Rabu

Sufi Jawa : Mencari Sang Maha Ghoib

- "GUSTI ALLOH, Panjenengan panggenanipun dhateng pundi?
+ "AKU ono ning teleging ati"
- "GUSTI ALLOH. Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati.

Panjenengan kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi?

+ "Kowe ora bakal biso nggoleki AKU.
AKU ono ning teleging urip.
Kowe bisa ketemu kelawan AKU yen wis titi mongsone"


Terjemahan:

- "GUSTI ALLOH, dimanakah ENGKAU?
+ "AKU ada di dasar hati (hati sanubari)"
- "GUSTI ALLOH. Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati.

ENGKAU kok tidak ada. Dimanakah ENGKAU?

+ "Kamu tidak bakal bisa mencari AKU.
AKU ada di dasar hidup.
Kamu bisa ketemu AKU jika sudah saatnya"

Gambaran dialog di atas menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu

dengan Sang Hyang Urip atau GUSTI ALLOH.
Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLOH jika belum saatnya.
Namun, dari dialog itu kita bisa tahu bahwa ALLOH itu dekat.
Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLOH sendiri dalam Al'Quran
"AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri."

Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri agar tidak putus asa untuk bisa bertemu

Sang Kholiq.
Falsafah tersebut berbunyi,"Sopo sing temen bakal tinemu."
Yang artinya, "Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya".
Falsafah tersebut sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual.
Setidaknya, kita pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLOH
di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.

Lho hidup di dunia ini kok disebut alam kematian? Karena orang hidup di dunia itu

hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup.
Alasannya, kita hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak dan lain-lainnya.
Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan.
Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit.

Nah, kita makan itu sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian.

Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya,
maka kita ini disebut mati.
Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan.
Yang hidup hanyalah ruh, Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit.
Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh.

"Belajarlah mati sebelum kematian itu datang".

Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu
dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati.
Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLOH.

Mengapa kita mesti belajar mati? Belajar mati sangatlah penting.

Agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah.
Lho...bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung?
Oh...tidak. Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Kuasa.
Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,
"Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)".
Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir
yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon.
Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali
melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

GUSTI ALLOH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat

tentang GUSTI ALLOH.
Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLOH itu jauh ketika sang musafir tersebut
lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLOH.

Pertanyaannya, bagaimana untuk bisa bertemu dengan ALLOH?

Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajah sang kekasih hati
sudah terlukis dalam benak kita meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh.
"Jauh di mata, dekat di hati".
Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLOH harus selalu terlukis dalam benak kita.
Artinya, kita harus senantiasa eling.

Kedua, GUSTI ALLOH itu bersifat Ghoib. "Mustahil bagi kita yang nyata ini

bertemu dengan yang Ghoib," begitu kata orang rasional.
Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual.
Seseorang bisa bertemu dengan Sang GHOIB dengan menggunakan satu piranti khusus.
Apakah itu? Piranti itu adalah mata batin.
Sebab GUSTI ALLOH tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua cara tersebut

lebih mengandalkan pada piranti yang lebih halus lagi untuk bisa bertemu
dengan GUSTI ALLOH yaitu dengan RASA.
Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang.
Cobalah untuk berlatih mengasah RASA dengan cara belajar mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar