Senin

Biografi Al-Imam Abul Hasan Al-Asy'ari (260-324 H)



Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang masyhur.

Beliau -Abul Hasan Al-Asy'ari- Rahimahullah dilahirkan pada ta­hun 260 H di Bashrah, Irak.


Beliau Rahimahullah dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demi­kian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya.


Guru-gurunya


Beliau Rahimahullah mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali al-Jubai, seorang imam kelompok Mu’tazilah.


Ketika beliau keluar dari pemikiran Mu’tazilah, beliau Rahimahullah memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as­-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ula­ma thabaqah mereka.


Taubatnya dari aqidah Mu’tazilah

Al-Hafizh Ibnu Asakir ber­kata di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy’ari, ”Abu Bakr Ismail bin Abu Muhammad al­-Qairawani berkata, ‘Sesungguh­nya Abul Hasan al-Asy’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun dan jadilah beliau seorang imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari, sesudah itu beliau kembali ke Bashrah dan shalat di masjid Jami’ Bashrah. Seusai shalat Jum’at beliau naik ke mimbar se­raya mengatakan:

Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama-­sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon pe­tunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah memberikan petunjuk kepada­ku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelum­nya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini.
Beliau pun melepas baju beliau dan beliau serahkan kitab-kitab tersebut kepada manusia. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut me­reka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui kedudukan yang agung dari Abul Hasan al-Asy’ari dan menjadikan­nya sebagai imam.’”

Para pakar hadits (Ashhabul hadits) sepakat bahwa Abul Hasan al-Asy’ari adalah salah seorang imam dari ashhabul hadits
.

Beliau ber­bicara pada pokok-pokok agama dan membantah orang-orang menye­leweng dari ahli bid’ah dan ahwa’ dengan menggunakan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat. Beliau adalah pedang yang terhu­nus atas Mu’taziah, Rafidhah, dan para ahli bid’ah.


Abu Bakr bin Faurak berkata, ”Abul Hasan al-Asy’ari keluar dari pemikiran Mu’tazilah dan mengikuti madzhab yang sesuai dengan para sahabat pada tahun 300 H.”


Abul Abbas Ahmad bin Mu­hammad bin Khalikan berkata dalam kitabnya, Wafayatul A’yan (2/446), ”Abul Hasan al-Asy’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu’tazilah kemudian bertaubat.”


Al-Hafizh Ibnu Katsir berka­ta dalam kitabnya, al-Bidayah wan Nihayah (11/187), “Sesungguhnya Abul Hasan al-Asy’ari awalnya adalah seorang Mu’tazilah kemu­dian bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah di Bashrah di atas mimbar, kemudian beliau tampakkan aib-aib dan kebobrokan pemikiran Mu’tazilah.”


Al-Hafizh adz-Dzahabi ber­kata dalam kitabnya, al-Uluw lil Aliyyil Ghaffar, ”Abul Hasan al­Asy’ari awalnya seorang Mu’tazilah mengambil ilmu dari Abu Ali al-­Juba’i, kemudian beliau lepaskan pemikiran Mu’tazilah dan jadilah beliau mengikuti Sunnah dan mengikuti para imam ahli hadits.”


Tajuddin as-Subki berkata dalam kitabnya, Thabaqah Syafi­’iyyah al-Kubra (2/246), ”Abul Hasan al-Asy’ari -mengikuti pe­mikiran Mu’tazilah selama 40 tahun hingga menjadi imam ke­lompok Mu’tazilah. Ketika Alloh menghendaki membela agama­Nya dan melapangkan dada beliau untuk ittiba’ kepada al-Haq maka beliau menghilang dari manusia di rumahnya.” (Kemudian Tajuddin as-Subki menyebutkan apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir di atas).


Ibnu Farhun al-Maliki berkata dalam kitabnya Dibajul Madz­hab fi Ma’rifati A’yani Ulama’il Madzhab (hal. 193), ”Abul Hasan al-Asy’ari awalnya adalah seorang Mu’tazilah, kemudian keluar dari pemikiran Mu’tazilah kepada madzhab yang haq madzhabnya para sahabat. Banyak yang heran dengan hal itu dan bertanya se­babnya kepada beliau, Maka be­liau menjawab bahwa beliau pada bulan Ramadhan bermimpi bertemu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan ke­pada beliau agar kembali kepada kebenaran dan membelanya, dan demikianlah kenyataannya -walhamdulillahi Taala-.”


Murtadha az-Zabidi berkata dalam kitabnya Ittihafu Sadatil Muttaqin bi Syarhi Asrari lhya’ Ulumiddin (2/3), ”Abul Hasan al-Asy’ari mengambil ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba’i (tokoh Mu’tazilah), kemudian beliau tinggalkan pemikiran Mu’tazilah dengan sebab mimpi yang beliau lihat, beliau keluar dari Mu’tazilah secara terang-terangan, beliau naik mimbar Bashrah pada hari Jum’at dan menyeru dengan lantang, ‘Barangsiapa yang telah mengenaliku maka sungguh telah tahu siapa diriku dan barangsiapa yang belum kenal aku maka aku adalah Ali bin Ismail yang dulu aku mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwasanya Allah tidak bisa dilihat di akhirat dengan mata, dan bah­wasanya para hamba menciptakan perbuatan-perbuatan mereka. Dan sekarang lihatlah aku telah bertau­bat dari pemikiran Mu’tazilah dan meyakini bantahan atas mereka,’ kemudian mulailah beliau mem­bantah mereka dan menulis yang menyelisih pemikiran mereka.”


Kemudian az-Zabidi berkata, “Ibnu Katsir berkata,

‘Para ulama menyebutkan bahwa Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari memiliki tiga fase pemikiran:
Pertama
mengikuti pemikiran Mu’tazilah yang kemu­dian beliau keluar darinya,
Kedua
menetapkan tujuh sifat aqliyyah, yaitu; Hayat, Ilmu, Qudrah, Iradah, Sama’, Bashar, dan Kalam, dan beliau menakwil sifat-sifat khabariyyah seperti wajah, dua tangan, telapak kaki, betis, dan yang semisalnya.
Ketiga
adalah menetapkan semua sifat Allah tan­pa takyif dan tasybih sesuai man­haj para sahabat yang merupakan metode beliau dalam kitabnya al-Ibanah yang beliau tulis belakangan.’”
Murid-muridnya

Di antara murid-muridnya adalah Abul Hasan al-Bahili, Abul Hasan al-Karmani, Abu Zaid al­-Marwazi, Abu Abdillah bin Mu­jahid al-Bashri, Bindar bin Husain asy-Syairazi, Abu Muhammad al­-Iraqi, Zahir bin Ahmad as-Sara­khsyi, Abu Sahl Ash-Shu’luki, Abu Nashr al-Kawwaz Asy-Syairazi, dan yang lainnya.


Tulisan-tulisannya


Di antara tulisan-tulisan be­liau adalah: al-Ibanah an Ushuli Diyanah, Maqalatul Islamiyyin, Risalah Ila Ahli Tsaghr, al-Luma’ fi Raddi ala Ahlil Bida’, al-Mujaz, al-Umad fi Ru’yah, Fushul fi Raddi alal Mulhidin, Khalqul A’mal, Kita­bush Shifat, Kitabur Ruyah bil Ab­shar, al-Khash wal ‘Am, Raddu Alal Mujassimah, Idhahul Burhan, asy­-Syarh wa Tafshil, an-Naqdhu alal Jubai, an-naqdhu alal Balkhi, Jum­latu Maqalatil Mulhidin, Raddu ala lbni Ruwandi, al-Qami’ fi Raddi alal Khalidi, Adabul Jadal, Jawabul Khurasaniyyah, Jawabus Sirafiyyin, Jawabul Jurjaniyyin, Masail Mantsurah Baghdadiyyah, al- Funun fi Raddi alal Mulhidin, Nawadir fi Daqaiqil Kalam, Kasyful Asrar wa Hatkul Atsar, Tafsirul Qur’an al­-Mukhtazin, dan yang lainnya.


al-Imam Ibnu Hazm Rohimahullah berkata, “al-Imam Abul Hasan al-­Asy’ari memiliki 55 tulisan.


Di antara perkataan-­perkataannya

  • al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari Rohimahullah berkata dalam kitabnya al-Ibanah an Ushuli Diyanah hal. 17: Apabila seseorang bertan­ya, “Kamu mengingkari perkataan Mu’tazilah, Qadariyyah, Jahmi­yyah, Haruriyyah, Rafidhah, dan Murji’ah. Maka terangkan kepada kami pendapatmu dan keyaki­nanmu yang engkau beribadah ke­pada Allah dengannya!” Jawablah, “Pendapat dan keyakinan yang kami pegangi adalah berpegang teguh dengan kitab Rabb kita, sunnah Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan para ahli hadits. Kami berpegang teguh dengannya. Dan berpendapat dengan apa yang di­katakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.”
Ringkas perkataan kami bah­wasanya kami beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-­kitabNya, para rasulNya, dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak akan menolak sedikitpun. Sesung­guhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada sesembahan yang berhak di­ibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makh­luk, tidak membutuhkan anak dan istri. Dan bahwasanya Muham­mad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan urusan­Nya. Allah mengurusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar. Surga dan neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur. Allah berse­mayam di atas Arsy seperti dalam firmanNya:
“Alloh bersemayam di atas ‘Arsy”. (QS. Thaha: 5)

Allah. memiliki dua tangan, tapi tidak boleh ditakyif, seperti dalam firmanNya:

“Telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku”. (QS. Shad: 75) dan fir­manNya
“Tetapi kedua-dua tangan Alloh ter­buka.” (QS. al-Maidah: 64)

Allah memiliki dua mata tanpa di­takyif, seperti dalam firmanNya:

“Yang berlayar dengan pengawasan mata Kami.” (QS. al-Qamar: 14)

Siapa yang menyangka bahwa nama-nama Allah bukanlah Al­lah maka sungguh dia sesat, Allah berilmu seperti dalam firmanNya

“Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya.” (QS. Fathir: 11)

Kita menetapkan bahwa Allah mendengar dan melihat, kita tidak menafikannya seperti dilakukan oleh orang-orang Mu’tazilah, Jah­miyyah, dan Khawarij.”

  • Beliau berkata dalam kitab­nya Maqalatul lslamiyyin wa lkhti­lafil Mushallin hal. 290: Kesim­pulan apa yang diyakini oleh ahli hadits dan Sunnah bahwasanya mereka mengakui keimanan kepa­da Allah, para malaikatNya, kitab­-kitabNya, para rasulNya, dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak akan menolak sedikitpun. Dan bahwasanya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makh­luk, tidak membutuhkan anak dan istri. Dan bahwasanya Muham­mad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan utusan­Nya.
Mereka memandang wajib­nya menjauhi setiap penyeru kepada kebid’ahan dan hendaknya menyibukkan diri dengan mem­baca al-Qur’an, menulis atsar-­atsar, dan menelaah fiqih, dengan selalu tawadhu’, tenang, berakhlak yang baik, menebar kebaikan, menahan diri dari mengganggu orang lain, meninggalkan ghibah dan namimah, dan berusaha mem­perhatikan keadaan orang yang kekurangan.

Inilah kesimpulan dari apa, yang mereka perintahkan, amalkan, dan mereka pandang, dan kami mengatakan sebagaimana yang kami sebutkan dari mereka dan kepada ini semua kami ber­madzhab, dan tidaklah kami mendapatkan taufiq kecuali dari Allah.”


Wafatnya

al-Imam Abul Hasan al­-Asy’ari wafat di Baghdad pada tahun 324 H. Semoga Allah meridhoi­nya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.



Sumber: Siyar A’lamin Nubala’ oleh Adz­-Dzahabi 15/85-90, dan Tarjamah Abul Hasan al-Asy’ari.

Ilmu Nahwu : Kitab Jurrumiyah



Matan kitab “Aj-jurrumiyah” ; merupakan kitab dasar dalam fan ilmu nahwu, karangan Abu Abdulloh Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shinhajie Rohimahulloh (Ada yang menyebut Imam Shonhaji).
Kitab ini salah satu matan yang biasa dipakai oleh kalangan pesantren untuk pembelajaran dasar-dasar ilmu nahwu bagi pemula, dalam mengawali pembelajaran fan ilmu alat lebih lanjut.
Dalam setiap sorogan, santri dituntut paham dan mampu menghapal tiap kaidah-kaidahnya, agar memudahkan pemahaman materi selanjutnya.
Al-kisah diceritakan, Syeikh Imam Al-Sinhaji pengarang kitab ini ; tatkala telah rampung menulis kaidah-kaidah ilmu nahwu dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya : “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur.
Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau merampungkan karya tulisnya tersebut, beliau berazam akan menenggelamkan tulisannya tersebut dalam air mengalir, dan jika kitab itu terbawa arus air berarti karya itu kurang bermanfaat. Namun bila ia tahan terhadap arus air, maka berarti ia akan tetap bertahan dikaji orang dan bermanfaat. Sambil meletakkan kitab itu pada air mengalir, beliau berkata : “Jurrumiyah, jurrumiyah” (mengalirlah wahai air ! ). Anehnya, setelah kitab itu diletakkan pada air mengalir, kitab yang baru ditulis itu tetap pada tempatnya.
Itulah kitab matan “Jurrumiyah” yang masih dipelajari hingga kini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun padat yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu dan menjadi kitab rujukan para pemula dalam mendalami ilmu nahwu di berbagai dunia. Selain ringkas, kitab mungil ini juga mudah dihafal. (Wallohu ‘Alam)

Kisah Seorang Pengajar Al Qur’an



Kisah ini disampaikan oleh seorang pengajar al-Qur’an al-Karim di salah satu masjid di Makkah Al Mukarramah. Ia berkata, ”Telah datang padaku seorang anak yang ingin mendaftarkan diri dalam halaqah”. Maka aku bertanya kepadanya, ”Apakah engkau hafal sebagian dari al-Qur’an?”. Ia berkata, ”Ya”. Aku berkata kepadanya, ”Bacakan dari juz ‘amma!” Maka kemudian ia membacanya. Aku bertanya lagi , ”Apakah kamu hafal surat Tabaarak (al-Mulk)?”. Ia menjawab, ”Ya”. Aku pun takjub dengan hafalannya di usia yang masih dini.
Aku bertanya kepadanya tentang surat an-Nahl. Ternyata ia hafal juga, maka semakin bertambah kekagumanku atasnya.
Kemudian aku ingin mengujinya dengan surat-surat panjang, aku bertanya, ”Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?”. Ia menjawab, ”ya”. Dan ia membaca surat tersebut tanpa salah sedikitpun. Kemudian aku berkata, ”Wahai anakku, apakah kamu hafal al-Qur’an?”. Ia menjawab, ”ya”.
Subhaanallah, dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi! Aku memintanya untuk datang esok hari bersama dengan orang tuanya, sedangkan aku sungguh benar-benar takjub. Bagaimana mungkin bapaknya melakukan hal tersebut?!
Suatu kejutan besar ketika bapak anak tersebut hadir. Aku melihat penampilannya tidak menunjukkan orang yang komitmen kepada as-sunnah. Segera ia berkata kepadaku, ”Saya tahu anda heran kalau saya adalah ayahnya, tapi saya akan menghilangkan rasa keheranan Anda. Sesungguhnya dibelakang anak ini ada seorang wanita yang setara dengan seribu laki-laki. Aku beritahukan kepada Anda, bahwa aku dirumah memiliki tiga anak yang semuanya hafal al-Qur’an. Dan anakku yang paling kecil, gadis berusia 4 tahun, sudah hafal juz ‘amma”.
Aku kaget dan bertanya, ”Bagaimana bisa seperti itu?!”
Ia mengatakan bahwa ibu mereka ketika mereka mulai bisa berbicara pada usia bayi, maka ia memulainya dengan menghafalkan al-Qur’an dan memotivasi mereka untuk itu. Siapa yang menghafal pertama kali, maka dialah yang berhak memilih menu untuk makan malam hari itu. Siapa yang melakukan murajdah (setor hafalan) pertama kali, dialah yang berhak memilih kemana kami akan pergi mengisi liburan mingguan. Dan siapa yang mengkhatamkan pertama kali, maka dialah yang berhak menentukan kemana kami harus mengisi liburan.
Seperti inilah istriku menciptakan suasana kompetisi (persaingan) dalam menghafal dan melakukan muraja’ah.
Ketika merenungkan dan memikirkan kisah yang penuh pelajaran ini, kami mendapati bahwa seorang wanita shalihah yang senantiasa memperhatikan kebaikan rumah tangganya, maka dialah wanita yang Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam berwasiat pada kaum laki-laki untuk memilih sebagai pasangan hidup. Meninggalkan orientasi harta, kecantikan dan kedudukan.
Maka benarlah ketika Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka carilah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari)
Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)
Selamat atasnya (ibu anak tersebut) yang telah menjamin masa depan anak-anaknya dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pemberi syafaat kepada mereka kelak di hari kiamat.
Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Akan dikatakan kepada orang yang hafal al-Qur’an pada hari kiamat, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dalam kehidupan dunia, karena sesungguhnya tempat kembalimu dalam kehidupan akhir adalah sesuai dengan ayat yang dahulu engkau baca” (HR. Ibnu Hibban)
Maka bayangkanlah sekarang datangnya hari-hari itu, ketika ibu itu berdiri di padang mahsyar. Ia akan melihat anak-anaknya terus naik dan naik dihadapannya, dan tiba-tiba mereka berada di tempat yang paling tinggi. Kemudian dibawakan kepadanya mahkota al waqaar (kemuliaan) yang diletakkan di atas kepalanya.
Apa yang akan dilakukan anak-anak kita jika dikatakan kepada mereka, ”Bacalah!”
Maka kemanakah (hafalan) mereka akan sampai?
Apakah akan diletakkan di atas kepala kita sebuah mahkota?
Jika didatangkan timbangan amal, maka berapa banyak lagu-lagu yang mereka hafalkan?
Berapa banyak gambar-gambar porno yang ada dalam HP mereka?
Berapa banyak Bluetooth dengan materi menjijikkan?
Semua ini akan menjadi modal dalam timbangan amal kedua orang tua mereka.
Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang pemimpin atas manusia adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Dan seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah bahwa setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)
Tidaklah Allah mengaruniakan kepada kita keturunan agar kita memperbanyak orang-orang yang bermaksiat kepadaNya. Akan tetapi agar mereka bersyukur dan ingat, apakah anak kita termasuk dari kalangan mereka?
Wahai setiap ibu, wahai saudariku semua!
Mulailah dengan mendidik dan memperbaiki anak-anak kalian. Jadikanlah huruf dan ayat-ayat al-Qur’an sebagai pemberat timbangan amal kalian dan saksi bagi kalian pada hari perhitungan. Hari dimana Al-Qur’an menempati tempat yang tinggi .
Tentunya risalah ini juga untuk para bapak.
Bayangkan wahai para bapak, jika anda menjadikan anak anda hafal al-Qur’an. Setiap kali ia membaca satu huruf, anda akan mendapatkan pahala setiap huruf yang ia baca dari al-Qur’an dalam hidupnya. Maka jadilah anda dengan menjaga anak anda untuk menghafalnya dengan pertolongan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
 
Sumber: Majalah Qiblati, Edisi 6 tahun 6, Rabiul Tsani 1432 H/Maret 2011

Karomah Habib Munzir Al Musawwa


Cerita dari jamaah Majelis Rasulullah tentang Karomah Habib Munzir Al Musawwa
Artikel dibawah ini awalnya, dari web pembaca blog saya. Kemudian si pemilik web, mas yogo saptono memberikan sumber aslinya dari milist MajelisRasulullah majelisrasulullah@yahoogroups.com. Artikel dibawah ini merupakan postingan dalam milist tersebut yang dikirim oleh pemudasuci@yahoo.com. Beberapa bagian saya potong untuk mempermudah pembacaan. Selanjutnya tulisan dibawah ini merupakan isi postingan dimilist tersebut.

Ketika ada orang yg iseng bertanya padanya : wahai habib, bukankah Rasul saw juga punya rumah walau sederhana??, beliau tertegun dan menangis, beliau berkata : iya betul, tapikan Rasul saw juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum anshar, lalu bersama sama membangun rumah.., saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yg masih berumahkan koran di pinggir jalan dan di gusur gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang tenang dirumah saya..

pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Almusnid alhabib Umar bin Hafidh, namanya Hb Abdulqadir Almasyhur, ketika hb munzir datang menjumpainya, maka habib itu yg sudah tua renta langsung menangis.. dan berkata : WAHAI MUHAMMAD…! (saw), maka Hb Munzir berkata : saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.., maka habib itu berkata : ENGKAU MUHAMMAD SAW..!, ENGKAU MUHAMMAD.. SAW!, maka hb Munzir diam… lalu ketika ALhabib Umar bin Hafidh datang maka segera alhabib Abdulqadir almasyhur berkata : wahai umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa), maka Alhabib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum.. (kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)
lihat kemanapun beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yg sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yg sudah masuk islam ditangannya, banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,

bahkan ada orang wanita dari australia yg selalu mimpi Rasul saw, ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Hb Munzir di masjid almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw. maka berkata orang itu, sungguh habib yg satu ini adalah syeikh Futuh ku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh Rasul saw, kabar itu disampaikan pada hb munzir, dan beliau hanya menunduk malu..

beliau itu masyhur dalam dakwah syariah, namun mastur (menyembunyikan diri) dalam keluasan haqiqah dan makrifahnya. bukan orang yg sembarangan mengobral mimpi dan perjumpaan gaibnya ke khalayak umum ketika orang ramai minta agar Hb Umar maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau tenagn tenang saja, dan berkata : Hb Nofel bin Jindan yg akan wafat, dan Hb Umar Maulakhela masih panjang usianya.. benar saja, keesokan harinya Hb Nofel bin Jindan wafat, dan Hb Umar maulakhela sembuh dan keluar dari opname.., itu beberapa tahun yg lalu..

ketika Hb Anis Alhabsyi solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang orang mendesak hb munzir untuk menyambangi dan mendoakan Hb Anis, maka beliau berkata pd orang orang dekatnya, hb anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira kira masih sebulan lagi usia beliau,..betul saja, Hb Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat..

ketika gunung papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “awas”, maka Hb Munzir dg santai berangkat kesana, sampai ke ujung kawah, berdoa, dan melemparkan jubahnya ke kawah, kawah itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yg lalu (VCD nya disimpan di markas dan dilarang disebarkan)
demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yg terkenal dg sihir dan dukun dukun jahatnya., maka selesai acara hb munzir malam itu, keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitya, ia berkata : saya ingin jumpa dg tuan guru yg semalam buat maulid disini..!, semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak mau dekat dg ulama dan sangat ditakuti, ketika ditanya kenapa??, ia berkata : saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap., lalu subuh tadi saya lihat mereka (Jin jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk islam, dan jadi begini??, maka jin jin ku berkata : apakah juragan tidak tahu?, semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Hb Munzir, kami masuk islam..!

kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yg mempunyai dua ekor macan jadi jadian yg menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi2an itu sedang duduk bersimpuh didepan pintu masjid mendengarkan ceramah hb munzir..

demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon, daerah yg terkenal ahli santet dan jago jago sihirnya, maka hb munzir menepuk bahu muridnya dan berkata : MA’ANNABIY.. !, berangkatlah, Rasul saw bersama kalian..
maka saat mereka membaca maulid, tiba tiba terjadi angin ribut yg mengguncang rumah itu dg dahsyat, lalu mereka mnta kepada Allah perlindungan, dan teringat hb munzir dalam hatinya, tiba tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi hb munzir yg seakan lewat dihadapan mereka, dan terdengarlah ledakan bola bola api diluar rumah yg tak bisa masuk kerumah itu..
ketika mereka pulang mereka cerita pd hb munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu..

demikian pula pedande pndande Bali, ketika Hb Munzir kunjung ke Bali, maka berkata muslimin disana, habib, semua hotel penuh, kami tempatkan hb ditempat yg dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di Bali, maka hb munzir senyum senyum saja, keesokan harinya Raja Leak itu berkata : saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada disekitar sini semalam..

maaf kalo gue ceplas ceplos, cuma gue lebih senang guru yg mengajar syariah namun tawadhu, tidak sesohor, sebagaimana Rasul saw yg hakikatnya sangat berkuasa di alam, namun membiarkan musuh musuhnya mencaci dan menghinanya, beliau tidak membuat mereka terpendam dibumi atau ditindih gunung, bahkan mendoakan mereka,
demikian pula ketika hb munzir dicaci maki dg sebutan Munzir ghulam ahmad..!, karena ia tidak mau ikut demo anti ahmadiyah, beliau tetap senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dg kedamaian daripada kekerasan, dan beliau sudah memaafkan pencaci itu sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yg mengganggu pencaci itu, kemarin beberapa minggu yg lalu di acara almakmur tebet hb munzir malah duduk berdampingan dg si pencaci itu, ia tetap ramah dan sesekali bercanda dg Da’i yg mencacinya sebagai murtad dan pengikut ahmadiyah..

Sumber Mailing list Majelis Rasulullah pemudasuci@yahoo.com

Habib Kuncung



Beliau adalah al-Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad, dilahirkan di Kota Ghurfah, Tarim, Hadhramaut tanggal 26 Sya’baan 1254H. Selain ayahandanya, guru-guru beliau, antaranya, adalah Habib `Ali bin Husain al-Hadar, Habib `Abdur Rahman bin `Abdullah al-Habsyi dan Habib `Abdullah bin Muhsin al-`Athtas (Habib Keramat Empang, Bogor). Oleh gurunya, Habib `Abdullah bin Muhsin al-`Aththas, beliau dipanggil dengan panggilan “Habib Kuncung” kerana kopiah kuncung yang selalu dipakainya. Maka terkenallah beliau dengan gelaran tersebut.

Habib Kuncung amat mencintai para guru beliau. Dengan Habib `Abdullah Keramat Empang, beliau memiliki hubungan yang cukup akrab bak anak dengan ayah. Bahkan di mana pun ada Habib `Abdullah, pasti di situ ada Habib Kuncung. Hubungan ini berterusan sehinggalah gurunya ini wafat. Habib Kuncung pada asalnya menjalankan perniagaan dan berjaya menjadi seorang pedagang yang berjaya sehingga memiliki harta di Singapura. Kemudiannya, beliau lebih suka menjalani hidup dengan berkelana di bumi Allah.

Beliau terkenal sebagai seorang wali ahlud darkah yang dianugerahkan dengan berbagai karamah yang khawariqul adah. Di antara perkara yang ganjil yang sering berlaku adalah beliau sering muncul dengan tak semena-menanya dalam majlis-majlis di mana nama beliau disebut. Dalam majlis-majlis ulama, beliau sering diminta untuk menjadi pembaca kitab-kitab salaf kerana beliau memiliki suara yang lantang, menguasai bahasa Arab dan berilmu tinggi. Sungguhpun demikian, Habib Kuncung sentiasa bersikap tawadhu` dan khumul. Sebagaimana beliau muncul dalam sesuatu majlis, maka begitulah juga beliau menghilangkan dirinya dengan tiba-tiba dari majlis tersebut tanpa disedari orang. Itulah antara sikap beliau yang sentiasa menghindarkan diri dari kemasyhuran.

Habib Kuncung rahimahullah meninggalkan dunia yang fana ini pada 29 Sya’baan 1345H dan dimakamkan di pemakaman keluarga al-Haddad, Kalibata, Jakarta Selatan. Makam beliau sehingga kini masih tetap diziarahi ramai… al-Fatihah.

Sumber : pondokhabib.WodrPress.com

Syarif Abdurrahman Al-Qadri Sultan pertama kerajaan Pontianak



Kerajaan Pontianak adalah salah satu di antara kerajaan Melayu yang terakhir didirikan. Pendirinya adalah seorang keturunan Arab-Melayu, zuriat Nabi Muhammad s.a.w. Kekukuhannya sebagai Sultan Pontianak yang pertama adalah dilantik oleh Raja Haji bin Upu Daeng Celak Yang Dipertuan Muda Riau.
Pendiri kerajaan Pontianak itu ialah Syarif Abdur Rahman bin al-Habib Husein al-Qadri. Habib Husein al-Qadri, ayah beliau seorang ulama besar, bahkan ramai orang meriwayatkan Habib Husein al-Qadri adalah seorang ‘Wali Allah’ yang dibuktikan banyak ‘karamah’.Oleh itu, anak beliau Syarif Abdur Rahman al-Qadri adalah seorang ‘sultan’ dan sekali gus beliau adalah seorang ‘ulama’. Riwayat di bawah ini adalah berasal dari sebuah manuskrip yang diperoleh di Pontianak yang saya ringkaskan dan di beberapa tempat disesuaikan dengan bahasa sekarang.

Pengembaraan

Apabila sampai umur Syarif Abdur Rahman 16 tahun, beliau dibawa oleh ayahnya berpindah dari negeri Matan ke negeri Mempawah. Setelah berumur 18 tahun, beliau dikahwinkan oleh ayahnya dengan Utin Cenderamidi, anak Upu Daeng Menambon. Tatkala umurnya 22 tahun, Syarif Abdur Rahman pergi ke Pulau Tambelan selanjutnya ke Siantan dan terus ke pusat pemerintahan Riau di Pulau Penyengat. Beliau tinggal di sana selama kira-kira dua bulan. Kemudian, ke negeri Palembang dan tinggal di situ sebelas bulan. Sewaktu hendak kembali ke negeri Mempawah dihadiahkan oleh Sultan Palembang, Sultan Pelakit sebuah perahu selaf dan seratus pikul timah.

Dan pada ketika itu juga bermuafakat Tuan Saiyid dan sekelian bangsa Arab di negeri Palembang dan bersetuju memberi hadiah kepada Syarif Abdur Rahman, dua ribu ringgit. Kemudian Syarif Abdur Rahman belayar pulang ke negerinya, Mempawah. Setelah dua bulan Syarif Abdur Rahman al-Qadri di Mempawah, beliau belayar pula ke negeri Banjar dan tinggal di sana selama empat bulan. Kemudian, belayar pula ke negeri Pasir dan berhenti di situ selama tiga bulan. Setelah itu, kembali lagi ke negeri Banjar. Setelah dua bulan di Banjar, Syarif Abdur Rahman dikahwinkan dengan puteri Sultan Sepuh, saudara pada Penembahan Batu yang bernama Ratu Syahbanun. Sebelum berkahwin, Syarif Abdur Rahman al-Qadri telah dilantik oleh Panembahan Batu menjadi Pangeran dengan nama Pangeran Syarif Abdur Rahman Nur Allam.
Dua tahun kemudian, Syarif Abdur Rahman al-Qadri kembali ke negeri Mempawah. Setahun kemudian, kembali lagi ke negeri Banjar. Selama empat tahun di Banjar, beliau memperoleh dua orang putera, seorang laki-laki diberi nama Syarif Alwi diberi gelar Pangeran Kecil dan yang seorang perempuan bernama Syarifah Salmah diberi gelar Syarifah Puteri.
Tarikh 11 Rabiulakhir 1185 H/24 Jun 1771 M Syarif Abdur Rahman keluar dari negeri Banjar kembali ke negeri Mempawah. Ketika sampai di Mempawah didapatinya Tuan Besar Mempawah, Habib Husein al-Qadri ayahnya, telah kembali ke rahmatullah. Syarif Abdur Rahman al-Qadri berhenti di Mempawah selama tiga bulan bermesyuarat dengan adik- beradiknya, ialah Syarif Ahmad, Syarif Abu Bakar, Syarif Alwi bin Habib Husein al-Qadri dan seorang kerabat mereka, Syarif Ahmad Ba’abud. Keputusan mesyuarat bahawa Syarif Abdur Rahman akan keluar dari negeri Mempawah hendak membuat kedudukan di mana-mana yang patut.

Mengasaskan kerajaan Pontianak

Tarikh 14 Rejab 1185 H/23 Oktober 1771 M, Syarif Abdur Rahman berangkat dari negeri Mempawah de-ngan 14 buah perahu kecil bernama kakab. Kemudian, sampailah ia di Sungai Pontianak yang kebetulan tempat itu dengan masjid yang ada sekarang ini. Syarif Abdur Rahman dan rombongan berhenti di tempat itu pada waktu malam. Keesokan harinya, Syarif Abdur Rahman pun masuk ke Selat Pontianak dan berhenti di situ selama lima malam. Pada hari Rabu kira-kira pukul 4.00 pagi, Syarif Abdur Rahman memberi perintah menyerang Pulau Pontianak. Masing-masing mereka mengisi meriamnya dan menembak pulau itu. Kata Syarif Abdur Rahman, “Berhenti perang kerana sekalian hantu dan syaitan yang berbuai pada malam hari di pulau itu telah habis lari, janganlah tuan-tuan takut, marilah kita turun menebas pulau itu”. Semua anak buah perahu pun turun bersama-sama Syarif Abdur Rahman menebas pulau itu. Setelah habis ditebas, lalu didirikan sebuah rumah dan sebuah balai. Kira-kira lapan hari dikerjakan, di dalam antara itu Syarif Abdur Rahman kembalilah ke Mempawah mengambil sebuah kapal dan sebuah tiang sambung. Tarikh 4 Ramadhan 1185 H/11 Disember 1771 M Syarif Abdur Rahman pindah ke pulau itu.

Perang Pontianak Sanggau

Tiada berapa lama negeri itu berdiri, pada bulan Jumadilakhir 1191 H/ 10 Jun 1777 M, Syarif Abdur Rahman berangkat, mudik ke negeri Sanggau dengan 40 buah perahu kecil hendak terus ke negeri Sekadau. Setelah sampai di Sanggau, maka ditahanlah oleh Penembahan Sanggau tiada diberikannya mudik ke hulu, jauh dari negeri Sanggau. Tetapi Syarif Abdur Rahman, berkeras hendak mudik. Oleh sebab itu, Penembahan Sanggau sangat marah, lalu menembak perahu itu, hingga terjadi peperangan antara kedua-dua pihak. Setelah tujuh hari berperang, Syarif Abdur Rahman mengundurkan diri kembali ke negeri Pontianak, untuk persiapan membuat perahu besar. Kira-kira lapan belas bulan sesudah itu bersamaan, 2 Muharram 1192 H/31 Januari 1778 M berangkat lagi ke negeri Sanggau dengan sebuah sekuci, dua buah kapal dan 28 buah penjajab. Ketika sampai di Tayan, bertemulah dengan angkatan Sanggau yang menanti kedatangan angkatan Pontianak di situ.

Angkatan Sanggau kalah, terus lari ke Sanggau. Tetapi ada lagi angkatan Sanggau di Kayu Tunu, angkatan Sanggau sudah siap berperang di tempat. Tarikh 26 Muharram 1192 H/24 Februari 1778 M bermulalah perang di Kayu Tunu. Sanggau kalah pada 11 Safar 1192 H/11 Mac 1778 M.
Syarif Abdur Rahman pun mudik ke Sanggau dan berhenti di situ selama 12 hari. Syarif Abdur Rahman bersama Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau membuat benteng pertahanan di Pulau Simpang Labi, menempatkan enam pucuk meriam di pintunya. Pulau itu ditukar nama dengan Jambu-Jambu Taberah. Setelah selesai pekerjaan di Pulau Jambu-Jambu Taberah itu, Sultan Syarif Abdur Rahman pulang ke Pontianak bersama-sama dengan Yang Dipertuan Muda Raja Haji.

Penabalan Sultan

Setelah sampai di Pontianak, Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau memanggil semua orang di dalam negeri Pontianak untuk memeriksa hal Pa-duka Pangeran Syarif Abdur Rahman Nur Allam akan dijadikan sultan. Semua isi negeri Pontianak, bersetuju. Raja Haji mengirim utusan ke negeri Mempawah, Matan, Landak dan Kubu. Raja-raja itu pun mengaku di hadapan Yang Dipertuan Muda Raja Haji mengatakan bahawa mereka menerima dengan gembira. Pada ketika dan tarikh yang baik, hari Isnin, 8 Syaban 1192 H/1 September 1778 M, sekalian tuan-tuan sayid, raja-raja dan rakyat negeri Pontianak berkumpul di Pontianak.
Yang Dipertuan Muda Raja Haji dengan suara yang keras, bertitah, “Adapun kami memberitahu kepada sekalian tuan-tuan sayid, raja-raja, dan sekalian isi negeri Pontianak ini, pada hari ini, Paduka Pangeran Syarif Abdur Rahman Nur Allam kita sahkan berpangkat dengan nama Paduka Sultan Syarif Abdur Rahman al-Qadri, iaitu raja di atas takhta kerajaan Negeri Pontianak, demikianlah adanya”
Adalah pada tahun 1194 H/1780 M utusan Kompeni Belanda datang dari Betawi dengan satu sekuci dan dua buah pencalang. Utusan Belanda itu bernama Ardi William Palam Petter dari Rembang serta berbicara meminta kepada Sultan Syarif Abdur Rahman untuk mendiami negeri Pontianak. Bersamanya ada lagi utusan Sultan Banten hendak menyerahkan pemerintahan negeri Landak kepada Sultan Syarif Abdur Rahman. Maka Kompeni Holanda pun tetaplah duduk bersetia bersama-sama di dalam negeri Pontianak.

Pada tahun 1198 H/1784 M Kompeni Belanda bermusuh dengan Yang Dipertuan Muda Raja Ali Riau. Kom-peni Belanda menyerang Yang Dipertuan Muda Raja Ali Riau di negeri Sukadana. Negeri Sukadana kalah dalam perang itu. Pada tahun 1200 H/1785 M, Sultan Syarif Abdur Rahman bersengketa de-ngan saudara iparnya Raja Mempawah, Penembahan Adi Wijaya, kerana perkara Sultan Sambas.
Disingkatkan ceritanya, akhirnya Sultan Syarif Abdur Rahman terpaksa memerangi negeri Mempawah. Setelah berperang selama lapan bulan, negeri Mempawah kalah dalam peperangan itu. Setelah selesai perang, Sultan Syarif Abdur Rahman mengangkat puteranya yang bernama Pangeran Syarif Qasim berpangkat Penembahan Memerintah Diatas Takhta Kerajaan Negeri Mempawah.

Selanjutnya, terjadi perselisihan Pontianak dengan Sambas mulai 3 Rabiulakhir 1206 H/30 November 1791 M. Sultan Syarif Abdur Rahman bersama Yang Dipertuan Sayid Ali bin Utsman, Raja Siak memerangi negeri Sambas. Perang yang terjadi selama lapan bulan itu, berakhir dengan seri iaitu tiada yang kalah atau pun menang.

Wafat

Demikianlah kisah Sultan Syarif Abdur Rahman al-Qadri yang dilahirkan pada 15 Rabiulawal 1151 H/3 Julai 1738 M dan wafat pada malam Sabtu, pukul 11.00, tarikh 1 Muharram 1223 H/28 Februari 1808 M. Pada hari itu juga, Penembahan Syarif Qasim yang berkedudukan di Mempawah, ditabalkan menjadi Sultan Pontianak dengan menggunakan nama Paduka Sultan Syarif Qasim Raja Duduk Diatas Takhta Kerajaan Negeri Pontianak.

Pada tarikh 19 Safar 1223 H/16 April 1808 M, Pangeran Mangku Negara Syarif Husein bin al-Marhum Sultan Syarif Abdur Rahman dilantik menggantikan Syarif Qasim menjadi raja kerajaan negeri Mempawah.
Pada hari Khamis, pukul 9.00, tarikh 11 Muharram 1228 H/14 Januari 1813 M, Pangeran Syarif Husein kembali ke rahmatullah. Beliau diganti oleh Penembahan Anom, puteranya Penembahan Adi Wijaya, menjadi wakil memegang kuasa di dalam negeri Mempawah. Pada tahun 1241 H/ 1825 M, Penembahan Anom kembali ke rahmatullah. Pada tahun 1243 H/1828 M, Pangeran Adi Pati Geram menjadi wakil menggantikan memegang kuasanya di dalam negeri Mempawah berpangkat nama Penembahan.

Demikianlah riwayat yang saya ringkaskan dan ubah bahasa dari salah satu manuskrip yang berasal dari tulisan Syarif Abu Bakar bin Syarif Umar bin Sultan Utsman bin Sultan Syarif Abdur Rahman bin Habib Husein al-Qadri yang bertarikh 28 Rabiulakhir 1350 H/9 September 1931 M.

Manuskrip tersebut telah disalin oleh Sayid Alwi bin Sayid Ahmad bin Sayid Ismail al-Qadri. Tarikh salinan, 7 Jumadilakhir 1354 H/7 Ogos 1935 M. Saya, Wan Mohd. Shaghir Abdullah selesai mentransliterasi daripada Melayu/Jawi ke Latin/Rumi pada, 9 Muharram 1421 H/14 April 2000 M dan selanjutnya diubah bahasa dimuat dalam bahagian Agama, Utusan Malaysia, pada terbitan hari ini.