Minggu

Indahnya Kebersamaan Kekasih Allah


Dengan Bismillah itulah ketukan palu kecil menemani sebuah pertemuan, tanda bahwa akan dimulainya perhelatan yang sangat indah dan agung, disisi lain para jam'ah mulai menuju kursi yang telah tersedia.

Detik demi detik pun berjalan tanpa ada kegelisahan, Syekh Abul Qurthuby pun mengucap kalimat demi kalimat syukurnya atas segala anugrah allah dan pemberian rosululloh akan semua yang ada. Selanjutnya Syekh Abdul Qodir Jilani QS. pun memberikan sambutan yang sangat menggetarkan hati. "Kuasa Allah lah yang berkuasa diatas semua pujian kita, dengan Kehendeknya pula kita dapat menuju dalam tempat ini, Ketentuannya yang sangat Kuat dan Bijaksana maka inilah tempat dimana para kekasih kekasih Allah berada, Kuatkanlah sendi sendi Ke-Esaan-Nya dalam segala Pengagungan kepadanya "

Disinilah letak yang dikatakan "Indahnya dalam kebersamaan", bagaimana tidak ! Seluruh para Anbiya, Rosul, Awliya dan Malaykat Allah tlah berkumpul dalam satu tujuan. Yaitu menyatukan yang tak terpisah menjadi satu rangkaian mutiara keindahan.

Lalu majulah sosok yang sangat Kharismatik lagi berwibawa menuju satu minbar yang tersedia, ia adalah Syekh Uwais Al-Qarny QS yang sebagai juru bicara dari kalangan Anbiya Allah, suaranya yang khas menyampaikan hasil diskusi para Anbiya tersebut bahwa "Kami berkenan memberikan waktu serta doa agar selalu hadir dalam pertemuan ini. Subhanalloh ! Tentunya terbesit dalam benak kita akan satu pertanyaan ? Ya, Pertemuan apakah yang dimaksud ? Pertemuan ini adalah dimana para kekasih allah bertemu dalam suatu sidang yang mulia yaitu Sidangnya Para Wali.

Sidang ini bisa dikatakan sidang perdana yang dilaksanakan pada sebuah gedung yang indah, dimana gedung tersebut merupakan buah ungkapan cinta Rosululloh SAW kepada Syekh Abul Qurthuby QS.  Kini tibalah sesi akhir dari sebuah sidang, dimana keadaan berubah menjadi hening berbalut hikmat yang indah, satu demi satu para Anbiya memberikan pelukan hangatnya kepada Syekh Abul Qurthubi QS. Lalu dilanjutkan para Awliya dan seterusnya para Malaykat. Semua saling terikat dalam satu Keikhlasan, tiada penyakit yang menghinggapi dada mereka, pemandangan yang luar biasa, kesyahduan malam tlah berselimut Aroma wangi keharmonisan, kebisuan pecah sejenak tatkala Baginda Nabi Besar Muhammad SAW berjabat, berpeluk dan mencium kepala dari Syekh Abul Qurthuby, pancaran demi pancaran Nur Rosululloh tlah menyelimuti para Jama'ah.

Akhirnya, Tiada akhir tanpa sebuah doa, Tiada ungkapan yang indah selain bermunajat, Lidah yang kelu kini tlah basah dalam alunan Pujian kepada allah, hati yang beku dapat pecah dengan untaian sholawat kepada Rosululloh SAW.

 للَّهُمَّ صَلِّي وَ سَلِّمْ وَ بَرِّكْ وَ كَرِّيْمِ وَ عَظِّيْمِ عَلَي سَيِّدِناَ نُوْرِ رَسُوْلِ اللَّهِ مُحَمَّدِِ خَيْرِ الْاَنْبِيِءِ وَ الْمُرْسَلِيْنِ اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ فِي مَجْلِسِناَ هَذَا اَحَدََ اِلّاَ غَسَلْتَ بِمَاءِ التَّوْبَهِ ذُنُوْبَهُ وَ سَتَرْتَ بِرِدَاءِ الْمَغْفِرَهِ عُيُوْبَهُ لَّهُمَّ اجْعَلْنَا لِاَلاَءِكَ ذَاكِرِيْنَ. وَلِنَعْمَا ءِكَ شَاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar