Kamis

Sekilas pandang Shahibur Ratib Imam Abdullah Al Haddad Mengenai dzikir


Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, Allah swt telah menjadikan kita sebagai seorang hamba yang selalu banyak berdzikir kepada-Nya. Dan menjadikan kita sebagai seorang hamba yang tidak dilalaikan oleh harta maupun keluarga dari berdzikir kepada-Nya. Sesungguhnya berdzikir kepada Allah adalah perkara yang paling mulia, juga merupakan sebaik-baik upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah di waktu pagi dan petang.”
Allah swt juga berfirman, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.”
Rasulullah saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku selalu bersama perasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Bila ia mengingat-Ku dalam dirinya (dalam keadaan sendiri), Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan bila ia mengingat-Ku di keramaian, Aku pun mengingatnya di keramaian yang lebih baik darinya. Dan apabila ia mendekati-Ku (taak kepada-Ku) sejengkal, niscaya Aku mendekatinya (merahmatinya) satu hasta, dan jika ia mendekati-Ku (taat kepada-Ku) satu hasta, niscaya Aku mendekatinya (merahmatinya) satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, nicsaya Aku mendatanginya dengan berlari’ ”
Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah, kuberitahukan kepada kalian sebaik-baik amal kalian, yang akan membersihkan (dosa-dosa) kalian di hadapan Raja kalian, yang akan mengangkat derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bersedekah emas dan harta, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kalian dan mereka menebas leher kalian, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian menebas leher musuh kalian.” Para sahabat berkata, “Silahkan.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “berdzikir kepada Allah.”
Rasulullah saw bersabda, “Tidak satu pun amal perbuatan anak cucu Adam yang dapat menyelamatkannya dari siksa Allah selain daripada dzikir kepada Allah.”
Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya berdzikir kepada Allah di waktu pagi dan petang adalah lebih baik daripada menghunus pedang di jalan Allah dan lebih baik daripada bersedekah harta yang mengalir tiada hentinya.”
Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir bagaikan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati, bagaikan pohon yang subur diantara pohon yang gersang. Dan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai bagaikan pejuang diantara orang-orang yang melarikan diri dari peperangan.”
Para ulama berkata, “Dzikir yang paling utama (sempurna) adalah dzikir dengan hati serta melafalkan dengan lisan secara bersamaan. Sedangkan dzikir dengan hati lebih baik daripada dzikir dengan lisan.”
Adapun makna dzikir dengan hati adalah sebagaimana bentuk dzikir secara lisan, yakni dengan cara melafalkan dan menghayati maknanya. Misalnya jika seseorang berdzikir mengucaokan la ilaha illallah dengan lisannya, maka hendaknya hati orang tersebut mengucapkan lafal yang sama. Bisa jadi makna dzikir dengan hati adalah menghayati makna dzikir yang diucapkan dengan lisan. Seperti jika seseorang berdzikir la ilaha illallah dengan lisan, hendaknya makna kalimat suci tersebut hadir dalam hatinya.
Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali berkata, “Dzikir memiliki empat tingkatan :
1. Dzikir hanya sebatas lisan saja
2. Dzikir lisan yang disertai hati namun dengan paksaan
3. Dzikir hati dan lisan dengan penuh penghayatan tanpa ada batas apa pun
4. Penghayatan dzikir dalam hati dan hanyut ke dalamnya
Tingkatan yang pertama sangat sedikit manfaatnya serta lemah pengaruhnya. Yakni lisannya berdzikir akantetapi hatinya lalai. Tanpa diragukan dzikir dengan lisan sedangkan hatinya lalai sangat sedikit manfaatnya, akantetapi lebih bagus daripada meninggalkan dzikir secara keseluruhan.
Salah seorang berkata kepada salah yang seorang yang bijak, “Sesungguhnya aku berdzikir kepada Allah, akantetapi aku tidak menghayatinya.” Orang bijak itu berkata, “Bersyukurlah kepada Allah yang telah memperindah salah satu dari anggota tubuhmu (lisan) untuk berdzikir kepada-Nya.”
Hendaknya seseorang yang berdzikir dengan lisan berusaha semampu mungkin untuk menghadirkan hatinya, sehingga keduanya dapat berjalan bersamaan secara paksaan pada mulanya. Kemudian hendaknya ia melakukannya secara rutin hingga hati pun kemudian dapat merasakan kelezatan dzikir dan pancaran cahayanya. Jika sudah demikian, maka hati akan hadir dengan sendirinya tanpa paksaan. Bahkan dapat menjadikan orang tersebut tidak sabar untuk selalu berdzikir dan jauh daripada kelalaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar