Kamis

Nabi Khidir AS & Sulthonul Awliya RA



Nabi Khidir a.s. adalah nabi yang amat misterius. Pelajarannya pun sangat misterius. Demikian pula cara berdakwahnya yang berbeda dengan cara berdakwah nabi-nabi yang lain. Hal-hal misterius juga terjadi pada orang-orang yang berupaya bertemu dengannya. Oleh karena itu, tidak aneh bila orang yang menerima pelajarannya pun terkadang menjadi bingung.

Pelajaran Nabi Khidir a.s. berupa ilmu hakikat. Bentuk pelajarannya adalah ijmak dan kias. Makna pelajarannya sangat dalam. Hal yang menjadikan pelajarannya misterius adalah cara penyampaiannya yang terkesan aneh dan seakan-akan tidak pada tempatnya. Oleh sebab itulah, terkadang pelajarannya justru tidak disadari oleh orang yang belajar kepadanya. Memang pelajaran Nabi Khidir a.s. ditujukan bagi khaas dan khawas. Hanya kepada orang-orang yang mampu menerimanya Nabi Khidir a.s. memberikan pelajarannya. Seandainya kita dapat mengikuti pelajarannya, kita hanya dapat mengikuti sebagian kecil saja diantaranya. Itu pun setelah kita mulai mempelajarinya dengan kepasrahan total

Nabi Khidir a.s. menyampaikan pelajarannya melalui perbuatan isyarat dan kias. Dalam mempelajarinya diperlukan pemikiran yang lebih dalam dan penelaahan yang serius melalui pencermatan dan perenungan terhadap pelajaran itu. Orang-orang yang belum mencapai kelas Nabi Khidir a.s. pasti menolak pelajaran yang diberikan olehnya. Dan itulah yang sempat dilakukan oleh Nabi Musa a.s. Beliau menolak pelajaran Nabi Khidir beberapa kali karena bertentangan dengan isi hati nuraninya

Jika dulu Nabi Khidir AS berjumpa dengan Nabi Musa AS, maka kali ini Nabi Khidir tlah mengulang kembali perjumpaan tersebut namun bukan kepada Nabi Musa atau Nabi lain, tepat pada bulan Rabiul Awal Nabi Khidir datang menjumpai Sulthonul Awliya (Abul Qurthuby) . berikut beberapa Tanya jawab antara keduanya :
Nabi Khidir : Assalamu’alaikumu Ya Abul Qurthuby
Sulthon       : Salam ‘Alaika Ya Nabiyyulloh
Nabi Khidir : Bagaimana caramu tuk menghiasi wajahmu dengan keceriaan, dan  kalbumu dengan keikhlasan, serta  jiwamu dengan ketabahan serta kepasrahan.
Sulthon       : dengan prasangka baik lah allah menghiasi wajahku dengan keceriaan,Keikhlasan dan ketabahan.
Nabi Khidir : bagaimana engkau bersikap  arif kepada semua makhluk terutama manusia ?
Sulthon       : karna hanya sifat ‘arif lah kita dapat menghormati citaan-Nya .
Nabi Khidir : Jelaskanlah padaku akan sebuah Noktah ?
Sulthon       : tentunya yang bertanya lebih mengetahui dan mengenal dari yang ditanya.

Setelah jawaban tersebut lalu Nabi Khidir memeluk dan membawa Sultho ke dalam Noktah yang ditanyakan. Sejenak keduanya pun lenyap tak berbentuk. Subhanalloh !

Alhasil, berprasangka baik kepada Allah merupakan suatu yang wajib bagi kita kaum muslimin, bukan hanya menimbulkan ketabahan melainkan akan membuahkan hasil yang semupna dalah keikhlasan kepada Allah

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Minggu

Kiayi Marogan Palembang


Ratusan tahun yang silam , Tersebutlah kisah tentang seorang ulama besar yang cukup ternama. Ki Mgs H A Hamid namanya. Mubalig yang mengajar Agama Islam tidak saja berada dalam kota Palembang, bahkan beliau juga mengajar sampai ke desa –desa yang terpencil.

Banyak sekali kisah gaib dalam kehidupan mubalig ini ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Muara Ogan sampai dengan sekarang. Bahkan makamnya masih hingga kini di kujungi masarakat yang berada di Palembang juga dari luar .
Ki Muara Ogan panggilan akrabnya, kemana-mana pergi untuk mengajar dan menyebarkan Agama Islam selalu menggunakan perahu, bila tempat mengajar yang tetap maka ia akan mendirikan mesjid disana.

Suatu ketika saat menuju ketempat mengajar, Ki Muara Ogan menasehati pada muridnya,”Murid-muridku sekalian ikuti apa yang akan aku ajarkan ini.”
“Baik guru,”jawab muridnya sambil mendayungkan perahu menuju kelokasi di tempat ia mengajar.
Dalam perjalanan itu Ki Muara Ogan menuturkan ,”Baik demikian amalan itu, La illaha illahu malikul hakul mubin Muhammad Rasulullah Shodikul wa adil Amin,” begitu juga murid mengikuti apa yang disampaikan ulama tersebut.
Ki Muara Ogan sepulang dari memberikan petuah-agamanya, ia kembali menuju ketempat tinggalnya, yaitu berada di Kertapati , hingga sekarang mesjid itu masih berdiri kokoh.
Begitu besar keyakinanya pada Allah, ketika itu di tahun 1911, dizaman pemerintahan penjajahan Belanda, seorang dari prajurit Belanda berkata pada Ki Muara Ogan,” tanah untuk kereta api ini harus di perluas.”
Ki Muara Ogan dengan tenang menjawab,”Tanah itu akan menggeser tanah pabrik kayu milik kami.”
“Kami tahu tuan, tapi perluasan tanah ini untuk kepentingan masarakat banyak,” ungkap prajurit utusan Belanda itu kepada Ki Muara Ogan.

Ki Muara Ogan menganggukan kepala , “baik kami iklas ini untuk kepentingan masarakat dan negera, silahkan.”

Setelah itu pabrik kayu milik Ki Muara Ogan ini dipindahkan ke Kampung Karang Anyar, dan pabrik ini diberikan pada Mgs H M Abumansur. Tanah wakap milik Ki Muara Ogan itu, hingga kini jadi milik PT Kereta Api.
Pada saat itu, Ki Muara Ogan tengah mengadakan ceramah, yaitu berada di Mesjid Ki Muara Ogan Kertapati, sehingga terdengar dengan sangat lantangnya,”Bumi berserta isinya adalah milik Allah ,”
Jemaah mendengarkan itu dengan penuh perhatian sekali, sehingga terasa sejuk dan nyaman bagi siapa yang mendengarkan pada waktu itu.
Disaat itu tak lupa beberapa orang Belanda mendengarkan dan menyaksikan ceramah yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan tersebut, tentu tugas mereka hanya untuk mengawasi kegiatan yang dilakukan Ki Muara Ogan.
Kembali terdengar dengan lantang apa yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan, yang menyampaikan petuahnya pada jamaah,”Kekuasaan Allah itu adalah maha besar, jika ia berkata jadi maka jadilah ia.”
Penuh perhatian sekali jamaah menyimaknya, sehingga kembali terdengar seruannya,”Allah mengetahui apa-apa yang tidak di ketahui oleh manusia.”
Seorang hadirin bertanya,”Guru apa misalnya kekuasaan Allah yang tidak mungkin di ketahui oleh manusia itu ?
“Begini ,”kata Ki Muara Ogan sambil ia berdiri dihadapan para jamaahnya.”Misalnya tiap-tiap ada air didalamnya selalu akan ada ikannya?”
Mendengar itu spontan seorang prajurit Belanda yang tengah mengawasi Ki Muara Ogan dari sejak tadi, tiba-tiba berkata,”Bagaimana dengan air kelapa, apakah ada juga ikannya?”
“Insya Allah jika Allah menghendaki maka ikan itu akan ada,” tegas Ki Muara Ogan sembari mulut tetap berkomat- kamit menyebut nama Allah.

Serta merta prajurit itu pandangannya mengarah keluar mesjid,”Ki apakah kelapa itu juga ada ikanya?” kembali prajutit itu menunjukan pada sebuah pohon kelapa yang ada di luar.
Serentak Ki Muara Ogan berserta dengan para jamaahnya menuju keluar, untuk membuktikan kekuasaan Allah tersebut, maka di perintahkanlah seorang murid Ki Muara Ogan memanjat sebuah pohon kelapa, sejenak saja sebuah pohon kelapa di letakan di hadapan Ki Muara Ogan juga disaksikan oleh para jamaah lainya yang hadir pada saat itu.
Sehingga pada waktu itu juga, di persilahkan oleh Ki Muara Ogan pada prajurit Belanda itu sendiri untuk membuktikan kebesaran Allah pada penciptanya.

Pada saat itu juga dengan tiba-tiba sekali, prajurit Belanda itu segera memotong kelapa yang ada di hadapannya waktu itu, sungguh hal yang sangat tidak dapat di kira dari dalam kelapa yang di potong itu muncullah seekor ikan seluang, sejak saat itu sekitar masjid Ki Muara Ogan terdapat ikan Seluang dan di sekitar mesjid tetap berdiri pohon kelapa.

Pernah juga Kisah aneh terjadi, ketika Ki Muara Ogan bersama dengan ketujuh muridnya pulang dari menyebarkan agama Islam, pada waktu itu mereka terhambat karena tidak ada perahu yang akan menyeberangkan di sungai Ogan .
Namun dengan keyakinan yang ada dalam jiwa Ki Muara Ogan , serta merta ia membentangkan salnya, yang selalu berada di pundaknya itu, ia letakan di atas air.”Silahkan kalian duduk di sal itu.” Perintah Ki Muara Ogan pada muridnya yang sedang ikut serta itu.
Karena itu adalah perintah seorang guru, muridnya yang yakin tanpa banyak komentar segera saja ia duduk di atas sal itu, tetapi bagi muridnya yang merasa ragu ia akan diam, atau ia akan bimbang.
“Naiklah wahai muridku, maka kau tidak akan tenggelam,” kata Ki Muara Ogan, namun ada seorang murid yang tidak mau ikut, tetapi yang sudah ikut serta segera saja mereka berjalan seperti layaknya mereka naik sebuah perahu saja.

Setelah itu kembali ia menjemput muridnya yang tadi tinggal tersbut, barulah muridnya itu merasa yakin, karena ia sudah melihat kenyataan itu. Muridnya yang tinggal itu ikut kembali menyeberang .Ketika hampir saja tiba diseberang muridnya itu masih saja merasa ragu, sehingga ia terjatuh, dan segera ia berenang ketepi sungai itu.
Disaat itu Ki Muara Ogan berkata pada muridnya, “Itulah akibat jika seorang hamba belum yakin pada kebesaran Allah, sehingga masih adanya suatu keraguan yang tersimpan dalam pikiran dan hatinya. Untuk itu kamu harus kembali memperkuat iman kepada Allah yang telah menciptakan mahluknya .”

Kisah ini menjadi kisah yang di sampaikan dari mulut kemulut oleh warga kota Palembang, sehingga menjadi warisan kisah turun temurun yang ada di wilayah Sumatera Selatan pada umumnya.

Martabat Wali


Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam
Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat. Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

Menurut sebuah Hadits yang telah dikeluarkan oleh Hadhrat Abu Na’im dan Hadhrat Ibnu ‘Asakir yang meriwayatkan daripada Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ada 300 orang dari kalangan manusia ini yang hati mereka itu seperti hati Nabi Adam ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 7 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 40 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 5 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Jibril ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 3 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Mikail ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada seorang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Israfil ‘Alaihissalam. Apabila wafat yang seorang ini, maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 3 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 3 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 5 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 5 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 7 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 7 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 40 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 40 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari golongan yang 300 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 300 orang itu, maka Allah menggantikannya dengan melantik salah seorang dari kalangan orang ramai. Maka dengan Para Wali yang tersebut itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan, diturunkan hujan, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan dihalang bala dari menimpa ummat manusia ini.” Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud telah ditanya, “Bagaimana dikatakan bahawa dengan Para Wali itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan?” Beliau menjawab, “Kerana Para Wali itu memohon kepada Allah supaya Allah meramaikan bilangan manusia, maka manusia pun menjadi bertambah ramai. Mereka itu berdoa kepada Allah agar orang-orang yang zalim dan tidak berbelas kasihan dibinasakan, maka mereka itupun dihancurkan. Mereka memohon supaya diturunkan hujan, maka diturunkanlah hujan. Mereka memohon agar disuburkan bumi, maka suburlah bumi. Mereka itu berdoa, maka dengan doa mereka itu dijauhkan berbagai rupa bala.”

Bilangan Para Wali tidak dapat ditentukan jumlahnya yang sebenar karana mereka adalah Ahli-Ahli Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya Dialah yang tahu berapakah jumlah bilangan yang sebenar Para AuliyaNya. Namun bilangan mereka yang khusus dari kalangan Para Wali itu adalah tetap sepertimana yang ada dinyatakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Na’im Rahmatullah ‘alaih bermafhum,
“Orang-orang yang terbaik dari kalangan Ummatku pada setiap kurun itu
ialah seramai lima ratus orang.”


Mereka adalah orang-orang yang ‘Arif tentang Allah serta tekun membuat kebaikan dan menjauhkan maksiat dan nafsu syahwat. Ingatan mereka hanya tetap kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Muslim dan At-Tirmizi Rahmatullah ‘alaihima bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang mafhumnya,

“Telah memperoleh kemenangan golongan Al-Mufarridun.” Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah orang- orang yang sangat suka menghabiskan masa untuk berzikir mengingati Allah. Zikir itu tidak memberatkan mereka, maka mereka itu akan datang di Hari Qiyamat dalam keadaan ringan.”

Sebuah Hadits ada menyatakan yang mafhumnya,

“Satu golongan dari Ummat Islam ini sentiasa dapat menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka itu sehinggalah datang ketentuan urusan Allah Ta’ala.”

Dalam sebuah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Hadhrat An-Nasa’I dan Hadhrat Ibnu Hibban Rahmatullah ‘alaihima, bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

Sesungguhnya ada hamba-hamba dari kalangan Hamba Allah yang dipandang tinggi dan sangat mulia oleh Para Nabi dan Syuhada.” Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Mudah- mudahan kami juga kasihkan mereka. Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah kaum yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain dengan Nur Allah tanpa memandang kepada harta kekayaan dan keturunan. Wajah-wajah mereka adalah bercahaya dan mereka itu adalah berada di atas limpahan Cahaya Allah. Mereka tidak akan berasa takut walaupun manusia lainnya berasa takut dan mereka tidak akan berasa dukacita bila manusia lain berdukacita.”

Hadhrat Mujaddidul Millat Maulana Ashraf ‘Ali Thanwi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa, istilah-istilah Tasawwuf terbahagi kepada dua jenis
Yang pertama ialah apa yang bertakluk dengan maksud, iaitu apa yang terkandung di dalam Syari’at, yang mana hakikat segala istilah yang digunakan dalam Tasawwuf adalah untuk merujuk kepada Syari’at.
Yang kedua ialah, istilah-istilah yangdigunakan untuk perkara-perkara tambahan. Ianya digunakan untuk menyatakan perkara-perkara yang di luar Syari’at, sebagai contohnya Tajdid Imtsal, Tauhid Wujudi, Shughal, Rabitah dan sebagainya.

Perkara ini merupakan sesuatu yang halus di kalangan Para Sufi yang mulia, yang mana bagi menyembunyikan rahsia mereka dari pengetahuan umum, maka mereka pun menggunakan berbagai istilah. Jikalau tidak, tentulah ianya akan bercanggah dengan Al-Quran dan Hadits, maka wujudlah perkataan-perkataan yang baharu. Sebahagian ‘Ulama yang tidak mengerti dengan penggunaan istilah mereka telah membantah ke atas mereka, yang mana pada hakikatnya memang perkara itu tidak berlaku secara Waqi’, bahkan ianya hanya berlaku pada sudut kefahaman seseorang.

Hadhrat Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Kashful Mahjub bahawa, menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abdullah Muhammad Bin ‘Ali Al-Hakim Al-Tirmizi Rahmatullah ‘alaih, ada terdapat sebanyak empat ribu Wali yang sentiasa hidup di dunia ini dan tidak dapat diketahui oleh orang ramai kerana mereka dilindungi dan disembunyikan oleh Allah Ta’ala, dan mereka tidak mengenal antara satu dengan yang lain.

Beliau menyatakan lagi bahwa terdapat tiga ratus orang yang bergelar Akhyar, empat puluh orang yang bergelar Abdal, tujuh orang yang bergelar Abrar, empat orang yang bergelar Awtad, tiga orang yang bergelar Nuqaba dan seorang yang bergelar Qutub dan Ghauts. Mereka yang termasuk dalam golongan tersebut itu adalah mengenali diri mereka antara satu sama lain.

Adapun pembahagian jenis-jenis Wali dinyatakan seperti berikut seperti yang
telah dinyatakan di dalam kitab-kitab.

1. Wali Abdal
2. Wali Abrar
3. Wali Akhyar
4. Wali Aqtab
5. Wali Autad
6. Wali ‘Imad
7. Wali Ghauts
8. Wali Mufradan
9. Wali Maktuman
10. Wali Nujaba
11. Wali Nuqaba
12. Wali Qutub

1. ABDAL

Terdapat empat puluh orang Wali Abdal kesemuanya. Dua puluh dua orang dari mereka berada di Negara Syam yakni Damsyik, Syria dan lapan belas dari mereka berada di Negara Iraq. Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih bahawa sekali Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah ditanyakan orang tentang Ahli Syam yakni Para Abdal. Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah berkata bahawa dia telah mendengar Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahawa,

Wali Abdal berada di Negeri Syam dan mereka berjumlah empat puluh orang kesemuanya. Apabila seorang daripada mereka mati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikan tempatnya dengan seorang yang lain. Dengan menerusi keberkatan mereka maka diturunkan hujan dan membantu mereka menghadapi musuh-musuh dan menjauhkan azab bagi para penduduk Syam.”
2. ABRAR
Kebanyakan Ulama mengatakan bahawa Wali Abdal adalah Wali Abrar.

3. AKHYAR
Terdapat lima ratus orang Wali Akhyar kesemuanya dan adakalanya meningkat sehingga tujuh ratus orang. Kedudukan mereka ada di merata tempat di atas muka bumi ini. Terdapat Hussain pada nama mereka.

4. AQTAB
Terdapat 2 jenis Wali Aqtab:
1.AQTAB MU‘AIYINAH
-Terdapat satu Qutub Al-‘Alam yang dikenali juga sebagai Qutub Akbar atau Qutub Al-Irshad atau Qutub Al- Aqtab atau sebagai Qutub Al-Madar. Namanya di Alam Ghaib ialah ‘Abdullah dan memiliki dua orang pembantu. Di bawahnya terdapat dua belas orang Wali Qutub. Tujuh orang dari Wali Qutub tersebut menduduki tujuh benua dan dinamakan mereka sebagai Qutub Aqlim dan lima orang dari Wali Qutub tersebut tinggal di Negara Yaman. Mereka dinamakan sebagai Qutub Wilayat.

2.AQTAB GHAIR MU‘AIYINAH - Terdapat di setiap bandar atau kariah, seorang Qutub yang akan mendoakan kesejahteraan dan memohon dijauhkan dari segala bala dan musibah.

5. AUTAD
Tedapat 4 orang kesemuanya dan mereka menduduki empat penjuru alam.

6. ‘IMAD
Terdapat 4 orang kesemuanya dan mereka juga menduduki empat penjuru alam dan
bernama Muhammad.

7. GHAUTS

Hanya seorang sahaja Ghauts pada setiap zaman dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia juga adalah Qutub Al-Aqtab dan sebahagian Ulama mengatakan tidak. Beliau tinggal di Mekah dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia tidak tinggal di Mekah.

8. MUFRADAN
Seseorang Wali Ghauts yang menuju kepada maqam Qutub Al-Aqtab akan terlebih dahulu melalui kedudukan Wali Fard atau dikenali sebagai Mufradan atau Mufarridan.

9. MAKTUMAN
Mereka adalah Auliya yang tersembunyi dan tidak diketahui keadaan mereka.

10. NUJABA
Mereka berjumlah 70 orang kesemuanya dan tinggal di Negara Mesir serta terdapat
Hassan pada nama mereka.

11. NUQABA
Mereka berjumlah tiga ratus orang kesemuanya dan mereka tinggal di Negara
Maghribi (Maroko) dan mereka bernama ‘Ali.

12. QUTUB
Terdapat 2 jenis Wali Qutub
1. QUTUB AL-IRSHAD -Yang pertama adalah mereka yang memberi khidmat petunjuk, memperbaiki hati, mentarbiyah nafsu, membimbing kepada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan makbul di sisiNya. Mereka dikenali sebagai Ahli Irshad. Dari kalangan mereka ini yang paling sempurna dan terbaik di zaman masing-masing dan memiliki limpahan Faidhz yang sempurna, maka mereka digelar sebagai Qutub Al-Irshad. Mereka adalah Naib Para Anbiya yang hakiki. Hati-hati manusia bercahaya dan diberkati kerana mereka dan syarat bagi memperolehi keberkatan tersebut dari mereka adalah dengan meletakkan I’tiqad serta kepercayaan yang penuh terhadap mereka. Keupayaan mereka seumpama Nubuwwat.

2.QUTUB AT-TAKWIN - Kemudian ada golongan yang kedua iaitu mereka yang berkhidmat mengislahkan manusia dan mentadbir urusan keagamaan dan sebagai penghindar bala dan musibah yang mana dengan kehendak Batin mereka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperbetulkan urusan-urusan tersebut. Mereka digelar sebagai Ahli Takwin. Dari kalangan mereka itu yang paling tinggi dan kuat kedudukannya dan menjadi penghukum atau penyembuh bagi mereka yang lain, maka mereka itu digelar sebagai Qutub At-Takwin. Hal kehidupan mereka sepertimana kehidupan Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjalankan urusan pentadbiran. Hadhrat Khidhr ‘Alaihissalam menduduki maqam seperti ini. Dengan kedudukan mereka yang tinggi maka terzahirlah perkara-perkara yang ajaib dan perkara ini adalah lazim. Keadaan mereka tidak seperti Ahli Irshad kerana pada Ahli Irshad tidaklah semestinya berlaku perkara-perkara yang menyalahi adat. Ahli Irshad memiliki Karamat dalam bentuk yang berbeza di mana orang- orang awam tidak dapat memahaminya, bahkan ianya adalah urusan yang berupa Zauq dan perasaan Syauq. Seseorang yang berhajat dan berkhidmat dengan mereka ini dalam suatu jangkamasa yang panjang akan beroleh faedah yang besar dan adalah mereka ini mengetahui keadaan tersebut.

Perkataan Qutub pada pengertian bahasa ‘Arab bererti penghulu kaum manakala menurut istilah Ahli Tasawwuf dan Tariqat, Qutub bererti Penghulu bagi Para Auliya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berada pada tingkatan yang teratas dari kebanyakan Para Wali serta terhimpun padanya kesempurnaan Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan Haqiqat. Para Qutub menjadi tempat rujukan dan petunjuk bagi Para Wali yang lain.

Mereka membantu menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri Para Wali dan orang-orang yang menuju kepada Kewalian. Kedudukan mereka sangat tinggi dan tidak mudah dicapai melainkan dengan Rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka ada di tiap pelosok muka bumi dan tidak seorang pun yang mengenali mereka kecuali bagi orang-orang yang benar-benar ikhlas ingin mengenali mereka dan mengambil istifadah ruhaniah yakni faedah keruhanian dari mereka

Di dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya dinyatakan bahawa Wali Qutub diberi gelaran ‘Abdullah dan tingkatan Wali sesudahnya adalah Wali Aimmah yang berjumlah dua orang saja. Seorang diberikan nama ‘Abdur Rabb dan seorang lagi bernama ‘Abdul Malik. Dua orang Wali inilah yang nantinya akan menggantikan Wali Qutub ketika dia wafat meninggalkan Dunia. Di bawah keduanya terdapat Wali Autad yang berjumlah empat orang dan mempunyai tugas yang berlainan pada kawasan yang berlainan. Seorang di Timur, seorang di Barat, seorang di Utara dan seorang di Selatan. Wali Autad adakalanya terdiri dari kalangan kaum perempuan.

Tingkatan selanjutnya di bawah mereka adalah Wali Abdal dan mereka berjumlah tujuh orang dan ditugaskan menjaga tujuh iklim benua di Dunia. Kemudian ada tingkatan Wali Nuqaba iaitu Wali Pengganti sebanyak dua belas orang di setiap peredaran masa dan jumlah mereka tidak akan pernah bertambah mahupun berkurang sesuai dengan jumlah Buruj Falak yang berjumlah dua belas. Kemudian terdapat juga di bawah mereka tingkatan Wali Nujaba yang berjumlah lapan orang dan tingkatan yang terakhir sekali adalah tingkatan Hawariyun. Wallahu A’lam.
Menurut Hadhrat Syeikh Muhammad Hisham Kabbani Quddisallahu Sirruhu
terdapat lima tingkatan Qutub yang tertinggi yaitu:

1. Qutub
2. Qutub Al-Bilad
3. Qutub Al-Mutasarrif
4. Qutub Al-Irshad
5. Qutub Al-Aqtab

Menurut beliau,Qutu b adalah seseorang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan keupayaan menerusi Hakikat Muhammadiyah untuk menghuraikan ilmu pengetahuan tentang hakikat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum kewujudannya sehinggalah diutuskan ke Dunia. Qutub juga menghuraikan cabang- cabang ilmu pengetahuan yang baru menerusi hati Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Bilad adalah bertanggungjawab untuk mentadbir urusan di Dunia dan memastikannya berjalan lancar.

Dia mengetahui tentang keperluan jasmani setiap bangsa manusia dan bukan manusia. Qutub Al-Mutasarrif diberikan kemuliaan untuk mengarahkan Malaikat kepada manusia atau makhluk yang berlainan dan dia bertanggungjawab untuk berkhidmat kepada makhluk sehinggakan kepada ulat di dalam batu. Segala kemuliaan ini diperolehinya menerusi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Irshad pula bertanggungjawab untuk memberikan nasihat dan petunjuk kepada seratus dua puluh empat ribu Para Wali manakala Qutub Al-Aqtab pula bertanggungjawab mengawasi kesemua Wali Aqtab

Di atas sekelian Wali Qutub dan Aqtab adalahGhaut s dan Rohaniahnya adalah yang paling dekat dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada zamannya. Ghauts ada pada setiap zaman dan dia diibaratkan seperti suatu terusan yang akan membawa sesiapa sahaja yang dikehendakinya kepada Hakikat Muhammadiyah dan Hakikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadhrat Khwajah Khwajagan Ghautsul Tsaqilain Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari mereka sepertimana Hadhrat Qutubul Aqtab Ghautsul A’zam Syeikh ‘Abdul Qadir Al- Jailani Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Ghautsul Aqtab Khwajah ‘Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan begitu juga Hadhrat Imam Rabbani Ghauts As- Samdani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih. Mereka datang silih berganti pada setiap zaman sama ada mereka diketahui ataupun tidak diketahui. Para Wali Qutub, Aqtab dan Ghauts menghasilkan limpahan ilmu kerohanian terus dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menerusi hati ke hati. Mereka diberikan pengetahuan tentang segala perkara dan kejadian yang berlaku di atas muka bumi yang berkaitan dengan angin ribut, gempa bumi dan hujan yang lebat.

Mereka selalunya dari keturunan yang mulia Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu menerusi Hassani dan Hussaini. Meskipun jika seseorang yang dikurniakan Qutub atau Aqtab atau Ghauts tidak mempunyai pertalian keturunan Hassani mahupun Hussaini, mereka adalah orang-orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala hendak meninggikannya sepertimana Hadhrat Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang mendapat pengiktirafan sebagai Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meskipun beliau adalah seorang A’jam yang datang berhijrah dari Parsi dan memeluk Islam setelah bertemu dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun kerana ketinggian Iman dan amalannya yang Ikhlas, beliau telah diisytiharkan sebagai Ahlul Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Adapun kedudukan yang lebih tinggi dari yang tersebut di atas, adalah Sultanul Auliya dan ia merupakan kedudukan yang tertinggi bagi seseorang

Wali Allah. Mereka diberikan kewajipan untuk memenuhi keperluan hati dan ruhani manusia. Mereka membawa raja-raja di Dunia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sultanul Auliya merupakan Khalifah Allah yang sebenar di atas muka bumi pada zamannya dan dia merupakan wakil Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara seratus dua puluh empat ribu Para Wali yang lain adalah sebagai mewakili kesemua seratus dua puluh empat ribu Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Wallahu A’lam.

Walaubagaimanapun, satu perkara yang perlu sentiasa dipegang oleh sekelian Ahli Tariqat bahawasanya Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Khatamun Nabiyyin yang bererti Penutup Sekelian Nabi. Ini bermaksud, sesudah Hadhrat Baginda Nabi MuhammadRasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak akan ada lagi sebarang Nabi atau Rasul yang baru akan muncul dengan membawa sebarang Syari’at yang baru sehinggalah ke Hari Qiyamat yang mana inilah merupakan ‘Aqidah sekelian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah disepakati.

Jika ada yang mendakwa dirinya sebagai Nabi atau Rasul atau mendakwa membawa suatu Syari’at yang baru untuk ummat manusia dan ianya bercanggah dengan Syari’at yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka adalah diyakini bahawa ianya tertolak, manakala orang yang mengeluarkan dakwaan tersebut adalah sesat dan jika dia mengajak manusia lain maka adalah dia itu sesat lagi menyesatkan, dan adalah mereka itu Dajjal-Dajjal kecil yang sememangnya ditakdirkan wujud sesudah kewafatan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di kalangan Ummat sepertimana Musailamah Al-Kazzab dan ini merupakan suatui ujian atas keimanan dan I’tiqad di kalangan Ummat Islam.

Adapun Hadhrat Baginda Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang akan muncul menjelangnya Hari Qiyamat bukanlah Nabi yang baru kerana Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam telah pun dihantar 600 tahun sebelum kelahiran Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pada usia 33 tahun telah diangkat ke langit. Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam tidak akan membawa sebarang Syari’at yang baharu, sebaliknya beliau akan turun sebagai seorang Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaksanakan Syari’at Islam dengan Haq.
Wallahu A'lam Wa 'Ilmuhu Akmal Wa Atam
---------------------------------------------------------------------------------
Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

Peringatan Allah

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ 
صحيح البخاري

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata'ala berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.

RATIB AL-AYDRUS


AL IMAM HABIB ABDULLAH ALAYDRUS BIN ABUBAKAR ASSAKRAN BIN ABD RAHMAN ASSAGGAF( SHOHIBUL RAATIB ALAYDRUS)

Beliau adalah penyusun raatib alaydrus yang sering dibaca dibeberapa majlis ta’lim, marga beliau bergelar Alaydrus yang artinya ketua orang-orang tasauf, lahir di tarim pada tanggal 10 zulhijah tahun 811H ayah beliau bernama habib Abu bakar asyakran ibunya bernama Mariam dari seorang Zuhud bernama Syekh ahmad bin Muhamad Barusyaid.

Imam Habib Abdulloh alaydrus akbar seorang wali qutub( imamnya para wali) dan seorang ahli sufi .Sejak kecil beliau gemar sekali membaca karya-karya ulama termasyhur seperti kitab Ihya ulumudin karangan Imam Gozhali hingga beliu hampir hafal karena seringnya membacanya. Namun beliau selalu tawadhu’ beliau selalu duduk diatas tanah dan senantiasa sujud ditanah sebagai rasa bahwa diri nya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWt, kerap kali beliau mengangkat sendiri barang-barang keperluannya dan tidak memperkenankan orang lain untuk membantu membawanya. Beliau selalu berjalan ketempat-tempat yang jauh untuk ta’lim kepada seorang ulama jika merasa haus beliu meminum air hujan .Menurut cerita Imam Habib Abdullah Alaydrus AlAkbar selalu menjalankan puasa-puasa sunah selama dua tahun dan berbuka hanya dengan 2 butir kurma. Kecuali pada malam-malam tertentu diamana ibunya datang membawakan makanan kepada beliau. Lantas beliau memakannya sebagai penghormatan kepada ibunya. Beliu melakukan puasa tersebut untuk mengekang Hawa nafsunya, karena dari sumber makanan , perut terlalu kenyang bisa menyebabkan orang malas untuk beribadah dan selalu menuruti hawa nafsunya.







37 pangkat/ Maqom Awlia


Berikut di bawah ini Pangkat/ Maqom nya para Aulia Alloh yang diambil dari kitab Jami'u Karomatil Aulia:

1.Qutub Atau Ghauts ( 1 abad 1 Orang )
2. Aimmah ( 1 Abad 2 orang )
3. Autad ( 1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin )
4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )
5. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap2 Bulan)
6. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang )

7. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang ) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.

8. Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.

9. Khotam ( penutup Wali )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam ( Penutup ).

10. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )
11. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )
12. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 7 Orang )
13. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )

14. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat )

15.Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )
16. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )

17. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

18. Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang )
19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )
20. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang )
21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )
22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa'ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )

23. Rizalul Ma'arijil 'Ula ( 1 Abad 7 Orang )
24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )
26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut " Rozulun Barzakh " Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA 'ALA KULLI SAY IN QODIRUN " Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )
30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil 'Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang ) sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina " Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma'rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).

31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

33. Budala' ( 1 Abad 12 orang ) Budala' Jama' nya ( Jama' Sigoh Muntahal Jumu') dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang ) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-'Alim Al-'Allamah Ahmad As-Sibty

36. Rizalul Ma' ( 1 Abad 124 Orang ) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su'ud Ibni Syabil " Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku "Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan" Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata "akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air", Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.

37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab " Berada di Dalam Hizabnya Alloh ", Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya

Kitab Sairul Salikin


Data ringkas kitab

Judul: Sair al-Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin

Kategori: Tasawuf

Pengarang: Syaikh ‘Abdusshomad al-Falimbani رحمه الله تعالى

Sair al-Salikin adalah merupakan sebuah karya agung tasawwuf didalam bahasa Melayu. Sebuah karya yang sangat terkenal di Nusantara. Kitab ini terdiri daripada 4 juz yaitu sebagai berikut :

- Juz pertama membahas tentang ilmu ushuluddin dan segala perkara yangberkaitan dengan ibadat yang zahir – ditulis pada 1193H/1779M dan selesai pada awal tahun 1194H/1780M di Mekah
-Juz kedua membahas tentang adat yakni mengenai hukum dan adab yang berlaku pada adat seperti makan-minum dan sebagainya - mulai ditulis pada 1194H/1780M dan selesai pada hari Sabtu, 19 Ramadan 1195H/1781di Thaif.
-Juz ketiga membahas tentang muhlikat yaitu perkara-perkara yang membinasakan sekelian amal - mulai ditulis pada tahun 1195H/1781M dan diselesaikan pada 19 Safar 1197 H/1783 M di Makkah.
-Juz keempat membahas tentang munjiyat yaitu perkara-perkara yang menghilangkan amal - Syaikh Abdusshamad tidak menyebut tahun ia mulai menulisnya, tetapi beliau selesai menulisnya pada 20 Ramadan 1203H/1788 di Thaif
Manuskrip Kitab Sairus Salikin

Sebahagian besar isi kitab ini adalah merupakan terjemahan dari Lubabul Ihya yaitu mukhtasar (ringkasan) kitab Ihya Ulumiddin. Namun Syaikh Abdusshomad juga menaqalkan dari kitab-kitab lain. Antaranya yaitu :
- Kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali seperti Ihya Ulumiddin, Bidayah al-Hidayah, Madhmun, Jawahirul Qur’an, Minhajul ‘Abidin, Arbai’in fi Ushuliddin dan sebagainya; -- Kitab al-Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, Al-Fushulul al-Ilmiyyah wa al-Ushuulul Hukmiyyah
Kitab Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal: Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyah fi
Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah oleh Ibn ‘Abbad;
Al-Fusul al-Miftahiyyah wa al-Nafahat al-Ruhaniyyah oleh ; Sairus Suluk oleh Syaikh Qasim al-Halabi; Al-Durruts Tsamin fi Bayani al-Muhim min ‘Ilmiddin oleh al-Habib ‘Abdul Qadir al-‘Aidarus;
Iqna oleh Syaikh Khatib al-Syarbini; Minhajul Qawim oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Al-Ghunyah oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani; Syarh al-Raudhu al-Thalib oleh Syaikh Zakaria al-Anshari;
Tuhfatul Muhtaj oleh Syaikh Ibn Hajar al-Haithami; Hikam oleh Ibn ‘Athoillah; Raudhah al-Thalibin oleh Imam Nawawi;
Nashoih al-Diniyyah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad;
Futuhatul Makkiyah oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi;
Uhud al-Muhammadiah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Hikam Ibn Ruslan; ad-Da'wah at-Tammah wa Tazkiratul 'Aammah oleh Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad; Hikam Abi Madyan;
Risalah al-Makkiyah oleh Syaikh Tajuddin al-Naqsyabandi; Al-Nafahat al-Ilahiyyah fi Suluk al-Thariqah al-Muhamadiyah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman;
Hidayatul Ahbab Fima Lil Khalwati Minas Syuruthi wal Adab – Syaikh Musthafa al-Bakri; Adabul Murid oleh Abu al-Najib Abdul Qahhar bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Sahruwardi;
Al-Fushul al-Fathiyyah oleh al-‘Arifbillah asy-Syaikh Hussin bin ‘Abdullah BaFadhal; Al-Minahus Saniyyah ‘ala al-Wasiyyah al-Matbuliyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Risalah Asrarul ‘Ibadah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim al-Samman;
Risalah Anwarul Qudsiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Madarij al-Salikin oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Fath al-Rahman Syarah Hikam Ibn Ruslan oleh Syaikh Zakaria al-Anshari;
Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayani ‘Aqaid al-Akhbar- Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani; Masyariqul Anwar al-Qudsiyah fi Bayani ‘Uhudil Muhammadiyah oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Zahrul Basim oleh Sayyid ‘Abdul Qadir; Al-Minan al-Kubra oleh Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Al-Amin fi Intifa’il Mayyiti Bil Qur’anil ‘Adzim oleh Syaikh Abdurrahman al-Tahawi

Didalam kitab ini juga, Syaikh ‘Abdusshomad telah mengkategorikan kitab-kitab tasawuf kepada 3 tingkatan yaitu untuk dipelajari dan dikaji oleh golongan mubtadi, mutawassith dan muntahi. Adapun kitab yang beliau karang ini, beliau kagetorikan sebagai kitab lanjutan yang harus dikaji bagi murid yang mubtadi setelah mempelajari dan mengkaji kitab Hidayatus Salikin yang juga dikarang oleh beliau.

Walaupun kitab ini sudah berusia lebih 200 tahun, namun kandungan kitab ini bernilai tinggi dan bersifat ilmiyah tasawuf yang cukup mantap serta masih segar, relevan dan terkehadapan untuk dijadikan panduan generasi kini. Oleh kerana itu ia masih dicetak dan beredar dipasaran kitab.
Sumber " Alfanshuri

Kitab Futuhal Ghaib (Syekh Abd. Qodr Jilani RA)


Bismillahirohmanirrohiim

Ada tiga perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap Mu'min di dalam seluruh keadaan, yaitu: (1) melaksanakan segala perintah Allah; (2) menjauhkan diri dan segala yang haram; (3) ridha dengan hukum-hukum atau ketentuan Allah.

Ketiga perkara ini jangan sampai tidak ada pada seorang Mu'min. Oleh karena itu, seorang Mu'min harus memikirkan perkara ini. Bertanya kepada dirinya tentang perkara ini dan anggota tubuhnya melakukan perkara ini.

Ikutilah dengan ikhlas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammad saw. dan janganlah merubah jalan itu. Patuhlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan sekali-kali berbuat durhaka. Ber-Tauhid-lah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya. Allah itu Maha Suci dan tidak mempunyai sifat-sifat tercela atau kekurangan. Janganlah ragu-ragu terhadap kebenaran Allah. Bersabarlah dan berpegang-teguhlah kepada-Nya. Bermohonlah kepada-Nya dan tunggulah dengan sabar. Bersatu-padulah di dalam menta'ati Allah dan janganlah berpecah-belah. Saling mencintailah di antara sesama dan janganlah saling mendengki. Hindarkanlah dari dari segala
noda dan dosa. Hiasilah dirimu dengan keta'atan kepada Allah.

Janganlah menjauhkan diri dari Allah dan janganlah lupa kepada-Nya. Janganlah lalai untuk bertobat kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Janganlah jemu untuk memohon ampun kepada Allah pada siang dan malam hari. Mudah-mudahan diberi rahmat dan dilindungi oleh-Nya dari marabahaya dan azab neraka, diberi kehidupan yang berbahagia di dalam surga, bersatu dengan Tuhan dan diberi nikmat-nikmat oleh-Nya. Anda akan menikmati kebahagiaan dan
kesentosaan yang abadi di surga beserta para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada' dan orang-orang shaleh. Anda akan hidup kekal di dalam surga itu untuk selama-lamanya.

------------------------------------

Apabila kamu 'mati' dari makhiuk, maka akan dikatakan kepada kamu, "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu." Kemudian Allah akan mematikan kamu dari nafsu-nafsu badaniyyah. Apabila kamu telah 'mati' dari nafsu badaniyyah, maka akan dikatakan kepada kamu, "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu". Kemudian Allah akan mematikan kamu dan kehendak-kehendak dan nafsu. Dan apabila kamu telah 'mati' dari kehendak dan nafsu, maka akan dikatakan kepada kamu, "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu." Kemudian Allah akan menghidupkan kamu di dalam suatu 'kehidupan' yang baru.

Setelah itu, kamu akan diberi 'hidup' yang tidak ada 'mati' lagi. Kamu akan dikayakan dan tidak akan pernah papa lagi. Kamu akan diberkati dan tidak akan dimurkai. Kamu akan diberi ilmu, sehingga kamu tidak akan pernah bodoh lagi. Kamu akan diberi kesentosaan dan kamu tidak akan merasa ketakutan lagi. Kamu akan maju dan tidak akan peroah mundur lagi. Nasib kamu akan baik, tidak akan pemah buruk. Kamu akan dimuliakan dan tidak akan dihinakan. Kamu akan didekati oleh Allah dan tidak akan dijauhi oleh-Nya.
Martabat kamu akan menjadi tinggi dan tidak akan pernah rendah lagi. Kamu akan dibersihkan, sehingga tidak lagi kamu merasa kotor. Ringkasnya, jadilah kamu seorang yang tinggi dan memiliki kepribadian yang mandiri. Dengan demikian, maka kamu boleh dikatakan sebagai orang yang luar biasa.

Jadilah kamu ahli waris para Rasul, para Nabi dan orang-orang yang shiddiq. Dengan demikian, kamu akan menjadi titik akhir bagi segala kewalian, dan wali-wali yang masih hidup akan datang menemuimu. Melalui kamu, segala kesulitan dapat diselesaikan, dan melalui shalatmu, tanaman-tanaman dapat ditumbuhkan, hujan dapat diturunkan dan malapetaka yang hendak menimpa umat manusia dan seluruh tingkatan dan lapisan dapat dihindarkan. Boleh dikatakan kamu adalah polisi yang menjaga kota dan
rakyat.

Orang-orang akan berdatangan menemuimu dari tempat-tempat yang dekat dan jauh dengan membawa hadiah dan oleh-oleh dan memberikan khidmat mereka kepadamu. Semua ini hanyalah karena idzin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa jua. Lisan manusia tak henti-hentinya menghormati dan memuji kamu. Tidak ada dua orang yang beriman yang bertingkah kepadamu. Wahai mereka yang baik-baik, yang tinggal di tempat-tempat ramai dan mereka yang mengembara, inilah karunia Allah. Dan Allah mempunyai kekuasaan yang tiada terbatas.

--------------------------------------

Apabila kamu melihat dunia dikuasai oleh ahli-ahli dunia dengan perhiasan dan kekosongannya, dengan penipuan dan perangkapnya dan dengan racunnya yang membunuh yang di luarnya tampak lembut tetapi di dalamnya sangat niembahayakan, cepat merusak dan membunuh siapa saja yang memegangnya, yang menipu mereka dan yang menyebabkan mereka lengah terhadap dosa dan maksiat; apabila kamu lihat semua itu, maka hendaklah kamu bersikap sebagai seorang yang melihat orang lain yang membuang air besar yang membuka auratnya dan mengeluarkan bau busuk. Dalam keadaan seperti itu, hendaklah kamu memalingkan pandanganmu dari ketelanjangannya dan menutup hidungmu supaya tidak mencium baunya yang busuk. Demikian pulalah hendaknya kamu bersikap terhadap dunia. Apabila kamu melihatnya, maka hendaklah kamu memalingkan pandanganmu dari pakaiannya dan tutuplah hidungmu supaya tidak mencium bau busuk kegemerlapannya yang tidak kekal. Semoga dengan demikian kamu dapat selamat dari bahaya dan cobaannya. Apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, pasti akan kamu rasakan. Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

'Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.' (QS,20:131)

Ia bertutur:

Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami berkata, "Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan, bendera, panji-panji dan tentara, sehingga ia merasa aman mulai yakin bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya, dan lupa akan keadaan sebelumnya. Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu sang raja memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur, api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu, dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati. Beginilah keadaan seorang beriman yang didekatkan dan dipilih-Nya.

Syekh Syarafuddin ad-Daghestani q.s.



Syekh Syarafuddin

"tak kuasa kuketuk gerbang-Mu, Pangeran
pun bila berpaling, ke pintu mana tangan ini kuayunkan?
dan dalam kenistaan, kepada-Mu-lah kupasrahkan kepercayaan
aku si peminta-minta, menggapaikan jemari mengharapkan pemberian.
(Imam Syafi`i, munajat)

Beliau adalah seorang yang ilmunya sempurna di Hadapan Allah. Beliau adalah kunci bagi Pengetahuan Ilahi yang paling sulit diperoleh. Beliau adalah seorang Ulama Sejati yang dihiasi Cahaya dari Atribut Ilahi. Beliau didukung dengan Iman yang Sejati. Beliau adalah Pejuang di Jalan Allah, Yang Maha Tinggi. Beliau adalah Suara Ilahi pada masanya. Beliau adalah Syaikh dari para Masyaikh dalam pengetahuan keislaman. Beliau adalah pemegang otoritas terhadap segala persoalan yang khusus, rumit, dan paling sulit di segala bidang pengetahuan.

Beliau adalah Samudra Ilmu Pengetahuan, bagaikan Topan bagi Spiritualitas, Air Terjun bagi Wahyu, Gunung Berapi bagi Cinta Ilahi, Pusaran Air bagi Daya Tarik, dan Pelangi bagi Atribut Ilahi. Beliau dibanjiri dengan pengetahuan bagaikan Sungai Nil yang dilanda banjir. Beliau adalah Pembawa Rahasia dari Sultan adz-Dzikr, yang sebelumnya tidak seorang pun bisa membawanya. Beliau adalah Guru yang menguasai Hikmah sejak awal abad 20 dan Yang Memulihkannya. Beliau adalah seorang yang jenius dalam Ilmu mengenai Hukum Islam, seorang mujtahid (pembaharu) di bidang Jurisprudensi, dan seorang narator hadits, sabda Rasulullah . Ratusan ulama selalu menghadiri ceramahnya. Beliau adalah seorang mufti di masanya. Beliau juga adalah salah seorang kaligrafer yang baik dalam menulis ayat al-Qur an.

Beliau adalah penasihat bagi Sultan Abdul Hamid. Beliau memegang jabatan Syaikh ul-Islam, pemegang otoritas keagamaan yang tertinggi di Kekaisaran Ottoman. Beliau sangat dihormati bahkan oleh pemerintah rezim baru Turki di masa Ataturk. Hanya Syaikh Syarafuddin dan deputinya, Syaikh `Abdullah , yang diizinkan untuk memakai turbannya di seluruh Republik Turki yang sekuler pimpinan Ataturk. Yang lainnya dipenjara karena memakai tutup kepala Rasulullah itu. Praktek Islam dalam bentuk luarnya sama sekali dilarang.

Syaikh Syarafuddin sering mengalami keadaan dengan Panorama Spiritual, di mana beliau akan memperoleh Manifestasi dari Kemegahan Ilahi (Tajalli-l-Jalal); dan pada saat itu, tidak ada orang yang sanggup melihat matanya. Jika seseorang memandangnya, tubuhnya akan terasa lemah dan tertarik dengan kuat kepadanya. Oleh sebab itu, ketika beliau sedang mengalami keadaan seperti itu, beliau selalu menutupi matanya dengan cadar (burqa').

Beliau mempunyai warna kulit yang terang. Matanya biru, dan janggutnya hitam. Di masa tuanya, janggutnya sangat putih, seperti kapas.

Beliau dilahirkan dengan mata dan hati yang terbuka. Beliau adalah seorang ulama dengan wajah yang bersinar bak berlian dan hati yang transparan bagaikan kristal. Sufisme merupakan rumah, sarang, dan hati baginya. Islam adalah tubuh, iman, dan keyakinannya. Realitas (haqiqat) adalah jejak, jalan, dan tujuannya. Kehadirat Ilahi adalah gua, dan tempat pengasingannya. Spiritualitas adalah kendaraannya. Beliau adalah lidah bagi seluruh masyarakat di Daghestan.

Beliau dilahirkan di Kikunu, Distrik Ganep, Negara Bagian Timurhansuru, Daghestan, pada hari Rabu, 3 Dzul-Qaidah 1292H bertepatan dengan 1 Desember 1875M. Syaikh Muhammad al-Madani adalah paman sekaligus mertuanya. Beliau memberinya kekuatan dari 6 aliran thariqat jauh sebelum beliau wafat, dan mewariskan semua muridnya kepadanya ketika beliau masih hidup. Dalam segala hal, Syaikh Muhammad al-Madani sering menerima pendapat dari Syaikh Syarafuddin .

Beliau lahir di masa yang sangat sulit, ketika praktek agama dilarang dan hal-hal yang berbau spiritual telah hilang. Namun demikian ibunya berkata, Ketika aku melahirkannya, dia mengucapkan kalimat la ilaha illallah, dan setiap aku merawatnya dia selalu mengucapkan Allah, Allah." Karena keajaibannya itu, beliau sangat terkenal di masa bayinya. Banyak ibu-ibu di distriknya yang sengaja datang untuk melihat beliau mengucapkan Allah, Allah ketika sedang dirawat. Jari telunjuk kanannya selalu membentang menunjukkan posisi syahadat. Sejak masa kanak-kanak, beliau bisa mendengar dzikir yang dilakukan oleh pepohonan, bebatuan, binatang, burung, dan pegunungan. Beliau dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tuanya dan diawasi oleh pamannya. Do a beliau selalu dikabulkan. Beliau juga selalu berada dalam khalwat.

Beliau mulai mendatangi asosiasi yang diadakan oleh Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. Beliau sangat pandai dan dengan segera dapat memahami ajaran Sufi yang diantarkan oleh Abu Ahmad as-Sughuri dari Kehadirat Ilahi itu.

Pada usia tujuh tahun beliau berkata kepada ibunya, Berikanlah aku anak lembu yang akan dilahirkan itu. Ibunya berkata, Jika dia betina, aku akan memeliharanya tetapi bila jantan aku akan memberikannya kepadamu. Beliau berkata lagi, Jangan menyusahkan dirimu wahai ibuku, karena lembu itu akan melahirkan bayi jantan. Ibunya berkata, Bagaimana kamu mengetahuinya? Beliau berkata, Aku dapat melihat apa yang ada dalam rahimnya. Satu jam kemudian, lembu itu melahirkan seekor lembu jantan. Beliau membawa anak lembu itu dan menjualnya, lalu beliau membawakan sepasang domba jantan dan betina kepada Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri sebagai hadiah. Dalam perjalanannya menuju rumah Syaikhnya, kedua domba itu melarikan diri darinya. Beliau melanjutkan perjalanannya ke rumah Syaikh, lalu duduk di sampingnya, hatinya merasa sedih karena kehilangan kedua domba itu. Syaikh bertanya kepadanya, Ada apa? Beliau menjawab, Aku mempunyai dua ekor domba yang akan kuhadiahkan untukmu, tetapi mereka kabur. Beberapa waktu kemudian seorang pengembala datang dan berkata, Aku menemukan dua ekor domba ini di antara hewan gembalaanku. Itu adalah dua ekor domba yang melarikan diri darinya.

Ketika beliau muda, beliau sering berjalan-jalan bersama teman-temannya untuk mengumpulkan kayu. Beliau tidak memotong kayu dari pohon sebagaimana yang dilakukan teman-temannya, tetapi hanya mengumpulkan kayu-kayu kering di tanah. Hal ini membuat ayahnya resah. Ayahnya kemudian pergi menemui Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri dan mengeluh bahwa anaknya hanya mengumpulkan kayu-kayu kering yang tidak berguna. Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri berkata kepadanya, "Mengapa kamu tidak bertanya langsung kepadanya mengapa dia melakukan hal itu? Syarafuddin muda menjawab, Bagaimana mungkin aku memotong pohon yang masih hijau ketika dia sedang berdzikir, mengucapkan la ilaha illallah? Aku lebih suka mengumpulkan dahan-dahan mati, dan tidak membakar cabang-cabang pohon yang sedang berdzikir.

Beliau meninggalkan Daghestan akibat serangan yang terus dilakukan oleh militer Rusia ke kampung-kampung di distriknya. Beliau pindah bersama keluarganya dan keluarga kakaknya ke Turki. Mereka berjalan mengarungi beberapa daerah selama lima bulan dan melewati musim dingin. Mereka berjalan di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Pertama mereka pergi ke Bursa, lalu mereka pergi ke Yalova di perairan Marmara, kira-kira 150 km dari Istanbul. Di sana beliau bersama kelurga dan kerabatnya tinggal di desa Rasyadiya, di mana pamannya telah lebih dulu tinggal di sana beberapa tahun sebelumnya dan membawa thariqat Naqsybandi dari Daghestan ke Turki.

Di Daghestan beliau dilatih oleh Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri , yang memberinya thariqat Naqsyabandi ketika beliau masih sangat muda. Di Rasyadiya, Turki, beliau selanjutnya dilatih oleh Sayyidina Muhammad al-Madani , pamannya yang kelak menjadi mertuanya. Beliau membantunya membangun madrasah dan masjid pertama serta khaniqah bagi kampung tersebut. Paman beliau menyambut semua imigran yang melarikan diri dari tirani imperialis Rusia yang kejam. Selain itu banyak pula pelajar yang mendatangi sekolah pamannya itu dari berbagai daerah di Turki. Dengan cepat mereka membangun rumah-rumah baru di Rasyadiya dan daerah sekitarnya antara Bursa dan Yelova.

Selain thariqat Naqsyabandiya, paman beliau menghubungkannya dengan lima thariqat lain yang dibawanya, yaitu: Qadiri, Rifai i, Syadhili, Chisyti dan Khalwati. Beliau menjadi Guru Besar bagi keenam aliran thariqat ini pada usia 27 tahun. Beliau sangat dihormati di Rasyadiya, terutama setelah beliau menikahi putri Syaikh Muhammad al-Madani . Beliau dikenal sebagai orang yang memiliki kekuatan ajaib di antara para pengikutnya, dan cerita mengenai kelebihannya itu segera tersebar ke seluruh penjuru Turki. Selain itu, beliau sangat mengusai pengetahuan di luar agama sehingga para ulama besar datang untuk mendengar ceramahnya.

Beliau telah melaksanakan beberapa khalwat di Daghestan, yang paling lama berlangsung selama 3 tahun. Di pegunungan Rasyadiya beliau berkhalwat selama enam bulan atas perintah Syaikh Abu Muhammad al-Madani . Beliau selalu berada dalam keadaan menyendiri ketika sedang berada di keramaian.

Suatu hari dalam masa 6 bulan khalwatnya, ketika beliau berdiri dan hendak bersujud beliau menemukan seekor ular yang besar di tempat sujudnya, dengan posisi yang siap mematuknya. Beliau berkata dalam hati, Aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah, lalu beliau menempatkan kepalanya langsung di atas kepala ular itu. Dengan segera ular itu lenyap.

Selama khalwatnya itu banyak keadaan Cinta Ilahi yang diperlihatkan kepadanya. Segera setelah beliau menyelesaikan khalwatnya, Syaikh menariknya dan menyerahkan seluruh tanggung jawab untuk mengarahkan dan membimbing orang-orang. Syaikh Abu Muhammad kemudian selalu duduk dalam asosiasi menantunya sebagai muridnya. Beliau adalah Syaikh pertama yang menjadi murid dari seorang muridnya. Di luar kepatuhan terhadap desakan Syaikhnya agar beliau duduk di kursi yang lebih tinggi, Syaikh Syarafuddin kemudian menjadi orang yang memberikan ajaran Mata Rantai Emas walaupun berada dalam kehadiran Syaikhnya.

Syaikh Syarafuddin mendapat dukungan spiritual dari Sayyidina Syaikh Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni dan Sayyidina Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri , Syaikhnya ketika beliau berada di Daghestan. Beliau mencapai keadaan Cinta yang Murni bagi Allah. Pada keadaan itu beliau merasakan tubuhnya seolah-olah terbakar dengan Cinta kepada Allah, lalu beliau akan berlari dari meditasinya, menanggalkan semua pakaiannya dan menyelam ke dalam air yang dinginnya serasa es di musim dingin. Tiap kali beliau melakukan hal itu, seluruh penduduk desa dapat mendengar suara uap yang keluar dari sungai, seperti suara besi panas yang disiram air. Ada seorang murid Syaikh Syarafuddin yang masih hidup sampai sekarang (1994), yang ingat bahwa dia pernah mendengar suara desis air dan uap dari jarak ratusan yard.

Syaikh Syarafuddin merupakan seorang penerus spiritual Rasulullah . Melalui hubungan spiritual itu, beliau bisa mencapai kesempurnaan. Beliau adalah keturunan dari keluarga Miqdad bin al-Aswad , salah seorang Sahabat Terbesar dari Rasulullah , yang sering mewakili Rasulullah bila beliau sedang bepergian dari Madinah. Beliau melaporkan 42 sabda Rasulullah , di antaranya adalah:
Rasulullah bersabda, Di Hari Pembalasan matahari akan mendekati makhluk hingga berjarak kira-kira 1 mil dari mereka, manusia akan mengeluarkan keringat sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan, sebagian keringat mereka mencapai pergelangan kaki, sebagian lagi mencapai lutut, atau pinggang, sementara yang lain mendapati mulutnya penuh dengan keringat, lalu Rasulullah menunjukkan tangannya ke mulutnya. (riwayat Muslim)
Syaikh Syarafuddin mempunyai sebuah tanda berupa tapak Tangan Rasulullah di punggungnya. Tanda lahir ini beliau dapatkan dari nenek moyangnya Miqdad bin al-Aswad , di tempat di mana Rasulullah menempatkan tangannya di punggung Miqdad dan berdo a baginya dan untuk keturunannya. Tanda di punggung Sayiddina Syaikh Syarafuddin selalu mengeluarkan cahaya, sama halnya dengan wajahnya yang selalu bercahaya. Beliau menerima rahasia dari Rasulullah , yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu yang berada di belakangnya sejelas dengan apa yang ada di depannya.

Paman beliau, Syaikh Muhammad al-Madani , memberinya Khilafat (suksesi) dari thariqat ini, dan menjadikannya pemimpin di desanya. Beliau mengembangkan desanya untuk menarik lebih banyak emigran, dengan memperluas jalan, dan membuat saluran air ke dalam kota. Beliau selalu menyambut emigran yang datang dari Rusia, menawarkan apa yang mereka butuhkan baik berupa makanan maupun tempat tinggal dan ini dilakukan tanpa mengharap imbalan. Hasilnya, penduduk Daghestan merasa menemukan rumah yang baru menggantikan rumah yang telah mereka tinggalkan untuk Rusia, mereka menemukan kebahagiaan dan kedamaian di tanah yang baru. Para emigran merasa lebih bahagia untuk menemani seorang Syaikh yang masih hidup dalam memberikan pelajarannya yang telah dikenal di Daghestan, sebagaimana ajaran itu juga telah terkenal di Asia Tengah ratusan tahun sebelumnya. Dengan keberadaan beliau di desa itu, dan diberkahi dengan kehadirannya yang membawa Rahmat Ilahi, mereka menemukan cinta dan kebahagiaan yang telah hilang di bawah tirani militer Rusia.

Dari Kata-Katanya
Mengenai Sultan adz-Dzikr (Dzikr dalam Hati)
Beliau berkata sehubungan dengan posisi Dzikir dalam Hati:
"Siapa pun yang memasuki Posisi itu, dia akan mengalami dan mencapai Inti dari Nama Allah. Nama itu adalah Sultan dari seluruh Nama Allah, karena Dia mencakup seluruh makna Nama-Nama tersebut dan kepada-Nyalah seluruh Atribut Ilahi kembali. Dia bagaikan Kata yang berlaku untuk semua Atribut ini dan itulah sebabnya mengapa Dia disebut Ism al-Jalala, Nama Yang Paling Mulia karena Dia Yang Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabesar.
Melalui pemahaman akal saja tidak mungkin bisa memanen buah dari rahasia-rahasia ini. Tubuh manusia tidak dapat mencakup Realitas Makna mengenai Tuhan. Tubuh manusia mustahil mencapai Kerajaan yang Tersembunyi dari Yang Maha Unik. Karena bagi Orang-orang dalam Inti, yang mereka miliki hanya kekaguman dan ketakjuban, sekali mereka memasuki posisi Pengetahuan Yang Tersembunyi, mereka akan tersesat, pergi ke mana-mana. Lalu bagaimana dengan Orang-orang dalam Atribut-Nya, yaitu mereka yang mempunyai kualitas tinggi dan masing-masing menunjukkan sebuah Attribut Ilahi yang disandangkan dan menghiasi mereka? Tetap saja mereka tidak bisa dihiasi dengan Inti dari Nama yang mencakup seluruh Nama, kecuali dengan memasuki Rahasia Yang Tersembunyi dari 99 Nama tersebut. Pada saat itu mereka baru diizinkan untuk meraih posisi Tanpa Sekat terhadap Cahaya dari Nama yang Mencakup seluruh Nama dan Atribut, nama Allah.
Jika para pencari terus melakukan Dzikir dengan Nama yang Mahasuci Allah, dia akan mulai berjalan di tempat Dzikir itu, yang jumlahnya ada tujuh. Setiap pencari yang terus melakukan Dzikir Allah dalam hati, dari 5000 sampai 48.000 kali sehari, akan mencapai tingkat kesempurnaan sehingga dia akan menjadi sempurna dalam Dzikir itu. Pada saat itu dia akan menemukan bahwa hatinya terus mengucapkan nama Allah, Allah; tanpa perlu menggerakkan lidah. Dia akan membangun kekuatan internal dengan membakar kotoran di dalamnya karena Api Dzikir melalap semua pengotor. Tidak ada yang tersisa kecuali permata yang bersinar dengan kekuatan spiritual.
Begitu Dzikir memasuki dan menjadi kokoh dalam hatinya, dia akan meningkat lagi mencapai keadaan di mana dia bisa mengetahui Dzikir yang dilakukan oleh seluruh ciptaan Allah. Dia akan mendengar seluruh makhluk mengucapkan kalimat Dzikir dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya. Dia mendengar setiap makhluk berdzikir dengan nada masing-masing dan irama yang berbeda satu sama lain. Pendengarannya terhadap yang satu tidak mempengaruhi pendengarannya terhadap yang lain, dia mampu mendengar semua secara simultan dan dia bisa membedakan masing-masing jenis Dzikir.
Ketika para pencari melewati tingkat itu, dia akan mengalami peningkatan lebih jauh dalam Dzikirnya, dia akan melihat bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah melakukan Dzikir yang sama dengan dirinya. Pada saat itu dia akan menyadari bahwa dia telah mencapai Kesatuan Yang Unik dan Sempurna. Semua melakukan dzikir yang sama dan menggunakan kata-kata yang sama. Segala macam perbedaan akan terhapus dari pandangannya, dan dia akan melihat semua orang yang bersamanya mempunyai tingkatan yang sama dengan Dzikir yang sama pula. Ini adalah Tingkat Penyatuan Setiap Orang dalam Satu Kesatuan. Di sini dia akan menarik semua bentuk Syirik yang tersembunyi sampai ke akar-akarnya dan semua makhluk akan tampak sebagai Satu Kesatuan. Ini adalah langkah pertama dari tujuh langkah dalam perjalanannya.
Dari Tingkat Kesatuan dia akan menuju ke Tingkat Inti dari Kesatuan, di mana setiap orang yang Ada menjadi Tidak Ada, dan hanya Kesatuan Allah saja yang tampak.
Kemudian dia akan menuju Tingkat Primordial dari Kesederhanaan Yang Sempurna, di mana dia bisa tampil dalam wujud apa saja.
Dari sana dia akan menuju Tingkat Kunci dari Rahasia, yang dikenal dengan Tingkat Nama-Nama, di mana tipe asli dari setiap makhluk ditunjukkan kepadanya dari alam ghaib menuju dunia yang nyata. Ini akan membuatnya berenang dalam orbit Nama-Nama dan Segala Atribut dan dia akan mengetahui semua Pengetahuan Yang Tersembunyi.
Selanjutnya dia akan menuju Tingkat Yang Tersembunyi dari Yang Tersembunyi, Inti dari semua Yang Tersembunyi. Dia akan mengatahui semua Yang Tersembunyi melalui Kesatuan yang Unik dari Inti. Dia akan melihat semua kekuatan dan bentuknya.
Dari sana dia menuju tingkat Realitas Sempurna dari Inti Nama-Nama dan Semua Aksi. Dia akan muncul di dalamnya, dalam atom mereka dan dalam totalitas mereka. Dia akan disandangkan dengan Nama Yang Paling Agung dan dia akan diagungkan dan dimahkotai dengan Tingkat Kebesaran.
"Kemudian dia akan menuju ke Tingkat Turunnya Allah (munazala) dari Tingkatan-Nya yang Agung ke Tingkat Surga Dunia. Dia sampai pada Tingkat itu, yang terdekat dengan Tingkat Keduniaan, di luar itu para Pembaca Dzikir tidak mempunyai Tingkat lain untuk dicapai melalui bacaannya. Fajar datang ke dalam dirinya dan Mentari Kesempurnaan tampak dalam diri dan tubuhnya, karena hal itu telah tampak melalui Dzikir yang dilakukan dalam hati dan jiwanya. Sebagai hasilnya, ketika Mentari Kesempurnaan tampak pada tubuh dan seluruh anggota tubuhnya, dia akan berada di Tingkat yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah , Allah akan menjadi Telinga yang dipakainya untuk mendengar, Mata yang dipakainya untuk melihat, Lidah untuk berbicara, Tangan untuk menggenggam, dan Kaki untuk melangkah. Kemudian dia akan mendapati dirinya dan menyatakan kepada dirinya bahwa, Aku tidak berdaya dan sungguh lemah. Karena pada saat itu dia telah memahami makna Kekuatan Ilahi.
Setiap beliau dimintai nasihat jika beliau berkata, Lakukan apa yang kamu suka, orang itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi bila beliau berkata, Lakukan ini dan lakukan itu, maka orang tersebut akan berhasil.

Konon beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir para pelaku dari asosiasinya. Dilaporkan pula bahwa setiap kali orang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan terhadap dunia akan lenyap dari hati mereka. Beliau sering mengatakan, Jangan duduk tanpa berdzikir, karena kematian selalu mengikutimu.

Beliau berkata, Peristiwa yang paling membahagiakan bagi ummat manusia adalah ketika dia meninggal, karena ketika dia meninggal, dosanya juga ikut mati bersamanya. Beliau berkata, Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, tidak akan memperoleh kebaikan dalam Thariqat ini.

Penyingkapan Rahasia Shah Naqsyaband Mengenai Syaikh Syarafuddin

Penerus beliau, Grandsyaikh kita, Syaikh `Abdullah ad-Daghestani , menceritakan hal berikut dalam ceramahnya:
Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syaikh Syarafuddin mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Shah Naqsyaband . Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Shah Naqsyaband akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, Jika seseorang melihat mata Shah Naqsyaband , dia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini.
Pada Hari Pembalasan beliau akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu.
Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan panorama yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Shah Naqsyaband mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Shah Naqsyaband , lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian panorama itu menghilang dan Syaikhku pergi. Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berdzikir, membaca al-Qur an dan melakukan shalat. Di malam harinya, setelah melaksanakan shalat Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan panorama spiritual. Aku melihat Shah Naqsyaband memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, Anakku, datanglah kepadaku. Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Shah Naqsyaband .
Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan dimana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini.
Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu. Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama dia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya dia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Dia berlari menuju Syaikh Syarafuddin dan berkata, Mari dan lihatlah anakmu. Dia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, Dia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Dia akan kembali.
Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Shah Naqsyaband berhenti. Beliau berkata, Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu? Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, Wahai Guruku, engkau paling tahu. Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, Sekarang apakah kamu mengenalinya? Aku berkata lagi, Engkau lebih tahu, wahai Guruku, walaupun Aku melihat itu adalah Syaikhku. Beliau berkata, Itu adalah Syaikhmu, Syaikh Syarafuddin .
Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya? menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, Engkau paling tahu, wahai Syaikhku. Beliau berkata, Itu adalah Setan, dan Syaikhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya. Sebagaimana setiap Wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syaikhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syaikhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah . Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syaikh Syarafuddin . Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syaikh Syarafuddin, dengan seizin Rasulullah yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah . Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syaikh Syarafuddin . Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.
Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. Seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syaikhmu seharusnya hanya untuk Syaikhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syaikh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah . Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang Wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syaikhmu untuk ummat Muhammad , untuk seluruh ummat manusia.
Kemudian Shah Naqsyaband membawaku kembali menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, selama empat hari dan tiga malam. Aku kembali ke tubuhku lagi. Aku merasakan jiwaku memasuki tubuhku dan aku menyaksikan jiwaku masuk ke dalam tubuhku sedikit demi sedikit, sel demi sel, dan melalui panorama itu aku bisa mengerti fungsi dari setiap sel. Kemudian panorama spiritual itu berhenti dan aku mengetuk pintu agar istriku membawakan makanan dan minuman untuk memberi energi bagi tubuhku. Itulah pengungkapan Shah Naqsyaband mengenai Syaikhku, Syaikh Syarafuddin .
Salah satu murid Syaikh Syarafuddin yang berusia 120 tahun dan tinggal di Bursa, Eskici Ali Usta, melaporkan,
Syaikhku adalah seorang Syaikh yang luar biasa. Suatu saat ketika aku masih muda, aku berada di Istanbul, dan baru saja melakukan bay at dengan Syaikh Syarafuddin . Kemudian aku bertemu dengan salah seorang teman dari Daghestan yang keras kepala dan tidak percaya dengan Sufisme. Aku bermaksud untuk berbicara dan melunakkan hatinya dengan menceritakan keajaiban yang dimiliki Syaikhku. Ternyata dia lebih meyakinkan dan bisa mengubah keyakinanku. Aku lalu menggantung tasbihku di dinding dan berhenti berdzikir. Beberapa saat kemudian aku sudah dikuasai hawa nafsu dan melakukan dosa besar dua kali.
Seminggu kemudian, aku pergi ke Sirkici dan melihat Syaikh dalam perjalanan. Beliau juga sedang berjalan kaki di distrik itu, dalam perjalanannya menuju Rasyadiya. Ketika aku melihatnya datang dari satu sisi, aku berpindah ke sisi yang lain dan berusaha untuk menghindarinya. Ketika aku bersembunyi di ujung jalan, aku merasakan sebuah tangan menempel di bahuku dan Syaikh berbicara kepadaku, Mau kemana, wahai Ali? Aku kembali bersamanya dan di tengah perjalanan aku berpikir, Aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi terhadap Syaikh dan Syaikh tidak dapat membawaku kembali lagi.
Kami melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan orang yang bernama Huseyyin Effendi. Syaikh berkata kepadaku, Ketika kamu pertama kali datang kepadaku, Aku melihatmu dan menemukan karakter buruk dalam dirimu. Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay at seluruh perbuatan buruk yang telah kamu lakukan sebelumnya, Aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu keinginan seksual dan kemarahan. Minggu lalu kami hilangkan kedua karakter buruk itu dari dirimu. Ketika beliau mengucapkan hal itu, Aku sadar bahwa beliau telah duduk bersamaku dan melihat keinginan seksual dan kemarahanku, Aku mulai menangis, menangis, dan menangis. Ketika Aku menangis, Syaikh Syarafuddin mulai berbicara dengan orang yang bernama dengan Huseyyin dalam bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, padahal aku berasal dari Daghestan dan aku mengetahui semua bahasa di daerahku. Akhirnya aku tahu bahwa Syaikh Syarafuddin berbicara dalam bahasa Syriac, bahasa yang paling jarang digunakan.
Setelah dua jam menangis, beliau berkata, Cukup! Allah telah mengampunimu, Rasulullah juga telah mengampunimu. Aku berkata, Wahai Syaikhku, apakah engkau benar-benar mengampuniku? Apakah Rasulullah telah mengampuniku? Apakah Allah telah mengampuniku? Apakah para Masyaikh yang matanya terbuka telah mengampuniku? Dulu Aku berpikir bahwa Aku melakukan perbuatan itu sendirian, tetapi sekarang Aku tahu bahwa engkau semua melihatku. Beliau berkata, Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada di depan pintu Rasulullah dan di depan pintu Allah . Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita karena kita berada dalam kehadiratnya dan kita adalah Satu. Aku berkata, Sebagai suatu itikad baik, karena Aku telah diampuni, bagaimana Aku bisa bersyukur kepada Allah dan memberi kehormatan kepadamu dan kepada Rasulullah ? Apakah dengan jalan merayakan mawlid (Kelahiran Rasulullah ), atau berkurban, atau mengeluarkan sedekah lainnya? Beliau berkata, Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan dzikir thariqat Naqsybandi.
Inilah apa yang terjadi pada diriku bersama Syaikh Syarafuddin .

