Selasa

IBADAH HAMBA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENGANTARKANMU PADA KEMA’RIFATAN HAQ




Secara lahiriyah Seorang hamba wajib memulai terlebih dahulu untuk wushul kepada tuhannya. Mereka harus mendaki ke atas, dengan ibadah lahir untuk mengembarakan ruhaniyah.
Namun demikian ibadah lahir itu hanya sebagai perwujudan pengabdian yang hakiki kepada-Nya. Dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah.

Mereka mensucikan diri baik lahir maupun batin dari segala kotoran basyariyah (sifat” kemanusiaan) yang menjadikannya terhalang wushul kepada Allah Rabbul Alamiin. Dengan mujahadah tersebut, seperti orang melaksanakan khulwah menyendirikan diri dari khalayak ramai tanpa meninggalkan keramaian itu, mereka berusaha mengembalikan seluruh kehendak perkara yang bersifat hudust (baru) secara manusiawi untuk dipertemukan kepada kehendak Allah yang azaliyah.

Ini adalah kelemahan kita …

Ungkapan ini adalah ungkapan kelalaian yang sangatlah halus dan keluar dari REL dalam wilayah UBUDIYAH dan itu yang di wajibkan oleh allah swt .

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

“(allah menghendaki) bagi siapa di antara kamu, yang mau menempuh jalan yang lurus.”

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”Jika usaha seorang hamba dibiarkan saja tanpa ada fasilitas HAIYUN (hidup) bisa manusia, dan penerimaan diri dari kesadaran diri akan keutamaan dan RahmatNya sebagai karunia Allah semata niscaya itu fana’ muthlaq itu takkan bisa di capainya.
 


نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – (QS.24:35)

Jika ada manusia / mahluk yang bisa Washil kepada allah dengan usahanya sendiri Maka tertolaklah pengakuannya itu dan lalai jika usahanya itu telah menyerupai usahanya allah yang maha berkehendak dan menggerakkan . dan dia itu tidak sadar dengan kesyirikan murni … jika diri ini bisa menyembah atau beribadah kepadaNya apakah kita tidak sadar jika yang kita akui atu menyerupai keADAanNya .

وصولك الى الله وصولك الى العلم به وإلاّ فجلّ ربنا أن يتصل به شيئ أو ان يتصل هو بشئ


“Tersambungnya dirimu kepada Allah, berarti sampainya dirimu kepada kemampuan untuk mengerti Allah secara Hakiki. Jika bukan seperti itu, maka. Maha Agung Allah terhadap sesuatu yang tersambung dengan-Nya dan menyambungkan Dzat-Nya kepada sebuah pekara.”  Dengan itu mereka harus membersihkan segala pengakuan nafsu dan keresahan-keresahan hatinya, maka selamanya mereka tidak akan dapat wushul kepada tuhannya. Apabila di dalam perjalanan itu Allah berkehendak membuka pintu hati hamba-Nya, maka kehendak-Nya yang azali itu akan diturunkan ke bawah sehingga dua kehendak yang berbeda itu bertemu di tengah jalan. Kehendak yang satu mendaki dan yang satunya menurun.

لَوْاَنَّكَ لَاتَصِلُ اِلَيْهِ اِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيْكَ لَمْ تَصِلُ اِلَيْهِ اَبَدًا وَلَكِنْ اِذَا اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَكَ اِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ فَوَصَّلَكَ اِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ اِلَيْكَ لَابِمَا مِنْكَ اِلَيْهِ.


Jika sekiranya engkau tidak dapat wushul kepada Allah kecuali setelah fana’nya diri semua keinginan syahwat dan bersihnya sifat pengakuanmu, maka engkau tidak akan dapat wushul selama-lamanya. Akan tetapi jika Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya, maka Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya.
Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya. Dengan demikian, yang menjadikan sebab wushulnya hamba itu bukan kehendak dan Buah dari amal ibadah seorang hamba / usaha kerasnya seorang hamba, tetapi karena kehendak dan amal ibadah itu sejatinya hanya terbit dari kehendak Allah yang azali. 
سبح يسبح علي نفسه


dan maha suci allah swt yang akan mensucikan pada diriNya sendiri …..

suci dan mensucikan pada diriNya. kesucianNya bukan karena di puja / pun dari ketaatan mahluk. Tanda-tandanya, ketika seorang hamba telah masuk pada ketiadaan dirinya dan alam semesta ini … yang ada hanyalah hanyalah yang maha ADA .

kehendaknya yang yang baru (hudust) kepada kehendak Allah yang qodim dalam kesatuan amal yang dilakukan itu tidak ada mungkin, berarti jelas jika amal yg dilakukan oleh seorang hamba yang akalnya di bumi dengan menggunakan konsep bumi sedangkan hatinya di langit dengan menggunakan konsep langit. Itulah tanda-tanda manusia yang sempurna.

Nasehat Bagi Murid


Sari As-Saqathi
·         Seorang sufi adalah nama untuk tiga makna, ia yang cahaya ma’rifatnya tidak memedamkan cahaya wara’nya, ia tidak berbicara mendalam dalam suatu ilmu yang memberatkannya dan kejelasan Al-Qur’an menentangnya, dan segala karomah tidak mendorongnya untuk mendobrak segala yang diharamkan oleh Allah SWT.
·         Barang siapa ingin selamat agamanya, ingin istirahat badannya, sedikit kekalutan lantaran mendengarkan pembicaraan yang membuatnya kalut, maka beruzlahlah (pergi menghindari) dari manusia. Karena zaman ini adalah zaman uzlah dan menyendiri.
·         Diantara tanda istidrodj (pemberian nikmat Allah yang tidak diridloi-Nya) terhadap seorang hamba adalah buta mata hatinya dari kecacatan sendiri dan jeli memandang aib orang lain.
·         Tiga perkara sebagai tanda kebencian Allah atas seorang hamba, banyak bermain, banyak memperolok-olok, dan banyak ghibah.
·         Kekuatan yang tiada tanding adalah kemampuan menguasai dirimu, dan barang siapa lemah beradab terhadap diri sendiri maka beradab terhadap orang lain pun sangat lemah.
·         Syukur adalah janganlah anda menggunakan nikmat Allah untuk durhaka kepada Allah (Al-junaid)
·         Bukanlah orang yang takut kepada Allah seumpama orang yang hatinya terharu ketika membaca Al-Qur’an. Orang yang takut kepada Allah hanyalah yang meninggalkan makan dan minum, tidak tidur, sehingga ia meyakini entah ke manakah perjalanannya akan berujung.


Dzunnun Al-Misriy

·         Kerusakan yang menimpa manusia hanya disebabkan oleh enam perkara: pertama, lemahnya niat untuk beramal karena akhirat. Kedua, jiwa raga mereka telah ditawan oleh syahwat. Ketiga, hidup mereka telah didominasi oleh angan-angan yang melambung, padahal jatah hidup hanya sebentar. Keempat, pandangan makhluk telah berbekas pada jwa mereka diatas keridloan Sang Pencipta. Kelima, mereka mengikuti ajakan hawa nafsu sedangkan sunnah Nabi SAW ditinggalkan di belakang mereka. Keenam, mereka menjadikan ucapan mereka menggelincir kepada mereka sendiri, padahal berapa banyak generasi mereka terdahulu yang telah terkubur berkalang tanah (Mengapa tidak menjadi peringatan).
·         Aku tidak melihat apapun yang lebih mendorong untuk berikhlas daripada khalwah/menyendiri.
·         Tiada kehidupan kecuali menyertai orang-orang yang hatinya tertambat pada ketakwaan dan merasakan istirahat karena berzikir.
·         Tenang menuju ruh al-yaqin dengan keharumannya, halnya anak  dalam persusuan menjadi tenang menuju buaian.
·         Manusia tetap di atas jalan lurus sepanjang rasa takut berada pada diri mereka , maka jika rasa takut itu hilang, mereka sesat menjauhi jalan kebenaran.
·         Kunci ibadah adalah berpikir, dan tanda ishabat/telah berpijak pada kelurusan adalah berpaling dari jiwa dan keinginan. Sedangkan berpaling dari jiwa dan keinginan adalah meninggalkan syahwat keduanya.
·         Tawakal adalah meninggalkan pengaturan terhadap diri dan terlepasnya daya upaya (dari diri), sebab seseorang hanya mampu bertawakkal  apabila meyakini bahwa ALLAH SWT mengetahui dan melihat keadaan orang itu.
·         Keyakinan menyeru untuk menipiskan angan-angan, tipisnya angan-angan menyerukan zuhud, zuhud mewarisi hikmah, dan hikmah mewariskan pandangan pada segala akibat.
·         Tiga perkara sebagai tanda-tanda ikhlash: tidak terpengaruh oleh pujian dan cercaan manusia, lupa menuntut pahala amal di akhirat.
·         Apabila munajat telah tercapai oleh hati, maka seluruh anggota badan bisa istirahat.
·         Janganlah bersahabat dengan ALLAH, kecuali setuju atas kehendak-Nya, bersahabat dengan makhluk kecuali saling menasehati, bersahabat dengan diri sendiri kecuali tidak memperturutkan keinginannya. Dan jangan pula bersahabat dengan setan kecuali kamu menjadikannya musuh!
·         Yang sebenarnya layak menjadi sahabat yaitu yang menjengukmu di kala kamu sakit dan menerima tobatmu di kala kamu berdosa.
·         Diantara sekian banyak hati, ada hati yang mohon ampunan sebelum berdosa, maka ia diberi pahala sebelum melakukan taat.

Abul Qosim Al-Junaid

·         Qana’ah adalah kehendakmu hendaknya tidak mendahului sesuatu yang ditentukan menjadi milikmu di dalam waktu hidupmu
·         Khusyuk adalah kerendahan hati dihadapan Yang Maha Mengetahui tentang ghaib.
·         Sesungguhnya hal pertama dari tauhid yang dibutuhkan seorang hamba adalah ma’rifat pada ciptaan yang ia ciptakan. (jika Ia) baru, maka bagaimana membarukan-Nya. Maka ia dapat membedakan sifat Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, sifat Yang Maha Qadim dengan sifat makhluk (Muhdats). Ia akan berkorban untuk seruan-Nya, mengakui kewajiban taat kepada-Nya. Sebab orang yang tidak ma’rifat kepada majikannya, niscaya tidak akan mengakui kewajibannya kepada Al-Malik (Tuhan).
·         Tidak akan selamat orang yang selamat kecuali dengan perlindungan yang benar (Al-Junaid),tidak akan selamat orang yang selamat kecuali dengan benar-benar bertakwa (Ruwaim), tidak akan selamat orang yang selamat terkecuali dengan menjaga perjanjian (Al-Jaririy), tidak akan selamat orang yang selamat terkecuali dengan memiliki rasa malu yang sebenarnya (Ibnu Atha’)
·         Orang yang belum hafal Al-Qur’an dan tidak belajar hadits, ia tidak akan beroleh penuntun menuju jalan ini, karena keyakinan kami dalam hal ini (sufisme) diikat oleh Al-Qur’an dan hadits.
Ibrahim bin Adham
v  Apa-apa yang Allah anugerahkan kepada orang-orang miskin, tidaklah di akhirat kelak akan ia tanyakan zakat, haji, jihad, dan silaturrahmi. Sesungguhnya, hanyalah manusia-manusia kaya yang miskin inilah yang kelak akan didakwa dan dihisab.
v  Kesedihan itu ada dua; kesedihan untukmu dan kesedihan atasmu. Adapun kesedihanmu atas akhirat adalah untukmu. Sedangkan kesedihanmu atas dunia dan gemerlapnya adalah atasmu.
v  Wara’ hanya akan sempurna dengan melenyapkan semua makhluk di lubuk hatimu, sibuk mengisaki dosamu hingga lupa aib oranglain. Dan berkatalah sopan yang bersumber dari kerendahan hati dengan ikhlas karena Allah. Renungkanlah dosamu dan bertobatlah kepada Rabbmu, niscaya wara’ tumbuh dari relung jiwamu dan hindarilah penghargaan kecuali kepada Tuhamu.
v  Setiap pemimpin yang tidak adil, maka ia semertabat dengan pembajak laut. Setiap yang berilmu tanpa wara’ maka ia semertabat dengan musang. Dan setiap penghidmat kepada selain Allah, maka ia semertabat dengan anjing.
v  Amal yang berbobot di atas timbangan adalah amal yang dirasakan paling berat oleh badan, barang siapa beramal, pastikan ia beroleh pahala, dan barang siapa tak beramal maka ia telah safari dari dunia ke akhirat tanpa berpahala sedikit ataupun banyak.
v  Janganlah kamu durjana karena kehormatan. Sedangkan kehormatanmu jatuh di amat Tuhan. Bersihkanlah nama baikmu!
v  Barang siapa tidak mematuhi qadha dan qadar, pastilah ia temui kebingungan dan bergilirnya mudarat.
v  Alangkah indahnya takwa dan alangkah jeleknya durjana, dan semuanya bersumber dari apa yang dikerjakan dan hanya disisi Allah-lah balasan.
v  Jika kamu menginginkan bimbingan yang sebenarnya dalam perkara dunia dan akhiratmu, hindarkanlah jiwamu agar tak mengikuti hawa nafsunya karena ia menampung kerusakan.
v  Diantara kesombongan (uluwwun) adalah memperindah alas kakimu, sedangkan alas kaki saudaramu kamu biarkan.
v  Telah sampai kepadaku bahwa seorang hamba akan dihisab di hari kiamat dihadapan orang-orang yang paling dekat dengannya di dunia, agar rasa malu yang ia terima lebih terasa.
v  Allah tidak membenarkan seorang hamba yang mengejar popularitas baik dengan ilmu, karya, ataupun kehormatan.
v  Carilah ilmu karena ingin beramal, sebab kebanyakan manusia telah keliru (dengan ilmunya). Hingga ilmu mereka ada yang menggunung tetapi amalnya laksana sebutir jagung. Aku acap kali kusaksikan seakan orang itu tidak memiliki ruh. Andaikan angin meniuonya, niscaya tumbanglah ia.
v  Amal yang paling berbobot di atas timbangan adalah yang paling berat dirasakan badan, di dalam nilai amal dan di dalam segi pahala, dan barang siapa di dunia tidak beramal maka ia bersafari ke akhirat dengan tangan hampa.
Seseorang tidak menggapai posisi orang-orang soleh, kecuali enam tahapan ditelusurinya; pertama, mengunci pintu nikmat dan membuka pintu melarat. Kedua, mengunci pintu keagungan dan membuka pintu kerendahan. Ketiga, mengunci pintu istirahat dan membuka pintu kesungguhan. Keempat, mengunci pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. Keenam, mengunci pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menuju maut.
v  Kami menginginkan kefakiran, tetapi kekayaan menghadap kami. Sedangkan manusia mendambakan kekayaan, justru kefakiranlah yang menghadap mereka.
v  Janganlah kamu bertanya kepada saudaramu tentang puasanya, sebab jika ia menjawab: Aku berpuasa, maka dirinya akan banggga dengan pertanyaanmu. Dan jika ia menjawab: Aku sedang tidak berpuasa, maka dirinya bersedih. Hal itu semua adalah tanda-tanda riya. Di samping itu, orang yang ditanya dipermalukan dan tampaknya kekurangan pada diri.
v  Hati kalian bisa mati sehingga doa sulit untuk dikabulkan karena sepuluh perkara:
v  Kalian mengenal Allah SWT, tetepi kalian tidak menunaikan hak-Nya.
·         Kalian membaca Al-Qur’an, tetapi tidak kalian amalkan.
·         Kalian mengaku cinta Rasulullah SAW, tetapi kalian tinggalkan sunnah beliau.
·         Kalian mengaku musuh setan, tetapi kalian bersekongkol dengannya.
·         Kalian berkata bahwa kalian menyukai surga, tetapi tidak beramal untuknya.
·         Kalian berkata bahwa kalian takut neraka, tetapi pekerjaan kalian merupakan pekerjaan ahli neraka.
·         Kalian berkata bahwa maut itu pasti terjadi, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya.
·         Kalian sibuk dengan kejelekan orang lain, tetapi kejelekan sendiri dilupakan.
·         Kalian makan anugerah Allah, tetapi tidak mau mensyukurinya.
·         Kalian kubur jenazah kalian, tetapi enggan mengambil pelajaran.

Ja’far As-Shodiq
v  Bertakwalah kepada Allah dan janganlah anda menganalogikan agama dengan akal pikiran anda, karena makhluk pertama yang melakukan hal itu adalah iblis. Ketika Allah menyuruhnya agar sujud kepada Adam, ia beranalog aku lebih baik daripada adam.
v  Apabila kamu berbuat dosa maka mohonlah ampunan, sebab dosa-dosa itu hanya akan digantungkan pada leher manusia sebelum diciptakan dan kebinasaan di atas kebinasaan adalah terus-menerus di atas dosa.
v  Teman yang buruk adalah yang menemanimu di kala kamu kaya, dan berlari darimu di kala kamu miskin.
v  Para fuqaha adalah orang-orang kepercayaan para rasul, sepanjang mereka tidak dating mengetuk pintu istana raja.

Bisyir Al-Hafi
v  Ya Allah, andaikan Engkau jadikan kemasyhuranku di dunia ini untuk Engkau campakkanku di akhirat kelak, maka jadikanlah aku tidak terkenal.
v  Kecelakaan seorang alim di dunia adalah butanya mata hati.
v  Barang siapa mencari dunia maka bersiap-siaplah untuk menyambut kehinaan
v  Apabila pembicaraanmu membuatmu ujub maka berhentilah bicara. Dan jika diammu membuatmu ujub, maka ingatlah maut, karena hal itu akan menghilangkan kebingungan.
v  Tidak akan mendapati manisnya akhirat orang yang ingin dikenal oleh manusia.
v  Akan datang suatu masa yang dilalui manusia, negeri dikuasai oleh orang-orang pandir dan hina, atas orang-orang cerdas dan para pembesar.
v  Wahai yang mencari ilmu, kamu hanya bersenang-senang menikmati dan memetik ilmu, kamu mendengarkan dan menghikayatkan (ilmu) tiada selain itu. Andai kamu beramal dengan ilmumu, baru akan kamu rasakan pahitnya (mengamalkan) ilmu. Hati-hati, sebab ilmu hanya diperuntukkan agar beramal, dengarlah saudara. Belajarlah, kemudian amalkanlah dan bersembunyilah (jangan mempertontonkan). Tidakkah kamu lihat Sufyan ats-Tsauriy, bagaimana (kesungguhan)-nya mencari ilmu, belajar, dan bersembunyi. Dengarlah ucapanku untuk saudara, karena mencari ilmu hanya agar kamu bersembunyi dari dunia, bukan kecintaan atasnya.
v  Bersahabat dengan orang-orang sempalan akan mewarisi buruk sangka terhadap orang-orang pilihan, sedangkan bersahabat dengan orang-orang pilihan akan mewarisi baik sangka terhadap orang-orang sempalan. Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Agung tidak akan bertanya: “Mengapa kamu baik sangka kepada semua hamba-Ku?”

