Minggu

Kesulitan-kesulitan sebagai Bahan bakar Jiwa Dari Mawlana Syekh Muhammad Hisham Kabbani

Maddad Yaa Rabb Maddad Yaa Rabb Maddad Yaa Rabb...
Ilahi Anta maqsudi wa ridhloka mathlubi a'thini mahabataka wa ma'rifah.. Setiap orang ingin berada pada jalan yang lurus, karena itulah jalan yang mengarah pada hadirat Ilahi.Tetapi banyak yang terhalang dari jalan itu, dan mengarah pada jalan-jalan yang lain, jalan yang tidak berakhir pada hadirat Ilahi. Tentu saja mereka yang terhalang merasa dirinya tersesat tanpa daya, dan mungkin gagal meraih tujuan-tujuan yang amat mulia. Inilah alasan mengapa Tuhan mengirim Nabi-nabinya dan Utusan-utusannya, dan Nabi penutupnya tiada lain adalah untuk menunjukan dan membawa kita kepada jalan yang benar, membantu kita bagaimana caranya berjalan disana, dan untuk menyembuhkan segala kepedihan serta kesusahan yang terjadi sepanjang hidup kita. Kepedihan dan kesusahan itu amatlah penting, karena mengingatkan kita agar memperhatikan langkah-langkah kita agar tidak salah jalan. 

Ketika anda kesulitan anda ingat akan Tuhan. Jika anda dalam kepedihan anda ingat akan Tuhan, jika anda merasakan kesedihan, anda ingat akan Tuhan, jika anda sakit anda ingat akan Tuhan, jika anda kesepian anda ingat akan Tuhan, ketika anda merindukan akan seseorang yang anda cintai anda akan ingat akan Tuhan, dan melalui hal-hal apapun yang ada diingatan kita maka kita akan melalui jalur Ilahiah. Seperti inilah bagaimana para Awliya mampu mencapai tingkatan-tingkatan tinggi dari perkembangan spiritual, karena mereka selalu rindu untuk menggapai hadirat sang penciptaNYA, juga merindukan untuk sampai pada pintu Nabi Muhammad SAW.Mereka ingin mencapai pintu Nabi Muhammad Saw karena sadar itu mengarahkan mereka pada Tuhan mereka. Inilah alasan mengapa mereka mematuhi pembimbing spiritual mereka, karena mereka menyadari apapun yang yang dikatakan pembimbing mereka berasal dari Nabi dan apapun yang berasal dari Nabi suci beraarti berasal dari hadirat Ilahi. Untuk itu mereka tidak peduli bila perintah gurunya berakibat kesulitan untuk dirinya karena mereka yakin apa yang di katakan dan diperintahkan oleh pembimbing mereka tidak ada tujuan lain yaitu menarik jiwa mereka dari kekangan nafsu dan ego mereka untuk menarik dan membawa mereka kehadirat Ilahi. 

Apapun yang mereka derita sebagai hasilnya adalah demi Tuhan mereka. Dan seperti itulah seorang pengikut yang tulus, tanpa interupsi dan dia harus faham betul apaun yang pembimbing mereka katakan itu berasal dari hadirat Nabi suci Saw dan puncaknya adalah dari Allah Swt sendiri. Dia harus mengetahui apapun yang diperintahkan oleh Syaikhnya adalah untuk keuntungan dan kemajuan spiritualnya dan keuntungan bagi dirinya. Dan apapun kesulitan dan penderitaan yang dipikulnya adalah tujuan untuk membawa dirinya untuk lebih dekat kepada Tuhannya, demikianlah tujuan dari segala usaha spiritual untuk membawa kita selalu menuju pada sang Pencipta dan untuk selalu berkekalan dalam mengingatNYA dalam segal suasana.. Allah Swt berfirman dalam Alqur'an yang suci: Sungguh jika mereka menganiaya diri mereka sendiri, datang kepadamu lalu mereka meminta ampunan Tuhan, dan Rasulpun memintakan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Swt Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.. 

Itulah pengalaman para Syaikh dalam thareqat ini dalam khalwat-khalwat mereka, dan itulah kenyataan yang dialami dalam kehidupan mereka yang berasal dari api cinta yang membakar relung qalbu mereka yang suci. Jika air mata mereka diubah menjadi tinta dan rambut mereka menjadi pena-pena, mereka akan hanya menulis segala macam pujian mereka, segala macam keindahan, dan menguak segala macam ilham-ilham yang Tuhan percikan melalui qalbu suci mereka, dan setiap tetes airmata, setiap helai rambut, setiap tetes darah yang mengalir melalui urat nadi dan pembuluh darah mereka akan tertulis Muhammadun habibullah Muhammadun Rasulullah Muhammadun khalilullah Muhammadun najiyullah Muhammadun shafi'ullah hanya untuk hadirat Nabi tercinta dan akhirnya kekal dalam hadirat Ilahi Rabbi.....ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ... 

Sumber : http://naqshbandiyun.blogspot.com/2006/12/kesulitan-kesulitan-sebagai-bahan-bakar.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar