA SALAF

"Berziarahlah kamu kepada orang-orang soleh! Kerana orang-orang soleh adalah ubat hati."

(Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas)

Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang-orang yang soleh, kerana mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit."


(Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad)

"Apakah kamu mau tahu kunci-kunci syurga itu ? Kunci Syurga sebenarnya adalah "Bissmillahirraman nirrahim"


(Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos)

"Sebaik-baiknya teman adalah Al-Qur'an! dan seburuk-buruknya teman adalah syaitan!"


(Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos)

"Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik."


(Al Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir Al Haddad)

"Semua para wali di angkat karena hatinya yang bersih, tidak sombong, dengki, dan selalu rendah diri"


(Al Habib Muhsin Bin Abdullah Al Atthos)

” Terangi rumahmu dengan lampu, dan terangi hatimu dengan Al-Qur’an”.


(Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas)

Jadikan akalmu, hatimu, ruhmu, jasadmu, karena bila semua terisi dengan namanya berbahagialah kamu “.


(Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas)

Jadilah orang-orang yang sholeh, karena orang-orang yang sholeh akan bahagia di dunia dan akherat . Dan jadilah orang-orang yang benar, jangan menjadi orang yang pintar, karena orang yang pintar belum tentu benar, tetapi orang yang benar sudah pasti pintar “.


(Al Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih)

Ilmu itu bagai lautan dan tak akan ada yang mengenalnya kecuali merasakannya “.


Al Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf

Janganlah kau tunda-tunda kebaikan sampai esok hari, karena engkau tak tahu apakah umurmu sampai esok hari".



Orang yang buta bukan orang yang melihat banyaknya harta, akan tetapi, yang disebut orang buta, orang yang tak mau melihat ilmu agama".

(Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas)

Sesiapa (dari kalangan Ba’Alawi) yang tidak menjalani perjalanan para leluhurnya, nescaya dia akan kecewa dan terhina.".


(Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi )

Entri Unggulan

Maksiat Hati.

Ketatahuilah bahwasanya agama islam sangat mengedepankan akhkaq yang baik serta hati yang bersih dari segala penyakit yang akan menyengsarak...

Entri paling diminati