Hatim Al-Asham
v  Ikhlash adalah hendaklah kamu berikan apa yang kamu miliki dan janganlah sesekali kamu pinta apa yang mereka miliki sedikitpun.
v  Empat sandaran beliau yaitu “bahwa aku tidak akan mati sehingga rezekiku tidak akan dimakan orang lain, bahwa aku tidak mengetahui ajalku kapan ia akan datang, bahwa aku tidak merasa lepas dari pantauan Allah sekejap pun”.
v  Empat macam bekal hidup Hatim Al-Asham: memandang dunia seisinya sebagai kerajaan Allah, memandang semua makhluk sebagai hamba Allah dan keluarga-Nya serta segala akibat dan rezeki ada di tangan-Nya, memandang bahwa qadha Allah menembus untuk setiap negeri-Nya.
v  Segala sesuatu itu ada perhiasannya, dan perhiasan ibadah adalah rasa takut kepada Allah, sedangkan tanda takut pada Allah adalah kecilnya angan-angan.
v  Janganlah kamu terjebak oleh tempat betah, sebab tiada tempat yang paling membetahkan selain surga. Tetapi Nabi Adam mendapati peristiwa yang beliau lalui. Janganlah tertipu karena banyak ibadah, karena iblis pun sekian lama dalam peribadatan, tetapi ia mendapati peristiwa yang membuatnya terusir  dan dilaknat yang ia lalui. Janganlah tertipu oleh banyaknya ilmu, karena Bal’am pun pernah memuji nama Allah yang paling agung, tetapi ia kufur kemudian. Dan janganlah tertipu dengan menyaksikan orang-orang saleh, tiada orang yang lebih agung terapannya daripada Rasulullah SAW, tetapi bukanlah kerabat-kerabat dan musuh-musuhnya tidak memperoleh manfaat kendatipun pernah bertemu.
v  Apabila kamu melihat seorang murid sufi menginginkan sesuatu yang bukan tujuannya, maka ketahuilah bahwa ia telah memperlihatkan kehinaannya.
v  Pokok zuhud adalah percaya kepada Allah, tengah-tengah zuhud adalah sabar, sedangkan ujungnya adalah ikhlas.
v  Barang siapa mendakwa telah mencapai tiga perkara tanpa diiringi tiga perkara lainnya maka ia adalah tukang dusta, yaitu Orang yang mendakwa takut kepada Allah tanpa diiringi wara’ dari larangan-larangan-Nya, ia adalah tukang bohong. Orang yang mendakwa cinta surga tetapi tidak berinfak akan hartanya di dalam ketaatan kepada Allah, maka ia adalah pendusta, dan orang yang mendakwa cinta Rasulullah tetapi tidak cinta kepada kefakiran maka ia adalah tukang bohong.
Imam Ahmad bin Hanbal
v  Tawakkal adalah memutuskan diri  dalam mencari kemuliaan dengan putus asa dari manusia.
v  Jika kamu suka agar Allah mengabadikan apa yang kamu cintai untukmu, maka teguhkanlah dirimu berada pada apa yang Allah cintai.
v  Sabar atas kefakiran adalah sebuah martabat yang hanya dicapai oleh orang-orang besar.
v  Kefakiran itu lebih mulia daripada kaya, karena sabar atas kefakiran adalah pahit, dan kecemasannya lebih membuat syarat untuk tidak bersyukur.
v  Amal yang dapat mendekatkan orang-orang mutaqarribin kepada Allah adalah dengan membaca Al- Qur’an baik dengan memahami isi kandungannya atau tidak paham (mimpi Imam Ahmad)

Al-Muhasibi
v  Cahaya dari sebuah pancaran yang bertabur disertai latihan, akan bertambah dan menjadi kuat dengan ilmu dan pemaaf.
v  Kami kehilangan tiga perkara yaitu rupawan disertai perlindungan, fasih bicara disertai kejujuran, melekatnya persaudaraan disertai kesetiaan.
v  Barang siapa batinnya dibersihkan dengan muraqabah (merasa dipantau selalu oleh Allah) dan keikhlasan, maka Allah akan menghias dhohirnya dengan mujahadah (sungguh-sungguh) dan mengikuti jejak Rasulullah SAW.
v  Awal kebinasaan seorang hamba adalah jauhnya hati dari mengingat akhirat. Ketika itulah timbul kelengahan dalam hati.
v  Amal yang paling dirasakan berat ada tiga yaitu dermawan dalam kepapaan, wara’ dikala menyendiri, dan menyampaikan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti dan diharapkan.
v  Cinta adalah kecenderunganmu terhadap sesuatu dengan segenap dirimu, kemudian rasa khawatirmu pada sesuatu itu diatas dirimu, ruhmu, dan semua milikmu. Kemudian keserasianmu untuk-Nya (baik diperintahkan kepadamu atau dilarang atasmu) secara tersembunyi atau terang-terangan. Kemudian keyakinanmu bahwa rasa cintamu kepada-Nya teramat tipis.

Jumat

Kisah Ulama Sufi : Jauhi Sifat Berburuk Sangka dan Bangga diri (Ujub)




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
 

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad  SAW. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah, Sifat buruk sangka, bangga diri, ujub dan sombong adalah sifat-sifat mazmumah yang perlu kita jauhi. Tanpa kita sedari bahawa apabila sifat-sifat ini  telah bertapak dalam hati kita akan menyebabkan hati kita berpenyakit dan akan merosakkan amalan kita kepada Allah SWT.

Terdapat satu kisah seorang ulama sufi bernama Hassan al-Basri dengan seorang pemuda berdua-duaan dengan seorang wanita. Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hassan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang wanita. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Lalu Hassan berbisik "Alangkah jahatnya orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!"

Tiba-tiba Hassan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas. Enam dari tujuh penumpang itu berjaya diselamatkan. 

Kemudian dia berpaling ke arah Hassan al-Basri dan berkata, "Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang."

Bagaimanapun Hassan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu bertanya padanya. "Tuan, sebenarnya wanita yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan arak. Ini hanya untuk menguji tuan."

Hassan al-Basri terpegun lalu berkata, "Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan."

Orang itu menjawab, "Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan."

Semenjak itu, Hassan al-Basri selalu merendahkan diri bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih dari orang lain.

Sahabat yang dimuliakan,
Sebagai pengajaran untuk di ambil sebagai iktibar kisah diatas, terdapat dua cara untuk mengatasinya.


Pertama : Jangan berburuk sangka dengan orang lain serta memandang rendah padanya. Apabila kita melihat orang lain membuat maksiat kepada Allah jangan menghinanya atau reda dengan perbuatannya dan cuba mencari aibnya. Berilah nasihat yang baik penuh hikmah. Anggaplah berkemugkinan orang itu jahil tentang perbuatannya. Sebagai muhasabah diri sendiri pula, kita patut malu pada diri sendiri yang dikurniakan oleh Allah SWT ilmu ini tetapi masih juga melakukan perbuatan yang dilarang oleh-Nya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su' u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. .Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada mempunyai asas dan tiada alasan yang benar. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal su`u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada bukti yang kukuh merupakan perkara yang terlarang. 

 Kedua : Perkara yang patut kita ingat adalah tentang diri kita iaitu perbuatan baik orang pada kita dan perbuatan jahat kita pada orang lain. Perkara yang patut kita lupakan adalah kebaikan kita pada orang dan kejahatan orang pada kita. Barulah hati kita akan menjadi bersih dan terhindar daripada sifat bangga diri dan menghargai kebaikan orang lain.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Sesungguhnya orang-orang yang percaya pada keterangan Kami, ialah orang yang apabila dibaca ayat-ayat itu kepada mereka, mereka sujud, tasbih memuji Tuhan dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka meninggalkan tempat tidurnya menyeru Tuhannya dengan perasaan penuh kecemasan dan pengharapan dan mereka membelanjakan (di jalan kebaikan) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"
(Surah as-Sajadah ayat 15-16)

Para Wali Allah menurut penjelasan Nabi Isa AS



Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para Hawariyyun telah bertanya pada nabi Isa tentang siapa para Wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: ”Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada bathin dunia ini, padahal pada umumnya manusia melihat dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya usia) dunia ini, ketika manusia melihat kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita".

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Qudsi sebagai berikut:

”Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku padamu adalah sebaik-baik pendermaan, anugerah-Ku kepadamu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku padamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilih setiap hati-sanubari. Akulah yang maha mengetahui segala yang ghaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran. Dengan demikian hendaknya kalian menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barangsiapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barangsiapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Aku-lah yang akan membinasakannya. Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang akan memberinya pahala dan barangsiapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya”.

Demikianlah penjelasan Nabi Isa tentang para Wali Allah, diperkuat dengan Hadist Quds.

Kamis

يَا رَبِّ يَا عَالِمَ الْحَالْ



يَا رَبِّ عَالِمَ الْحَـالْ
Wahai Allah yang mengetahui hal hamba
إِلَيْكَ وَجَّهْتُ اْلآمـَالْ
Kepada-Mu aku hadapkan segala cita-cita
فَامْنُنْ عَلَيْناَ بِاْلإقْبـَالْ
Kurniakanlah kami nikmat perkenan dari-Mu
وَكُنْ لَناَ وَاصْلِحِ الْبـَالْ
Serta belas kasihan dan tenteramkan hati kami
يَارَبِّ يَا خَيـْرَ كـَافِي
Wahai Allah yang Maha mencukupi
اُحْلُـلْ عَلَيْنـَا الْعَـوَافِي
Berilah kami sihat afiat
فَلَيْسَ شَيْء ثَمَّ خـَافِي
Kerana tiada yang sulit atas-Mu
عَلَيْكَ تَفْصِيْلُ وَاجْمـَالْ
Segala sesuatu dalam pengetahuan-Mu
وَقَـْد أَتـَاكَ بِعُـذْرِه
Ia telah datang pada-Mu dengan dosa
وَبِانْكِسـَارِهِ وَفَقْـرِه
Dan kesedihan dan kefakirannya
فَاهْزِمْ بِيُسْـرِكَ عُسْـره
Angkatlah dengan kemudahan-Mu segala kesusahannya
بِمَحْضِ جُوْدِكَ وَاْلإِفْضَالْ
Dengan Berkat kemurahan dan kurnia-Mu
وَامْـنُنْ عَلَيـْهِ بِتَوْبـَةْ
Kurniakanlah padanya taubat
تَغْسِلْهُ مِنْ كُلِّ حَوْبـَةْ
Yang dapat menghapus segala dosa
وَاعْصِمْهُ مِنْ شَرِّ أَوْبـَةْ
Jagalah ia dari segala bahaya
لِكُلِّ مَا عَنْهُ قَدْ حـَالْ
Dari segala yang akan menimpa padanya
فَأَنْتَ مَـوْلَى الْمَـوَالِي
Engkau adalah Tuhan seluruh hamba
الْمُنْـفَرِدُ بِـالْكَمـَالِ
Yang Esa dalam kesempurnaanMu
وَبِـالْعُـلَى وَالتَّعـَالِي
Dalam ketinggian dan keagunganMu
عَلَوْتَ عَنْ ضَرْبِ الأَمْثَالْ
Maha suci Allah dari semua keserupaan
جُوْدُكَ وَفَضْلُكَ وَبِـرُّكَ
Kemurahan, kurnia, dan kebaikan-Mu
يُرْجَى وَبَطْشُكَ وَقَهْـرُكَ
Sungguh sangat di harapkan. Murka dan marah-Mu
يُخْشَى وَذِكْرُكَ وَشُكْـرُكَ
Sungguh sangat di takutkan. Berdzikir dan bersyukur pada-Mu
لاَزِمْ وَحَمْدُكَ وَاْلإِجْـلاَلْ
Adalah lazim, demikian pula memuji dan mengagungkan-Mu
وَصَـلِّ فِي كُلِّ حَالَـةْ
Selawat pada setiap masa
عَلَى مُزِيْـلِ الضَّلاَلـَةْ
Di atas nabi penghapus kesesatan
مَـنْ كَلَّمَتْـهُ الْغَزَالـَةْ
Kepadanya rusa bercakap
مُحَمَّدِ الْهـَادِي الـدَّالْ
Iaitu Muhammad penunjuk jalan
وَالْحَمْـدُ لِلّـه شُكْـرًا
Segala puji bagi Allah sebagai tanda syukur
عَلَى نِعَمٍ مِنْـهُ تَتْـرَى
Atas nikmatNya yang tidak putus
نَحْمَـدُهُ سِـرًّا وَجَهْـرًا
Kami memuji padaNya dengan rahsia dan terang
وَبِـالْغَـدَايَـا وَاْلآصـَالْ
Siang malam setiap waktu

يا سيدي يا رسول الله


يا سيدي يا رسول الله

يا سيدي يا رسولَ الله - يا من له الجَاهُ عند الله

إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك - بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله

يا سيّد الرُّسْل هَادِيْنـا - هَيـّا بِغَارة إِلَيْنا الآن

يا هِِمَّة السّادات الأقْطاَب- مَعَادِن الصِّدْقِ والسِّرّ

نَادِ المُهَاجِرصَفِيّ الله -ذاك ابْنُ عيسى أبَا السَّادات

ثُمّ المُقَدّم ولِيّ الله - غَوْث الوَرَى قُدْوَة القَادات

ثمّ الوَجِيْـه لِديْنِ الله - سَقّافَنا خَارِق الْعَادَات

والسّيّد الكامِل الأَوّاب - العَيْدرُوس مَظْهَر القُطْر

قُومُوا بِنا واكْشِفُوا عَنّا - يا سَاداتِي هذِه الأَسْوَ

وَاحْمواُ مَدِيْنَتْكُم الغَنَّا - مِنْ جُمْلةِ الشَّرّ والْبَلْوَى

Qasidah ini menceritakan tentang tawassul kepada Rasulullah SAW dan para salaf, di antara mereka: Ahmad bin Isa Al-Muhajir, Al-Faqih Al-Muqaddam, Abdurrahman Al-Saggaf, Abdullah Al-idrus untuk kita mendapat pengampunan dari Allah SWT dan di jauhkan dari segala kejahatan dan musibah

PENCINTA RASULULLAH SAW.

AsSayyid Ahmad bin Tsabit al-Maghriby adalah salah satu ahli Tharekat dan gemar melakukan suluk yang pada akhirnya beliau memutuskan sebagai pengamal shalawat Nabi setelah merasakan kegembiraan luar biasa dan dan cahaya Rasul yang dilimpahkan Allah kedalam relung hatinya disebabkan cintanya pada Rasulullah saw. Didalam kitab al-Tafakkur wa al-I'tibar fi fadhli al-Shalat ala an-Nabiyy al-Mukhtar (180 halaman) Sayyid Ahmad bin Tsabit menceritakan perjalanan ruhani nya,  pada satu malam aku bermimpi menyaksikan dua orang laki-laki bertengkar hingga saling cekik. Kemudian salah satunya berkata: "ayo kita menghadap Rasulullah untuk mencari keputusan". Mereka pun berjalan dan aku membuntutinya dari belakang. Sampailah kami di sebuah tempat yang agak tinggi, lalu salah satunya berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini menuduhku membakar rumahnya". Maka Rasul saw bersabda: "Apakah kamu ingin melihat dirimu dibakar api neraka?" Lalu aku terbangun tanpa sempat berkata sepatah pun dalam mimpiku itu.
Aku kemudian berdoa pada Allah agar Ia memperlihatkan padaku kelanjutannya. Maka aku tertidur, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah tanah lapang. Sayup-sayup terdengar suara: "Wahai orang-orang yang ingin melihat Rasulullah, ayolah ikut kami". Tiba-tiba ada rombongan orang yang mengikuti kami, mereka berpakaian serba putih, maka aku berkata kepada salah satu dari mereka: "Hai kamu, aku minta padamu dengan nama Allah Yang Maha Agung dan dengan kemuliaan NabiNya yang mulia, agar kamu beritahukan kepadaku dimanakah Rasulullah saw? " Ia menjawab bahwa Rasulullah berada di tempat seseorang. Maka aku berdo'a kepada Allah dengan kemuliaan shalawat kepada NabiNya agar Allah menyampaikan diriku di hadapan Rasulullah sebelum sampainya rombongan itu, agar aku dapat berduaan dengan beliau dan mengutarakan keperluanku. Tiba-tiba aku terangkat oleh sesuatu bagaikan kilat membawaku kehadapan Beliau, kudapati Beliau sedang menghadap kiblat sementara cahayanya memancar dari wajahnya. Aku pun mengucapkan salam.

"Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtra kepadamu wahai Rasulullah)"

Lalu Beliau menjawab : "Selamat datang bagimu". 
Wajahku terlihat bimbang di dalam biliknya itu, lalu aku berkata "Wahai Rasulullah, aku ingin engkau berwasiat padaku dengan satu nasihat yang Allah berikan manfaat bagiku". 
Maka beliau berkata : "Tambahkan shalawatmu padaku". 
Kemudian aku berkata: "Wahai Rasulullah, berilah jaminan padaku agar aku menjadi wali Allah". 
"Sungguh aku menjaminmu mati dlm husnul khatimah". Jawab Nabi saw.

Aku berkata lagi :"Berilah jaminan agar aku menjadi wali Allah wahai Rasulullah". 
Beliau bersabda :"Aku menjamin dirimu pasti mati dalam husnul khatimah". 
Aku berkata lagi :"Wahai Rasulullah berilah garansi padaku agar menjadi salah satu wali Allah". 
Maka Beliau bersabda : "Tidakkah kau tahu bahwa sesungguhnya seluruh wali Allah memohon kepada Allah agar mati husnul khatimah, dan aku benar-benar menjamin dirimu akan mati dalam husnul khatimah".

Kemudian aku berkata :"saya terima wahai Rasulullah dari dirimu". Lalu muncullah dalam benakku agar Allah memperlihatkan padaku Nabi Khidir as, namun Rasulullah berkata sebelum aku meminta. "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku dan berkunjung kesebuah makam, maka apa yang kamu niatkan akan kami tunaikan bagimu". Muncullah di hatiku rasa malu kepada Rasulullah karena aku berjumpa dan melihat pemimpin penduduk langit dan bumi ini sementara aku belum cukup dengan dirinya. Maka aku berkata: "Wahai Raasulullah tidak satupun Nabi dan Rasul ataupun satu dari wali Allah dan juga Nabi Khidir as. Melainkan mereka terlahir dari cahayamu, dan dari samudramu mereka menimba, dan tatkala aku melihatmu maka seolah-olah aku melihat mereka semua. Alhamdulillah segala puji syukur bagi Allah". 
Kemudian datanglah rombongan yang dibelakangku mereka semua mengucapkan serentak dengan meriah : "Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtera bagimu wahai Rasul Allah)". Merekapun masuk ke dalam ruangan, sementara aku tetap duduk disamping Rasul saw. Maka beliau menyambutnya dengan gembira, kecuali terhadap satu orang yang beliau usir dengan sabdanya : "Hai pergi jauhlah dariku, wahai tampang neraka". Aku melihatnya, yang ternyata orang itu posturnya tidak seperti rombongan itu, sepertinya ia syetan. Ketika perbincangan Beliau dengan rombongan tersebut telah selesai, maka beliau berkata: "Silahkan kembali semoga Allah memberkati kalian (barakallahu fikum), tinggalkan aku bersama kekasihku ini". Sambil beliau menunjuk diriku. . Maka aku bersyukur kepada Allah atas hal itu. Kemudian "Berilah kepadaku nasihat yang berguna bagiku di sisi Allah".
 
Beliau menjawab: "Tambahkan shalawatmu kepadaku serta bersikap zuhudlah di dalam dunia dan hindarilah permainan atau senda gurau".

Lalu aku terbangun dari tidur sembari berkata dalam diriku "Aduh permainan apakah gerangan yang harus kutinggalkan?". Kuhabiskan waktuku untuk memikirkan hal itu tapi permainan tersebut tidak tampak bagiku, maka kuserahkan semua pada Allah seraya berkata dalam diriku, "Jika senda gurau ini menimpaku, maka kuucapkan tiada upaya menolak keburukan tiada daya mendatangkan kebaikan melainkan atas izin Allah dan tidak ada yang terpelihara dari urusan Allah melainkan orang yang dikasihi Allah ".
 
Semoga Allah membuka celah bagi kita agar kita istiqamah lahir bathin dalam menyanjung hati Kekasih Allah tersebut, semoga pula Allah memberikan Ridho_Nya kepada segala sholawat kita kepada Nabi Muhammad saw. Aamiin