Salah satu teman Eskici Ali Usta yang telah bermigrasi dengannya dari Daghestan menerima sepucuk surat dari Syaikh Syarafuddin ketika dia masih berada di Daghestan, isinya berbunyi, Tinggalkan Daghestan. Tidak ada lagi spiritualitas di sana. Daghestan tidak lagi berada di bawah lindungan Ilahi karena di sana terlalu banyak tirani. Datanglah ke sini ke Turki, dan ke Rasyadiya. Orang itu meletakkan surat dari Syaikh, mengabaikannya dan berpikir, Bagaimana Aku meninggalkan semua kekayaanku dan semua yang kumiliki di sini? Beberapa saat kemudian Rusia menguasai kota itu dan menyita semua kekayaannya. Lalu dia teringat dengan surat yang dikirim oleh Syaikh. Akhirnya dia segera menyusun rencana untuk melarikan diri ke Turki dan ke Rashadiya. Namun dia telah kehilangan keluarga dan semua kekayaannya akibat penundaannya itu.

Suatu kali Syaikh Syarafuddin datang ke Istanbul dan tinggal di Hotel Massarat. Beliau ditanya oleh seseorang yang bernama Syaikh Zia, Bagaimana engkau akan meninggal? Beliau menjawab, Apakah pertanyaan itu penting bagimu, bagaimana Aku akan meninggal? Dia menjawab, Pertanyaan itu datang begitu saja ke dalam hatiku. Beliau berkata, Aku akan meninggal ketika kita mendapat serangan dari Armenia, dan pada saat itu banyak sekali orang-orang yang zhalim. Malam harinya Syaikh Zia berwudhu lalu shalat 2 rakaat dan berdo a kepada Allah , Ya Allah singkirkanlah kesulitan itu (invasi dari Armenia) dari kami, dan panjangkan usia Syaikh kami yang tercinta. Hari berikutnya Syaikh Syarafuddin berkata kepadanya, Wahai Syaikh Zia, apa yang telah kamu lakukan semalam, berdo a? Do amu telah dikabulkan. Kesulitan itu telah dicabut dari diriku tetapi sebagai gantinya kamu akan menderita dan meninggal sebagai syuhada. Delapan tahun setelah insiden di hotel itu, bangsa Armenia dan Yunani memasuki Rasyadiya. Zia Effendi tertembak mati, dan apa yang telah diprediksi oleh Syaikh Syarafuddin semuanya terjadi.

Yusuf Effendi, seorang yang pada tahun 1994 berusia sekitar 100 tahun, menceritakan kisah berikut,
Suatu ketika Syaikh Syarafuddin ditahan di Eskisehir, dan Aku adalah penjaganya. Di penjara itu terdapat pula orang yang sangat baik sifatnya, seorang Syaikh yang terkenal, Sa id Nursi . Syaikh Syarafuddin dipenjara bersama khalifahnya, Syaikh `Abdullah , dan murid-murid yang lain. Ketika Sa id Nursi mengetahui bahwa Syaikh Syarafuddin ditahan dalam penjara yang sama, beliau mengutus muridnya untuk bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu dan juga menawarkan bantuan. Syaikh Syarafuddin menjawab, Terima kasih, tetapi kami bukan siapa-siapa dan kami tidak membutuhkan apa-apa.
Murid Sa id Nursi terus mendatangi Syaikh Syarafuddin , bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu. Beliau selalu menolaknya. Suatu hari Syaikh Syarafuddin berkata kepada murid itu untuk menyampaikan pertanyaan kepada Syaikhnya, Mengapa kita berada di sini? Murid Sa id Nursi itu pergi menemui gurunya. Beliau menjawab, Kita berada di sini untuk mencapai maqam Sayyidina Yusuf , Maqam Pilihan Diam. Setelah murid itu bertanya dan Syaikh Sa id Nursi memberi jawaban, pembicaraannya pun berakhir.
Perubahan ini membuatku bingung dan Aku mulai merenungkannya secara mendalam. Kemudian Aku bertanya kepada Syaikh, Apa rahasia keberadaan Anda di sini? Akhirnya, atas desakanku, Syaikh Syarafuddin menjawab, Aku diutus ke sini untuk membawa rahasia orang banyak, orang-orang yang dipenjarakan tanpa sebab. Aku memberi dukungan kepada orang-orang ini. Allah mengutusku ke sini, karena kamu semua berkumpul di sini, dan sangat sulit mencapai kalian. Saya berada di sini untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu, karena kami segera akan meninggalkan dunia ini. Kami akan mengantarkan kepadamu rahasia-rahasia kamu. Bagi kami tidak ada istilah penjara, kami selalu berada dalam Kehadirat-Nya dan kami tidak pernah terpengaruh dengan penjara. Kalian semua akan meninggal beberapa saat lagi tetapi kalian akan bertemu lagi, ketika seorang tokoh penting meninggal dan barulah kalian semua akan bertemu kembali. Murid-murid Sa id Nursi mendengar hal ini sebagaimana para tahanan lain yang mendengarkan dengan penuh antusias.

Wafatnya

Setelah sekitar tiga bulan, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau berkata kepada Syaikh 'Abdullah , Aku akan segera pergi, karena Aku terlalu menguras tenagaku mensarikan rahasia Surat al-An'am. Beliau meninggalkan wasiat baginya, dan menunjuk Syaikh 'Abdullah untuk menjadi penerusnya di Singgasana Pembimbing.

Tiga hari menjelang wafatnya, beliau memanggil Sultan ul-Awliya Mawlana Syaikh 'Abdullah al-Faiz ad-Daghestani beserta beberapa pengikutnya, kemudian beliau berkata, Selama tiga bulan Aku telah menyelami Samudera Surat al-An'am untuk mengeluarkan seluruh nama dari Thariqat Naqsyabandi yang berjumlah 7007 dari salah satu ayatnya. Alhamdulillah, Aku berhasil mendapatkan nama-nama mereka beserta seluruh gelarnya dan Aku telah mencatatnya pada catatan harianku yang Aku berikan kepada penerusku, Syaikh 'Abdullah . Dia berisikan nama-nama seluruh Wali dari beragam kelompok yang akan ada pada masanya Imam Mahdi .

Keesokan harinya beliau memanggil khalifahnya, Syaikh 'Abdullah ad-Daghestani dan berkata, "Wahai anakku, inilah wasiatku. Aku akan pergi dalam dua hari ini. Atas perintah Rasulullah , Aku menunjukmu sebagai penerusku dalam Thariqat Naqsyabandi, bersamaan dengan lima thariqat lain yang telah Aku terima dari pamanku. Seluruh rahasia yang pernah diberikan padaku dan seluruh kekuatan yang telah disandangkan kepadaku dari para pendahuluku di Thariqat Naqsyabandi dan kelima thariqat lainnya, kini kusandangkan kepadamu. Seluruh pengikut yang engkau bay at di Thariqat Naqsyabandi, juga dengan sendirinya akan di-bay at di lima thariqat lainnya dan juga akan mendapatkan rahasia mereka. Segera, akan datang kepadamu perintah untuk meninggalkan Turki dan pergi menuju Damaskus (Syam asy-Syarif) [yang pada saat itu amatlah sulit untuk dicapai karena peperangan yang dahsyat].

Syaikh 'Abdullah berkata, Beliau memberikan wasiat tersebut dan Aku berusaha menyembunyikannya sebagaimana Aku ingin menyembunyikan diriku sendiri.

Beliau wafat pada tanggal 27 Jumadil Awwal, Ahad, 1355H./ 1936 di Rasyadiya. Beliau dimakamkan di pemakaman Rasyadiya, di suatu puncak bukit. Hingga kini masjid dan zawiyanya masih terbuka, dan banyak orang mengunjunginya untuk mendapatkan rahmat dan berkahnya. Awrad yang sama yang dulu dikerjakan Syaikh Syarafuddin , Khatam Khwajagan (Dzikr para Guru) masih ada di sana, tergantung di dinding.

Grandsyaikh kita, Syaikh 'Abdullah , khalifah dan penerus Sayiddina Syaikh Syarafuddin berkata, Ketika berita wafatnya diketahui, semua orang datang ke rumahnya untuk mendapatkan berkahnya serta barakahnya. Bahkan Ataturk, Presiden Republik Turki yang baru, mengirimkan delegasi kehormatannya. Kami memandikan jasadnya. Ketika kami membaringkannya untuk dimandikan, beliau memindahkan kedua tangannya ke pahanya untuk menampung air yang tercurah darinya ketika kami memandikannya, sehingga semua pengikutnya dapat minum dari air pemandian tersebut. Ketika semua pengikutnya telah selesai minum, beliau kembali memindahkan tangannya kembali ke tempat semula. Itulah keajaiban dari Samudera Keajaibannya, dan itu terjadi bahkan setelah kematiannya.

Ketika kami menguburkan jenazahnya keesokan harinya, lebih dari 300.000 orang datang ke pemakamannya dan kota pun tidak mampu mengakomodasi kerumunan massa tersebut. Mereka datang dari Yalova, Bursa dan Istanbul. Betapa kerumunan orang berduka yang dahsyat. Para lelaki menangis, Para wanita meraung, serta anak-anak pun menangis juga. Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengangkat para Walinya di setiap abad.

Yusuf Effendi, salah seorang pengikutnya berkata, Memang benar bahwa kami tidak pernah bersama-sama dengan seluruh pengikutnya di suatu tempat yang sama--kami terlalu banyak--namun pada saat kematiannya, seluruh kota mendengar, Bursa, Adapazar, Yalova, Istanbul, Eskisehir, Orhanghazi, Izmir, dan seluruh penduduknya bergabung untuk menyelenggarakan shalat jenazah.

Syaikh Syarafuddin telah menulis banyak buku, namun semuanya hilang selama Perang Balkan. Namun demikian, banyak manuskrip yang masih tertinggal di keluarganya yang berisi rahasia dari Thariqat Naqsyabandi. Para pengikutnya mendatangi mereka untuk membaca buku-buku tersebut.

Beliau mewariskan Rahasianya kepada penerusnya, Sultan ul-Awliya, Mawlana wa Sayyidina Syaikh 'Abdullah al-Faiz ad-Daghestani.