Rabu

Manaqib Al-Qutb Akwan Wa Gaustul Ibad Al-Fath Al-Kabir Al-Alimul Alamah Al-Arif Bilah As-syekh Al-Habib Muhammad Al-Aydrus




Allahumma Lakalhamdu Syukro, Wa lakalmannu Fadhla, Wa Anta Robbuna Haqqo, Wa Nahnu Abidika Riqqo

Dengan memuji kepada yang berhak mendapat Pujian , dalam segala Ke-Agungan yang senantiasa  berhiaskan kemilau Kebesaran, maka Wajiblah kita  selalu ber-syukur akan semua ini, tak lain hanyalah kepada Allah Robbun-Jalil, Sholawat dan Salam pun tak lupa pula kita panahkan kepada Jantung Hati Ke-Kasih yang dikasihi oleh sang Pengasih, yaitu Habibuna Wa Nabiyyuna Wa Syafi’una Muhammad SAW beserta para Shohabat, Keluarag serta  para pencinta beliau Ila Akhiriz-zaman. Yang mana dengan Kasih Sayang-nya pula kita selalu mendapat pantauan Rahmat oleh Sang Maha Pengasih.

Tidak ber-Iman seseorang apabila lalai dalam menjalankan praktek Syukur kepada Allah baik Syukur Bil Hal Bil Lisan maupun Bil Qolby. Dan Syukur pula merupakan salah satu jalan bagi para Penempuh dalam menggapai Tujuan Perjalanan seorang Salik.

Muhammad kecil yang elok.

Tak banyak diketahui oleh masyarakah Kalimantan khususnya di Kota Samarinda, bahwasanya puluhan tahun yang silam telah terlahir ke Alam yang fana ini seorang bayi yang elok perangainya, beberapa saat sebelum kelahiran-nya terdengar oleh ayahanda-nya akan suara bayi yang sedang mengucap Syahadat dan Sholawat yang Nampak kepada Allah dan Rosululloh , Gemuruh angin menyertai kelahirannya tanda suka cita-nya menyambut bayi tersebut, siapakah gerangan yang dimaksud ?

Terlahir dengan nama Muhammad itulah namanya, dalam darahnya telah mengalir darah Kakek-nya Muhammad SAW.  konon semenjak mengandung sang ibu selalu bermimpi akan kedatangan tamu yang menyatakan selamat lantaran melalui rahimnya akan lahir seorang bocah yang akan selalu menemani Sulthonul Awliya Syekh Abdul Qodir Jailani RA.

Semua bani Untsa (Manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fatimah, maka kepada akulah(Rasulullah SAW) bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (H.R. Tobroni).

Setelah beranjak besar, Muhammad mendapat gemblengan sang Ayah dalam menjalankan berbagai disiplin Ilmu. Ayahnya mendapatkan sebuah keganjilan pada saat mendidik Muhammad, keganjilan tersebut adalah terlihat sang ayah pada saat Muhammad selalu menangis pada malam hari, maka sang ayahpun menanyakan hal tersebut, dengan lugunya Muhammad membuka baju dan pada tengah dada Muhammad nampak sebuah Lafadz Allah yang sedang menyala nyala. Sang ayah pun dengan haru-nya mengusap dada Muhammad dengan Air Sholawat yang telah dibacakan oleh ayahnya, setelah dibasahi dengan air tersebut Subhanalloh Cahaya yang menghiasi Lafadz Allah tersebut menyebar ke seluruh tubuh hingga akhirnya Muhammad pun tertidur dengan pulasnya.
Setelah ayahnya mengetahui akan Ihwal anaknya tesebut, maka sang ayah menekankan agar jangan sesekali membuka baju walau panas bagaimana pun, sejak saat itu Muhammad selalu mengenakan pakaian agar menutup hal itu.

Keganjilan lainnya adalah mulai kecil Muhammad sudah mengalami Kasyf (terbuka tirai), pernah Muhammad mengatakan sesuatu hal yang akan terjadi kepada ayahnya, karena sang ayah mengerti maka dengan sigap  sang ayah menekankan lagi agar memperbanyak diam (menjaga lisan) agar tidak terjadinya fitnah.

Perjalanan Muhammad

Setelah genap dewasa Habib Muhammad pun selalu menjaga Lisan-nya, dalam suatu malam Muhammad melihat (secara bathin) akan datang sebuah pesiar besar lengkap dengan para penumpangnya yang terlihat menjemput Muhammad, nampak oleh beliau nama pesiar tersebut yaitu “ safinatul awliya” yang berarti kapal para wali. Hal itu terus berlangsung hingga beberapa tahun

Alkisah pada akhir dari perjalanan tersebut, maka tibalah Habib Muhammad dijemput kembali oleh Nabiyulloh Khidir AS. Untuk meneruskan jenjang pendidikan selanjutnya, hingga akhirnya Muhammad mendapatkan Amaliyyah Khusus (tharekat) dari Nabi Khidir tersebut.
Beliau selalu tawaduk, beliau selalu duduk di atas tanah dan senantiasa sujud sebagai rasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Beliau adalah seorang yang zuhud terhadap dunia dan menjauhi kepemimpinan. Beliau seorang yang sangat wara’ dan dermawan., seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya, serta seorang ahli zuhud. Beliau adalah seorang al-’arif billah, mempunyai maqam yang tinggi dan karomah yang luar biasa. Beliau banyak mendapatkan ilmu-ilmu laduniyyah dan asrar-ghaibiyyah. Beliau jika berkata terhadap sesuatu, “Kun (jadilah),” maka sesuatu itu jadi sebagaimana yang dikehendakinya dengan Idzin Allah.” Beliau dapat mendengar tasbih dari benda mati.i

Dengan idzin Nabi Khidir maka beliau mengajarkan kepada Murid Murid beliau, pada saat itu tak terhitung lagi banyaknya Murid beliau, Namun Hidayah Allah lah yang berbicara, dari sekian banyak Murid yang ada hanya beberapa yang berhasil dalam mengikuti beliau, diantara murid beliau yang berhasil adalah

1.       yang bergelar Syekh,
2.       Syekh Sayyid Muhammad Yusuf Al-Kaf,
3.       Syekh Sayyid Muhammad Thalhah Maulana Al-Kaf.

Karomah Muhammad

Karomah  pada masa hidup beliau

Pada masih kecil-nya Habib Muhammad pernah ditawan (diikat) oleh berandal yang nakal, namun dengan tenang   Muhammad berkata dengan ucapan dari Ayat Al-Qur’an maka berandal tersebut terkejut dan hampir gila. Lalu berandal itupun meminta maaf seraya membuka ikatan tersebut.

Lagi suatu ketika pada saat bermain layang layang, dan akhirnya layang layang Habib Muhammad tersangkut pada atap salah seorang warga setempat, berlahan Habib Muhammad tarik maka bergoyang pula rumah tersebut, tak lama kemudian sang empunya rumah keluar dan melihat Muhammad sedang menarik layang layang, tanpa pikir panjang sang empunya rumah tersebut lalu memohon agar jangan menarik kembali layang layang itu, karena apabila dilanjutkan rumah itu akan roboh ucap nya.

Habib Muhammad dapat mengetahui isi (kata hati ) seseorang.

Karomah sesudah wafat beliau

Pada Alam Ahli Wilayyah, Habib Muhammad selalu duduk didepan  menemani Sulthonul Awliya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani RA.

Sebagian para Ahli Wilayyah bermimpi bertemu Rosululloh SAW dan beliau memuji Habib Muhammad dengan ucapan :

-ini anak-ku
-ini ahli waris-ku
-ini darah daging-ku
-ini pewaris sunah-ku
-orang besar akan mengambil ijazah tharekat kepada –nya.

Pada saat murid beliau men-copy foto beliau berulang kali hasilnya Nihil, namum salah seorang dari murid berliau ber-Tawassul serta mohon idzin akhirnya dapatlah foto itu ter-copy.

Silsilah Tharekat beliau ringkas namun lurus.

Jama’ah Ahli Wilayyah berkata : ‘ Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, kedudukan dan rahasia al-faqih al-muqaddam ada pada beliau’. Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat, dan perkataannya obat penawar yang mujarrab’.


Wafat Habib Muhammad

Habib Muhammad wafat di Samarinda pada era 80 an dan bermakam pada Kuburan Muslimin.
Semoga Ruh beliau selalu bersama Allah, dan apa apa yang ditinggalkan beliau selalu menaungi Umat Islam.

Amin

DO’A

ASSALAMU’ALAIKA AYYUHANNABIYU WA ROHMATULLOHI WA BAROKATUH
ASSALAMU’ALAIKUM NABIYULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YA MALAIKATULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA WALIYULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA ALIMULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA AULIYA’ULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA HABIBULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA ULAMA’ULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA BI-IDZNILLAH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA HIDAYATULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA ROHMATULLOH
ASSALAMU`ALAIKUM YAA ROHMANULLOH
ASSALAMU’ALAIKUM YAA RIDHO -LLOH

ASH-SHOLATU WASSALAMU ALAIKA YAA SAYYIDI YA SYAIKHONA  ABDIL QODIRIL AL-JAILANII MAHBUUBULLOHI ANTA SHOOHIBUL IJAAZATI IJAAZATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN IJAAZATULLOHI ANTA SHOOHIBUL KAROOMATI KAROOMATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN KAROOMATULLOHI ANTA SHOOKHIBUSY-SYAFAA-ATI SYAFAA-ATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN SYAFAA-ATULLOHI. YAA SYAIKHO ABDAL QOODIRIL JAILANII AGHISTNII AGHISTNII AGHISTNII SYARII-AN BI-IZZATILLAHI.

ASH-SHOLATU WASSALAMU ALAIKA YAA SAYYIDII YAA HABIB MUHAMMAD AL-AYDRUS MAHBUUBULLOHI ANTA SHOOHIBUL IJAAZATI IJAAZATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN IJAAZATULLOHI ANTA SHOOHIBUL KAROOMATI KAROOMATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN KAROOMATULLOHI ANTA SHOOKHIBUSY-SYAFAA-ATI SYAFAA-ATA MUHAMMADIN MUHAMMADUN SYAFAA-ATULLOHI. YAA SYAIKHO HABIB MUHAMMAD AL-AYDRUS  AGHISTNII AGHISTNII AGHISTNII SYARII-AN BI-IZZATILLAHI.

ALLOHUMMA YAA ALLOH YAA ROHMAN  YAA ROHIM, BIROHMATIKA WASYAFAA-ATI ROSULIKA MUHAMMADIN SAW WAKAROMAATI SYAIKHI ABDIL QODIRIL JII-LANII WA HABIB MUHAMMAD AL-AYDRUS  IRHAMNAA WARHAM WAWALIDIINAA WA AULADANAA WA AHLANAA WA JAMI-ATANAA WA MASYAYIKHINA  WA TALAMIIDZANAA WA MAN AHSANA ILAINAA FIIKA ROHMATA TUGHNII-NAA AMMAN SIWAK.

YAA ALLOHU YAA TAWWAB  YAA GHOFFAR BIFADHLIKA WA SYAFAA-ATI ROSULIKA MUHAMMAD SAW WA KAROMAATI SYAIKHI ABDIL QODIRIL JIILANII  WA HABIB MUHAMMAD AL-AYDRUS  IGHFIRLANAA WA WALIDIINAA WA AULADINAA WA AHLINAA WA JAMAA-ATINAA WA MASYAYIIKHINAA WA TALAMIIDINAA WA MAN AHSANA ILAINA FIIKA, WAGHFIR LIL MUSLIMIINA WAL MUSLIMAATI WAL MU`MINIINA WAL MU`MINAATI AL AHYAA-I MINHUM WAL AMWAAT, INNAKA ANTAT TAWWABUR ROHIIM.

ROBBANA ATINA FIDDUNYA KHASANAH, WA FIL AKHIROTI KHASANATAW WA QINA ADZABBANNAR, SUBKHANAKA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI ‘AMMA YASHIFUUN WA SALAMUN ‘ALAL MURSALIINA. WAL HAMDULILLAHIR ROBBIL ‘AALAMIIN.

Senin

Para Wali Melindungi dan Mengawasi Setiap Orang

Untuk melindungi mahluk-Nya dari masalah, Allah SWT mengutus para nabi untuk membawa orang-orang itu dibawah sayap-sayap mereka. Dan setelah Nabi Muhammad SAW, tidak ada lagi nabi. Dia adalah Nabi Terakhir. Dia memberikan kekuatan itu sebagai warisan kepada para wali; karenanya, walaupun kita hidup di suatu masa dimana tidak ada seorang nabi baru yang dilahirkan, para wali dilahirkan untuk melanjutkan ajaran para nabi.

Ada wali-wali atau orang-orang saleh untuk orang Islam, dan ada juga orang suci untuk orang non Islam. Jangan pernah berpikir bahwa Allah akan meninggalkan orang-orang non Islam. Jangan! Semoga Allah mengampuni kita. Ini tidak mungkin. Allah yang Maha Besar tidak akan mengijinkan. Allah memberi perintah dan ijin kepada Sayyidina Muhammad SAW, yang mewariskan statusnya sebagai pelindung kepada wali-wali tingkat tinggi, untuk membawa kedua-duanya, orang-orang Islam dan masyarakat non Islam dibawah sayap mereka.

Jika kalian pergi kesuatu samudera atau suatu kolam renang, dan kalian mempunyai seorang anak yang tidak mengetahui caranya berenang, akankah kalian menyuruhnya berdiri lalu mendorongnya kedalam air, dan mengatakan kepadanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Bagaimana dia akan menyelamatkan diri? Dia akan tenggelam. Kita semua adalah anak-anak dihadapan Kebesaran Allah. Jadi, apakah kalian berpikir bahwa Allah akan meletakan kita didepan lautan atau kolam renang, mendorong kita kedalamnya, dan berkata, “Oh! Kamu harus menyelamatkan dirimu sendiri!”

Bagaimana kita bisa menyelamatkan diri kita? Keinginan jelek dari ego selalu menyerang kita. Setan juga menyerang kita. Bagaimana kita bisa menyelamatkan diri? Karena itulah mengapa Allah mengirimkan utusan-Nya, untuk mengajari kita bagaimana menyelamatkan diri. Dan jika kita tidak mampu menyelamatkan diri, apa yang akan mereka lakukan ketika seseorang terjatuh kedalam lautan atau kolam renang, apakah membiarkan orang itu berjuang sendiri dan tidak ada seorangpun datang menyelamatkannya? Apa yang akan terjadi?

Ketika paramedis datang apa yang mereka lakukan? Mereka menariknya keluar dan melakukan CPR. Mereka memberinya nafas buatan dan mengeluarkan air dari paru-parunya. Apakah kalian pikir para wali tidak dapat melakukan hal seperti itu, untuk orang-orang beriman dan orang-orang yang tidak beriman? Kalian pikir mereka tidak mengawasi orang-orang dan menyelamatkan mereka.

Semua orang di bumi ini diawasi atau dimonitor – jika hari ini semua orang diawasi oleh tehnologi modern, lalu apakah kalian pikir Tuhan tidak sedang mengawasi kita dan memberi kuasa kepada Rasulullah SAW, dan dari Rasulullah SAW kepada para wali untuk menyelamatkan orang? Untuk melakukan CPR terhadap mereka ketika perlu, atau membuat kejutan elektrik pada jantung mereka untuk menyadarkan mereka dan membuat mereka kembali sadar?

Pengawasan dan penyadaran itu pasti terjadi. Tetapi kita seperti orang-orang yang dibius, tidak sadar akan apa yang sedang dilakukan para wali pada hati kita. Mereka bekerja siang dan malam pada layar besar itu. Setiap rombongan ada disana. Setiap manusia ada dilayar itu. Kemudian, alat pencatat tingkah laku setiap orang muncul. Siapa yang diatas, siapa yang dibawah?

Dari hari pertama hingga hari terakhir kehidupanmu, mereka memeriksa tabel kalian! Apakah tabel itu sedang naik, sedang menurun atau melompat naik dan turun. Tanggung jawab untuk mengawasi diberikan kepada Nabi SAW, yang meminta beberapa penolong. Maka Allah SWT memberinya para penolong dan ahli waris untuk rahasia itu – Para Sahabat, lalu para wali, dan kemudian kepada murid-murid mereka.1

Saat ini, kalian akan menemui banyak orang yang akan berkata, “Aku milik syaikh ini atau syaikh itu atau syaikh itu.” Baiklah, untuk mengatakan hal seperti itu, tetapi mungkin syaikh itu tidak membawa rahasia. Rahasia tidaklah sederhana, dan tidaklah mudah. Ada banyak syaikh saat ini yang mengakui bahwa mereka memiliki kuasa, lalu para pengikut mereka tersesat. Ini adalah pemberian dan tanggung jawab yang mengagumkan, memiliki kekuatan dari Nabi SAW untuk mengawasi atau memonitor layar besar itu, untuk setiap orang yang telah ditentukan untukmu sebagai pengikut – untuk melihat apa yang dia lakukan setiap hari, dan mencoba untuk menjaganya tetap berada digaris kemenangan, bukan garis kegagalan. Ini merupakan sebuah tugas besar bagi seorang syaikh untuk memelihara para pengikutnya.

Grandsyaikh berkata bahwa tubuh manusia mempunyai 366 titik tekanan. Ketika murid-murid mereka membutuhkan pertolongan atau penyembuhan, dan ketika mereka diberikan ijin. Ini berlaku terutama pada Naqshbandi, yang tidak selalu menunjukan keajaiban kecuali dengan cara tersembunyi. Para wali bisa dengan mudah menekan titik-titik dan mengirimkan energi dari tangan mereka. Ini akan mengirim energi dan menghidupkan serta meremajakan lagi seluruh organ yang sakit, dengan tujuan agar organ itu bisa bergerak dan berfungsi secara normal. Aku akan mendiskusikan poin-poin ini secara lebih rinci nanti.

Sebagai malaikat-malaikat yang bertanggung jawab untuk para pengikut mereka, para wali diberikan ijin oleh Nabi SAW untuk melihat dan mengawasi para pengikut mereka pada layar besar ini. Setiap pengikut mempunyai layar seperti itu, dan setiap orang dari mereka seperti sebuah pabrik atau perusahaan lengkap yang naik dan turun. Masing-masing tindakan individu akan ditempatkan pada layar itu setiap hari. Dan syaikh mengawasinya. Karena syaikh mengawasi kegiatan harian mereka – dia mungkin akan campur tangan ketika melihat sesuatu yang salah – memotivasi murid untuk kembali kepada kebenaran.

Syaikh bisa menciptakan sebuah perjuangan atau konflik untuk muridnya di kehidupannya, dan kemudian mengawasinya untuk melihat apakah dia marah atau tidak. Jika kalian tidak marah dan sabar, dengan segera mereka bisa tidak memperhatikan tindakan tidak baikmu; lalu tabelmu akan naik lebih tinggi – petunjuk akan muncul kembali.

Wa min Allah at Tawfiq

INTI PADA THAREKAT

1. Guru atau Mursyid
Syeikh atau guru mempunyai kedudukan yang penting dalam
Tariqah. Ia juga sering dikenali dengan panggilan Mursyid (yang
memberi petunjuk). Seorang guru tidak sahaja merupakan seorang
pemimpin yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupanzahir dan pergaulan sehari-hari, agar tidak menyimpang daripadaajaran-ajaran Islam dan terjerumus kepada perbuatan maksiat, berbuat dosa besar atau kecil, yang segera harus ditegurinya.
Akan tetapi peranannya juga lebih dari itu, adalah sebagai
pemimpin kerohanian yang tinggi sekali kedudukannya dalam Tariqah. Ia merupakan perantaraan dalam ibadah antara murid dan Tuhannya. Ini dikaitkan dengan peranan Rasulullah saw didalam membimbing para sahabat menuju kepada penghambaan
kepada Allah.
Seorang syeikh dalam Tariqah membimbing muridnya dengan
memberikan pengajaran zikrullah melalui proses Bai’ah (perjanjian).
Dan kedudukan syeikh itu haruslah bersilsilah dengan para gurunya
pula di mana dia memperolehi ajaran Tariqah tersebut.
Oleh kerana itu jabatan ini tidaklah dapat dipangku oleh or-
ang sembarangan walaupun ia mempunyai pengetahuan yang
lengkap tentang Tariqah. Di samping menerima ijazah dari guru
sebelumnya sebagai penerus pemimpin tariqah, seorang syeikh itu
haruslah mempunyai kebersihan rohani dan kehidupan bathin
yang murni. Berbagai-bagai jolokan nama yang tinggi diberikan
kepadanya menurut kedudukannya. Antaranya:

Mursyid
Orang yang memberikan petunjuk (Irsyad)
Sheikh
Nama yang sering dikaitkan sebagai guru, ketua
atau pemimpin
Murabbi
Orang yang mengajarkan ilmu pendidikan (tarbiah)
Maulana
Gelaran ‘tuan’ guru yang sudah mencapai darjat
tinggi
Mua’allim
Guru yang memberikan ilmu
Mudarris
Pengajar atau pengurus satu pengajian
Muaddib
Guru yang mengajar adab atau tatasusila.
Manusia dipanggil ‘adib’ dalam hubungan dengan
Khaliq (Penciptanya)
Kandungan
Page 17
Mengenal Tasawuf dan Tarekat
188
Ustaz
Gelaran biasa bagi seorang guru. Ia lazim sekali
digunakan dalam rantau sebelah sini, terutama di
Singapura, Malaysia dan Brunei. Tetapi di Indone-
sia sering ustaz itu dipanggil kiyai.
Nussak
Orang yang mengerjakan segala amal dan perintah
agama
Ubbad
Orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala
ibadah
Imam
Pemimpin bukan sahaja dalam soal ibadah, bahkan
juga dalam sesuatu aliran keyakinan
Sadah
Bererti Penghulu. Gelaran ini juga kadangkala
diberikan kepada seorang guru sebagai
penghormatan atau orang yang dihormati dan
diberi kuasa yang penuh.

2. Murid atau Salik
Pengikut sesuatu tariqah itu dinamakan murid, iaitu orang
yang menghendaki pengetahuan dalam segala amal ibadahnya.
Murid itu terdiri dari lelaki dan perempuan, tua mahupun muda.
Dalam tariqah, seorang murid itu tidak hanya berkewajipan
mempelajari segala sesuatu yang diajarkan atau melakukan segala
sesuatu yang dilatihkan guru kepadanya yang merupakan pokok
asal dari ajaran-ajaran sesuatu Tariqah. Bahkan ia harus patuh
dan beradab kepada syeikhnya, dirinya sendiri mahupun terhadap
saudara-saudaranya setariqah serta orang Islam yang lain. Segala
sesuatu yang bertalian dengan itu, diperhatikan dengan sungguh-
sungguh oleh Mursyid sesuatu tariqah, kerana kepada
keperibadian murid-muridnya itulah bergantung yang terutama
berhasil atau tidak perjalanan suluk tariqah yang ditempuhnya.
Pelajaran-pelajaran kesufian dan latihan-latihan tariqah itu akan
kurang faedahnya, jika ianya tidak meninggalkan perubahan budi
pekerti dan peningkatan amaliah murid-murid itu.

3. Talqin dan Bai’ah
Talqin dalam istilah Tasawuf adalah pengajaran dan
peringatan yang diberikan oleh seorang Mursyid kepada muridnya
yang hendak mempelajari beramal mengikut perjalanan
tariqahnya. Manakala Bai’ah pula bererti perjanjian (‘ahad)
kesanggupan kesetiaan seorang murid di hadapan gurunya untuk
mengamal dan mengerjakan segala amalan dan kebajikan yang
diperintahkan oleh gurunya.
Talqin dan bai’ah dalam perlaksanaan adalah sesuatu yang
asas dan menjadi pokok pengamalan dalam tariqah. Seorang
murid sebelum mengamal, terlebih dahulu harus mendapatkan
Bai’ah dan berjanji dengan gurunya dengan penuh kesetiaan.
Dengan menjalani proses perjanjian ini, ia akan dapat
memberi kesan yang mendalam kepada orang yang menerima
pengajaran itu dan dapat menguatkan tali ikatan perguruan dan
persaudaraan kukuh yang tidak akan putus antara seorang murid
dan gurunya juga meninggalkan pengertian yang sangat mendalam
dan cara-cara serta adab yang akan ditinggalkan dalam ingatan
kedua belah pihak.
Kebiasaannya, seorang Syeikh atau Mursyid akan
memberikan pengajaran Zikrullah kepada muridnya sebagai
amalan pokok dalam tariqah. Zikrullah yang diajarkan berupa
kalimah Tauhid ‘La Ilaha Illallah’ diajarkan kepada murid dengan
cara pengamalan yang khusus, terutama melafazkan kalimah ini
dengan lafaz yang bersuara dan juga di dalam hati.
Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayidina
Abu Bakar As Siddiq ra dan Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra
daripada Rasulullah saw sehingga melaksanakan zikir dengan
kalimah ini dapat meresap teguh sampai ke dalam hati. Terdapat
banyak hadis yang menerangkan peristiwa Nabi Muhammad saw
mengambil ‘ahad (perjanjian) pada waktu membai’atkan para
sahabatnya, secara perseorangan dan berjamaah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tabrani dari Syaddad Bin Aus
bahawa Rasulullah saw pernah mentalkin sahabat-sahabat beliau
secara berjamaah dan perseorangan. Pada suatu hari ketika kami berada
dekat Nabi saw dan beliau bersabda, “Adakah di antara kamu orang
asing?” (yakni Ahli Kitab). Maka saya menjawab: ‘Tidak ada’. Lalu
Rasulullah saw berkata, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La
Ilaha Illallah”. Lantas beliau menyambung, “Segala puji bagi Allah
wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimah ini dan
Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan
bahawa Engkau tidak sekali-kali memungkiri janji”. Kemudian beliau
bertanya: “Ketahuilah, gembiralah. Sesungguhnya Allah swt telah
mengampuni kamu sekelian.”
Terdapat juga sesetengah kumpulan tariqah yang menjalankan
proses perjanjian dan talqin dengan cara yang berlainan iaitu
dengan Wasiat, Ijazah dan Khirqah.
Ijazah dan Wasiatmerupakan kekuasaan seorang guru dalam
bentuk surat keterangan yang memberi kekuasaan kepada seorang
murid untuk mengamalkan sesuatu atau selanjutnya mengajarkan
pengamalan tariqah itu kepada orang lain.
Manakala Khirqah pula berupa sepotong kain atau pakaian
yang pada kebiasaannya dari bekas pakaian seorang guru yang
diberikan kepada murid atau memakainya sebagai mengikat ikatan
perguruan dalam pengamalan tariqah. Ini akan menghasilkan
keberkahan dan dianggap suci dan menjadi kenang-kenangan bagi
seorang murid.

4. Silsilah
Silsilah bagi seorang Syeikh atau Mursyid merupakan sesuatu
yang penting untuk mengajar dan memimpin sesuatu tariqah.
Mereka yang menggabung diri kepada sesuatu tariqah, hendaklah
mengetahui benar-benar nisbah atau hubungan guru-gurunya yang
sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi
Muhammad saw. Ini dianggap perlu dan sesuatu yang darurat
kerana ia memberikan petunjuk kepada seorang murid.

Bantuan kerohanian yang diambil guru-gurunya itu harus benar, dan jika
tidak berhubungan sampai kepada Nabi Muhammad saw, maka
bantuan itu dianggap terputus dan tidak merupakan warisan
daripada Nabi saw. Seorang murid dalam tariqah hanya membuat
perjanjian dengan gurunya dan tidak menerima Bai’ah, Talqin,
Ijazah, Wasiat atau Khirqah tanda kesanggupan dan kesetiaan,
kecuali kepada Mursyid yang mempunyai silsilah yang baik dan
benar.
Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang panjang
yang satu bertalian dengan yang lain, dari kedudukan Mursyid
hingga kepada Rasulullah saw. Barangsiapa yang tidak ada
hubungan dengan Nabi sawia dianggap terputus limpahan cahaya
dan tidak menjadi waris Rasulullah saw. Orang yang demikian
tidak dibolehkan mengambil Bai’ah daripadanya dan ia tidak boleh
memberi atau diberi Ijazah. Barangsiapa yang mengamalkan
tariqah tetapi tidak mengenal nenek moyangnya (silsilah) dari
para Masyaikh, ia ditolak dan tidak diakui.
Setiap orang yang tidak mempunyai syeikh (Mursyid) yang
memberi bimbingan kepada jalan keluar dari sifat sifat tercela,
maka dia dianggap maksiat kepada Allah dan RasulNya kerana
dia tidak dapat petunjuk mengenai jalan mengubatinya.
Walaupun ia mengamalkan segala perkara yang bersifat aktif
ataupun menghafal seribu buku tidaklah bermanfaat dengan tidak
berguru atau mempunyai Syeikh.

SIFAT ALLAH

Sifat - sifat Allah yang wajib dikenali ada 20 yaitu:

1. Wujud, artinya ada. Sifat mustahilnya 'Adam, artinya tidak ada.

Tidak mudah untuk membuktikan bahwa ALLAH itu ada, kecuali bagi orang-orang yang beriman.
Memang kita tidak dapat melihat wujud ALLAH secara langsung, tetapi dengan menggunakan akal, kita dapat menyaksikan ciptaan-Nya. Alam semesta ini. Darimana alam semesta ini berasal? Pastilah ada yang menciptakannya. Siapakah Dia yang Maha Agung itu?
Dialah ALLAH SWT (Maha Suci dan Maha Tinggi). Dialah yang mengadakan segala sesuatu dan Dia pulalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk diri kita.

Sesungguhnya Rabb kamu ialah ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak ALLAH. Maha suci ALLAH, Rabb semesta alam. (QS. Al-A'râf: 54)

2. Qidam, artinya dahulu atau awal. Sifat mustahilnya Hudûs, artinya baru.

Maksudnya, adanya ALLAH adalah yang paling awal sebelum adanya alam semesta ini. Adanya ALLAH berbeda dengan adanya alam semesta beserta isinya. Perbedaan tsb terdapat pada kejadian dan prosesnya.
Kita ambil contoh: Adanya hujan didahului oleh terjadinya penguapan air laut.
Terjadinya pemuaian logam didahului oleh adanya panas.
Berbeda dengan alam semesta ini, adanya ALLAH tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu, karena ALLAH zat yang paling awal. ALLAH adalah pencipta alam semesta, tidak mungkin hasil ciptaan lebih dulu ada dari Sang Penciptanya.

Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadîd: 3)

3. Baqa', artinya kekal. Sifat mustahilnya Fana, artinya rusak.

Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik itu manusia, binatang, tumbuhan, planet, bintang, bulan, dll, suatu saat akan mengalami kerusakan dan akhirnya mengalami kehancuran. Manusia, betapa pun gagah perkasa dirinya, suatu saat pasti mati.
Apapun wujudnya, seluruh ciptaan ALLAH di dunia ini akan mengalami kerusakan. Hanya ALLAH SWT, Sang Pencipta, yang tidak akan rusak dan hancur, karena ALLAH bersifat kekal.

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahmân: 26-27)

Sungguh, betapa hina dan lemahnya kita di hadapan ALLAH, betapa tidak patutnya kita berbangga diri dengan kehebatan kita, karena segala kehebatan itu hanyalah sementara. Kelak semua akan berakhir, yang tersisa hanyalah amalan kita. Oleh sebab itu perbanyaklah amal selagi kita masih diberi kelapangan waktu di dunia ini. Dan bertaubatlah dengan kesalahan-kesalahan kita selagi kematian belum menghampiri kita.
4. Mukhalafatuhu lil hawadits, artinya berbeda dengan ciptaannya. Sifat mustahilnya Mumatsalatuhu lil hawadits, artinya serupa dengan ciptaannya.

Sifat ini menjelaskan bahwa ALLAH berbeda dengan hasil ciptaan-Nya.
Coba kita gunakan analogi, pelukis dengan lukisannya, pembuat patung dengan patung karyanya, apakah ada kesamaan antara pencipta dengan hasil ciptaannya? tentu tidak bukan? Bahkan robot yang paling canggih dan mirip dengan manusia sekalipun tidak akan sama dengan manusia penciptanya.
Begitulah ALLAH, Sang Pencipta, sudah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya.

... Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syûra: 11)

Dengan memahami sifat ALLAH ini, semoga kita tidak akan terjebak pada perbuatan takhyul dan syirik, yaitu menyembah selain ALLAH atau menyekutukan ALLAH. Tak ada suatu pun selain ALLAH yang pantas disembah. Menyembah selain ALLAH adalah perbuatan yang hina dan merendahkan martabat manusia sendiri.
5. Qiyamuhu binafsihi, artinya berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan yang lain. Sifat mustahilnya Ihtiyaju lighairihi, artinya berdiri dengan bantuan yang lain.

Keberadaan makhluk ALLAH, tidak lepas dari bantuan yang lain. Manusia lahir karena ada kedua orangtuanya, tumbuh dan berkembang karena dipelihara dan dirawat oleh orangtuanya. Bahkan setelah besar pun, manusia tetap tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali-Imran: 2)

Sadarlah kita, bahwa ternyata kita ini makhluk yang sangat lemah, karena tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Semoga kita pun menyadari pentingnya berbuat kebajikan dengan sesama. Karena itu sungguh tepat jika ALLAH memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa.

... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Mâidah: 2)

6. Wahdaniyyah, artinya esa atau tunggal. Sifat mustahilnya Ta'addud, artinya berbilang atau lebih dari satu.

Keesaan ALLAH itu mutlak. Artinya keesaan ALLAH meliputi zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Meyakini keesaan ALLAH, merupakan hal yang sangat prinsipil, sehingga seseorang dianggap muslim atau tidak, tergantung pada pengakuan tentang keesaan ALLAH. Ini bisa kita lihat bahwa untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus bersaksi terhadap keesaan ALLAH, yaitu dengan membaca syahadat tauhid yang berbunyi Aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAH. Meyakini keesaan ALLAH juga merupakan inti ajaran para nabi, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.

Mustahil ALLAH lebih dari satu. Apabila itu terjadi, tentulah tidak akan tercipta alam semesta yang teratur ini. Keteraturan alam semesta telah membuktikan pada kita bahwa ALLAH itu Tunggal.

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS. Al-Anbiyâ: 22)

Dengan menghayati sifat wahdaniyyah ini, kita akan terhindar dari berbagai paham ketuhanan. Ada 2 macam paham ketuhanan, yaitu monoteisme dan politeisme. Monoteisme menyatakan bahwa Tuhan adalah satu, sedang politeisme menyatakan bahwa tuhan lebih dari satu. Agama-agama yang memiliki kepercayaan banyak dewa dan dewi yang mengatur alam semesta ini, adalah salah satu contoh paham politeisme.
Islam adalah agama yang mengakui paham monoteisme secara mutlak. Tuhan dalam Islam hanyalah ALLAH, Pencipta dan Pengatur Alam Raya beserta isinya.
7. Qudrah, artinya berkuasa. Sifat mustahilnya 'Ajzun, artinya lemah.

Kekuasaan ALLAH adalah kekuasaan yang sempurna, karena kekuasaan ALLAH tidak terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Bagi ALLAH, jika ALLAH telah berkehendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, maka tidak ada suatu pun yang dapat menghalangi-Nya.

... Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20)

Sungguh tidak patut kita sebagai manusia bersifat sombong dengan kekuasaan yang kita miliki, karena sebesar apa pun kekuasaan kita, kekuasaan ALLAH pasti lebih besar, dan yang Terbesar. Jika ALLAH berkehendak, Dia dapat menghilangkan kekuasaan kita dalam sekejap, dan kita tak akan berdaya untuk mempertahankannya.
8. Iradah, artinya berkehendak. Sifat mustahilnya Karahah, artinya terpaksa.

ALLAH memiliki sifat selalu berkehendak. Kehendak ALLAH sesuai kemauan ALLAH sendiri, tak ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Kehendak ALLAH juga tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Kehendak ALLAH tidak terbatas, karena Ia dapat melakukan apa saja tanpa ada kuasa lain yang dapat mencegah-Nya.
Manusia juga berkehendak, tapi kehendak manusia adalah terbatas pada kemampuannya sendiri.
* Manusia boleh berkehendak, namun ALLAH jualah yang menentukan hasilnya.
* Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.
* Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga.
* Di atas langit masih ada langit.

Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedang ALLAH memiliki segala kehendak yang tidak terbatas. Meskipun demikian, ALLAH memberi kebebasan pada manusia untuk berusaha dan berkehendak, namun semua terpulang pada kehendak ALLAH dan kita harus berserah diri menerima apapun hasilnya.
9. Ilmu, artinya mengetahui. Sifat mustahilnya Jahlun, artinya bodoh.

Segala yang ada di alam raya ini, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun yang tersembunyi, tidak ada yang luput dari pengetahuan ALLAH. ALLAH Maha Luas ilmunya, begitu luasnya ilmu ALLAH sehingga jika seluruh air di lautan ini dijadikan tinta dan seluruh pohon dijadikan alat tulisnya, tak akan mampu menuliskan ilmu ALLAH.

Kita sering kagum atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia ini. Kita takjub akan indahnya karya dan canggihnya teknologi yang diciptakan manusia.
Sadarkah kita, bahwa ilmu yang kita saksikan itu hanyalah sebagian kecil saja yang diberikan ALLAH pada otak kita?

Sungguh, ilmu ALLAH jauh melampaui semua itu, begitu tingginya ilmu ALLAH sehingga terkadang kita tak mampu untuk mengikuti dan memahaminya.

Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hujurât: 16)

Semoga dengan memahami sifat ilmu ini, kita sebagai hamba akan terdorong untuk terus menimba ilmu, selagi kita hidup, karena kita sadar bahwa sebanyak apapun ilmu yang telah kita ketahui, masih lebih banyak lagi ilmu yang belum kita diketahui. Semakin banyak ilmu kita, mudah-mudahan juga menambah rasa kagum dan syukur kita kepada ALLAH. Betapa hebatnya Ia, betapa tinggi ilmu-Nya, dan betapa kepandaian kita ini belum apa-apa dibandingkan dengan kepandaian ALLAH.
10. Hayat, artinya hidup. Sifat mustahilnya Mautun, artinya mati.

Hidupnya ALLAH berbeda dengan hidupnya manusia. Perbedaan itu antara lain dapat kita lihat bahwa ALLAH hidup tanpa ada yang menghidupkan. Manusia dan makhluk hidup lain hidup karena dihidupkan oleh ALLAH SWT.
ALLAH hidup tidak bergantung dengan yang lain, sedang manusia hidupnya sangat bergantung dengan yang lain.
ALLAH hidup selama-lamanya, tidak mengalami kematian, bahkan mengantuk pun tidak. Manusia suatu saat pasti akan mengalami mati.

ALLAH tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur... Al-Baqarah: 255

ALLAH Maha Hidup, tidak mengantuk, tidak tidur, apalagi mati. Dan selama itu pula ALLAH selalu mengurus dan mengawasi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu berhati-hati dalam segala tindakan, karena gerak-gerik kita selalu diawasi dan dicatat oleh ALLAH, tak ada yang terlewatkan. Kelak di akhirat seluruh amalan tsb harus kita pertanggungjawabkan.
11. Sam'un, artinya mendengar. Sifat mustahilnya Samamum, artinya tuli.

ALLAH Maha Mendengar. Pendengaran ALLAH tidak terbatas dan tidak terhalang oleh jarak, ruang, dan waktu. Selemah apa pun suara, ALLAH mendengarnya. Berbeda dengan manusia, pendengarannya sangat terbatas. Meski saat ini teknologi manusia sudah maju, untuk mendengar suara jarak jauh sudah bisa diatasi dengan media elektronik, namun jangkauannya tetap masih terbatas. Suara bisikan, suara yang terhalang oleh benda-benda tertentu, tetap tidak bisa kita dengarkan. Pendengaran manusia juga mengalami penurunan seiring dengan semakin tuanya kita.

Tapi pendengaran ALLAH tidak demikian. ALLAH bisa mendengar suara yang sehalus apapun tanpa memerlukan alat bantu apapun. Pendengaran ALLAH tidak akan melemah sampai kapanpun.

...Dan ALLAH-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mâidah: 76)

Dengan menyadari sifat sam'un ALLAH ini, semestinyalah kita senantiasa bertingkah laku, bersikap, berbicara, dan berpikir dengan bahasa yang santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Karena ALLAH selalu mendengar segala perkataan manusia, baik yang terucap maupun hanya sekedar bisikan di dalam hati.
12. Basar, artinya melihat. Sifat mustahilnya 'Ama, artinya buta.

Mustahil ALLAH buta, karena ALLAH Maha sempurna, termasuk sempurna penglihatan-Nya. Penglihatan ALLAH bersifat mutlak, tidak terhalang oleh apa pun. ALLAH melihat segala sesuatu, baik yang besar dan kecil, yang nampak dan tersembunyi. Penglihatan ALLAH bersifat terus-menerus, ALLAH tidak pernah lalai walau sedetik pun dari melihat segala perbuatan kita.

Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurât: 18)

Dengan memahami sifat basar ALLAH ini, hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita sadar bahwa kita tidak bisa membohongi atau menyembunyikan kebohongan apa pun di hadapan ALLAH. Kepada manusia kita bisa berbohong, tapi tidak terhadap ALLAH, karena ALLAH melihat segala perbuatan kita.
Kelak di kemudian hari akan ditampakkan segala perbuatan dan kebohongan yang kita sembunyikan. Oleh sebab itu berbuat baiklah selalu, supaya kita tidak perlu merasa takut dan cemas jika suatu saat seluruh perbuatan kita akan disaksikan dan dimintakan pertanggujawabannya.
13. Kalam, artinya berkata atau berfirman. Sifat mustahilnya Bukmum, artinya bisu.

Bukti ALLAH bersifat kalam dapat kita lihat dari kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya.
Al-Quran yang sering kita baca dan kita lafadzkan setiap hari, adalah firman ALLAH yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

...Dan ALLAH telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisâ: 164)

Adanya firman ALLAH menjadi bukti bagi kita bahwa ALLAH memperhatikan kita sebagai hamba-Nya. Dengan perantara nabi dan rasul, ALLAH membimbing manusia untuk melakukan amal saleh sesuai yang diajarkan dalam kitab ALLAH.
Dari firman ALLAH juga, kita dapat mengetahui sejarah dan kisah umat-umat terdahulu, sehingga kita dapat mengambil hikmah, mengikuti yang haq dan meninggalkan yang bathil.

AS-SAB'UL MATSANY & 4 WALI QUTB

Suatu ketika Rasulullah saw. mengadu kepada Tuhan: “Aku akan meninggalkan dunia ini, Aku akan meninggalkan umatku. Siapakah yang akan menuntun mereka setelahku? Bagaimana nasib mereka sesudahku?”, Allah lalu menurunkan firman-Nya :

" وآتيناك سبعا من المثاني والقرآن العظيم "

Jangan khawatir, Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung. Dengan keduanya maka umat islam sesudahmu akan selamat dari kesesatan (bila mereka berpegang kepadanya).

Assab’ul-matsani dan al-Qur’an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasul tenang meninggalkan umat. Apakah Assab’ul-matsani itu? dan apakah al-Qur’an itu? Mungkin semua kita tahu apa itu al-Qur’an, sebuah kitab suci yang mengandung tuntunan-tuntunan Tuhan kepada para hamba-Nya, yang tentunya bila diamalkan dengan baik maka selamatlah kita.

Namun tentunya Qur’an saja tidak akan cukup? Lalu bagaimana dengan Assab’ul-matsani? apakah semua kita mengetahuinya? dan sudahkah kita mengamalkannya atau berpegang kepadanya? Dan mengapa Assab’ul-matsani menempati posisi pertama sebelum al-Qur’an? sedikit tidak itu menunjukkan bahwa Assab’ul-matsani merupakan pegangan yang sangat urgen, yang tanpanya keisalaman seseorang menjadi samar dan diragukan.

Ironinya, para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan firman-Nya “Sab’an minal-matsani”. Ada yang mengatakan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah dengan alasan karena surat Fatihah adalah induknya al-Qur’an dan secara kebetulan jumlah ayatnya pun tujuh ayat.

Ada pula yang menafsirkannya dengan tujuh surat terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu: Surat-surat Baqarah, Ali Imran. Annisa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf dan al-Anfal (bersama Attaubah).

Ada yang berpendapat bahwa Assab’ul-matsani adalah al-Qur’an itu sendiri.

Dan masih banyak lagi penafsiran lain tentang apa itu Assab’ul-matsani. Sebagaimana mereka juga berbeda pendapat tentang; kapan malam Lailatul-qadr, apa itu Ism a’zam, apa itu Shalat wustha, kapan waktunya Sa’atul-ijabah, siapa itu wali Allah, apa itu Kaba’ir, dan lain sebagainya. Agaknya para ulama’ memang tak pernah lepas dari perbedaan. Apapun sebabnya, kita tetap meyakini adanya hikmah yang tersirat. Dan apapun faktanya, kita tetap harus mencari yang benar lalu menerimanya dan juga membelanya. Yang salah, kita maafkan bersama, mungkin saja bukan rizki mereka. Yang berijtihad dengan baik dan benar, tetap akan dapat pahala. Sementara mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai alat penafsir utama, tanpa landasan ilahi yang bisa diterima “Wa man lam yaj’alillahu lahu nuran fama lahu min nur”, maka laknat sudah menyelimuti mereka. Belum mendapat nur dan restu dari Allah, sudah seenak-enaknya menafsirkan firman Allah.

Bila kita teliti dengan seksama, kita akan melihat sejumlah penafsiran di atas ternyata belum mampu memberikan sebuah kepuasan, sebab walau tampak berbeda namun sebetulnya sama dan tak berbeda, semuanya menisbatkan Assab’ul-matsani itu kepada al-Qur’an itu sendiri, baik itu surat Fatihah, tujuh surat terpanjang maupun yang lainnya, semua itu adalah al-Qur’an (bagian dari al-Qur’an). Sebuah tanda tanya yang harus terungkap adalah: Bukankah Allah swt. telah menyebutkan “Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung”? bila Allah telah menyebut al-Qur’an setelah Assab’ul-matsani maka sudah tentu Assab’ul-matsani adalah perkara lain selain al-Qur’an. Tidakkah kita menyadari hal itu?

Bila Assab’ul-matsani adalah surat Fatihah, bukankah surat Fatihah merupakan bagian dari al-Qur’an itu sendiri? bukankah Allah telah menyebut al-Qur’an sesudahnya “wal-Qur’an al-azim”? yang mana surat Fatihah sudah terkandung di dalamnya? Ataukah surat Fatihah itu bukan bagian dari al-Qur’an?

Apabila Assab’ul-matsani itu adalah al-Qur’an atau sebagian dari isi al-Qur’an, tidakkah cukup Allah mengatakan: Aku telah memberimu al-Qur’an (saja, tanpa menyebut Assab’ul-matsani)? bukankah al-Qur’an telah mencakup semua surat-suratnya termasuk Fatihah dan tujuh surat terpanjang?

Lalu mengapa Assab’ul-matsani disebutkan oleh Allah? Walhasil, Assab’ul-matsani adalah perakra lain selain al-Qur’an. Bukan al-Qur’an, bukan pula beberapa surat atau ayatnya. Kalau anda masih bersikeras mengatakan Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah, maka anda telah berani memisahkannya dari al-Qur’an! dan anda telah menodai kemukjizatan firman-Nya yang terlepas dari segala kecacatan, bahasa dan sastranya.

“Sab’an minal-matsani” terdiri dari tiga kata; Sab’an, Min dan al-Matsani. Sab’an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama’ dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).

Kelompok-kelompok itu amat banyak, namun Allah hanya menyebutkan / mengutus tujuh kelompok saja dari kelompok-kelompok itu (sebagai pemimpin matsani yang lain) “Sab’an minal-matsani”; Tujuh kelompok dari kelompok-kelompok al-Matsani.

Tujuh kelompok itulah yang disebut dan dimaksud dengan Assab’ul-matsani, yang mana setiap kelompok terdiri dari empat orang.

Tujuh kelompok itulah yang bertugas melayani Rasul dan umat sejak awal penciptaan sampai kiamat menjelang.

Tujuh kelompok itulah yang akan menunjuki umat ke jalan yang benar.

Tujuh kelompok itulah yang akan membimbing umat dalam mengamalkan al-Qur’an.

Tujuh kelompok itulah yang akan meneruskan dan mewarisi perjuangan Rasul saw.

Tujuh kelompok itulah yang akan melayani sandal Rasul saw. demi menjunjung tinggi siyadah beliau.

Tujuh kelompok itulah yang bila diikuti, dipegang dan ditaati umat maka selamatlah mereka dari kesesatan.

Tujuh kelompok itulah pelayan-pelayan Rasul dan umat sampai hari kiamat (maupun sesudahnya).

Allah berfirman: “Wa atainaka sab’an minal-matsani wal-Qur’anal-azim”; Aku telah mengutus demi kamu hai Muhammad tujuh kelompok matsani yang akan melayanimu dan melayani umatmu, Akupun telah menurunkan al-Qur’an agar menjadi pegangan kedua bagi umatmu.

Mengapa al-Qur’an dinomorduakan oleh Allah swt.? Jawabannya adalah karena seorang penunjuk lebih diutamakan dari pada sebuah buku petunjuk. Allah swt. berfirman:

" قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين "

Telah datang kepadamu: (1) seorang Rasul, dan (2) al-Qur’an. Maka Rasul itu lebih penting dari pada al-Qur’an, sebab al-Qur’an (buku petunjuk) tidak akan difahami dengan benar tanpa Rasul (seorang penunjuk).

Allah swt. juga berfirman:

" فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون "

Orang-orang yang beruntung adalah apabila mereka: (1) beriman kepada Nabi Muhammad, (2) memuliakannya (3) membelanya, kemudian (4) mengikuti kitab suci yang dibawanya. Maka haruslah kita mencari seorang penunjuk, kemudian mencintainya, menghormatinya, membelanya, mengagung-agungkannya dan mentaatinya, setelah itu barulah kita mengikuti buku petunjuk yang ia bawa.

Dari itulah Allah swt. mendahulukan Assab’ul-matsani sebelum al-Qur’an. Bukan karena al-Qur’an itu tidak penting, melainkan karena tanpa seorang penerang dan penunjuk maka al-Qur’an tak dapat difahami dengan benar dan tak dapat diamalkan dengan baik.

Lalu… siapakah Assab’ul-matsani itu? siapa saja kelompok-kelompok itu?

Maulana Syekh Mukhtar ra. menyebutkan bahwasanya tujuh kelompok (Assab’ul-matsani) tersebut adalah sebagai berikut :

1. Empat pemimpin para mala’ikat Kurubiyyin / Alin / Haffin hawlal-arsy.

2. Empat pemimpin para mala’ikat Falakiyyin : Jibril, Mika’il, Israfil dan Izra’il Alaihimussalam.

3. Empat pemimpin para nabi dan rasul yang disebut dengan Ulul-azmi : Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihimussalam.

4. Empat Pemimpin para sahabat Rasul yang disebut dengan Khulafa’ rasyidin : Saidina Abu Bakr, Saidina Umar bin Khaththab, Saidina Utsman bin Affan dan Saidina Ali bin Abi Thalib Radliallahu anhum ajma’in.

5. Empat pemimpin para penulis wahyu (al-Qur’an) yang disebut dengan al-Abadilah / Abadilatul-Qur’an : Saidina Abdullah bin Umar, Saidina Abdullah bin Azzubair, Saidina Abdullah bin Mas’ud dan Sadina Abdullah bin Abbas Radliallahu anhum ajma’in.

6. Empat pemimpin para imam syari’at (mazhab fiqh) yang disebut dengan al-A’immah al-Arba’ah / A’immatul-mazahibil-arba’ah : Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asysyafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal Radliallahu anhum ajma’in.

7. Empat pemimpin para imam tarekat (tasawuf), pemimpin para auliya’ullah yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba’ah (empat wali kutub) / A’immatuththariqah wal-haqiqah : Syekh Ahmad Arrifa’i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani, Syekh Ahmad al-Badawi dan Syekh Ibrahim Addusuqi Radliallahu anhum ajma’in.

Tujuh kelompok di atas-lah Assab’ul-matsani itu, yang memimpin semua matsani yang lain, yang semuanya berjumlah 28 orang sebanyak huruf-huruf dalam bahasa arab.

Ketujuh kelompok itu dipimpin oleh tiga penguasa tertinggi yaitu: Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radliallahu anhum.

Allah swt. berfirman: “Ha Mim, Ain Sin Qaf”. Ha Mim telah diulang dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali yang mana hal tersebut mengisyaratkan kepada Assab’ul-matsani di atas, sedangkan Ain Sin Qaf hanya disebut satu kali saja dalam al-Qur’an, yang mana ketiga huruf itu mengisyaratkan kepada tiga pemimpin Assab’ul-matsani (Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radiallahu anhum ajma’in).

Sementara pemimpin tertinggi (Ra’is Akbar) yang mengepalai dan mengasuh mereka semua adalah: Rasulullah wa Habibullah Sayyiduna wa Maulana Muhamamd Shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab’ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya :

" اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم "

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat. Mereka itulah Assba’ul-matsani, sebagaimana firman Allah :

" الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا "

Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman. Mereka itulah Assab’ul-matsani.

Di antara makna lain dari kata Matsani adalah : bentuk jama’ dari Matsniyyah yang artinya: besi yang dibengkokkan. Itu mengisyaratkan bahwa Assab’ul-matsani adalah orang-orang atau kelompok-kelompok yang telah sampai kepada Allah swt. lalu dikembalikan oleh-Nya ke bumi untuk membimbing umat kepada-Nya.

Kata Matsani juga berasal kata dari Tsana’ yang artinya pujian, tentunya tujuh kelompok di atas telah mendapat pujian suci dari Tuhan mereka, Allah Subhanahu wata’ala.

Di antara tujuh kelompok di atas, nampaknya kelompok terakhir-lah yang cukup asing bagi umat. Para mala’ikat kurubyyin, mala’ikat falakiyyin, nabi ulul-azmi, khulafa’ rasyidin, empat abadilah dan imam mazhab empat… sudah cukup populer. Sedangkan empat wali kutub tertinggi yang mengepalai semua auliya’ Allah di muka bumi ini dan mengimami tarekat dan hakekat sampai muncul Imam al-Mahdi, tidak begitu banyak diketahui atau dikenal orang. Mungkin saja karena salah satu ciri khas para wali adalah: tersembunyi. Namun walau demikian mereka cukup masyhur di kalangan orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk Allah, yakni mereka para pecinta tasawuf dan pengikut tarekat. Mereka adalah pecinta Rasul dan Ahlul-bait.

Oleh karena itu, dalam hal ini penulis ingin mengutip perkataan Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra. dalam kitabnya Qiladatul-Jawahir yang berbunyi sebagai berikut :

قد اشتهر في المشرق والمغرب بين المسلمين شأن الأربعة الأقطاب المعظمين، أعني شيخنا ومفزعنا السيد أحمد الكبير الحسيني الرفاعي، وسيدنا السيد الشيخ عبد القادر الجيلاني الحسني، وسيدنا السيد الشيخ أحمد البدوي الحسيني، وسيدنا السيد الشيخ إبراهيم الدسوقي الحسيني . فهؤلاء الأربعة بلا ريب خلاصة بقية السلف، وأئمة جميع الخلف، وأعلام الأولياء، وأولياء الصلحاء، وأشياخ الخرقة والطريقة، وأقطاب الطريقة والحقيقة . ثبتت لدى المسلمين غوثيتهم وولايتهم، ووجبت عند الموحدين حرمتهم ورعايتهم، وهم رضي الله عنهم بمنزلة واحدة في النسب والمرتبة، إلا أن الأقوال تنوعت فيهم وفي مشاربهم وأحوالهم ومذاهبهم، وقد وفق الله لكل واحد منهم من أتباعه من جمع آثاره وذكر أخلاقه وأطواره

Beliau juga telah membuat sebuah nazam (sya’ir) tentang empat wali kutub, bunyinya :

والأوليا اذكرهم بخير أنهم # تبعوا الرسول بصحبة الآدابِ

خدموا شريعته وما اتبعوا الهوى # متمسكين بأشرف الأسبابِ

صحت ولايتهم بشاهد حالهم # فعلوا وصاروا وجهة الطلابِ

لهم الكرامات التي ظهرت بنا # كالشمس ما حجبت ببرد سحابِ

شهدت بها مذ شوهدت أهل الملا # وهي اختصاص الواهب السلابِ

ظهروا ببرهان الرسول تسلسلا # حتى لعهد الأربع الأقطابِ

ابن الرفاعي ثم عبد القادر الـ # ـجبلي وإبراهيم والعطابِ

قال الرفاعيون أحمد شيخنا # سلك الطريق بدق أنجح بابِ

ورأى الخضوع طريقة وحقيقة # تقضي بترك الزهور والإعجابِ

وسرى على سنن الحبيب ملازما # أحواله في السلب والإيجابِ

فلذاك قدمناه تقديما به # قام الدليل لنا بلا إسهابِ

والقادرية ثم فرقة أحمد آل # بدوي كل قال ذاك جوابِي

وكذاك أتباع الدسوقي ثم من # ينمى لغير طريقة ورحابِ

جزموا بصدق الأتباع لشيخهم # فراوه أعلا الأوليا الأنجابِ

فإذا توضحت الحقائق للذي # يدري بغير مسائل وجوابِ

ما كان من قول وفعل وارد # عن شيخ إرشاد رفيع جنابِ

زنه بميزان الشريعة واعتمد # في الأمر نص المصطفى الأوابِ

واعمل لحسن الظن بالتأويل في # ما دق من شطح لسد البابِ

وإذا نأى التأويل فانكر نسبة الـ # ـمنقول واحفظ حرمة الأحبابِ

واسلك طريق الهاشمي محمد # فسواه مردود بكل كتابِ

صلى عليه الله ما لمع الضحى # والآل والأزواج والأصحابِ

Masing-masing dari empat wali kutub itu mendirikan sebuah tarekat ra’isi (induk) yang memimpin semua tarekat sufi yang lain, Syekh Ahmad Arrifa’i ra. mendirikan Tarekat Rifa’iah, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani ra. mendirikan Tarekat Qadiriah, Syekh Ahmad al-Badawi ra. mendirikan Tarekat Ahmadiah, dan Syekh Ibrahim Addusuqi ra. mendirikan Tarekat Burhamiah. Empat tarekat sufi tersebut lahir dari dua tarekat ibu-bapak yakni Tarekat Naqsyabandiah dan Tarekat Khalwatiah. Kedua tarekat ibu-bapak itu bersumber dari Saidina Abu Bakr ra. dan Saidina Ali ra. yang kemudian digabung oleh Imam al-Junaid ra. lalu bercabang lagi menjadi empat tarekat induk yang dipimpin oleh empat wali kutub. Pada zaman sekarang ini semua tarekat sufi yang ada mesti melalui salah satu dari empat wali kutub atau semuanya dalam silsilah terekat masing-masing, kalau tidak, maka tarekat tersebut masih diragukan keabsahannya.

Untuk mengenal lebih jauh empat wali kutub masyhur di atas maka pembaca boleh menelaah kitab-kitab di bawah ini :

1. Qiladatul-Jawahir fi Dzikril-Gautsirrifa'i wa Atba'ihil-Akabir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra.

2. Al-Ayatuzzahirah fi Manaqibil-Auliya' wal-Aqthabil-Arba'ah oleh Syekh Mahmud al-Ghirbawi.

3. Farhatul-Ahbab fi Akhbaril-Arba'atil-Aqthab oleh Syekh Muhammad bin Hasan al-Khalidi ra.

4. dan lain-lain.

Berbicara so’al tugas para wali kutub tertinggi itu, kita dapat melihat peran-peran para imam mazhab yang empat dalam membimbing umat dalam hal syari’at. Oleh karena islam terdiri dari tiga martabat; islam, iman dan ihsan, maka para imam mazhab bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah urusan syari’at umat (islam) yang kemudian para wali kutub bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah perjalanan spiritual / tarekat umat (iman), yang akhirnya dengan kemantapan dua martabat itu hamba dengan mudah mencapai hakekat (ihsan). Syari’at dan tarekat tidaklah berbeda atau saling bertentangan, melainkan ia merupakan tangga-tangga yang harus dilalui oleh setiap hamba secara bertahap demi meraih derajat yang mulia di sisi Allah dan demi sebuah kesempurnaan dalam pengabdian kepada-Nya (kamalul-iman). Keislaman seseorang tentu menjadi tidak sempurna bila dijalani tanpa dua asas tersebut. Bermazhab untuk kesempurnaan zahir dan bertarekat untuk kesempurnaan batin.

Sebagaimana seorang hamba layaknya bermazhab (bermazhabkan salah satu dari mazhab fiqh yang empat), maka di sisi lain ia juga mesti bertarekat, dengan mengikuti / menganut salah satu tarekat dari empat tarekat sufi di atas. Atau mengikuti tarekat lain yang menjadi cabang dari salah satu tarekat induk tersebut.

Bila keluar dari mazhab yang empat dalam bersyari’at, dan keluar dari tarekat induk yang empat dalam bertarekat, maka tidak akan diterima oleh-Nya. Pintu ijtihad mutlak sudah tertutup, dan izin untuk mendirikan tarekat (induk) sudah berakhir.

Apakah Rasul pernah bermazhab? Apakah Rasul pernah bertarekat? Tentu tidak, sebab beliau merupakan sumber dan asal semua mazhab dan tarekat yang ada. Tidaklah mungkin seorang Rasul menganut mazhab muridnya, tidaklah mungkin beliau mengikuti tarekat pewarisnya. Justru para imam dan wali kutub-lah yang mengikuti beliau dan melalui tuntunan dan restu beliaulah mereka membuat mazhab dan tarekat agar diikuti oleh umat sesudahnya.

Dari itu penulis menasehati mereka yang mengatakan; Tidak ada mazhab dalam islam. Ketahuilah bahwa empat mazhab dan empat tarekat itu telah direstui dan diutus oleh Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu kala demi kemudahan umat dalam menjalankan syari’at-Nya. Tanpa mereka, semuanya tidak akan pernah stabil. Ingin membuat mazhab sendiri atau tarekat sendiri, ingin menjalankan syari’at islam tanpa melalui mereka, ingin bersuluk menuju Allah tenpa melalui jalan mereka, ingin kembali langsung kepada Qur’an dan Sunnah tanpa melalui hasil ijtihad mereka, maka dijamin tidak akan menghasilkan buah yang memuaskan. Bukankah kita sendiri yang selalu berdo’a; “Ihdinashshirathal-mustaqim, shirathalladzina an’amta alaihim” Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang Engkau karuniai nikmat (para nabi, para rasul, para sahabat, para imam mazhab dan para wali kutub)?

Sebagaimana Rasul telah mengutus Saidina Mu’az bin Jabal ra. ke Yaman sebagai makan (tempat) untuk menjadi penunjuk jalan / membawa hidayah, maka beliau-pun mengutus seorang hadi (penunjuk jalan) pada setiap zaman (waktu) sesuadah beliau wafat? agar umat beliau dapat menemukan hidayah-Nya… kapanpun, dan dimanapun.

Allah berfirman:

" من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا "

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu hai Muhammad tak akan mampu mempertemukannya dengan seorang wali mursyid (seorang penunjuk).

Tanpa seorang wali mursyid maka tenggelamlah hamba dalam lautan kesesatan. Qur’an dan Sunnah tidak akan pernah cukup tanpa seorang wali mursyid yang akan menuntun dan membimbing. Melalui restu dan petunjuk Allah maka Rasul-pun segera mempertemukan kita dengan wali mursyid yang menjadi pewarisnya, semoga Allah memberi hidayah kepada kita… amin.

Dengan niat yang suci, hati yang bersih dari segala sifat sombong dan angkuh, serta cinta yang mendalam kepada Rasul dan para auliya’ maka perjalanan menuju wali mursyid tidaklah jauh, sehingga hidayah Allah dapat kita nikmati dengan penuh ria.

Setelah empat wali kutub itu mendirikan tarekat induk masing-masing dan menanam bibit-bibit hidayah dan mahabbah dalam hati para pengikut setia, maka ajal-pun tak lupa menjemput mereka ke Rafiq A’la, yang kemudian muncullah para penerus-penerus sejati yang akan terus membimbing umat ke jalan-Nya, jalan penuh reda dan cinta. Para penerus sejati itulah para imam mujaddid setiap zaman, mereka adalah Auliya’ Mursyidun dan Ulama’ yang menjadi pewaris-pewaris Rasul, yang amat takut kepada Allah dan tahu rahasia-rahasia asma’ Allah.

Akhir kata… Disamping mengikuti tuntunan Qur’an dan Sunnah, semoga kita tidak lupa pula mengikuti dan berpegang teguh kepada Assab’ul-matsani (beserta para penerus) yang telah diutus oleh-Nya. Semoga kita tetap berlindung di bawah naungan mereka, agar selamat dari dunia sampai akhir masa… amin.

Mengikuti mereka adalah merupakan tuntutan Allah dalam Qur’an-Nya kepada kita, dan juga merupakan seruan Rasul dalam haditsnya “Udldlu alaiha binnawajiz”. Mereka adalah utusan-utusan-Nya, mereka adalah kekasih-kekasih-Nya, mereka adalah prantara-prantara kita menuju-Nya, mereka adalah pewaris-pewaris Rasul-Nya, dan mereka adalah para pembaharu dan imam masa.

Inilah suguhan ilmu para Auliya’-Nya…. yang diraih langsung dari-Nya… Subhanahu wa t’ala. Percaya atau tidak, diterima atau tidak, Allah telah berfirman :

" وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر "

Katakanlah yang benar, yang telah kamu terima dari Tuhanmu. Selanjutnya………………………………… terserah mereka!

Referensi :

1. Pengajian-pengajian Maulana Syekh Mukhtar ra. (Syekh Tarekat Burhamiah)

2. Kitab Tabri’atuzzimmah oleh Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra.

3. Kitab Qiladatul-Jawahir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi al-Khalidi Arrifa’i ra.

KALAM HABIB UMAR BIN HAFIZD

إمْلَأ قَلْبَكَ بِمَحَبَّةِ إخْوَانِكَ يَنْجَبِرْ نُقْصَانُكَ وَ يَرْتَفِعْ عِنْدَ اللهِ شَأنَكَ

Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah.



مَنْ كَانَ أعْرَفُ كَانَ أخْوَفُ

Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut.



مَنْ لَمْ يُجَالِسْ مُفْلِحُ كَيْفَ يُفْلِحُ وَ مَنْ جَالَسَ مُفْلِحَ كَيْفَ لاَ يُفْلِحُ

Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.



مَنْ كَانَ سَيَلْقَي فِي الْمَوْتِ الْحَبِيْبَ فَالْمَوْتُ عِيْدًا لَهُ

Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.



مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ خَدَمَهَا

وَ مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ تَحَمَّلَ مِنْ أجْلِهَا

وَ مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ بَذَّلَ مَالَهُ وَ نَفْسَهُ مِنْ شَأنِهَا

Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.



كُلّ وَاحِدٍ قُرْبُهُ فِى الْقِيَامَةِ مِنَ اْلأنْبِيَاءِ عَلَى قَدْرِ إهْتِمَامِهِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ

Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

MAQOM ROSULULLOH PADA HADRAH ILAHI

Bismillahir Rahman ir Rahim



Kita perlu belajar begitu banyak. Tetapi yang paling penting adalah bahwa kalian harus belajar, kalian harus berusaha untuk mengetahui sumber kekuatan bagi jiwa kita. Untuk mengetahui di mana sumber kekuatan itu. Bukan berarti kalian hidup sebagai binatang, tetapi kalian tidak akan berurusan sebagai binatang nanti di Hari Kebangkitan. Binatang, mereka boleh makan, tidak ada kewajiban bagi mereka. Tetapi kalian, jika kalian tidak memperhatikan apa yang kalian makan dan minum, kalian akan ditanya di Hari Kebangkitan, mengapa kalian tidak meminta sumber kekuatan yang dapat membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahiah-Ku?



Dan setiap orang harus berhati-hati untuk menemukan jalan mereka agar lebih dekat dengan Hadirat Ilahi. Hadirat Ilahi—jangan pikir itu hanya satu level.



Hadirat Ilahi bagi para anbiya hanya dapat diraih oleh anbiya. Dan Hadirat Ilahi bagi awliya, mereka juga mempunyai level yang lain di mana orang lain tidak dapat meraihnya, tidak dapat mendekatinya. Karena Cahaya-Cahaya Ilahi pada level itu akan membakar mereka. Mereka tidak akan sanggup. Dan level para awliya, orang-orang suci, menurut maqam-maqam mereka, mereka juga akan berbeda satu sama lain. Hadirat Ilahi bagi setiap orang tidak sama, tidak.



Sayyidina Rasulullah saw—Sultanul ‘Arafin Abayazid, minta untuk dapat mendekati samudra makrifat Nabi saw. Ia minta agar bisa mendekat, sampai pada maqam Nabi saw, dan berusaha untuk mencapainya. Tetapi, haatif Rabbani—suara Surgawi—pengumuman surgawi muncul dan mengatakan, “Wahai Abayazid, waspadalah! Antara kau dengan Nabi Penutup saw terdapat 10.000 samudra cahaya.” 10.000 samudra cahaya. Tetapi tetap saja ia berkata, “Walaupun yang pertama, aku harus berusaha untuk meraihnya.” Dan ia meminta agar bisa bergerak. Dan pengumuman yang lain datang dari langit, “Wahai Abayazid, waspadalah! Jika kau meletakkan kakimu satu langkah di depanmu menuju samudra cahaya yang pertama, kau akan terbakar, kau akan musnah dari eksistensimu, tak ada lagi kesempatan bagimu untuk kembali ke eksistensimu ketika kesempatan lain… tak ada kesempatan bagimu. Kau tamat. Tak ada lagi kesempatan untukmu. Cahaya itu bisa membakarmu, dan tak ada kesempatan bagimu untuk tiba di maqam yang kau tempati sekarang ini. Kau tamat, musnah dari eksistensimu. Waspadalah!”



Di mana hadirat Nabi saw? Di mana beliau hadir? Hadirat Ilahi, bagaimana menurut kalian?



Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa, ketika kalian mengatakan, “Kami berusaha untuk meraih maqam-maqam surgawi,” bahwa kalian berusaha untuk mencapai maqam kami di Hadirat Ilahi. Kalian tidak akan pernah tahu di mana kalian hadir—di mana maqam kalian di Hadirat Ilahi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Oleh sebab itu, ketika seorang hamba, ia berusaha untuk membuat jalannya—kami menyebutnya “suluk,” untuk menemukan jalannya menuju Hadirat Ilahi, itu hanya untuknya saja. Kalian tidak dapat menemukan dua orang pada level yang sama. Masing-masing mempunyai level yang berbeda di Hadirat Ilahi, atau maqam yang berbeda di Hadirat Ilahi.



Dan kita harus berusaha untuk mencapai maqam-maqam kita di Hadirat Ilahi, dalam semua ibadah dan salat hanya untuk diri kita, untuk membuat diri kita lebih dekat dengan maqam kita di Hadirat Ilahi. Itu bukanlah untuk Allah, apa yang kita lakukan, bukanlah untuk-Nya. Itu hanya untuk diri kita sendiri, agar diri kita lebih dekat, lebih dekat lagi. Jika kita kehilangan kekuatan yang sangat besar, himmat, kuda yang besar. Kalian dapat melakukannya untuk diri kalian sendiri untuk mencapainya, atau mendekati maqam kalian di Hadirat Ilahi.



Itu artinya apa yang kita lakukan sekarang di sini, jika kalian hidup semilyar tahun, kita dapat mencapainya. Tidak cukup untuk membuat diri kita berusia jutaan tahun, beribadah untuk mendekati maqam surgawi kita di Hadirat Ilahi. Tetapi yuhayyit—mempersiapkan diri kita untuk mencapai maqam-maqam kita. Dan jika Allah swt rida dengan perbuatan kalian dan ibadah kalian, Dia akan menganugerahkan kepada kalian sebagaimana Dia berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu kaki, Aku akan datang kepadanya 10.” Ketika kalian akan meraih maqam kalian di Hadirat Ilahi, membuat kalian mencapai 10. 10 kekuatan yang lebih banyak diberikan kepada kalian, setiap kalian melangkah satu kaki, Dia memberi kalian 10. dan kemudian yang 10 itu akan menjadi 100. 100 akan menjadi 1.000. 1.000 akan menjadi 10.000. 10.000 akan menjadi 100.000. Jadi, apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa. Tak ada nilainya, tak ada suatu kekuatan. Tetapi itu adalah karena Allah melihat niat kalian. Sesuai dengan niat kalian, Dia membuka jalan bagi kalian untuk naik. Oleh sebab itu, niat adalah faktor yang paling penting dalam setiap ibadah dalam Islam. Karena itu membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahi, untuk meraih maqam kalian pada level Hadirat Ilahi milik kalian. Semoga Allah mengampuni kita.

Amin.

Syekh Hisyam Kabbny. RA

Mengenai Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani


Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani  adalah seorang ulama dan Syaikh Sufi yang berasal dari Timur Tengah. Beliau adalah lulusan American University di Beirut dalam bidang Kimia. Dari sana beliau pergi ke Belgia untuk meneruskan kuliah kedokterannya di Louvain. Beliau menerima gelar di bidang Hukum Islam dari Damaskus. Sejak masa kanak-kanak, beliau telah menemani Syaikh ‘Abdullah ad-Daghestani Ø dan Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani, grandsyaikh dari Thariqat Naqsybandi yang paling mulia di masa ini. Beliau banyak melakukan perjalanan ke segala penjuru di Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh untuk menemani Syaikhnya. Pada tahun 1991 beliau diperintahkan oleh Syaikhnya untuk pindah ke Amerika dan mendirikan Yayasan bagi Thariqat Naqsybandi di sana. Sejak saat itu, beliau telah membuka 13 Pusat Sufi di Kanada dan Amerika Serikat. Beliau telah mengajar di sejumlah universitas, seperti: the University of Chicago, Columbia University, Howard, Berkeley, McGill, Concordia, dan Dawson College, demikian pula dengan sejumlah pusat keagamaan dan spiritual di seluruh Amerika Utara, Eropa, Timur Jauh dan Timur Tengah.
Misi dari Syaikh Hisyam Kabbani Ø di Amerika adalah untuk menyebarkan ajaran Sufi dalam lingkup persaudaraan ummat manusia dan kesatuan dalam kepercayaan kepada Tuhan yang terdapat dalam semua agama dan jalur spiritual. Usahanya diarahkan untuk membawa spektrum keagamaan dan jalur-jalur spiritual yang beragam ke dalam keharmonisan dan kerukunan, dalam rangka pengenalan akan kewajiban ummat manusia sebagai kalifah di planet yang rentan ini dan satu sama lainnya. Sebagai seorang Syaikh Sufi, Syaikh Hisyam Ø telah diberi wewenang dan diperbolehkan untuk membimbing para pengikutnya menuju Cinta Ilahi dan menuju maqam spiritual yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Latihan spiritual yang berat yang telah ditempuhnya selama 40 tahun di bawah pengawasan Grandsyaikh dan Syaikhnya, telah menganugerahi nya kecakapan yang tinggi mencakup kebijaksanaan, cahaya, kecerdasan, dan daya tarik yang diperlukan oleh seorang Guru Sufi sejati. Misi Syaikh Hisyam Ø yang jauh melampaui target di Amerika adalah kontribusinya yang unik terhadap usaha ummat manusia dalam mencapai takdir tertingginya, yaitu kedekatan dengan Tuhannya. Usaha beliau untuk membawa kesatuan hati dalam gerakannya menuju Inti Ilahi barangkali yang merupakan warisan terbesarnya kepada Barat.

Mengenai Haqqani Foundation

Misi dari Haqqani Foundation di Amerika adalah untuk menyebarkan ajaran Sufi dalam lingkup persaudaraan ummat manusia dan kesatuan dalam kepercayaan kepada Tuhan yang terdapat dalam semua agama dan jalur spiritual. Usahanya diarahkan untuk membawa spektrum keagamaan dan jalur-jalur spiritual yang beragam ke dalam keharmonisan dan kerukunan, dalam rangka pengenalan akan kewajiban ummat manusia sebagai kalifah di planet yang rentan ini dan satu sama lainnya. Jabatan direktur di Haqqani Foundation adalah posisi yang ditetapkan oleh Grandsyaikh dari Thariqat Sufi Naqsybandi-Haqqani, Maulana Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani Ø. Beliau telah menunjuk wakilnya (kalifah), Syaikh Hisyam Kabbani Ø, seorang Syaikh Sufi yang telah diberi wewenang dan izin untuk membimbing para pengikutnya menuju Cinta Ilahi dan menuju maqam spiritual mereka. Praktek-praktek keagamaan dan spiritual yang berat dan sukar yang telah dijalani oleh Syaikh Kabbani Ø telah menganugerahinya kecakapan yang diperlukan bagi seorang pemandu di jalannya. Hubungan yang istimewa dengan begitu banyak orang Barat yang beliau temui atau beliau beri nasihat dan pengajaran dalam kehidupan sehari-hari, adalah berkat pendidikannya yang panjang di lembaga-lembaga Barat, dan didukung kemampuan berbahasa yang baik sekali dalam bahasa Inggris, Perancis, Turki dan Arab, dan pengetahuannya yang mendalam mengenai psikologi dan ilmu spiritual.


Mengenai Yayasan Haqqani Indonesia

Secara kejama`ahan, masyarakat Naqsybandi Haqqani Indonesia secara resmi mulai tergelar kebersamaannya sejak ditunjuknya Bapak KH. Mustafa Mas’ud sebagai perwakilan pertama dari As-Sayyid Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi k untuk Indonesia pada tanggal 5 April 1997. Penunjukan dan Bay’at sebagai representatif dilaksanakan melalui As-Sayyid Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani k pada kunjungan perdana beliau di Jakarta pada saat itu. Kedatangan tersebut bermula dari pertemuan beliau dengan beberapa orang Indonesia yang tinggal di California, di mana mereka secara konstan mengikuti ritual Sohbet Naqsybbandi Haqqani di USA, Shalat Jumat, Dzikir Khatam Kwajagan, dan lain sebagainya, di Masjid Mountain View, CA sebagai salah satu Masjid Utama Jama’ah Naqsybandi al-Haqqani Amerika. Pada akhirnya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani k selaku Khalifah Syaikh Nazhim k di USA bertemu dengan para Muslim Indonesia, termasuk seorang mahasiswa bernama M. Hadid Subki yang sedang berada di San Jose, CA. Selanjutnya beliau mengutarakan maksudnya untuk membuka hubungan ke Indonesia atas nama Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi k. Persiapan yang dilaksanakan di Jakarta membawa saudara Farid Bubbi Djamirin bertemu dengan K.H. Mustafa Mas’ud. Pada dua kunjungan berikutnya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani k mentasbihkan empat Ulama lainnya sebagai wakil dari Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi k yang tersebar di Jawa Barat, Jakarta, dan Jawa Tengah. Mereka adalah :


Kyai Haji Taufiqqurahman al-Subky (Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah)
Al-Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan, Jawa Tengah)
Kyai Haji Qari Ahmad Syahid (Nagrek, Jawa Barat)
Al-Ustadz Haji Wahfiudin, MBA (Jakarta)

Sebagai negara yang mempunyai penduduk mayoritas Muslim, tentunya istilah ’thariqat’ sudah tidak asing lagi di Indonesia, terutama bagi pengikutnya dan para cendikiawan yang mempunyai pengetahuan dan perhatian khusus mengenai hal ini.Meskipun kegiatan sudah berjalan sejak tahun 1997, secara hukum Yayasan Haqqani Indonesia baru diresmikan pada akhir tahun 2000. Para pengurus Haqqani Fondation sebagian adalah jema’ah Thariqat Naqsybandi Haqqani, tanpa tertutup untuk ummat Muslim yang tidak mengikuti thariqat untuk turut berpartisipasi. Yayasan Haqqani Indonesia merupakan cabang Haqqani Foundation yang tersebar di beberapa negara, sehingga pada prinsipnya mempunyai pola dasar keorganisasian yang tidak berbeda dengan Yayasan Haqqani lainnya. Sampai saat ini sudah tersebar beberapa cabang Haqqani Foundation di beberapa negara, misalanya: Italia, Belanda, Jerman, Amerika, Malaysia, Perancis, dan Indonesia. Dalam bentuk kelembagaannya, Yayasan Haqqani diharapkan mampu memiliki peran yang strategis dan berkesinambungan dalam melaksanakan syi’ar Islam kepada sesama ummat penghuni bumi.

Maulana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Qubrusi an-Naqsybandi al-Haqqani q.s. (qaddasallahu sirrahu)

Maulana Syekh Nazim Adil al-Qubrusi al-Haqqani
oleh Dr. G. F. Haddad
Damaskus, 12 Rabi�ul Awwal 1425 H, 1 Mei 2004
Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada samudera Rahmat dari Kebenaran-Mu dan Cahaya-Mu. Allaahumma! Kirimkan barakah dan salam kedamaian bagi junjungan kami Muhammad saw., Penutup para Nabi dan Utusan-Mu, yang membawa Perjanjian Terakhir, Quran al-Karim, juga bagi keluarga Beliau dan seluruh Sahabat-Sahabat Beliau, dan pewaris-pewaris Beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa kini, terutama pewaris dan wakil utama Beliau di zaman ini.
Hamba yang lemah ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syaikh Nazim q.s. dalam beberapa kata-kata anda sendiri tentang kehidupan dan ajaran-ajaran Beliau dan pengalaman anda bersama Beliau. Bulan Rabi'ul Awwal 1425H (Mei 2004) adalah saat paling tepat untuk melakukan hal ini.
Semoga Allah swt. mengilhami baik penulis maupun pembaca tentang Mawlana Syaikh Nazim q.s. agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap subjek yang mulia ini. Tak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan-Nya. Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)
Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim 'Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi q.s., semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya. Kunya (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad, dari nama anak laki-laki tertua beliau, selain itu beliau pula adalah ayah dari Baha'uddin, Naziha, dan Ruqayya.
Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar. Beliau mengatakan pada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Diceritakan pula pada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi q.s. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad saw., dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, y, dari sisi ibundanya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia. Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syaikh Jamal al-Din al-Alsuni q.s. (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau. Mawlana juga belajar tasawwuf dan Thariqat Naqsybandi dari Syaikh Sulayman Arzarumi q.s. (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syams (Syria).
Mawlana melanjutkan studi Syari'ah-nya ke Halab (Aleppo) Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyyah dan madrasah masjid sahabat besar Khalid ibn Al-Walid di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syaikh Muhammad 'Ali 'Uyun al-Sud q.s. dan Syaikh 'Abd al-Jalil Murad q.s., dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syaikh 'Abd al-'Aziz ibn Muhammad 'Ali 'Uyun al-Sud al-Hanafi q.s.
Perlu dicatat bahwa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa'i Hafizh di Aleppo, Syaikhul Islam 'Abd Allah Siraj al-Din q.s. (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syaikh 'Abdullah Faiz Daghestani q.s. ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan yang memberikan bay'at dalam Thariqat Naqsybandi pada Mawlana Syaikh Nazim q.s., ketika Mawlana Syaikh Nazim q.s. mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan pada saya oleh Ustadz Muhammad 'Ali ibn Mawlana al-Syaikh Husayn 'Ali q.s. dari Syaikh Muhammad Faruq 'Itqi al-Halabi q.s. yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu.
Mawlana Syaikh Nazim q.s. juga belajar di bawah bimbingan Syaikh Sa'id al-Siba'i q.s. yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syaikh 'Abdullah Faiz Ad-Daghestani q.s. ke Syria. Setelah kedatangan awal beliau ke Syria dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syaikh 'Abdullah q.s. tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.
Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syaikh Sa'id al-Siba'i q.s. yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid.
Syaikh Sa'id q.s. menulis pada beliau (Mawlana Syaikh 'Abdullah q.s.),
'Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang tengah belajar pada kami.
Mawlana Syaikh 'Abdullah q.s. menjawab padanya,
'Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami!'
Sang murid itu adalah guru kita, Mawlana Syaikh Nazim q.s., yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay'at beliau pada Grandsyaikh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.
Pada tahun berikutnya, Mawlana Syaikh 'Abdullah q.s. pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Syria pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syaikh Husayn ibn 'Ali ibn Muhammad 'Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syaikhani al-Husayni q.s. (lahir 1336H/1917M), semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya, di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damaskus, yang Allah swt. berfirman tentangnya; 'Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Sinai!� (QS. 95:1-2).
Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, 'At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak. Diriwayatkan oleh 'Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.
Mawlana Syaikh Nazim q.s. juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyaikh dan bersama Mawlana Syaikh Husayn q.s., membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyaikh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami', di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyyah Grandsyaikh, di tempat mana, hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat disiapkan dalam kendi-kendi yang besar dan dibagi-bagikan bagi kaum fuqara dan miskin dua kali dalam seminggu.
Kemudian Mawlana Syaikh Nazimk tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyaikh, hingga Grandsyaikh wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus beberapa tahun sebelum kemudian pindah ke Siprus.
Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyaikh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus 'Syamiyyun' dan tinggal di distrik orang-orang salih (as-saalihiin) yang disebut Salihiyya! Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyaikh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh barakah dan terlindungi melalui para Nabi dan Awliya�.
Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad (rantai) yang sahih bahwa Nabi suci e bersabda, 'Kalian harus pergi ke Syam. Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah swt. di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini. Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah swt. telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!'
Imam al-Nawawi berkata dalam kitab beliau Irsyad Tullab al-Haqa'iq ila Ma'rifati Sunan Khayr al-Khala'iq (s): 'Hadits ini berkenaan dengan fadhillah (keistimewaan) yang besar dari Syams dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!'
Direktur pimpinan Dar al-Ifta' (secara literal bermakna 'Rumah Fatwa', maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syaikh Salahud Diin Fakhri q.s. mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,
Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabi'ul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syaikh 'Abd Allah al-Daghistani q.s.rahimahullah (semoga Allah swt. merahmatinya) di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh
- Mawlana al-Syaikh Mukhtar al-'Alayli q.s. rahimahullah. Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah pula paman dari Syaikh Hisyam Kabbani q.s., penulis],
- Syaikh Husayn Khalid q.s., imam dari Masjid Nawqara;
- Hajj Khalid Basyir, rahimahumallah (semoga Allah swt. merahmati keduanya); Syaikh Husayn Sa'biyya q.s. [saat ini direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syaikh Mahmud Sa'd q.s.; Syaikh Zakariyya Sya'r q.s.; dan Hajj Mahmud Sya'r.
Syaikh 'Abdullah q.s. menerima kami dengan amat baik dan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Syaikh Nazim al-Qubrusi q.s. semoga Allah swt. merahmati dan menjaga beliau juga berada di situ saat itu!
Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Dzuhur, sementara Syaikh (Grandsyaikh 'Abdullah Faiz ad-Daghestani q.s., penerj.) rahimahullah menjelaskan tentang Syams (Syria), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah swt. akan mengumpulkan seluruh manusia di dalamnya untuk penghakiman dan hisab.
Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh dan tergerak, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan dalam praktik maupun dalam teori antara tasawwuf dengan Syari'ah.
Semoga Allah swt. membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan suhbat dengan Awliya-Nya yang shiddiq. Aamiin, yaa Rabbal 'Aalamiin!
Masih ada banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya Syams yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti
- Syaikh Muhammad Bahjat al-Baytar q.s. (1311-1396),
- Syaikh Sulayman Ghawji al-Albani q.s. (wafat 1378 H), ayah dari guru kami,
- Syaikh Wahbi q.s., Syaikh Tawfiq al-Hibri q.s., Syaikh Muhammad al-'Arabi al-'Azzuzi q.s. (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syaikh utama dari guru kami Syaikh Husayn 'Usayran q.s.,
-al-'Arif Syaikh Syahid al-Halabi q.s., al-'Arif Syaikh Rajab at-Ta'i q.s., Syaikh al-Qurra' q.s. (ahli qira'at Quran, penerj.) Syaikh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi q.s., al-'Arif Syaikh Muhammad an-Nabhan q.s., Syaikh Ahmad 'Izz ad-Din al-Bayanuni q.s., al-'Arif Syaikh Ahmad al-Harun q.s. (1315-1382H), Syaikh Muhammad Zayn al-'Abidin al-Jadzba q.s., dan lain-lain, semoga Allah swt. merahmati mereka semuanya!
Dari tiga puluh tahun suhbat (asosiasi) yang barakah antara Mawlana dan Grandsyaikh tersebut, muncullah Mercy Oceans (secara literal berarti Samudera Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan suhbat Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani q.s., penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik/pencari dengan judul-judulnya:
- Endless Horizons (Cakrawala tanpa Batas, penerj.),
- Pink Pearls (Mutiara-Mutiara Merah Muda, penerj.),
- Rising Suns (Matahari-Matahari yang tengah terbit, penerj.).
Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan suhbat awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan da'wah Islam seorang diri Mawlana Syaikh Nazim q.s. di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah swt.!
Semoga Allah swt. melimpahkan lebih banyak barakah-Nya pada Mawlana Syaikh Nazim q.s. dan mengaruniakan pada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan bagi kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad saw., yang bersabda,
Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah swt. akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu!
Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang!
Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!�
Tempat pertama yang kudatangi untuk mencari pengetahuan Nabawi (pengetahuan kenabian) ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah aku bersyahadat laa ilaaha illa Allah (bahwa tiada tuhan selain Allah swt.), Muhammadun Rasulullah e (Muhammad saw. adalah utusan Allah swt.). Di sanalah, aku meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay'at (sumpah setia) setelah diperkenalkan pada Thariqat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syaikh Hisyam Kabbani q.s. semoga Allah swt. membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!
Aku mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan melihat pula beliau di Damaskus. Di antara hadiah Suhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H Oktober 2001 di rumah dan zawiyah beliau di kota Cypriot Turki, Lefke. Catatan akan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fi Suhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Suhbat.
Pada saat itulah, dan juga saat-saat kemudian, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, ke Inggris, di Siprus, dan Damaskus, aku mendapatkan dari Mawlana, petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:
Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad saw. dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah swt. mendukung kita!
Dari sini, aku mengerti bahwa Murid yang sesungguhnya dalam Thariqat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad saw., dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.
Ketika seorang Waliyyu-llah yang telah berumur delapan puluh tahun-an di Johor, Malaysia, al-Habib 'Ali ibn Ja'far ibn 'Abd Allah al-'Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arab-nya yang tak fasih.
Ketika kami memohon du'a beliau bagi negeri-negeri kita yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, 'Ummah ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syaikh Nazim q.s. telah kau dapati kebercukupan!'
Dus, dengan setiap perjumpaan dari murid yang sederhana dan rendah hati dari Mawlana dengan Awliya' dari Ummat ini; Mereka (para Awliya' tersebut, penerj.) semuanya menunjukkan rasa hormat tertinggi serta kerendahan hati yang amat dalam bagi Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara harfiah (penampakan luar) berada pada jalan (thariqat) yang berbeda, seperti
- al-Habib 'Ali al-�Aydarus q.s. di Malaysia,
- Sayyid Muhammad ibn 'Alawi al-Maliki q.s. di Makkah,
- al-Habib 'Umar ibn Hafiz q.s. di Tarim,
- Sayyid Yusuf ar-Rifa'i q.s. di Kuwait,
- Syaikh 'Isa al-Himyari q.s. di Dubai,
- Sayyid 'Afif ad-Din al-Jailani q.s. dan Syaikh Bakr as-Samarra'i q.s. di Baghdad,
- as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir q.s. di Maroko tengah,
- Grandmufti Syria (alm.) Syaikh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syaikh Amin q.s. dan sahabat-sahabatnya Syaikh Bashir al-Bani q.s., Syaikh Rajab Dib q.s., dan Syaikh Ramazan Dib q.s.; Syuyukh Kattani q.s. dari Damaskus;
- Syaikh (alm.) 'Abd Allah Siraj ud-Din q.s. dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din 'Itr; Mawlana as-Syaikh 'Abd ur-Rahman as-Shaghuri q.s.; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus.
semoga Allah swt. selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita! Aku telah bertemu dengan setiap nama yang kusebut di atas kecuali Syaikh Sirajud-Din q.s. dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syaikh Nazim q.s., mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon do�a beliau atau do�a pengikut-pengikut beliau;
��Dan cukuplah Allah swt. sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah swt.��
(QS. 48:28-29)
Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah swt., penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira diperuntukkan bagi, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan amanat-nya, penerj.),
sementara mereka yang telah mawsul (sampai, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain. Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan.
Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah swt. dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan jama'ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.
Sebagaimana Allah swt. berfriman: 'Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma'as shadiqiin. 'Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah swt. dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!;
dan Nabi Suci kita e bersabda, 'Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi'in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi'it tabi'in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela. Tapi kalian mestilah tetap berada pada Jama'ah dan berhati-hatilah dari perpecahan!
Jama'ah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah swt. untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi e, penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah swt. yang mengkaruniakan! Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah swt., tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah swt.
Ya Allah swt., jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!
Aku mendengar Mawlana Syaikh Nazim q.s. berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya' Mawlana as-Syaikh 'Abd Allah ibn Muhammad 'Ali ibn Husayn al-Fa'iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami as-Salihi q.s. (ca. 1294-1393 H)[1]
  • dari Syaikh Syaraf ud-Din Zayn al-�Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi q.s. (wafat 1354 H),
  • dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syaikh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi q.s.[2],
  • dari Syaikh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj �Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri q.s. (wafat 1299 H)[3],
  • dari Syaikh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni q.s. (wafat 1292 H)[4],
  • juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali q.s. (wafat 1260 H)[5],
  • dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani q.s. (wafat 1254  H)[6],
  • dari Syaikh Diya�uddin Isma�il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani q.s. (wafat ???),
  • dari Syaikh Isma�il al-Anarani q.s. (wafat 1242 H),
  • dari Mawlana Diya�uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-�Utsmani ibn �Utsman ibn �Affan Dzun-Nurayn q.s. (1190-1242 H) dengan rantai isnad-nya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari q.s. yang berkata,
    Thariqat kami adalah SHUHBAH (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA'AH (kelompok)
Semoga Allah swt. meridhai diri mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, kalbu-kalbu kita, dan keseluruhan wujud diri kita, Amin!
Beberapa kritik dari 'Calon Sufi' atas Thariqat Haqqani mengatakan atas thariqat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai 'kurang dalam sisi ilmu'. Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu!
Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.
Tak ada maaf baik bagi ia yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun ia yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertaubat-lah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah swt. dan pada ma'rifatullah (pengenalan akan Allah swt.) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam kalbunya kebanggaan sekalipun hanya setitik debu. Semoga Allah swt. melindungi diri kalian dan diri kami!
Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.
Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah swt. yang Dia timpakan pada hati.
Imam as-Syafi'i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.
Dan ketika seseorang berkata tentang Ma'ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta�i, yang merupakan murid dari Habib 'Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu), Imam Ahmad pun berkata, Mah! Semoga Allah swt. mengampunimu! Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma'ruf?!�
Kritik lain berisi keberatan atas Rabitah atau Ikatan, suatu karakteristik khusus dari Thariqat Naqsybandi. Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabitah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau Penggambaran dalam rabitah yang meminta Murid untuk menggambarkan citra sang Syaikh dalam hatinya di permulaan maupun selama dzikir.
Tetapi Allah swt. telah berfirman, 'Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah swt. dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah swt.� [33:21]
dan Dia berfirman pula, 'Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; � [2:189]
dan karena itulah kita datang kepada Nabi melalui ash-Shiddiq, dan datang kepada yang terakhir ini melalui Salman, dan masuk kepada yang terakhir ini melalui Qasim, dan kepada yang terakhir ini melalui Sayyid Ja'far, dan seterusnya.
Karena 'Ulama adalah pewaris para Nabi", dapat dipahami bahwa sang Mursyid adalah teladan kita akan teladan dari Nabi tersebut (di ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (sang Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka,
Nabi bersabda, 'Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah swt.!
Hadits ini diriwayatkan dari Ibn Abbas , Asma bint Zayd, dan Anas (semoga Allah swt. ridha atas diri mereka semua), juga dari Tabi'in Sa'id ibn Jubayr, 'Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.
Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana sang Murid dalam diri Syaikh, atau fana fis-Syaikh. Mereka berkata, 'Syaikhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana�-mu pada diri Rasulullah.
Tetapi, adalah salah untuk menyamakan sang Syaikh pembimbing sama seperti yang lain. Syaikh Ahmad Sirhindi q.s.� qaddas-Allahu sirrahu - berkata: �Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada Thariqat yang paling Mulia ini adalah dengan ikatan (rabitah) dan cinta pada Syaikh yang kita ikuti.
Syaikh seperti itulah yang berjalan di Jalan ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah). Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat ruhani. Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu�
Dus, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisba) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam Jalan ini melalui ikatan cintanya pada sang Syaikh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya.
Dalam pola seperti ini, pengetahuan akan proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat. Buah semangka matang oleh panas Sang Surya jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari� Sang Semangka semakin matang, namun pengetahuan macam apakah yang dimiliki sang semangka akan proses ini? Apakah sang Surya bahkan mengetahui bahwa dirinya tengah mematangkan dan menghangatkan sang Semangka?
Sebagaimana disebutkan di atas, berkeberatan atas konsep fana� fis-Syaikh adalah berarti pula berkeberatan akan cinta pada sang Syaikh. Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syaikh kita dan mengetahui bahwa ia-lah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.
Sebagaimana sang penyair berpuisi:
Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku mengatakan:
Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,
Sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.
Tak kumiliki lagi kehendak [IRADA] apa pun, selain cintamu,
Tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain "aku cinta padamu".
Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini, �Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, �Awliya�. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita �Cinta�.
Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA� bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA�AT bermakna [hanya] untuk mengikuti. Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.�
�Nah, Allah swt. menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah swt. mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya. Dan setiap orang yang mencintai Awliya� dan Anbiya�, melalui Awliya� akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah swt.�
�Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah swt. akan mencintai kalian?�
�Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta. Mereka adalah orang-orang yang kering � tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi. Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka. Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.�
�Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman. Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!� (akhir suhbat Mawlana).
Dengan dan melalui Mawlana, Allah swt. telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah. Kita amat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini. Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat. Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam ayat yang Agung,
Allah swt. menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah swt.).� [2:269]
Semoga Allah swt. mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia sukai bagi diri kita! Semoga Allah swt. mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid yang Sejati demi kehormatan dari Ia yang paling terhormat, Nabi Muhammad saw.!